JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Pengantin Baru


__ADS_3

Wajah-wajah tersenyum menyambut kehadiran pasangan pengantin baru yang kini bergabung hendak menikmati sarapan yang sudah sedikit kesiangan.


"Assalamulaikum." Ucap Khalisa pada seluruh keluarganya yang sudah selesai menikmati sarapan mereka.


"Waalaikumsalam." Jawab semuanya sambil tersenyum melihat wajah segar keduanya yang terlihat sedikit canggung.


Khalisa mencium tangan Abah dan Mom Marisa serta memeluk Caca yang sudah rindu kepadanya.


"Sayang, sini duduk dekat Mom." Mom Marisa meminta Khalisa duduk sebelahan dengannya.


"Bunda, kok lama banget turunnya, Caca itu mau disuapin sama Bunda makannya. Tapi kata Oma Bunda lagi sibuk. Jadi Caca makan duluan." Jawab jujur Caca sesuai apa yang ia dengar dari sang Oma.


Tentu saja mendengar hal itu Khalisa susah menjawabnya hanya melirik pada Nick yang seketika garuk kepala meski tidak gatal.


"Sayang, Mom ada hadiah untuk kamu. Ini." Mom Marisa memberikan sebuah amplop kepada Khalisa.


"Buka saja Sayang, Mas juga penasaran isinya apa!" Nick dengan senyuman masih merekah di wajahnya.


"Ustadz Salman, tampaknya Boss Nick seneng banget! Jangan-jangan menang taruhan piala dunia!" Gusti belakangan memang lebih kompak dengan Ustadz Salman setelah beberapa kali berkolaborasi dalam menyiapkan ini dan itu kejutan bagi kedua insan yang kini telah menjadi suami istri.


"Bukan menang taruhan, tapi habis nyetak gol!" Ustadz Salman menimpali sambil tertawa.


Ya setelah mengenal lebih dekat Ustadz Salman nyatanya pribadi yang hangat bila bersama keluarga dan kerabat dekatnya.


Nick tak selera membalas ledekan kakak ipar dan asistennya karena hatinya sedang gembira bahagia.


"Mom ini?" Khalisa melihat tiket honeymoon yang diberikan oleh Mom Marisa untuk ia dan Nick.


"Makasi Mom, memang paling the best!" Nick memeluk Mom Marisa namun ditolak oleh ibunya yang justru memeluk Khalisa.


"Iya Sayang, kamu dan Nick pergilah berbulan madu. Mom, Abahmu, Ustadz Salman dan semua mendoakan agar kalian sepulang dari sana membawa kabar baik." Mom Marisa melepas pelukannya menatap wajah Khalisa sambil mengusap pipi menantunya itu.


"2 minggu?" Khalisa melihat itinery yang tertulis dan ia terkejut.


"Malah seharusnya lebih lama. Tapi Mom kasihan para pegawai kantor nanti suami mu ini malah memaksa mereka asistennya kerja rodi selagi ia tidak ada disini." Mom Marisa tahu otak Nick pasti akan melimpahkan semua urusan NBC pada Gusti selama iya honeymoon.

__ADS_1


"Memang aku sekejam itu." Nick komplain dengan tuduhan Mom Marisa.


"Bunda, jangan khawatir, Caca justru seneng karena kata Oma, Bunda dan Daddy nanti pulang dari sana bakal bawa adik untuk Caca. Iya kan Oma?" Caca menatap Oma Marisa.


Mendengar perkataan Caca Nick dan Khalisa seketika batuk dan tersedak.


"Khalisa, Abah doakan semoga kalian berdua selamat, dan bersenang-senang selama disana. Nikmati saat-saat ini kelak akan menjadi kenangan manis saat kalian sudah menua bersama." Abah Abdullah memberikan izinnya serta doa bagi anak dan menantunya.


"Dek, tenang saja. Kalian pergilah. Senang-senang, semoga sepulang dari sana kalian membawa calon keponakan untuk Kakak, jadi keponakan Kakak semakin banyak." Ustadz Salman turut bahagia melihat adiknya kini telah menemukan imam yang insha Allah bisa mengajaknya sehidup sesurga.


"Ya sudah, ayo kalian berdua makan dulu." Abah Abdullah mengingatkan keduanya yang asik mengobrol.


"Kau ini Nick keterlaluan sekali, istrimu sampai dibiarkan melewati sarapan. Suami macam apa kau ini!" Mom Marisa malah menjewer putranya.


Tentu saja semua yang ada disana tertawa.


Besok mereka akan berangkat dengan pesawat pribadi Nick.


Maka saat ini Nick sedang berdiskusi dengan Gusti mengenai kantor yang akan ia tinggalkan selama 2 minggu.


"Ya, tak masalah biarkan itu masalah internal perusahaan mereka. Yang terpenting tidak bermasalah dan statusnya jelas." Nick memberikan tanggapan.


"Salman, Abah sangat terkejut dengan kondisi Baskoro. Terkait kerjasama kita dengan mereka artinya tetap berlanjut atau seperti apa?" Kyai Abdullah berdiskusi dengan Salman karena semua urusan perusahaan memang sudah ia serahkan kepada putra sulungnya.


"Perusahaan kita tetap akan bekerjasama dengan perusahaan Pak Baskoro hanya status kepemilikannya saat ini dipegang dan dipimpin oleh puterinya Indira." jawab Salman.


"Indira, sahabat Khalisa yang datang saat pernikahan?" Kyai Abdullah nemastikan.


"Benar Abah. Indira atau Dira yang datang bersama Nyonya Amelia, istri Pak Baskoro." Salman kembali menjelaskan.


"Abah tidak tahu kalau Baskoro memiliki putri yang cantik dan sepertinya anaknya santun dan baik. Apakah Dira sudah menikah?" Kyai Abdullah bertanya pada Salman status Dira.


"Sepertinya belum. Terakhir sempat akan dijodohkan oleh Tuan Max. Namun entahlah." Salman tak mau memperpanjang karena itu aib seseorang.


"Kalau ternyata Dira jodoh kamu bagaimana?" Sambil menatap sang putra Kyai Abdullah menunggu reaksi Salman.

__ADS_1


"Uhuk! Abah jangan bercanda." Salman tersedak padahal tidak sedang makan atau minum apapun.


"Loh Abah lihat, saat resepsi adikmu, kalian berbincang, sepertinya kamu sudah mengenalnya Salman? Katakan pada Abah, kalau kamu menyukainya Abah akan khitbahkan pada walinya." Kyai Abdullah meski tidak banyak bicara namun ia paham bagaimana sifat putranya.


"Bicara apa Abah ini, Salman hanya berbincang soal perusahaan, mengenai kerjasama kita." Dengan tenang Salman menjelaskan.


"Abah, Kakak, sepertinya serius sekali, sedang membicarakan apa?" Khalisa menghampiri keduanya.


"Abah sedang bertanya soal Dira pada Kakakmu."


"Abah, Dira itu sahabat Khalisa. Saat Khalisa pertama kali di NBC Dira yang mendekatkan diri mengajak Khalisa. Saat Khalisa bingung mencari tempat tinggal karena harus pindah kontrakan Dira juga yang meminta Khalisa tinggal di kontrakan Dira. Makanya waktu Dira resign dan tak ada kabar Khalisa sedih kehilangan sahabat sebaik dan setulus Dira. Walaupun sekarang Khalisa senang Dira sudah kembali bahkan kini Dira menggantikan Papanya Tuan Baskoro. Sedih mendengar Papa Dira kini dirawat di ICU. Dira itu terbiasa hidup mandiri. Dira gadis yang baik Abah. Ada apa memang Abah bertanya soal Dira pada Kak Salman? Oh, Kak Salman suka ya sama Dira?" Khalisa mendapat moment meledek Salman.


"Dek!" Salman membulatkan matanya.


"Sayang, Abah, Kakak Ipar!" Nick kini menghampiri istri, mertua dan Kakak iparnya sambil merangkul Khalisa.


"Caca dan Mom kemana Mas?" Khalisa tidak melihat keberadaan putri dan mertuanya.


"Mom dan Caca sedang bertemu temannya mereka sedang ngobrol disana." Noch menunjuk ke arah mereka.


"Ada apa ini Abah? Nick mendengar nama Dira, apakah ada hubungannya dengan Kakak Ipar?" Nick memanfaatkan moment balik mengerjai Salman.


"Loh kalian kok seperti tahu sesuatu. Mengapa Abah jadi tertingal sendiri. Salman jujur sama Abah, kamu bukan ABG lagi, malu masa Ustadz Viral malah backstreet. Kalau sudah mantap segera khitbah." Abah semakin menuntut.


"Kalian berdua memang adik-adik yang Masya Allah, luar biasa jahilnya!" Salman membulatkan matanya kepada kedua pasangan pengantin baru yang kompak mengerjai Salman.


"Abah, bukankah niat baik harus disegerakan? Nick siap mengantar Kakak Ipar melamar Indira setelah kami berdua kembali dari honeymoon. Atau mau sekarang Abah, biar nanti 2 minggu kemudian langsung akad?" Nick sengaja agar Salman cepat menyusul keduanya.


"Jangan macam-macam Nick! Atau aku akan culik istrimu!" Salman menggoda Nick.


"Abah, tolong Nick, jangan biarkan Kak Salman menculik istriku!" Nick malah memeluk Khalisa erat dihadapan Abah dan Salman.


"Kamu iri ga lihat adikmu? Makanya segera ajak Abahmu ini selagi masih sehat melamar Dira!"


"Setuju Abah!" Kompak Nick dan Khalisa menjawab.

__ADS_1


Salman mati kutu dibuatnya dengan tingkah kompak kedua adik dan adik iparnya yang sukses mengerjainya


__ADS_2