
Nick sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisi yang sudah sehat.
Dokter tak lupa mengingatkan Nick agar tidak lagi mengkonsumsi alkohol karena gerdnya bisa saja kambuh lagi dan kejadian seperti kemaren akan terulang.
Nick pulang ditemani oleh Oma Marisa, Gusti dan Caca.
Sesampai dirumah Oma Marisa meminta Nick untuk beristirahat.
Namun bukan Nick namanya kalau ia menurut saja dengan sang Mommy, Nick mengajak Gusti ke ruang kerjanya menanyakan perusahaan dan klien yang tertunda karena ia sakit.
"Boss, sebenarnya Bu Kanaya dan Ustadz Salman mau menjenguk Boss di RS, namun sesuai permintaan Boss, Saya beralasan Boss tidak diperbolehkan untuk dijenguk."
"Ya terima kasih Gus. Oh iya, kau kembali saja ke kantor. Aku sudah tidak apa-apa. Besok aku sudah masuk. Jadi kau wakili aku hari ini bertemu klien." Pesan Nick.
"Baik Boss. Jika perlu sesuatu, hubungi saja Saya. Kalau begitu Saya permisi!" Gusti pamit segera keluar dari ruang kerja Nick.
Oma Marisa masuk setelah tadi Gusti pamit izin ke kantor dengannya dan Caca.
"Nick, istirahat di kamar, kenapa kau malah disini mengurus pekerjaanmu." Oma Marisa melihat sang putra sudah sibuk dengan laptop dihadapannya.
"Aku sudah sehat Mom. Besok aku pun sudah masuk ngantor." Nick menjawab sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Nick, Kanaya menghubungi Mom, begitupun Ustadz Salman. Mereka menanyakan keadaanmu. Mengapa kamu seolah menghindari mereka? Mom tahu kamu tidak nyaman dengan kedekatan keduanya. Tapi mereka menghormatimu sebagai pimpinan NBC." Oma Marisa memberi pengertian kepada putranya.
"Aku bukan menghindarinya Mom, hanya saja aku sedang menjaga hati."
Oma Marisa melihat tatapan kesedihan dalam sorot mata putranya.
"Ikhlaskan. Kelak kamu juga akan mendapatkan jodoh yang baik. Berprasangka baiklah pada Allah. Ayo makan dulu, kau harus minum obat." Oma Marisa menepuk bahu putranya sebelum keluar ruangan.
Di rumah Kyai Abdullah, Kanaya yang memang diminta untuk mulai tinggal disana, pagi ini rencananya Kyai Abdullah, Ustadz Salman dan Kanaya akan ke panti asuhan menemui Bu Fatma.
Mereka akan bersilahturahmi, khususnya Kyai Abdullah ingin mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah merawat Kanaya putrinya hingga sebesar ini.
__ADS_1
Mungkin banyak yang bertanya bagaimana bisa, Kanaya bayi hilang kemudian ditemukan di depan pintu panti dan tidak ketemu dicari selama ini? Ya begitulah, sudah qadarullah jalan hidup yang Kanaya, Kyai Abdullah dan Ustadz Salman alami.
Semua yang terjadi tentu terdengar tak masuk akal. Namun jika Allah yang berkehendak tak ada yang mustahil bagi Allah.
Kini mereka dipersatukan kembali juga tak lepas dari rencana Allah.
Karena tak satupun kejadian di muka bumi yang terjadi atas seizin Allah SWT.
Bu Fatma menyambut hangat keluarga Kanaya.
Betapa bahagianya Bu Fatma kini, akhirnya Kanaya bisa berkumpul bersama dengan keluarganya.
"Jadi Kanaya ini nama aslinya Khalisa Humairah. Masya Allah nama yang cantik dan indah. Cantik seperti orangnya." Puji Bu Fatma sambil menatap wajah Kanaya.
"Saya betul-betul bersyukur dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena Bu Fatma selama ink telah merawat, mendidik dan membesarkan bahkan melindungi Khalisa. Saya tidak tahu jika bukan karena qadarullah, akan seperti apa Khalisa bila tidak bertemu Bu Fatma." Jelas panjang lebar Kyai Abdullah.
"Saya senang bisa ditakdirkan bertemu Khalisa. Naya, anak yang baik. Bahkan Saya pun ikut sedih manakala Naya, maaf maksud Saya Khalisa gagal dalam pernikahannya. Sungguh maafkan Saya Pak Kyai akan hal itu." Ada rasa bersalah Bu Fatma manakala ia dulu memberikan restu saat Kanaya akan menikah dengan Alvin.
"Bukan kesalahan siapapun. Itu sudah menjadi qadarullah dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalani apa yang telah Allah SWT gariskan. Doakan saja agar kelak Khalisa bisa mendapatkan jodoh yang terbaik. Bukankah begitu Nak?" Kyai Abdullah tersenyum melihat kearah sang putri.
"Tampaknya doa Abah akan segera terkabul." Ustadz Salman menatap senyum pada Khalisa aka Kanaya kemudian mengucapkan hal ambigu di hadapan Kyai Abdullah.
"Sepertinya Abah perlu tahu sesuatu? Ceritakan nanti pada Abah Salman. Abah perlu tahu pria mana yang mendekati putri Abah." Kyai Abdullah dengan senyumannya menatap Khalisa aka Kanaya.
"Jangan bilang kamu sudah punya calon Naya, maksud Ibu Khalisa." Bu Fatma masih sering tertukar menyebut nama karena belum terbiasa.
"Senyamannya Ibu saja panggil apa. Tidak ada Abah, Aku belum dekat dengan siapapun. Kak Salman jangan mengarang." Khalisa aka Kanaya memang tak merasa ada yang dekat dengannya.
"Bu Fatma, sekalian Saya mengundang ibu dan anak-anak panti 2 minggu lagi untuk datang menghadiri tasyakuran di pesantren. Saya harap Ibu dan anak-anak bisa hadir." Undang Kyai Abdullah.
"Insha Allah Pak Kyai Saya akan membawa adik-adik Khalisa. Mereka pasti senang mendengar kakak yang mereka sayangi bertemu dan berkumpul kembali bersama keluarganya."
"Semua yang ada disini juga keluarga Khalisa, dan Saya bersyukur Khalisa selama ini dibersarkan dengan kasih sayang disini bersama adik-adiknya. Maaf kalau boleh tahu apakah panti memiliki donatur tetap?" Kyai Abdullah bertanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Pak Kiai, kami sekarang memiliki donatur tetap, Tuan Nicholas Bryan, CEO NBC adalah donatur tetap kami. Beliau pula yang memberikan kami tempat ini. Dulu kami digusur hingga tidak tahu harus bagaimana. Alhamdulillah Allah menolong kami lewat Tuan Nick." Jelas panjang lebar Bu Fatma.
Kyai Abdullah manggut-manggut mendengarkan penjelasan Bu Fatma.
Khalisa aka Kanaya terkejut, bahwa selama ini Nick tanpa sepengetahuan dirinya membantu panti asuhan.
Setelah berbincang panjang lebar, Khalisa, Kyai Abdullah dan Ustadz Salman pamit pulang.
"Khalisa pulang ya Bu." Khalisa aka Kanaya pamit pulang.
"Duh Ibu masih sering ketukar nyebut nama kamu." Maklum Bu Fatma kan sudah tua guys jadi masih sering sulit beradaptasi dengan nama asli Kanaya.
"Panggil saja Caca. Dulu Saya panggil itu saat Khalisa kecil." Ustadz Salman memberikan solusi.
"Ah, ibu jadi ingat putri Tuan Nick. Kemarin dengar kabar Tuan Nick masuk RS. Apakah kamu sudah menjeguk Bossmu Caca? Bolehkan Ibu panggil Caca?" Bu Fatma lebih mudah sepertinya dengan panggilan Caca.
"Boleh Bu. Senyamannya Ibu. Belum Bu, karena RS ingin pasien beristirahat jadi belum boleh dijenguk." Jelas Khalisa aka Kanaya.
"Semoga Tuan Nick cepat sembuh. Beliau orang baik." Jelas Bu Fatma.
"Kami permisi dulu Bu Fatma, Assalamualaikum." Pamit Ustadz Salman.
"Bu Caca pamit ya. Assalamualaikum." Khalisa aka Kanaya mencium tangan Bu Fatma sebelum pergi.
"Waalaikumsalam. Hati-hati Caca, Ustadz Salman, Kyai Abdullah." Bu Fatma melambaikan tangan kepada ketiganya.
Di sebuah kota dipesisir pantai Dira duduk menatap deburan ombak sambil dimanjakan angin sepoi-sepoi yang membelai tubuhnya.
"Dira, Tante pikir kemana. Ternyata disini?" Amelia duduk bersisian dengan Dira menatap wajah cantik yang sendu.
"Tante ada hubungan apa dengan pria ini?"
Dira menunjukkan foto Baskoro yang ia temukan di laci kamar villa yang mereka tempati.
__ADS_1
Sebuah foto Amelia dan Baskoro, Ayah Dira.