
"Saya terima nikah dan kawinnya Indira Khairani Putri binti Bapak Baskoro Hadi Kusumo dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cek senilai 1 Milyar rupiah dibayar tunai!"
Ustadz Salman mengucap ijab kabul dengan lancar dalam satu helaan nafas tanpa terputus.
"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu kepada kedua saksi dan semua yang menyaksikan.
"SAH!"
"SAH!"
"Alhamdulillah." Semua yang menyaksikan ijab kabul antara Ustadz Salman dan Dira mengucap syukur dan lega.
Meski tanpa rencana, tanpa gaun pengantin, tanpa dekorasi indah, di ruang rawat RS Ustadz Salman resmi mempersunting Dira menjadi istrinya.
Ustadz Salman langsung mencium punggung tangan Pak Baskoro yang kini sudah menjadi Bapak mertuanya.
"Nak, terima kasih. Papa titip Dira, jaga, bimbimbing Dira. Papa yakin Kamu adalah jodoh yang terbaik dari Allah." Baskoro mengatur nafasnya yang berat masih di atas brangkar ruang rawatnya teelihat meneteskan airmata manakala selesai Ustadz Salman mengucap ijab kabul.
"Insha Allah Papa, Salman akan menjaga Dira. Papa cepat sembuh, agar kita bisa berkumpul bersama." Ustadz Salman memeluk Baskoro dengan hangat.
"Aamiin Nak. Terima kasih." Baskoro merasakan kasih sayang Ustadz Salman sambil ia menepuk lembut punggung pria yang kini resmi menjadi menantunya.
"Nak Salman, Bunda titip jaga Dira, Sayangi dan jangan sakiti Dira. Bunda yakin Kamu adalah jodoh yang tepat untuk Dira." Bunda Amelia menangkupkan kedua tangannya begitupun Ustadz Salman melakukan hal yang sama.
Meskipun mereka keluarga namun Mahrom tetap jelas adanya, bagaimanapun Bunda Amelia tak bisa bersentuhan dengan Ustadz Salman karena statusnya sebagai Ibu sambung Dira.
"Salman, sekarang Kamu sudah menjadi seorang suami dan Imam bagi istri Kamu, Jadilah suami yang baik, bimbing istrimu dengan lembut, jangan pernah sekalipun Kamu menjatuhkan tanganmu kepadanya. Istrimu ibarat tulang rusuk, maka perlakukanlah dengan kasih sayang." Pesan Kyai Abdullah kepada anak sulungnya.
"Aamiin. Insha Allah Abah. Salman akan selalu ingat pesan Abah." Sambil mencium tangan sang Abah meminta doa restu.
"Dira, Papa bahagia sekali bisa menikahkan putri Papa secara langsung. Jaga rumah tangga kalian hingga maut memisahkan. Maafkan selama ini Papa belum menjadi orang tua yang baik untuk Kamu." Baskoro saat menerima cium tangan Dira yang meminta doa restu.
"Papa cepat sembuh. Agar kita bisa berkumpul sama-sama. Dira sudah memaafkannya. Terima kasih Papa hari ini telah menikahkan Dira. Dira mohon doa restu dari Papa agar rumah tangga Dira menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah dan amanah."
"Aamiin." Jawab Baskoro kemudian memeluk Dira menangis haru betapa Allah sangat baik kepadanya meski ia sadar akan gelimang dosanya yang begitu besar.
"Sayang, putri Bunda, semoga Kamu bisa menjadi istri yang berbakti dan taat kepada suamimu. Jaga pernikahan kalian dan saling menguatkan satu sama lain." Bunda Amelia memeluk sambil tak kuasa menahan airmatanya.
"Terima kasih Bunda. Telah baik dan menjadi Ibu bagi Dira." Dalam pelukan Bunda Amelia Dira menangis haru.
"Anakku Dira, mulai hari ini Kamu Abah anggap sama seperti Khalisa dan Salman. Kamu putri Abah. Jangan sungkan untuk berkeluh kesah kepada Abah. Jika suatu saat ada sikap atau perbuatan suamimu yang tidak berkenan, beritahu Abah, Insha Allah Abah akan menasehatinya agar kembali ke jalan yang lurus."
"Terima kasih Abah. Maaf jika Dira belum sempurna dan sholeha masih jauh dari kata pantas menjadi menantu Abah dan istri Ustadz Salman. Ingatkan Dira, tegur Dira ya Abah." Dira mencium punggung tangan Kyai Abdullah yang kini telah menjadi Ayah mertuanya.
"Sekarang Kamu cium tangan dulu pada suamimu. Salman, sini, mendekatlah pada istrimu. Sudah halal!" Kyai Abdullah melihat keduanya masih canggung.
Tentu saja mendengar ucapan Kyai Abdullah membuat semua yang menyaksikan tertawa melihat sikap malu-malu kedua pengantin baru dadakan itu.
Ustadz Salman mengulurkan tangannya, terlihat sedikit bergetar.
__ADS_1
"Kakak Ipar, tenang! Belum megang masa udah gemetar!" Bisik Nick di telinga Kakak Iparnya.
Tentu saja meski berbisik nyatanya masih terdengar oleh yang lain, dan membuat tertawa.
Dira meraih tangan Ustadz Salman dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
Gusti dan Iman tak ketinggalan sejak awal berubah tugas menjadi seksi dokumentasi mengabadikan momen sakral tersebut.
Tangan keduanya terasa begitu dingin ketika untuk pertama kalinya bersentuhan.
Setelah Dira menyalami suaminya, Ustadz Salman balas mengecup kening Dira.
Tampak bergetar tubuh Dira meski sesaat ia berusaha mengontrol.
Netra keduanya saling bersinggungan tak menyangka saat ini keduanya sudah menjadi suami dan istri padahal beberapa jam lalu masih tidak ada ikatan apapun.
Sungguh takdir Allah luar biasa. Tak ada yang tidak mungkin bila Allah sudah berkehendak.
"Ekhm!"
Suara batuk Nick membuat kedua pengantin baru yang tanpa sadar asik saling memandang seketika kikuk dibuatnya.
"Kakak Ipar, selamat ya, semoga bahagia selalu." Nick memeluk Ustad Salman dan menangkupkan tangan pada Dira.
"Kakak, ah sekarang Kamu jadi Kakak Iparku Dira. Selamat ya buat Kalian berdua, semoga Allah jadikan Kakak dan Kakak Ipar menjadi keluarga yanh sakinah, mawaddah, warrahmah dan amanah." Khalisa memeluk Dira yang kini adalah Kakak Iparnya.
"Makasi ya Mbak, Dira jadi kikuk nih manggilnya." Dira memeluk Khalisa dengan bahagia.
"Sayang, Nak Salman, kalian pulanglah dulu. Bagaimanapun hari ini adalah hari pertama kalian menjadi suami istri. Jangan khawatir, Papa ada Bunda yang menjaga." Bunda Amelia melihat Dira yang didampingi Salman masih berdiri di depan ruang rawat Baskoro.
"Dira masih mau disini sebentar lagi Bun." Dira bersyukur hari ini Papanya sudah siuman bahkan langsung meminta hal yang sangat luar biasa untuk kelangsungan hidupnya.
"Bunda, istirahat saja dulu, biar Salman dan Dira yang jaga Papa disini. Dira bilang Bunda sejak kemarin belum tidur." Ustadz Salman memberikan ruang agar Bunda Amelia bisa istirahat.
"Masya Allah Nak Salman. Kamu memang luar biasa. Ya sudah. Bunda istirahat dulu. Kalau ada apa-apa kabari Bunda ya Nak."
"Salman, Dira, benar Kalian tak apa jaga disini?" Kyai Abdullah menatap wajah anak dan menantunya.
"Tak apa Abah, Salman akan temani Dira. Abah pulang diantar Iman ya. Maaf Salman tidak menemani Abah pulang."
"Ya sudah kalau begitu, Abah pulang dulu ya, Dira jangan lupa makan ya Nak, jaga kesehatanmu. Insha Allah kita akan berdoa sama-sama agar Papa cepat sembuh." Kyai Abdullah memberikan penghiburan pada menantunya yang tampak masih sendu menatap kearah ruang rawat Baskoro.
"Terima kasih Abah. Maaf Dira belum ikut pulang, Abah hari-hati diperjalanan ya." Dira mencium tangan Kyai Abdullah.
Ustadz Salmanpun mengikuti apa yang Dira lakukan sebelum Abahnya pulang.
"Kakak Ipar, Kami pulang dulu ya. Kalian benar mau jaga disini?" Nick berbincang dengan Ustadz Salman.
"Sudah cepat pulang, kasian adikku sudah lelah menemani suaminya yang semakin bucin dan alay!" Ustadz Salman mencairkan suasana.
__ADS_1
Nick hanya tertawa mendengar kata-kata Kakak Iparnya.
"Kak Dira, Kak Salman Caca Khalisa pulang dulu ya. Kabari Kami jika ada perkembangan dari kondisi Papa." Khalisa memeluk Dira dan mencium tangan pada Kakaknya sebelum pamit.
"Kalau begitu Kami pulang ya Kakak Ipar, Assalamualaikum." Nick dan Khalisa mengucap salam saat pamit.
"Waalaikumsalam." Jawab kompak Dira dan Ustadz Salman.
Keduanya saling menatap saat kompak menjawab salam Nick dan Khalisa.
Wajar keduanya masih kikuk bagaimanapun apa yang baru saja terjadi memang masih mengejutkan dan seperti mimpi.
"Dira, Kamu mau makan?" Bingung harus memulai percakapan dari mana hanya itu yang terlintas dari benak Ustadz Salman.
"Ustadz Salman sudah lapar?" Dira justru balik bertanya.
Sesaat terdiam kemudian saling menoleh bersamaan membuat keduanya jadi tersenyum.
"Aneh ya?" Dira sambil tersenyum.
"Masya Allah. Qadarullah." Senyum Ustadz Salman menjawab komentar Dira.
Melihat senyuman sang Ustadz yang begitu manis membingkai wajah tampan nan rupawan seketika wajah Dira bersemu murah.
Ustadz Salman melihat rona malu diwajah istrinya. Ia tahu saat ini Dira sedang tersipu.
"Mau Kakak belikan makan apa?" Ustadz Salman kembali bertanya.
Mendengar kata Kakak, Dira menoleh pada suaminya dan tersenyum.
"Mulai sekarang, manggilnya jangan Ustadz lagi ya, Kakak, bagaimana?" Sambil menatap wajah manis dihadapannya Ustadz Salman bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.
"Kakak? Boleh juga! Kirain mau dipanggil Sayang!" Yah begitulah Dira meski kini sudah menutup aurat bukan berarti ia kehilangan sikap ceria dan humoris yang memang sudah bawaan lahir.
Tentu saja di goda seperti itu oleh istrinya hati Ustadz Salman tentu senang bukan kepalang.
"Ana uhibbuka fillah Zaujati." Ustadz Salman mengambil tangan Dira menggenggam erat.
Tentu saja Dira terkejut melihat apa yang dilakukan Ustadz Salman.
"Maafkan Aku yang tidak menyiapkan apapun untuk akad nikah kita. Maaf bila semuanya mendadak buat Kamu. Maaf belum memberikan yang terbaik." Ustadz Salman menatap lekat netra hazel milik Dira.
"Terima kasih sudah menerima permintaan Papa yang mendadak. Maaf jika Aku bukanlah calon istri yang Kamu harapkan dan idamkan. Aku sadar masih jauh dari kata pantas mendampingi seorang Ustadz yang tinggi ilmu agamanya." Dira mengungkapkan isi hatinya.
"Tidak ada yang sempurna karena kita adalah manusia, namun kita bisa belajar dan berusaha menjadi lebih baik. Begitupun Aku masih butuh belajar bagaimana menjadi imam dan suami yang baik untukmu. Jadi kita sama-sama belajar dan saling mengingatkan jangan sungkan." Ustadz Salman seakan tak bosan menatap wajah cantik istrinya.
Dira masih belum sanggup menatap lama-lama wajah suaminya, Dira masih malu.
"Ana uhibbuka fillah Zaujati. Aku mencintaimu karena Allah, Istriku." Ustadz Salman mengulangi pernyataan cintanya pada Dira.
__ADS_1
"Saranghaeyo Oppa!" Jawab Dira.
Diluar ekspektasi Ustadz Salman ia harus terbiasa dengan segala keunikan Dira.