JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Sepakat


__ADS_3

Kanaya memperhatikan kalung berinisial K yang kini melingkar di lehernya.


Saat Bu Fatma menemukan Kanaya, hanya itulah satu-satunya yang menjadi identitas Kanaya.


Oleh sebab itu Bu Fatma memberikannya nama Kanaya Larasati meski entah apakah nama asli bayi mungil yang Bu Fatma temukan bernama siapa.


"Aku berdoa jikalau kedua orang tuaku masih hidup agar Allah senantiasa menjaganya dan melindunginya dimanapun berada, namun jika keduanya sudah tiada maka Allah senantiasa menempatkan keduanya dalam syurga terindah."


Kanaya melanjutkan bersiap sebentar lagi ia akan berangkat kerja.


Sejak kemarin Kanaya belum melihat Dira.


Entahlah, belakang Dira memang sering ada keperluan namun Kanaya tak ada hak untuk bertanya lebih jauh karena bagi Kanaya itu ranah privasi Dira.


Kanaya mengunci pintu, kemudian ia melangkahkan kakinya menyusuri gang menuju ke depan jalan utama dimana halte bus berada.


Semalan turun hujan hingga menyisakan genangan air disepanjang jalan yang Kanaya lalu.


Namun sebuah tangan tanpa diketahui dari mana asalnya membekap Kanaya dengan selembar sapu tangan membuat wanita berkerudung itu tidak sadarkan diri.


Dua orang laki-laki yang berhasil membuat Kanaya tidak sadarkan diri kini membawa tubuh Kanaya masuk ke dalam mobil menuju sebuah tempat.


Sementara di tempat lain, Dira masih dikurung dengan tangan terikat.


Sekeras apapun ia mencoba keluar namun penjagaan dari luar nampaknya sulit bagi Dira untuk melepaskannya.


Dira mengutuk dirinya sendiri, menyesali hidupnya.


Bagaimana mungkin orang yang menyebut dirinya Papa tega melakukan hal tersebut kepada ia yang di klaim sang pria sebagai putri.


Dira sekuat tenaga yang masih tersisa membenturkan dirinya kepintu, hanya itu yang bisa ia lakukan.


Disaat tangan, kaki dan mulutnya diikat serta di lakban Dira memutuskan menggunakan tubuhnya untuk menggedor pintu yang nyaris membuatnya kelelahan tanpa hasil.


Namun saat tubuh lemah lunglai dan hampir hak berdaya, pintu terbuka.


Melihat siapa yang datang Dira berontak.


Namun pria baya itu mendekat.


"Oke, kamu masih keras kepala Sayang! Tapi Papa akan bawa seseorang yang mungkin bisa merubah keputusan kamu."


Pria itu melepas lakban dimulut Dira.


"Aku ga akan mau menuruti kamu! Apapun yang kamu lakukan tidak akan merubah apapun! Kamu tak lebih dari penjahat bagiku! Kau pembunuh! Karenamu Mama meninggal! Cuih!"

__ADS_1


Plak!


Lima jari mendarat mulus lukisan tangan pria baya yang mengaku dirinya Papa di kedua pipi Dira yang kini memerah menyisakan gambar tangan.


"Kalian semua memang wanita tidak berguna! Kalian wanita tidak tahu diuntung! Kita lihat saja apakah setelah ini kau masih keras kepala hah! Bawa masuk!"


Dira tak paham maksud pria baya dihadapannya.


Terlihat 2 orang berbadap tinggi besar membawa seseorang yang wajahnya tertutup kain, dan membaringkannya di sebelah Dira.


"Kau penjahat! Siapa dia?" Dira menelisik wanita yang wajahnya tertutup kain namun kecurigaan Dira semakin besar."


"Oke, jika kamu tidak mau menuruti Papa, it's Ok. Tapi Papa akan berbuat sesuatu pada dia!"


"Kau pengecut! Jangan libatkan orang lain dalam masalah ini!"


"Sorry, Papa tahu kamu akan berubah saat tahu siapa yang Papa bawa Nak!"


Pria baya itu memberi kode kepada dua bodyguardnya agar membuka penutup wajah pada sandera yang baru dibawanya.


Betapa terkejutnya Dira saat melihatnya.


"Kau memang brengsek!"


"Lepaskan temanku!"


"Atau kau aku bunuh!


Mata Dira menatap nyalang pada pria baya yang membahaskan dirinya Papa.


"Kau tahu Papa akan melakukan apapun agar kau mau menuruti keinginan Papa. Kalau tidak? Kau tentu bisa bayangkan apa yang akan Papa lakukan pada dia!"


Dira tidak pernah menyangka bahwa pria baya itu kini melibatkan orang lain untuk mengancam agar Dira menuruti kehendaknya.


Dira menatap nanar wanita yang kini harus terlibat dengan permasalahan hidupnya.


Dira tentu tidak bisa membiar Papanya menyakiti wanita baik dan sholeha yang ia sudah anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Semua pilihan ada ditanganmu Dira. Turuti Papa atau temanmu tidak akan selamat!"


Pria baya itu hendak keluar, namun langkahnya seketika terhenti.


"Baik! Aku akan menuruti keinginanmu, tapi lepaskan dia dan buat dia tidak tahu apa yang terjadi. Jangan pernah usik dia, karena masalah ini hanya antara kita. Jangan pernah libatkan orang lain!"


Pria baya itu tersenyum.

__ADS_1


"Kau memang persis ibumu, aku tahu Dira. Kau pasti akan menuruti kemauan Papa."


Dira masih dengan tatapan kebenciannya.


"Oh ya, satu hal. Mulai hari ini panggil aku Papa Sayang. Dan kita akan pulang kerumah. Kamu akan bertemu dengannya. Kita akan jadi keluarga bahagia putriku!"


Pria baya itu mengusap kepala Dira sambil tersenyum.


Sungguh Dira tak punya pilihan.


Ia tak mau orang lain menjadi korban atas permasalahnnya dengan si tua bangka Dira menyebutnya.


"Cepat lepaskan dia. Dan pastikan dia tak ingat apa yang terjadi. Aku tak mau dia curiga. Dia sahabatku, dan jangan pernah berani kamu sakiti dia!"


"Anak pintar! Orangku akan mengurus pengunduran dirimu dari NBC Sayang! Oh, dunia begitu sempit! Jadi mulai sekarang jangan pernah mencoba kabur atau ingkar janji, karena kau tahu Nak, Papa bisa melakukan segala cara agar kau tidak bisa lepas dari Papa! Papa tidak segan melakukan hal yang lebih gila dari sekedar menculik temanmu!"


"Lakukan apa yang membuatmu senang! Bukankah sejak dulu begitu? Lakukan jika itu membuatmu puas! Tapi jangan pernah libatkan orang lain dalam permasalah kita!"


"Oke deal my dear! Papa akan menuruti permintaan putri Papa tercinta!"


Dira tak sudi kepalanya diusap, rasanya ingin sekali ia membunuh pria tua bangka dihadapannya.


"Kalian, urus perempuan itu, dan buat serapi mungkin tanpa jejak!"


"Baik Tuan."


"Kalian berdua jangan pernah menyentuh dan berbuat macam-macam kepada temanku! Karena jika kalian berani macam-macam, aku tak akan segan untuk berontak!"


Tatapan Dira yang penuh amarah tertuju pada pria yang meminta dipanggil Papa.


"Fine baby, apapun keinginanmu akan Papa turuti, selama kamu jadi anak baik bagi Papa."


"Tapi, jangan coba-coba kabur seperti yang sudah-sudah. Karena kesabaran Papa akan habis."


Sementara di kantor NBC hari ini 2 pegawai yang biasanya selalu datang on time dan sudah bekerja dengan rajin tak terlihat batang hidungnya.


"Apa?"


"Saya sudah memeriksa langsung ke divisi penyiaran, bahwa hari ini Bu Kanaya tidak hadir tanpa keterangan. Selain itu Dira juga sudah 3 hari tidak datang ke kantor tanpa ada pemberitahuan."


"Mereka seenaknya sekali! Memangnya kantor ini milik bapak mereka!"


"Cari tahu keberadaan keduanya! Berikan SP!"


"Siap Boss!"

__ADS_1


Nick berpikir sejenak, menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.


"Kemana dia? Ga biasa tanpa kabar? Apa dia sakit?" Batin Nick.


__ADS_2