
"Khalisa Humairah, Maukah kamu menikah denganku?"
Nick dengan wajah serius namun bibirnya tetap menampilkan senyuman menawan dihadapan calon bidadari surganya, wanita sholeha bernama Khalisa Humairah.
Khalisa menarik nafasnya pelan. Mengatur debaran jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Meski semua ini berlangsung secara mendadak namun Khalisa meyakini tidak ada segala sesuatu yang terjadi secara kebetulan, karena sekecil apapun yang terjadi dalam hidup manusia tak lepas dari kuasa Allah SWT.
"Bismillahirrahmanirrahim, atas izin Allah SWT Saya menerima pinangan Nicholas Bryan sebagai calon suami Saya."
Wajah Khalisa menunduk, menyembunyikan semburat rona merah di pipinya.
"Alhamdulillah." Serentak semua mengucap syukur atas jawaban Khalisa.
"Nick, ini berikan pada Khalisa." Oma Marisa bersama Caca, memberikan kotak beludru berwarna maroon.
"Mom, bagaimana?" Nick heran mengapa Oma Marisa bisa menyiapkan semuanya.
"Sudah, tidak usah tanya! Sayang, terima kasih ya kamu mau menerima lamaran si duda tua ini! Pak Kyai terima kasih karena telah memberikan kesempatan pada Nick." Oma Marisa memeluk Khalisa dengan hati lega dan perasaan bahagia.
"Mom izin memakaikan cincin ini di jarimu ya Sayang, Nick bergeser sedikit. Kau belum mahrom!" Mom Marisa menggeser Nick agar menjauh dari Khalisa.
Oma Marisa memakaikan cincin dengan mata besar bertahta berlian yang begitu indah tersebut di jari manis Khalisa.
"Cantik, bagus dan cocok di jarimu." Oma Marisa kembali memeluk Khalisa.
"Tante Khalisa, Caca boleh peluk?" Caca yang terharu, bahagia karena doanya terkabul sebentar lagi, Kanaya aka Khalisa sebentar lagi akan menjadi Bundanya.
"Ayo semuanya, sekarang kita masuk, bicara di dalam agar lebih santai. Mari Ibu Marisa, Nick, semuanya silahkan dinikmati hidangan ala kadarnya." Ajak Kyai Abdullah mempersilahkan tamu sekaligus calon besannya untuk ke dalam menikmati sajian yang telah disiapkan.
Kini semua undangan tampak menikmati sajian yang begitu mengoyang lidah.
Di sebuah meja bundar, berkumpul Kyai Abdullah, Ustadz Salman, Khalisa, Oma Marisa, Nick, Caca, Iman dan Gusti mereka sambil menikmati hidangan yang tersedia.
"Caca, mau ice cream?" Ustadz Salman menawarkan Caca ice cream.
"Memang ada Om Ustadz?" Caca dengan binar bahagia mendengar makanan kesukaannya.
"Ada dong. Ayo kita kesana!" Ustadz Salman bangkit mengajak Caca.
Selama menikmati makanan tak ada yang berbicara karena memang adabnya saat makan tidak ada pembicaraan.
__ADS_1
Sambil menikmati makanan, Nick mencuri pandang kepada Khalisa.
"Ya Allah, jatuh cinta mengapa seindah ini? Bahkan senyumannya saja membuat hatiku tentram." Rasanya bibir Nick tak lelah tersenyum hari ini.
"Boss, ga usah senyum-senyum begitu, Boss tampak seperti pasien ODGJ." Ledek Gusti yang memang duduk disamping Nick.
"Kau ini tidak bisa melihatku bahagia. Tapi terima kasih aku senang atas apa yang kamu dan Oma siapkan." Nick yang biasanya selalu ngomel kini ucapan terima kasih lancar keluar dari mulut Boss Killernya.
"Congrats ya Boss, cie bentar lagi jadi mantan duda!" Gusti nih ya ngelunjak mentang-mentang Boss singa lagi jadi cosplay kucing anggora.
Khalisa yang di tatapan terus oleh Nick meski hatinya berbunga-bunga namun rona malu-malu jelas terlihat.
Kini selesai acara, kedua keluarga dipersilahkan untuk mampir kerumah Kyai Abdullah.
Suasana asri kediaman Kyai Abdullah membuat siapapun yang singgah merasa betah.
"Silahkan senyamannya saja. Anggap seperti rumah sendiri." Kyai Abdullah sebagai tuan rumah mempersilahkan tamu yang sebentar lagi menjadi besannya untuk masuk ke rumahnya.
"Terima kasih Pak Kiai. Aduh kami jadi merepotkan." Oma Marisa tak enak hati meski ia sendiri telah merasa nyaman dirumah Kyai Abdullah yang sejuk.
"Tidak mereporkan Bu Marisa. Jika berkenan, istirahatlah disini. Pasti seharian lelah. Khalisa ajak Bu Marisa ke kamar. Beliau pasti lelah." Kyai Abdullah meminta putrinya mengantar Oma Marisa.
"Baik Abah. Mari Nyonya Oma, Saya akan tunjukkan kamarnya. Caca ikut sekalian yuk!" Ajak Khalisa pada Oma Marisa dan Caca.
"Tante boleh Caca panggil Bunda?" Caca menatap Kanaya saat mereka sampai dikamar untuk beristirahat.
Anggukan Khalisa menciptakan senyum di bibir gadis kecil tersebut.
Caca seketika menghamburkan di pelukan Khalisa.
Terdengar tangis haru bahagia Caca dalam pelukan Khalisa.
"Bunda, terima kasih. Sudah bersedia menjadi Bunda Caca. Caca sempat sedih saat Daddy sakit waktu itu. Caca sedih saat Bunda tidak bersama Daddy, tapi sekarang Caca bahagia, karena Caca sekarang punya Daddy dan Bunda." Caca melepas pelukannya, Caca kemudian mencium pipi Khalisa.
CUP!
Ada rasa tak terlukiskan, rasa hangat, nyaman dan kasih sayang dihati Khalisa.
"Beginikah rasanya menjadi seorang ibu? Terima kasih ya Allah atas takdirmu yang indah. Terima kasih telah mengirimkan putri semanis Caca untukku." Batin Khalisa tak berhenti mengucap syukur.
Atas permintaan Kyai Abdullah Nick dan keluarga malam ini menginap di kediaman Kyai Abdullah.
__ADS_1
Tentu saja, Oma Marisa sangat senang, ia merasa kembali memiliki keluarga yang sebentar lagi ia akan memiliki besan.
Setelah shalat magrib berjamaah, dimana Ustadz Salman menjadi imam, kini semuanya menikmati santap malam.
"Pasti ini masakan Khalisa ya Pak Kyai?" Oma Marisa yang beberapa kali pernah mencoba masakan Khalisa.
"Bu Marisa kok tahu? Sejak Khalisa tinggal bersama kami, Saya selalu makan enak." Kyai Abdullah tersenyum sambil memandang Khalisa putrinya.
"Abah terlalu berlebihan." Khalisa yang dipuji Abahnya tampak malu.
"Memang enak Ca, masakan kamu seperti masakan Umma." Salman jadi teringat mendiang Ibu mereka.
"Om Ustad kok panggil Bunda Caca juga?" Caca yang heran pada panggilan Ustad Salman pada Khalisa.
"Jadi saat kecil Om memang panggil Bunda kamu ini Caca, karena lebih gampang buat Om. Eh keterusan jadinya. Ternyata sama dengan Caca juga ya." Ustadz Salman menjelaskan.
"Jadi Om punya dua Caca sekarang, Caca gede dan Caca kecil!" Ustadz Salman dengan tersenyum bahagia sambil menatap pada sang adik dan Caca.
"Jadi bagaimana kelanjutan setelah khitbah tadi siang?" Kyai Abdullah menanyakan pada Nick.
"Kalau Saya inginnya segera Pak Kyai. Namun semua Saya serahkan kepada Khalisa, Saya akan mengikuti." Nick yang tak lepas memandang calon istrinya kini seakan tak sabar ingin mendengar kabar baik.
"Khalisa bagaimana? Apakah kamu bersedia jika segera melangsungkan pernikahan?" Kiai Abdullah meminta pendapat Khalisa bagaimanapun kelak putrinya yang akan menjalani pernikahan itu.
"Khalisa ikut bagaimana baiknya saja Abah." Khalisa meminta Abahnya yang memutuskan tanggal pernikahan keduanya.
"Jika 2 minggu lagi? Apakah Nah Nick siap?" Tembak Kiai Abdullah.
"Insha Allah siap Pak Kyai!" Jawab Nick mantap.
"Bagaimana Khalisa, apakah kamu setuju?" Kembali Kiai Abdullah bertanya kepada Khalisa.
Anggukan Khalisa mewakili jawaban persetujuan darinya.
"Alhamdulillah. Baiklah kalau begitu 2 minggu lagi kita akan melangsungkan ijab kabul kalian berdua." Kyai Abdullah memutuskan.
"Alhamdulillah." Serempak rasa syukur terucap dari semua yang ada.
Rasanya kupu-kupu betebaran, hati yang sempat gersang kini mulai bersemi, jiwa yang sempat sedingin balok es kini mulai mencair dan hangat.
Itu yang dirasakan seorang Nicholas Bryan saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah, atas kesempatan yang engkau berikan padaku, aku berjanji akan menjaga takdir ini dengan sekuat tenaga." Sambil menatap dengan senyum yang terus mengembang batin Nick mengucap syukur.