JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Dira Ngidam


__ADS_3

Huek!


Ustadz Salman yang baru saja masuk ke dalam kamar bergegas menuju kamar mandi setelah mendengar suara muntah Dira istrinya.


"Sayang,"


Sambil memijat tengkluk Dira membantu meringankan sedikit meski mungkin saja tak membanru apapun.


Ustadz Salman membasuh mulut Dira dengan air setelah Dira setelah mengeluarkan isi perut yang hanya sekedar air karena memang belum terisi apapun.


"Mau ke Dokter Sayang?" raut khawatir tergambar dalam raut tentram wajah dang Ustadz sambil mengusap kepala sang istri.


Dira memilih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang pasca mual dan muntah.


Maklum, Morning Sickness kerap kali dialami para wanita yang tengah hamil mida seperti Dira.


"Gapapa Kak. Cuma mual biasa saja." Dira menarik nafas menetralkan gemuruh pasca muntah barusan.


"Kakak buatkan minuman hangat ya, air jahe mau?" tawar Salman.


Dira menggeleng. Dira malah membenamkan wajahnya dalam dada bidang Ustadz Salman.


Sejak hamil, entah bawaan bayi atau apa, Dira senang sekali menempel pada sang suami.


Meski kadang ia sendiri tak mengerti walaupun Salman masih berkeringat dari luar namun bagi Dira aroma tubuh sang suami selalu ia rindukan dan malah semakin membuatnya candu.


"Sayang, Apa ga bau asem? Kakak belum mandi baru habis olahraga."


"Enak baunya Aku suka." Dira malah tersenyum sambil terus mendusel-dusel selayaknya anak kucing.


"Ada-ada saja Kamu Sayang, bau asem begini malah suka. Tapi Kakak seneng Kamu semakin manja deh."


Kecupan bertubi-tubi Ustadz Salman daratnya di pucuk kepala sang istri.


"Kak, hari ini Kakak ga ga ada acara kan?" Dira yang sejak tadi masih senang bermanja dalam dekapan sang suami kini menarik diri menatap wajah tampan suaminya yang selalu ia rindukan.


"Tidak ada. Iman sudah konfirmasi. Memang kenapa? Kamu mau kemana? Biar Kakak temani."


Dira hanya menggeleng.


"Atau mau jalan-jalan saja? Siapa tahu Kamu bosan."


"Kak, Kita ke rumah Khalisa yuk."


"Oke. Kakak hubungi Khalisa dulu ya."


"Langsung kesana aja Kak."


"Ya sudah, Kamu siap-siap dulu. Kota langsung kesana."

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Ustadz Salman dan Dira kini sudah tiba di pekarangan Kediaman Nick.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Om Salman dan Tante Dira." Caca berlari menghampiri keduanya tak lupa mencium tangan kepada Om dan Tantenya.


"Sayang, Bunda ada?" Dira yang digandeng Caca masuk ke dalam rumah mencari keberadaan Khalisa.


"Dira, Kak Salman. Ayo kesini." Khalisa menyapa kedua kakaknya dan meminta mereka bergabung ditaman belakang.


"Wah Kakak Ipar. Sehat?" Nick menyapa keduanya.


"Alhamdulillah." jawab keduanya.


"Masya Allah, ada Bumil, Salman, Dira apa kabar?" sapa Oma Marisa menyapa keduanya dan ditanggapi salam oleh Dira dan Salman.


"Alhamdulillah baik Oma. Oma sehat?" tanya Dira.


"Alhamdulillah. Ini si Kembar selalu bikin Oma makin semangat. Bagaimana kehamilan Kamu Sayang."


"Alhamdulillah Oma. Semua baik-baik saja. Cuma kalau pagi masih mual."


"Wajar itu Sayang. Yang penting Kamu tetap bisa jaga nutrisi ya. Oh Iya, apa Kamu mengidam sesuatu?"


Khalisa menatap Dira begitupun yang lain.


"Sayang, kalau begitu Kakak beli dulu ya." Ustadz Salman hendak beranjak memenuhi keinginan sang istri yang tengah ngidam.


"Bukan beli Kak, tapi," Dira menjeda perkataannya.


"Kakak Ipar, ngidam kepala muda ya. Ayo Aku temani mencarinya." Nick pun hendak menemani sang Kakak Ipar, Salman yang hendak beranjak.


"Bukan beli, tapi mau yang itu." Dira menunjuk salah satu pohon kelapa yang berbuah di taman belakang kediaman Nick.


"Wah kalau gitu, Kalian baik dan ambil buah kelapanya saja! Ayo Salman, Nick Kau juga bantu Salman." Oma Marisa tampak semangat.


Meski tak pernah punya pengalaman naik ke pohon kelapa, namun demi si buah hati dalam kandungan istri tercintanya, Salman akhirnya menuruti permintaan Dira.


"Semangat Kakak! Mas bantu Kak Salman ya." Khalisa memberikan semangat kepada Kakaknya dan meminta Nick membantu.


"Kakak Ipar, Kau pernah naik pohon kelapa tidak?" Nick yang memegangi tangga yang sedang dinaiki oleh Ustadz Salman.


"Belum pernah. Kau sendiri?" masih terus berusaha menuju buah kelapa yang seakan melambai hendak dipetik.


"Apalagi Aku, yakin Kakak Ipar bisa? Aku takut Kita bisa jatuh berdua."


"Bismillah Nick. Yang ikhlas membantuku."

__ADS_1


"Ya, Aku Ikhlas membantu Kakak Ipar. Apalagi istriku senyum senang sekali sepertinya." Nick melihat Khalisa yang antusias memberikan semangat dengan senyuman merekah disaksikan kedua jagoan dan outrinya membuat Nick yak gentar.


"Ya, Kita memang harus semangat Nick. Anak-anakku menginginkan ini dari Aku Abinya." Ustadz Salman juga tak kalah berbinar manakala Dira dengan heboh menyemangati dengan penuh kebahagiaan.


"Daddy, Om, Ayo semangat!"Caca pun fak luput menyuntikkan semangat kepada Nick dan Salman.


Rupanya Gusti dan Iman yang sengaja di hubungi oleh Oma Marisa tepat datang dan melihat atraksi kedua Boss mereka dengan semangat bersorak menyemangati keduanya.


"Boss, Ayo!"


"Ustadz, semangat!"


"Gusti! Kau jangan hanya teriak saja, kemari bantu aku pegangi tangga." Nick malah meminta Gusti membantunya.


"Iman, tolong Saya!" Ustadz Salman pun meminta bantuan.


"Ok Ustadz, siap!"


Akhirnya dengan penuh perjuangan kelapa muda yang diinginkan sang bumil dapat terambil dengan lancar tanpa memakan korban jiwa.


Kini tugas selanjutnya adalah merrka harus mengupas buah kelapa tersebut dan Dira minta dibuatkan es kelapa muda.


Alhasil dengan kisruh Nick, Salman, Iman dan Gusti sibuk menjadi tukang es kelapa dadakan.


Sementara Khalisa dan Dira asik bermain bersama si Kembar dan Caca.


Sebagai mandor tentu Oma Marisa mengawasi keempat tukang kelapa dadakan itu agar es kelapa dapat lancar dibuat.


"Ustadz, ini mau pakai gula merah atai gula putih?" Iman bertanya.


"Sebentar Aku tanya dulu. Sayang, gula merah atau gula putih untuk es kelapanya?" sambil menghampiri Dira dengan keringat bercucuran.


Dira yang melihat peluh di dahi sang suami langsung mengusapi dengan penuh kasih sayang.


"Gula merah saja Kak. Duh makasi ya Calon Abinya triplet! Sampe keringetan begini."


"Sayang, Mas juga haus." rengek Nick tak mau kalah bermanja dengan Khalisa.


"Duh, Daddy ganteng, haus ya, ini minumannya." Khalisa menyodorkan gelas berisi es jeruk untuk diminum oleh Nick.


"Man, nasib Kita para jomblo haus minum sendiri, gerah, ngelap sendiri." Gusti miris meratapi nasib mereka berdua.


"Betul Gus, Kita seperti lagu Caca Handika." jawab asal Iman.


"Yang mana?" Gusti buka pecinta lagu dangdut hingga ia tak mengerti maksud Iman.


"Itu loh, makan, makan sendiri, masak-masak sendiri." Ima malah bernyanyi.


"Sudah Kalian ga usah iri, makanya cari istri!" Nick malah meledek Gusti dan Iman.

__ADS_1


"Kakak Ipar, Ini goloknya," Nick menyerahkan golok agar memudahkan Ustadz Salman membuka buah kelapa hasil petikan mereka.


__ADS_2