
"Ustadz Viral Salman Al Farisi kepergok jalan bersama seorang wanita cantik. Siapakah wanita beruntung itu?"
"Ustadz, Ustadz, sudah lihat berita di media? Di internet juga banyak yang memberitakan soal Ustadz, silahkan lihat Ustadz." Iman dengan langkah terburu-buru segera menghampiri Ustadz Salman yang kini sedang berolahraga di ruang gym rumahnya.
"Iman Kamu saking buru-buru hingga lupa mengucap salam." Ustadz Salman masih melanjutkan sesi berolahraganya.
"Eh iya Ustadz maaf, Assalamualaikum." Lanjut Iman.
"Waalaikumsalam." Ustadz Salman tertawa dengan sikap assisten pribadinya yang terkadang unik.
"Assalamualaikum Kyai." Iman mengucap salam dan mencium yangan pria paruh baya yang kini masuk ke dalam ruang gym tempat dimana Salman berolahraga.
"Waalaikumsalam Iman. Sudah sarapan? Ayo sarapan dulu." Kyai Abdullah memerintah Iman segera sarapan meninggalkan mereka berdua dalam ruang itu.
Melihat situasi tersebut tampaknya Kyai Abdullah akan berbicara 4 mata dengan sang putra, Iman undur diri.
"Saya permisi ke belakang dulu Kyai." Iman membungkukkan badannya pamit undur diri.
Anggukan Kyai Abdullah seiring Iman yang meninggalkan sang Ustadz dan Ayahnya.
"Abah, mengapa disini? Abah belum boleh banyak bergerak." Salman menghentikan kegiatan olahraganya menghampiri sang Ayah.
"Salman, Abah tunggu di ruang kerja."
"Baik Abah, Salman mandi dulu."
Kyai Muhammad Abdullah. Kyai sekaligus pebisnis ternama. Merupakan salah satu konglomerat yang disegani di kalangannya.
Ayah dari Salman Al Farisi yang sejak kemarin telah mengetahui kabar mengenai berita yang mengatakan bahwa putranya bersama seorang perempuan sedang bersama di sebuah Mall.
Sebagai orang tua yang tahu bagaimana sikap dan sifat putranya, tentu Kyai Abdullah tidak mempercayai kabar tersebut begitu saja.
Namun pribadi Salman yang tidak pernah mau berurusan dengan wanita tentu saja membuat tanya di hati seorang Ayah, siapakah gerangan perempuan yang bersama putranya.
"Assalamualaikum Abah."
Salman kini dengan tampilan segar, terlihat sekali pria dengan wajah tampan dan tubuh atletis itu kini tampil dalam balutan busana santai tentu bila tidak tahu siapa Salman layaklah ia bila disebut pria spek model bukanlah seorang Ustadz seperti yang saat ini ia dikenal masyarakat luas.
"Kenalkan Abah dengan perempuan itu Salman. Siapa dia?"
"Abah, dia hanya rekan kerja Salman. Abah tidak percayakan dengan berita diluar sana kan?"
"Abah hanya ingin tahu, siapa gadis yang bersama putra Abah. Siapa namanya?"
"Dia Kanaya Larasati. Pegawai NBC. Dia bertugas sebagai FD di acara tausyiah yang Salman bawakan." Jelas Salman pada Kyai Abdullah.
"Lalu, kalian ada hubungan apa?"
__ADS_1
"Hanya sebatas rekan kerja saja Abah."
"Abah bukannya termakan gosip infotaiment, namun tidak biasanya putra Abah pergi berdua bersama seorang wanita."
"Kami tidak hanya berdua Abah, saat itu ada Iman bersama kami. Foto yang saat ini beredar, kala itu Salman sedang memilih buah tangan dan hadiah untuk putri Tuan Nicholas, CEO NBC, yang saat itu baru pulang dari RS dan Salman hendak menjenguknya. Saat itu Kanaya juga akan kesana, jadi Salman hanya mengajaknya saja. Tidak seperti gosip yang beredar Abah." Salman dengan runtun menjelaskan kronologis kejadian yang sesungguhnya.
"Baru kali ini, putraku berbicara panjang lebar menjelaskan seorang wanita dihadapanku. Boleh Abah mengenal dia?"
"Abah, bukan seperti itu. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Abah jangan termakan gosip."
"Loh, siapa yang termakan gosip, Abah hanya mau kenal dengan wanita berkerudung panjang itu. Sepertinya dia orangnya baik."
"Abah," Salman tahu persis Abahnya tidak akan berhenti sebelum tahu pasti siapa Kanaya.
"Sudah, kita sarapan dulu."
Kyai Abdullah bangkit dari duduknya mengajak sang putra ke meja makan.
Sementara di ruang kerja CEO NBC, Nick menatap ponselnya dengan tatapan galak.
Tok,Tok,Tok!
"Permisi boss, maaf apakah boss sudah baca berita yang sedang viral?" Gusti menyerahkan ipadnya kepada Nick.
"Aku sudah melihat berita tersebut. Cari tahu siapa yang membuat berita sampah itu!"
"Saya sudah mendapat informasi mengenai si pembuat berita." Gusti segera memberikan bukti-bukti.
"Rupanya dia ingin main-main denganku? Oke!"
Gusti merinding manakala melihat senyuman penuh maksud bossnya.
"Gus, kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?"
Nick menatap Gusti sekretarisnya dengan senyum penuh maksud.
"Baik Boss. Segera Saya urus. Permisi!"
Anggukan disertai senyuman smirk Nick mengiringi langkah Gusti melaksanakan apa yang menjadi maksud sang Big Boss.
"Mbak Naya, Mbak!" Dira tampak berlari mengejar Kanaya yanh baru saja duduk di mejanya karena baru saja sampai dikantor.
"Assalamualaikum Dira. Kamu apa kabar?" Sapa Kanaya pada wanita cantik dihadapannya yang baru Kanaya temui.
"Eh iya. Waalaikumsalam. Sampe lupa! Gara-gara gosip jadi lupa salam aku!" Tawa Dira yang kini duduk disebelah Kanaya.
Kanaya geleng-geleng kepala tersenyum dengan ulah Indira.
__ADS_1
"Mbak Naya jadi ngetop sekarang! Mbak sudah lihat beritanya? Beneran Mbak Naya ada hubungan dengan Ustadz Salman. Anak-anak kantor sudah ramai membicarakannya loh Mbak!"
"Maksud kamu apa Dira? Aku ga ngerti?"
Kanaya memang bukan orang yang gemar berselancar di dunia maya.
Punya akun sosial media saja tidak.
Kanaya memang kurang menyukai hal-hal seperti itu meski kini ia bekerja di media.
"Nah ini nih, saat semua orang geger membicarakan Mbak Naya dengan Ustadz Salman, eh yang jadi headline news malah ga tahu apa-apa. Ini Mbak Naya lihat."
Dira menyodorkan ponsel miliknya yang membuka akun sosmed yang indira miliki dan menunjukkan berita soal Ustadz Salman dan Kanaya.
Kanaya melihat dan membaca apa yang tertulis disana.
"Astagfirullah. Bagaimana bisa mereka diam-diam memfoto kami dan menulis berita bohong ini."
Kanaya terkejut manakala melihat foto-foto saat ia menemani Ustadz Salman membeli buah, kue dan hadiah untuk Caca.
"Aku dan Ustadz Salman memang minggu lalu pergi membeli buah tangan untuk menjenguk Caca, karena Caca baru keluar RS. Ustadz Salman mau menengok. Saat itu aku juga diminta Boss datang atas permintaan Caca kerumahnya. Kami mampir ke Mall dan Ustadz Salman meminta aku menemani untuk memilih apa yang sekiranya cocok untuk dijadikan buah tangan. Lagi pula saat itu kami tidak berdua, ada Iman dan sopir Ustadz Salman." Jelas Kanaya pada Dira panjang lebar.
"Beritanya terlanjur meluas. Ustadz Salman saat ini sedang digandrungi cewek-cewek tentu saja berita ini akan menarik perhatian masyarakat. Sepertinya mereka sengaja menyebarkan berita ini agar mendapat perhatian."
"Maksud kamu Dir?"
"Coba Mbak Naya lihat siapa yang merilis berita ini?"
Kanaya melihat dan membaca nama infotaiment yang menyebarkan berita tersebut.
"Mereka bukankah perusahaan yang beberapa waktu lalu kalah tander?"
"Ya. Mereka memang selalu bersaing dengan NBC Mbak. Namun tetap NBC selalu lebih unggul dari mereka."
Kanaya sejenak berpikir.
Ia teringat Nick.
Pasti saat ini si Boss tengah sibuk menyelesaikan persoalan yang suka tidak suka kali ini ada kaitannya dengan dirinya.
Kanaya merasa tak enak hati pula dengan Ustadz Salman.
Bagaimanapun, Ustadz sekelas Salman Al Farisi yang kini banyak diidolakan kaum hawa dengan fans dimana-mana akan terganggu oleh berita ini.
Kanaya semakin resah. Mengapa dirinya dilibatkan oleh hal semacam ini.
Ada rasa takut dalam diri Kanaya akan statusnya yang janda menjadi boomerang bagi orang lain.
__ADS_1
"Ya Allah, engkau maha tahu yang sesungguhnya, lindungan kami dari fitnah keji. Jaga dan lindungi kami ya Allah." dalam hati Kanaya memohon agar Allah senantiasa melindunginya dan orang yang tentu akan dirugikan akan gosip tersebut.