JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Misi Rahasia


__ADS_3

"Nick, Mom harap kamu jujur dengan apa yang kamu rasakan. Mom tahu didalam hatimu masih ada Aurel, tapi tidakkah kamu menyadari bahwa apa yang kau rasakan pada Kanaya adalah bentuk dari rasa cinta?"


Kata-kata Oma Marisa terus saja berputar dalam kepala Nick.


Nick tidak yakin apakah benar itu cinta, atau hanya sebuah ketertarikan semata setelah sekian lama hatinya kosong dan sepi yang berkepanjangan.


Maka disinilah, di hadapan pusara Aurel, Nick datang membawa bunga favorit mendiang istrinya.


"Sayang, apa kabar?" Nick duduk ditepi makam Aurel mengusap nisan bertuliskan nama wanita yang masih setia bertahta di hati Nick.


"Sayang, maaf aku baru kesini mengunjungimu." Tangan Nick sambil memunguti dedaunan kering yang jatuh diatas pusara Aurel.


"Sayang, Caca semakin besar. Dia bawel sepertimu. Setiap hari ada saja ucapannya yang membuatku semakin ingat akan sosok dirimu. Caca begitu mirip dirimu sayang."


"Sayang, mom bilang aku jatuh cinta? Maafkan aku, aku tak maksud menggantikanmu dihatiku. Hingga kini dalam hati dan benakku hanya namamu yang terpatri. Entah, aku sendiri bingung dengan perasaanku belakang. Kau tahu, terkadang kamu lebih memahami diriku Sayang."


Cukup lama Nick berbicara dihadapan pusara mendiang Aurel.


Hingga sore ia baru kembali, setelah puas menceritakan segala kebimbangan dan kegalauan hatinya.


Gusti sejenak bernafas, menikmati waktu senggang yang sangat jarang ia peroleh.


Ya, Big Boss nya sering pulang lebih cepat, entah apa yang dilakukan oleh pemilik NBC tersebut belakangan.


Jika biasanya Nick selalu meminta Gusti ready 24 hours, sudah seminggu selesai jam kantor si Boss sudah keluar kantor dan tidak mau didampingi.


Biarlah itu menjadi privasi Big Boss, toh bagaimanapun Gusti adalah pegawai tidak berhak ikut campur privasi Nick yang notabene adalah Boss nya.


"Hai Bro, long time no see." Sapa teman Gusti pemilik bar.


Gusti hanya tersenyum sekilas kemudian kembali meneguk wine digenggamannya.


"Budak korporat bisa santai juga. Biasanya bahkan kau tak punya waktu untuk sekedar tidur nyenyak!"


"Berisik kau! Sudah sana! Ganggu saja!"


"Ok. Fine. Kalau butuh ditemani  aku punya stok bagus!"


Tanpa menjawab Gusti melempar sebuah bantal kecil kearah temannya yang memang suka usil.


"Eits, Calm Bro! Just kidding. Relax Bro! Gw tinggal dulu. Ingat jangan mabok, gw ga mau repot ngurus Lo!"


"Sudah Lo keluar! Pusing gw ada Lo!"


Gusti yang menatap nyalang keluar Bar melihat seseorang yang ia kenali.


"Mereka? Bukankah itu?"


Dahi Gusti berkerut, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


Dira membuka matanya.


Dira merasakan kepalanya pusing.


Menatap kesekeliling menyadarkan diri, membaca situasi dimana saat ini ia berada.


Kaki dan tangannya diikat.


Disebuah kamar, Dira tak tahu bagaimana caranya bisa berada disini.


Berusaha bangkit mendekat kearah pintu meski langkah begitu sulit dengan kaki dan tangan yang terikat, Dira berteriak agar seseorang membuka pintu.


Lelah Dira berteriak hingga ia duduk tersungkur dilantai berusaha melepaskan kaki dan tangannya namun tak berhasil.


Pintu itu akhirnya terbuka.


Dira menatap benci dengan sosok yang kini ada dihadapannya.


"Mau apa kau!" Dira menatap nyalang, sorot matanya penuh dengan kebencian.


Ustadz Salman duduk bersama sang Ayah di pendopo kediaman mereka setelah keduanya baru saja selesai menghadiri harlah salah satu organisasi keagamaan yang memiliki pengikut terbesar di negara ini.


"Salman duduklah. Abah mau bicara."


Kiai Abdullah menepuk tempat kosong disisinya meminta Salman duduk.


"Abah mau tanya, betul dia wanita yang sama dengan yang beberapa bulan lalu diberitakan bersama kamu?"


"Maksud Abah?"


"Wanita yang beberapa hari lalu tampil sebagai pembawa acara bersamamu di program tausyiah yang kamu bawakan. Benar wanita itu sama dengan wanita yang sempat diberitakan dengan kamu Nak?"


"Iya benar Abah. Ada apa?"


"Kamu menyukainya Nak?"


"Tidak Abah, dia hanya rekan kerjaku saja."


"Abah tahu seperti apa putra Abah. Salman, Abah tahu hatimu masih terus memikirkan keberadaan Khalisa, adikmu. Kamu selama ini terus mencarinya kan? Abah senang kamu begitu khawatir dan berusaha mencari keberadaan Khalisa adikmu. Tapi kamu pun berhak bahagia Nak. Pikirkanlah masa depanmu. Abah rasa sudah waktunya kamu mencari pendamping hidup."


"Salman hanya ingin mencari hingga sampai batas kemampuan Salman Bah. Salman yakin Khalisa masih hidup dan ada disuatu tempat entah dimana. Salman merasa bersalah. Jika dulu Salman tidak lalai menjaga Khalisa, tentu Khalisa tidak akan dibawa kabur ODGJ dan Khalisa saat ini ada bersama kita."


Salman teringat masa kecilnya yang sedang menjaga sang adik namun ia tak sengaja meninggalkan sejenak karena ingin ketoilet namun saat kembali sang adik sudah hilang entah kemana. Dan saat ditelusuri adik Salman terlihat dari CCTV dibawa oleh seorang pasien OGGJ yang lepas dari RSJ. Namun sayangnya ODGJ itu tak lama meninggal dunia hingga tak bisa dicari jejak keberadaan Khalisa hingga kini.


"Nak, jangan pernah kamu menyalahkan dirimu sendiri. Semua yang terjadi adalah takdir Allah SWT. Kita sudah berusaha selama ini mencari Khalisa. Mungkin sudah saatnya kita mengikhlaskan. Bukan dalam artian Abah tidak menyayangi putri Abah, namun Abah hanya takut rasa penasaran dan pencarian kita tidak hanya karena rasa kerinduan kita pada Khalisa namun hati kita yang tidak bisa menerima apa yang telah Allah gariskan. Abah yakin, jikalau Khalisa masih ditakdirkan kembali berkumpul bersama kita, maka Allah akan berikan jalan kepada kita untuk bertemu dan berkumpul kembali dengan adikmu."


Meski berat Salman menerima ucapan Kyai Abdullah.


"Kapan kamu akan mengenalkan Abah dengan wanita itu?"

__ADS_1


"Bah, Kanaya hanya rekan kerja. Salman malu jika nanti Abah menganggap dia ada hubungan dengan Salman. Lagi pula jika Abah tahu status Kanaya, apa Abah masih mau meneruskan niat Abah?"


"Ada apa dengan status wanita bernama Kanaya itu?"


"Dia janda Bah. Kanaya sudah 8 tahun bercerai dari suaminya. Penyebab perceraiannya karena Kanaya tak kunjung memiliki keturunan hingga mantan suaminya berselingkuh."


"Astagfirullah. Sungguh keji laki-laki seperti itu. Betapa malang nasibnya. Abah semakin simpati dengannya. Bawalah dia untuk menemui Abah. Abah tidak mempermasalakan statusnya. Selagi ia wanita sholeha, dan mencintai putra Abah, Abah akan menerimanya sebagai menantu Abah."


"Abah ini, sudah menantu saja yang dibicarakan. Aku benar tidak memiliki hubungan spesial selain rekan kerja Bah. Jangan buat aku malu Bah!"


"Kalau kamu tidak menyukainya, kenapa harus malu Salman. Kamu ini, Abah tahu bagaimana kamu. Ya sudah begini saja, Abah lihat dia kemarin menjadi MC di acaramu. Bagaimana kamu undang dia sebagai MC untuk acara di haul pesantren kita. Kamu mengisi tausyiah dan dia menjadi pembawa acaranya."


"Baiklah. Tapi Salman tidak janji, karena Kanaya tentu harus menyesuaikan dengan jadwalnya di NBC."


"Itu hari Ahad Salman. Bukankah ia libur?"


"Tapi Bah,"


"Sudah, tanyakan dulu, kalau dia bersedia Alhamdulillah, kalau tidak, doa sama Allah agar dia mau."


"Abah ini, ada-ada saja, itu sih maksa namanya."


Kyai Abdullah tersenyum melihat reaksi putranya yang ia rasa selalu malu jika berurusan dengan perempuan.


Oma Marisa saat ini sedang mengajak Caca bermain di sebuah arena bermain.


Oma Marisa sengaja mengajak Caca agar bisa berbicara dan mengetahui isi hati cucu tercintanya.


"Jadi menurut Caca, bagaimana kalau Oma ingin menjodohkan Daddy dengan Tante Naya? Apa Caca setuju?"


"Caca senang sekali Oma. Tante Naya baik. Bisa jadi teman Caca, guru Caca, sekaligus Bunda untuk Caca. Tapi, apa Daddy suka dengan Tante Naya? Daddy galak banget Oma dengan Tante Naya! Caca kesal dengan Daddy selalu saja marahin Tante Naya!"


"Soal itu biar Oma yang pikirkan. Yang penting Caca setuju dulu. OK?"


"Ok Oma! Terus Caca bantu apa?"


"Sini Oma bisikan."


"Kamu pahamkan harus apa Sayang?"


"Tapi kalau Tante Naya jadi suka dengan Om Ustadz bagaimana? malah semakin takut dan jauh dari Daddy bagaimana?"


"Tidak akan, Oma lebih tahu bagaimana Daddy kamu. Daddy kan putra Oma. Pokoknya Caca ikuti saja yang Oma bilang tadi. Ok?"


"OK Oma!"


"Good. Cucu Oma emang paling pinter!"


Senyum Marisa merekah kini ia semakin yakin dan mantap menjalankan misinya.

__ADS_1


__ADS_2