
Musibah datang tanpa kita duga.Siapapun kita musibah itu bisa datang dan pergi tanpa permisi.
Eldric menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan Karina. Pria itu meruntuki kebodohannya, bukan inginnya semua ini terjadi pada istrinya. Karina meminta pada Eldric untuk tidak membawa pengawal saat mereka pergi berdua. Ia yakin suaminya bisa menjaganya dengan baik, ia selalu berkata ingin berdua saja. Seharusnya El mengabaikan permintaan istrinya itu, seharusnya ia bisa lebih tegas.
El segera bangkit dari duduknya saat seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan istri saya?" todong Eldric.
"Plasenta janin terlepas dari dinding rahim karena benturan keras. Detak jantung janin Anda melemah, kami harus segera mengoperasi pasien jika tidak ini akan membahayakannya ibu dan juga janinnya."
El berusaha menguatkan raganya untuk tetap berdiri. Ia seakan tak ingin mempercayai apa yang baru saja di ucapkan oleh dokter. Kehamilan Karina memang sangat rawan mengalami kelahiran prematur dan kompleksi. Apalagi adanya janin istimewa yang ada dalam kandungannya.
Namun, bagaimanapun ia menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang terjadi, hatinya tetap saja merasa sakit. Ia tidak bisa lagi membayangkan jika sesuatu yang lebih buruk terjadi pada karina.
"Lakukan yang terbaik Dokter," ucap Eldric dengan suaranya yang bergetar.
"Kuatkan hati Anda Tuan, istri Anda sangat membutuhkan dukungan dari Anda sekarang. Saya akan menyiapkannya ruang operasi," ujar sang dokter yang di jawab anggukan oleh Eldric.
"Boleh saya masuk, Dok?"
"Silahkan." Dokter itu kemudian melangkah menjauh.
Pasien VVIP rumah sakit memang diberikan akses khusus untuk di temani oleh pihak keluarga.
Eldric mengambil nafas dalam. Perlahan ia mendorong pintu ruangan itu.El berusaha untuk menahan air mata. Beberapa suster dan seorang bidan sedang bersiap untuk melakukan anastesi.
Karina telah memakai baju steril berwarna hijau, Karina terbaring miring sambil memeluk erat kedua lututnya, ibu hamil itu meringkuk seperti bola.
Eldric melangkah cepat mendekati istrinya, tetapi seorang perawat menahannya.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?" tanya Eldric dengan suaranya yang meninggi.
"Maaf Tuan, Bidan sedang melakukan induksi epidural, mohon tunggu sebentar," cegah suster itu.
Eldric akhirnya mengalah, ia hanya berdiri mematung di sana melihat sang istri yang sedang menerima suntikan anastesi. Setelah bidan selesai El secepat kilat melangkah mendekat.
"Honey," panggil El dengan lembut.
Mata Karina yang tadinya tertutup perlahan terbuka, ia menatap lekat wajah sang suami dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Eldric meraih tangan istrinya, mengecupnya berkali kali.
"Maafkan aku," ucapnya dengan penuh rasa bersalah.
Karina hanya menggelengkan kepala, ia mencoba menahan rasa sakit akibat suntikan tadi. El mengecup keningnya dengan lembut.
"Sakit?"
Karina mengangguk, genggaman tangannya sangat kuat mencengkram tangan suaminya. Karina mencoba menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Ruang operasi sudah siap, Kami akan membawa Nyonya sekarang," ucap seorang perawat yang sudah memakai baju steril.
"Aku takut," ucap karina.
Hati yang sudah ia siapkan nyatanya tidak bisa menguatkan dirinya sekarang. Sejak awal Karina sudah di peringatkan tentang kehamilannya yang beresiko lahir prematur dan operasi, Karina sudah mencoba menyiapkan dirinya. Namun, ibu hamil itu masih merasa ketakutan.
"Aku akan menemanimu."
"Benarkah?"
"Tentu." El mengecup kening istrinya sebelum mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Para suster mulai mendorong brankar Karina, sementara seorang suster lain mengajak El untuk mensterilkan dirinya sebelum turut masuk kedalam ruang operasi.
💫💫💫
Eldric menemui istrinya di ruang operasi, ia berusaha menguatkan dirinya. El sadar hanya dia satu-satunya orang yang ada untuk istrinya sekarang. Karina membutuhkannya.
Setelah satu jam operasi akhirnya selesai. Karena lahir prematur bayi Karina langsung dibawa ke NICU untuk dihangatkan dan mendapatkan perawatan khusus. Sementara sang ibu di pindahkan ke area pasca operasi, dimana dokter dan para perawat akan terus memantaunya.
"Sayang dimana bayi kita?" tanya karina dengan suaranya yang lemah.
Wanita itu terlihat pucat dan sangat kelelahan.
"Dia ada diruang bayi, Honey. Kau tidak perlu khawatir, istirahatlah. Setelah itu akau akan membawamu menemuinya," ucap Eldric.
"Apa dia sehat? aku ingin melihatnya sekarang," rengek Karina.
"Nanti, kau juga butuh istirahat. Zoe tidak akan suka jika ia melihat ibunya kelelahan seperti ini. Menurutlah." Eldric mengecup kening istrinya turun ke kedua kelopak mata dan Bibinya yang pucat.
"Zoe, nama yang bagus. Lalu siapa nama bayi laki-laki kita?" tanya karina.
"Zack, Zack Hugo. Maaf Honey, kau tidak bisa melihatnya," ucap Eldric sendu.
Eldric tidak ingin Karina melihat jasad bayi mereka yang, ia takut Karina akan shock melihatnya.
"Kenapa?"
"Aku harus segera mengebumikannya segera," kilah Eldric.
"Em ... setidaknya aku sudah bersamanya beberapa bulan ini. Dia anak yang baik, dia akan selalu menjaga zoe. Iyakan?" Karina menatap kosong pada langit-langit kamar.
__ADS_1
"Mereka semua anak-anak hebat, karena kau ibu yang hebat. Tidurlah, kau harus mengistirahatkan dirimu."
Karina mengangguk, ia perlahan memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lemah ia ingin beristirahat sejenak.