
Zoe sepertinya menerima negosiasi yang di tawarkan ayahnya, setelah di belikan mainan baru bayi itu jadi lebih tenang. Tidur malamnya pun anteng.
Waktu sudah tidak untuk mulai rajin menggarap lahan pertanian dengan benih-benih cinta eldric. Dengan senang hati ia melakukannya, hampir setiap malam. Tak hentinya ia berusaha dan berdoa agar benih baru segera tumbuh di rahim istrinya.
Saat kamar utama penuh dengan suara manja karena sang tuan penguasa yang tak henti bercocok tanam.
Di kamar lain seorang laki-laki tengah menahan rindunya
😍😍😍😍😍
"Hay," sapa joe dengan kaku pada kekasihnya di ujung telepon.
"Hay, bagaimana kabarmu?" jawab levina sambil menatap jauh ke luar jendela kamarnya.
"Aku baik, bagaimana denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya joe berusaha untuk tenang, meskipun ia dadanya bergemuruh merasakan rindu.
Ia berusaha setenang mungkin, joe tahu levi sedang berjuang untuk mereka di sana. Menjalin kembali hubungan yang semakin renggang dengan ayahnya dan itu karena dia.
"Aku baik, kau tak perlu khawatir." Levina meremas dadanya, ia merasakan hal yang sama rindu yang sangat menyiksanya.
Sekuat tenaga levina menahan rasa rindu yang begitu menggebu di dadanya, membuatnya sesak. Mendorong cairan bening di matanya untuk keluar sebagai ganti dari ribuan kata yang berputar di otaknya.
"Suaramu bergetar."
Joe mungkin tidak melihat lelehan kristal di pipi kekasihnya. Namun, ia bisa merasakan kerinduan yang mendalam pada tiap kata yang ia dengar.
"Itu hanya angin, bukan aku," kilah levina, ia semakin meremas tangannya di dada. Berharap bisa mengurangi rasa sesaknya.
"Kau tidak bisa berbohong padaku."
"Aku ...aku merindukanmu."
Kata itu akhirnya terucap seiring dengan lelehan air mata yang semakin deras. Suaranya terdengar semakin bergetar, ia terisak hebat.
"Levina ...."
"Levina ...."
__ADS_1
Joe terus mengucapkan nama kekasih, hanya namanya. Levina terduduk rindunya semakin mengerat memeluk paru-parunya, membuatnya sulit bernapas.
"Joe. Apa aku bisa?"
Dokter cantik itu rapuh, sangat rapuh. Ia hanya selalu menutupinya. Hanya bersama joe ia bisa menunjukkan sisi terlemahnya, di hadapannya keluarganya ia harus sempurna tanpa cela.
"Kau pasti bisa, kau wanita kuat," ujar joe.
Laki-laki itu menatap langit malam yang berselimut awan tipis, kelip bintang tersembunyi dibalik awan hitam. Terlihat indah dan jauh, sama seperti perasaannya saat ini. Levina yang sangat jauh dan sulit ia gapai.
Cinta mereka begitu klasik, sebuah kisah yang terhalang kasta dan tahta. Joe hanya seorang keponakan dari kepala pelayan di mansion eldric, seorang yang membangkang dari keluarga hugo. Sedangkan levina, ia adalah putri bungsu dari kakak pertama ayah eldric.
Keluarga hugo sangat pemilih, bibit bebet bobot siapa saja yang akan masuk ke keluarga mereka. Nama baik sangat penting bagi mereka, pamor yang mereka bangun selama bertahun-tahun tidak boleh rusak begitu saja.
Cinta joe dan levina sudah bersemi sejak remaja, levina yang cengeng selalu mengadu padanya saat sang ayah memarahinya. Memaksa gadis kecil itu untuk mengikuti peraturan rumah dan keinginannya. Pernah sekali levina kabur bersama joe saat gadis itu tidak ingin mengikuti kelas tata krama yang menurutnya membosankan. Mereka tertangkap, joe menerima hukuman dari ayah levina di kurung selama tiga hari di ruang bawah tanah.
Hanya bersama joe levina bisa tertawa, menjadi lembut dan menunjuk sisi lain dirinya yang pemalu dan manja. Dia menjadi angkuh dan menyebalkan saat bersama orang lain untuk menutupi dirinya.
Saat mereka beranjak dewasa dan menyadari debaran cinta mereka, joe mencoba untuk tidak tenggelam. Ia menyadari posisinya, tetapi levina dia tidak peduli. Ia ingin joe bersamanya. Baginya joe adalah perlindungannya, cinta joe sangat besar pada levina hingga ia tidak ingin sang gadis terluka.
Ketika joe memilih untuk mengikuti sang tuan keluar dari rumah besarnya. Di sanalah ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan levina, ia tidak ingin membuat orang yang dicintainya menderita dan di benci keluarganya, seperti eldric. Dianggap sebagai pembangkang.
Joe masih diam mendengarkan isak tangis pilu sang kekasih. Ingin rasanya ia memeluk dan membelai surai hitam miliknya. Joe tahu benar bagaimana calon ayah mertuanya memperlakukan putrinya.
"Aku akan menjemputmu, melamar mu langsung pada ayahmu," ucap joe dengan sungguh-sungguh.
"Jangan!"
"Kenapa? aku kau ragu padaku? aku memang pernah memutuskan hubungan kita, tapi itu semata-mata karena aku tidak ingin membuatmu sakit."
"Aku tau, aku tidak pernah meragukan mu. Tapi aku takut ayahku dia akan berbuat buruk padamu."
"Kau adalah putri dari ayahnya, sebagai seorang laki-laki aku akan memintamu dari dia. Meski dia akan mengusir atau bahkan membunuhku."
"Jangan kemari aku mohon, aku mohon. Aku tak sanggup melihat kau terluka karena ayah," ujar levina dengan terisak, tangannya gemetar.
"Kau sudah berkorban dengan mengikuti langkahku, bukankah kepulanganmu ke sana juga untuk memperjuangkan hubungan kita. Kau sudah berkorban begitu banyak Sayang kenapa aku tidak," ucap joe dengan lembutnya.
__ADS_1
"Joe Valentino .... aku membencimu!" pekik levina. Kata yang begitu manis yang Joe ucapkan membuatnya
Joe tersenyum menerawang langit membayangkan wajah cantik levina yang basah karena tangisnya, pasti mengemaskan.
"Tunggu aku datang Sayang."
Joe memutuskan sambungan teleponnya. Mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Perlahan ia memejamkan matanya berharap bisa bertemu levina dalam mimpinya.
Sementara itu levina mendekap erat ponselnya, membayangkan sang pujaan hati ada di hadapannya. Dia penguatnya, pelindungnya.
Levina berdiri berusaha menguatkan dirinya. Ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sudah waktunya makan malam, ia harus tepat waktu ada di meja makan.
Setelah di rasa cukup segar levina keluar dari kamarnya. Ia mengayunkan langkahnya ke ruang makan dimana kakak laki-lakinya sudah menunggu.
Levina hanya diam, dia menarik kursi yang ada di hadapannya untuk duduk. Tak lama kemudian sang kepala keluarga datang lalu duduk di kursinya. Ia melirik sekilas pada wajah putrinya yang terlihat basar dengan mata yang sembab.
"Kau menangis sampah itu lagi," sang ayah memulai pembicaraan antara mereka.
Levina hanya diam, ia mengambil makanan untuk sang ayah dan kakaknya. Sebagai yang paling muda ia harus melayani mereka.
"Kau akan menikah dengan pilihan ayah!" geram Alessio, melihat putrinya yang beberapa waktu lalu pulang pelarian dirinya.
"Aku hanya akan menikah dengan laki-laki pilihanku!" tegas levina, ia menatap tajam pada wajah pria paruh baya itu.
"Anak pungut itu tidak pantas masuk dalam keluarga hugo!"
"Dia memang tidak pantas masuk dalam keluargamu, tapi aku merasa terhormat menyandang nama Valentino."
"Levina!" Allesio mengepalkan tangannya erat, raut wajahnya menegang. Mata elangnya menatap sang putri dengan tajam.
Namun, Levina tak gentar sedikitpun. Ia melihat sang ayah juga sama tajamnya.
"Aku akan membuatnya menyesal karena telah lahir ke dunia ini," ancam Alessio.
"Jika ayah menyentuhnya, maka aku akan menjadikan diriku tameng untuk cinta kami," jawab levina dengan tenang. Ia duduk dan mulai menikmati makan malam yang seperti bara api dalam mulutnya.
Ia berusaha untuk mengambil hati sang ayah, menuruti apa yang ia mau. Tetapi untuk menerima perjodohan, tidak. Lebih baik levina mati bersama cintanya daripada harus bersama dengan orang lain.
__ADS_1
Cepat datang dan bawa aku pergi, Sayang.