Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Jeritan tengah malam


__ADS_3

Malam telah menyapa. Semilir angin membelai lembut ranting pepohonan. Karina masih duduk di teras mansion, ia menunggu kedatangan sang suami.


Tidak seperti biasanya. Suaminya itu akan selalu pulang tepat waktu, tapi hari ini pria itu belum menunjukkan batang hidungnya. Padahal ini sudah lebih dari jam sembilan malam.


Karina mengusap lengannya dengan kedua tangannya. Hembusan angin membelai lengannya yang tidak tertutup kain, Karina memakai dress selutut tanpa lengan malam ini.


"Nyonya sebaiknya anda menunggu di dalam saja, di luar sangat dingin. Anda bisa sakit," bujuk berto.


"Apa Paman mendoakan aku sakit? tega sekali Paman, aku tidak menyangka Paman Setega itu," ketus Karina.


"Bukan, seperti itu maksud saya Nyonya. Saya hanya tidak ingin Nyonya sakit, apalagi anda memakai baju tanpa lengan. Pasti terasa dingin bukan, jadi sebaiknya Nyonya menunggu di dalam saja."


"Sekarang Paman menyalahkan caraku berpakaian!"


"Tidak Nyonya." Berto menghela nafasnya, ia tidak tahu kenapa emosi nyonya kecilnya begitu meletup-letup hari ini.


"Kenapa Paman menghela nafas, marah?"


"Tidak Nyonya. Saya akan mengambilkan selimut untuk Anda."


Berto pun lebih memilih menghindar sebelum mendapatkan semprotan merica dari sang nyonya.


Tak berapa lama kemudian berto kembali dengan membawa selimut berwarna pink dengan gambar hello kitty yang di beli sang nyonya kemarin.


"Nyonya silakan," ujar berto sambil memberikan selimutnya.


"Kenapa tidak dari tadi sih, apa Paman sengaja membuatku membeku di sini!"


Astaga nyonya, apa yang terjadi pada anda sebenarnya.


"Maafkan saya Nyonya," ucap Berto.


Hening sesaat. Karina meraih selimut dari tangan berto kemudian ia bentangkan untuk menutupi tubuhnya.


"Kenapa Paman diam? Paman tidak salah, kenapa minta maaf?"


Berto mengerutkan keningnya, ia sungguh bingung dengan sikap nyonya kecilnya yang berubah-ubah.


Karina terus menatap lurus kearah gerbang yang tak kunjung terbuka. Sebenarnya gadis itu merasakan kantuk yang luar biasa, apalagi setelah menyantap dua porsi spaghetti bolognese buatan berto. Namun, ia ingin terlelap di ketiak suaminya. Karina sangat ingin menyusup di sana sekarang.


"Paman kenapa eldric belum pulang? dia tidak akan tidur di kantornya kan?" tanya Karina dengan sendu.


Berto bisa merasakan sang nyonya begitu mengharapkan kedatangan dari tuannya. Berto tersenyum tipis.


"Tidak Nyonya, tuan hanya sedikit terlambat pulang hari ini," jawab berto.


"Sedikit terlambat kata Paman. Apa paman tidak tahu ini jam berapa?"


Karina mencari ponselnya untuk melihat jam. Namun, ternyata ia tidak membawanya. Berto berusaha menahan tawanya melihat wajah sang nyonya yang di tekuk masam.


"Sekarang jam berapa Paman?" akhirnya Karina memutuskan untuk bertanya.


Berto melirik sekilas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Pukul sembilan lebih lima belas menit, Nyonya."


"Ya, jam sembilan lebih lima belas menit dan dia belum pulang, dia sudah sangat terlambat. Aku hampir mati kedinginan menunggunya. Apa dia tidak khawatir istrinya yang cantik dan seksi ini di gigit nyamuk-nyamuk nakal, dasar tega," Karina terus saja menggerutu sambil sesekali mengeratkan selimutnya.

__ADS_1


Sementara berto masih setia berdiri di sampingnya. Mendengarkan ocehan sang nyonya, seperti radio.


Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya pintu pagar mansion terbuka. Sebuah mobil mewah berwarna hitam perlahan memasuk hingga terhenti di depan mansion. Joe segera turun kemudian membukakan pintu untuk sang tuan. Eldric pun bergegas turun lalu menghampiri istrinya yang terlelap di atas kursi.


"Selamat datang Tuan," sapa Berto sambil membungkuk hormat.


"Kenapa dia bisa tertidur di sini?" tanya eldric dengan geram.


"Maafkan saya Tuan, nyonya bersikeras menunggu kepulangan anda di sini."


Eldric langsung mengangkat tubuh mungil istrinya masuk. Ia bergegas membawa istrinya ke kamar. Sesampainya di kamar eldric merebahkan karina dengan perlahan, ia mengusap lembut pipi istrinya yang terasa dingin. Eldric tersenyum kecil, ia kemudian mengecup singkat kening istrinya kemudian pergi membersihkan diri.


Setelahnya, eldric pun turut membaringkan dirinya di sebelah sang istri. Melingkarkan tangannya di pinggang kecil itu, mencari posisi ternyaman untuk melabuhkan dirinya kepulauan kapuk.


🌕🌕🌕🌕


Karina menggeliat kecil, ia berusaha melebarkan matanya yang baru saja terbuka. Gadis itu masih sangat mengantuk. Namun, cacing dalam perutnya sudah berdemo meminta jatah makanan.


"Sejak kapan aku ada di kamar," gumamnya lirih.


Karina melepaskan pelukan suaminya, ia mendudukkan dirinya. Gadis itu tersenyum kecil melihat wajah sang suami yang tertidur pulas di sampingnya. Ia kemudian mengecup singkat kening dan kedua pipi pria itu.


"Emh ...laper banget." Karina memegangi perutnya yang terasa perih, seakan belum pernah diisi. Padahal ia sudah makan dua porsi spaghetti sebagai makan malamnya.


Perlahan ia pun turun dari ranjangnya. Dengan langkah kecilnya Karina keluar dari kamar. Ia pun bergegas menuju dapur dengan tergesa-gesa, keadaan mansion yang gelap tidak menyurutkan niatnya untuk berlari ke dapur.


Sesampainya di dapur. Ia mulai membuka tiap laci dan lemari kecil yang ada di sana, isi lemari pendingin pun tak lepas darinya.


"Kenapa tidak ada?" gumam karina, mata gadis itu mulai berkaca-kaca karena tak kunjung menemukan apa yang diinginkannya.


"Huaaaaaa!!"


Karina menjerit keras.


Eldric yang mendengar jeritan itu pun segera bergegas keluar. Ia terkejut dan merasa khawatir, apalagi saat melihat sang istri tidak ada disisinya.


Dengan langkah lebatnya Eldric menuruni anak tangga, secepat kilat ia berlari ke arah dapur. Samar-samar ia mulai mendengar suara tangisan dari sana.


"Karina!" pekik eldric.


Karina menengadahkan kepalanya. Gadis itu duduk dengan menekuk kedua lututnya. Ia menangis tersedu di antara semua barang dapur berserakan di lantai.


Eldric mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri. Karina masih terisak, air mata dan ingusnya keluar membasahi wajahnya. Eldric segera mengambil beberapa tisu di meja, lalu membersihkan wajah istrinya.


"Apa yang kau lakukan? kenapa dapur bisa berantakan seperti itu?" tanya Eldric sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Aku lapar," jawab Karina dengan memelas.


"Kau lapar, apa kau tidak makan malam?"


"Aku makan tapi-


"Tuan."


Joe dan Berto baru saja datang. Sepertinya mereka juga mendengar jeritan sang nyonya kecil.


"Berto apa kau tidak memberi istriku makan?!" sentak eldric.

__ADS_1


"Nyonya makan dengan baik malam ini, dia malah makan dua kali lebih banyak dari biasanya," jawab berto apa adanya.


"Lalu kenapa dia bisa lapar tengah malam begini?!"


Karina hanya dia mendengar suaminya memarahi berto, dalam otaknya sekarang hanya ada makanan yang ia inginkan itu.


"Paman, kenapa di dapur tidak ada mie instan?" tanya Karina dengan sendu.


"Maaf Nyonya, di dapur saya tidak pernah ada makanan itu. Itu sangat tidak sehat, jadi saya tidak pernah membelinya," ujar berto menjelaskan.


"Tapi aku ingin itu, aku mau makan mie instan sekarang!"


"Astaga, jadi kau menghancurkan dapur hanya untuk mencari makanan sampah itu?!" bentak eldric.


"Itu bukan sampah, itu makanan dan aku menginginkannya!" sahut Karina kesal.


"Itu sampah, itu hanya akan membuatmu sakit!"


"Bukan, itu makanan favoritku!' pekik Karina.


"Itu tidak sehat Nyonya," ujar Berto mencoba menengahi.


"Diam!" sentak keduanya secara bersamaan.


"Dengar karina, kalau kau lapar. Berto akan memasak sesuatu untukmu, mengerti."


"Dengar Tuan Eldric, aku hanya mau mie instanku, dan jangan harap bisa tidur seranjang denganku kalau mie itu belum ada di hadapanku. Mengerti!"


Karina melenggang pergi meninggalkan Eldric yang masih melongo mendengar ucapan istrinya.


Sementara Berto mengelus dadanya, air matanya hampir saja jatuh melihat keadaan dapurnya.


"Dapurku," lirih berto.


"Sabar Paman." Joe mengusap punggung pamannya pelan.


Eldric yang baru bisa mencerna ucapan istrinya pun segera berpikir cepat.


"Joe, pergi beli semua mir instan di minimarket sekarang!!"


"Siap Tuan!"


.


.


.


.


.


.


Semangat Bang Joe.


Emak nitip es krim ya 😅😅

__ADS_1


__ADS_2