
Malam ini el pulang agak larut perkerjaannya sangat menumpuk di kantor, setelah mobil yang di tumpanginya berhenti ia bergegas turun dari mobilnya.
"Honey, aku pulang!" serunya memanggil karina.
"Nyonya ada di kamar Tuan," sahut berto.
"Dia tidak keluar?"
"Seperti biasanya nyonya hanya diluar saat Anda sarapan dan setelah itu ia akan menjemur zoe di halaman belakang sebentar, setelahnya nyonya hanya akan keluar saat makan saja," jawab berto.
Eldric menghela nafasnya, setelah melahirkan karina memang sedikit berubah. Ia lebih penyendiri.
"Apa karina sudah makan?" Eldric melangkah cepat menuju kamarnya.
"Sudah Tuan, nyonya makan salad lagi."
"Apa salad sayur lagi!" Eldric menghentikan langkahnya lalu menoleh pada berto yabg mengekor di sampingnya.
Berto mengangguk.
"Selain itu, apa dia makan sesuatu?"
"Hanya buah apel dan susu saja," jawab berto.
"Astaga apa yang dia pikirkan? bagaimana bisa kenyang hanya dengan makan makanan kambing seperti itu." Eldric memijit pelipisnya, ia mulai bingung dengan sikap karina.
Eldric melanjutkan langkahnya ke kamar, dengan kasar ia membuka pintu kamarnya. Ia mengayunkan langkahnya mendengar ke ranjang setelah menutup pintu.
"Astaga honey, apa yang terjadi padamu sebenarnya?" tanya el pada karina yang terlelap. Kedua matanya sembab, bisa di pastikan ia menangis sebelum memejamkan matanya, bahkan pipinya masih basa saat el menyentuhnya.
Karina terlelap dengan zoe di atas ranjang. Bayi mungil itu terlihat damai tidur di sisi ibunya.
Eldric mengecup kening istrinya sebelum beranjak menjauh. Ia segera melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya untuk memulai ritual mandi. Setelah cukup lama el menghabiskan waktunya di kamar mandi, ia pun menyudahi acara bersih-bersih.
"Kau kapan pulang?" tanya karina dengan suaranya yang serak khas orang bangun tidur.
El yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya, mengayunkan langkahnya mendekati Karina yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Baru saja," jawab el kemudian mengecup kening istrinya dengan bibirnya yang basah.
"Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya karina, ia menatap el dengan matanya yang bengkak karena menangis.
__ADS_1
"Kau terlihat lelah Hon, aku tidak tega jika membangunkanmu."
"Kau tidak tega, atau kau anggap aku sudah tidak berguna," tukas karina. Mata karina sudah kembali berembun.
"Sayang, tidak seperti itu. Jangan pernah mempunyai pikiran bodoh seperti itu."
"Jadi aku bodoh, kau memang seharusnya
tidak menikah dengan wanita bodoh sepertiku!"
Entah kenapa karina merasa marah, bukan pada el, tetapi pada dirinya sendiri. Ia merasa tidak bisa menjadi istri yang baik, ia kerepotan mengurus zoe sendirian sampai tidak mengurus el seperti dulu. Meskipun ia bersikeras untuk melakukannya. Namun, lebih sering ia tidak melakukannya karena zoe yang tidak bisa di tinggal.
"Honey, bukan begitu maksudku. Cobalah untuk tenang ya," bujuk el dengan lembut.
"Tenang, kau suruh aku tenang. Jam berapa kau pulang? apa kau pikir aku tidak menunggumu seharian heh? apa kau mencari wanita lain untuk memuaskan hasratmu karena aku tidak bisa melakukannya?!"
"Karina apa yang kau pikirkan!" El mengepalkan tangannya, ia merasa tidak terima karena karina menuduhnya seperti itu.
Bukan tanpa alasan karina mengatakan itu, sejak tadi sore dia menghubungi eldric tetapi tidak bisa. Ia terus menunggu kepulangan suaminya dengan duduk di lantai dan membuka tirai jendela kamarnya agar bisa melihat mobil el yang datang. Malam semakin larut tanpa kabar dari suaminya, karina di landa ketakutan yang besar.
Setelah mandi dan menidurkan zoe Iya terus mematutkan dirinya yang tanpa busana di depan kaca. Karina berubah, tubuhnya tak seperti dulu lagi, stretch mark
di perut dan pangkal paha, bekas jahitan yang masih jelas terlihat kulit perutnya sedikit menggelambir, sebenarnya hanya sedikit tetapi itu cukup membuat Karina merasa tidak percaya diri.
Karina bukan wanita yang baik, ia tidak bisa menjaga anaknya bahkan saat masih dalam kandungan. Rasa bersalah itu masih bersarang di hatinya. Bagaimanapun ia menutupnya saat sendiri seperti ini semua rasa itu muncul ke permukaan begitu saja.
Ia selalu menyalahkan diri. Bagaimana karina bisa tersenyum sementara zack kedinginan di bawah sana.
Rasa bersalah itu seolah meminta pertanggungjawaban darinya. Menyeretnya untuk merasakan kesedihan, rasa kecewa pada sikapnya yang baik-baik saja meskipun kehilangan satu dari bayinya.
El menatap tajam pada istrinya, keadaan tubuhnya yang lelah membuatnya mudah tersulut emosi. Namun, el masih berusaha menahannya.
"Lalu kenapa kau tidak mengangkat telfonmu? kau pasti sedang bersama wanita lain," tuduhnya pada el.
El diam sejenak.
"Kau meneleponku?"
"Iya," jawab Karina kemudian membuang mukanya ke samping, memutuskan tatapannya pada eldric.
"Kapan?" tanya el dengan nada yang lebih lembut.
__ADS_1
"Tidak usah bertanya, cek saja ponselmu!" jawab karina dengan ketus.
Karina beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkah menuju kamar mandi. El segera melihat ponselnya. Ia meremas benda pipih itu dengan kuat dan hampir menghancurkannya.
Panggil tak terjawab dari karina ada lebih dari dua puluh kali, tiga puluh lima pesan tak terbaca dan voice note. El memang sengaja mengatur ponselnya dalam mode silent agar tidak menganggu perkerjaannya, niatnya untuk menyelesaikan perkerjaan lebih awal dan cepat pulang malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"S**t, aku yang bodoh. Kau bodoh Eldric hugo, kau pria terbodoh di muka bumi," el mencaci maki dirinya sendiri.
Pantas saja istrinya merajuk dan marah. Karina yang baru selesai mencuci muka dari kamar mandi, mengacuhkan el yang berjalan kearahnya.
"Honey aku minta maaf, Aku salah."
El memeluk erat istrinya dari belakang. Karina hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun.
"Honey katakan sesuatu, aku mohon."
"Sudahlah aku yang salah, mungkin aku terlalu posesif," tukas Karina.
Raut wajahnya terlihat begitu sendu. El merasa begitu bersalah pada karina, ia meruntuki kebodohannya.
"Sayangku, kenapa kau tidak menghubungi joe atau nomer kantor?" tanya el.
"Aku lupa," jawab karina jujur.
Saat itu ia hanya memikirkan el, ia lupa jika banyak nomer lain yang bisa ia hubungi. El mengerutkan keningnya, ia merasa aneh dengan sikap karina.
"Kenapa bisa lupa? biasanya juga kau menghubungi joe?"
"Aku tidak tau, hanya tidak kepikiran saja," kilahnya.
"Apa kau lapar Hon? aku dengar dari berto. kau hanya makan salad sayur dan buah seharian ini. Bagaimana kalau kita makan sesuatu yang enak malam ini, seperti ayam panggang. Kau mau?" tanya el lembut sambil mengecup lembut bahu istrinya.
"Tidak kau saja!" tegas Karina.
Sebenarnya ia juga lapar tapi rasa insecure Karina membuatnya menahan laparnya.
"Tapi Honey, aku ingin kau menemaniku makan, akan lebih nikmat saat menikmati makanan bersamamu."
"Aku bilang tidak ya tidak!"
Karina dengan kasar melepaskan tangan el dari pinggangnya. Karina melangkah lebar kemudian membaringkan tubuh di samping zoe yang terlelap.
__ADS_1
Eldric hanya bisa menghela nafasnya, Karina memang sedikit berubah ia menjadi lebih sensitif, gampang marah bahkan untuk hal kecil.