
"Sayang bantuin," rengek Karina pada sang suami. Kehamilan Karina yang semakin membesar membuatnya kesulitan untuk sekedar bangkit dari tempat tidurnya.
Eldric tersenyum, ia mendekati istrinya lalu membantunya untuk bangun dan duduk di tepi ranjang. Karina menarik tangan eldric untuk tetap berdiri di hadapannya.
"Ada apa Hon, apa kau butuh sesuatu?"
Karina menggelengkan kepalanya. Tangan lentiknya terulur untuk membantu mengancingkan kemeja Eldric yang belum sepenuhnya tertutup.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak melayanimu, maaf ya," ucap karina lirih.
"Hey, kenapa minta maaf. Kau sedang mengandung anakku, aku yang seharusnya menjaga dan melayanimu dengan baik bukan sebaliknya."
"Tapi tetap saja, aku merasa tidak berguna seperti ini. Dulu aku yang selalu menyiapkan bajumu, menyambutmu saat kau pulang dan sekarang lihat aku, bahkan untuk bangun tidur saja aku butuh bantuan darimu." Karina menundukkan kepalanya, entah kenapa hatinya pagi ini begitu melow.
Eldric menghela nafasnya, ia mengapit dagu istrinya sedikit mendongakkannya keatas hingga kedua mata mereka bertemu.
"Honey dengarkan aku, kau adalah istriku, permata yang harus aku jaga selama hidupku. Kau tidak perlu repot-repot untuk melayaniku. Cukup dengan kau ada disisiku dan tersenyum itu sudah cukup bagiku, mengerti!"
"Tapi-
"Sst ..!" Eldric meletakkan telunjuknya di bibir Karina.
"Tidak ada tapi, Levina akan datang sebentar lagi. Jangan menungguku, mungkin aku akan pulang sedikit terlambat hari ini."
Eldric mengecup bibir Karina sekilas, ia kemudian berjalan menjauh untuk mengambil jas yang ia letakkan di sofa.
"Kenapa terlambat, aku tidak mau tau kau harus pulang jam empat Sore!" Ketus karina sambil melipat tangannya.
"Aku tidak bisa janji Honey, ada rapat akhir tahun hari ini."
"Aku tidak mau tau, kau harus pulang atau kau akan menyesal!" ancam karina.
"Honey," panggil Eldric lembut.
Bukannya menjawab Karina malah memalingkan wajahnya kearah lain. Pria itu melangkah kembali mendekati istrinya, ia berlutut dihadapannya.
"Honey," panggilnya lagi.
Eldric meraih tangan mungil istrinya, menggenggamnya dengan lembut lalu mengecup. Karina mencoba menarik tangannya, tetapi Eldric menggenggamnya dengan erat.
"Hon, tolong lihat aku."
__ADS_1
Karina menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tetap menghadap ke samping. Kedua netra bening miliknya sudah berembun dan siap untuk jatuh dalam satu kedipan mata.
Eldric meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri, ia mengarahkan tangan karina untuk mengusap kepalanya.
"Hai babys, bisa kalian beri tahu Mommy agar tidak marah," ucap Eldric pada buah hatinya yang masih ada dalam kandungan istrinya.
Eldric dan karina selalu bicara seolah kedua anaknya masih ada bersama, mereka tidak pernah merasa kalau anak laki-laki mereka sudah tidak.
"Aku tidak marah, aku hanya ingin di temani Daddy," akhirnya Karina mengucap sesuatu.
Eldric tersenyum kecil. Ia menikmati tangan sang istri yang mengusap rambutnya dengan lembut.
"Daddy juga ingin selalu ada menemani Mommy kalian, tapi Daddy sudah lama tidak masuk kantor. Hari ini saja Setelah itu Daddy akan menemani kalian bertiga di rumah, apa boleh?"
Tangan karina terhenti, ia terdiam. Eldric memang jarang sekali masuk kantor, ia selalu mengerjakan perkerjaannya di mansion. Dia hanya ke kantor saat ada klien penting yang datang. Mungkin terdengar egois, tetapi Karina tidak ingin jauh dari suaminya. Meskipun di mansion ia tidak pernah sendirian. Levina bahkan menemaninya setiap hari, Eldric membuat dokter itu berkerja di mansionnya sebagai dokter pribadi sekaligus pengasuh untuk karina.
"Maaf," ucap karina, ia sadar telah berlaku egois. Ada puluhan bahkan ribuan orang yang hidupnya bergantung pada Eldric. Perusahaan yang berkembang pesat membuat suaminya memikul tanggung jawab lebih besar.
Eldric mengangkat kepalanya, ia menatap wajah Karina yang sudah berderai air mata.
"Jangan meminta maaf Honey, hari ini saja.
Karina mengangguk pelan. Eldric bangkit dari tempatnya. Ia kemudian membantu istrinya untuk berdiri. Eldric menuntun istrinya untuk ke kamar mandi.
"Aku akan membantumu untuk mandi, setelah itu kita sarapan."
"Tapi kau sudah rapi, Aku mandi sendiri saja," tolak Karina.
"Aku tidak menerima penolakan!" tegas Eldric dengan mata tajam ia menatap netra bening istrinya.
"Baiklah apapun titah Paduka Raja," jawab Karina yang akhirnya mengalah
Eldric melepaskan jas yang baru saja di pakainya menggulung lengan kemeja sampai lengan. Ia kemudian mengendong karina ala bridal ke kamar mandi.
Karina membiarkan Eldric melakukan apapun yang ia mau. Dengan telaten pria itu melepaskan baju yang melekat pada tubuh istrinya. Dengan telaten ia mulai mengusap lembut kulit mulus Karina dengan sabun.
Setelah selesai Eldric kembali mengendong karina keluar dari kamar mandi lalu mendudukkannya di sofa ruang ganti dengan perlahan. Karina membenarkan handuk yang melilit tubuhnya, matanya terus mengekor kemana suaminya melangkah. Eldric tidak perduli kemeja yang basah setelah memandikan istrinya. Ia bukannya tidak menyadari karina terus memperhatikannya. Eldric mengambilkan baju ganti untuk istrinya, sebuah dress hamil berwarna hitam dengan tali di pinggangnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Eldric tersenyum sambil berjalan mendekati istrinya.
"Suamiku begitu tampan, apa aku tidak boleh menikmati ketampanannya?" goda Karina, ia menatap Eldric dengan tatapan yang menggoda.
__ADS_1
Eldric menyeringai kecil, kedua tangannya mencengkram pinggiran sofa. Memerangkap tubuh mungil Karina, perlahan Eldric mendekatkan wajahnya hingga kedua bibir mereka bertemu. Perlahan Eldric mulai *****"* lembut bibir Karina yang ranum.
"Kalau seperti ini, aku akan terlambat, Honey," ucap Eldric setelah melepaskan tautan bibir mereka.
Aroma wangi mawar menyeruak dari tubuh karina. Menggelitik indra penciuman Eldric.
"Aku tidak menghalangimu untuk berangkat Sayang," Karina berkata dengan nada yang sangat manja dengan kedua tangannya yang mengalung di leher Eldric.
Sebuah kecupan manis ia berikan di leher kekar suaminya. Sebuah kecupan yang membuat Eldric meremang, kejantanan mulai terusik dengan belaian tangan lembut istrinya yang menyusup dibalik kemejanya. Eldric mulai menegang. Ia meraih tengkuk leher istrinya, meraup bibir mungil itu dengan kasar kali ini dengan penuh hasrat. Karina menyambutnya dengan senang hati.
Penyatuan bibir mereka berlangsung lama, semakin panas dan menuntut. Alarm Eldric mulai berdering memperingatkannya, saatnya untuk mengendalikan diri dan hasratnya yang menggebu. Eldric sedikit mengangkat bibirnya melepaskan pagutan mereka. Karina menatap sang suami dengan kecewa.
"Sayang," panggil Karina dengan suara yang terdengar berat.
Eldric hanya menanggapinya dengan senyum. Ia melepaskan tangan karina yang melingkar di lehernya. Eldric mengerti apa yang di inginkan istrinya, ia pun sama bahkan jika boleh ia ingin melakukannya sekarang juga, mencumbu seluruh tubuh mungil Karina menikmati penyatuan panas hingga istrinya itu tidak bisa turun dari ranjang. Namun, Eldric mencoba untuk menahannya demi buah hati mereka.
"Pakai bajumu Hon, aku juga akan mengganti kemejaku."
Eldric melangkah menjauh sambil melepaskan kemejanya yang basah. Karina hanya bisa menatap nanar pada punggung pria yang menjadi tambatan hatinya.
Meja makan itu terdengar hening, hanya dentingan suara sendok yang beradu dengan piring. Hening baik Eldric maupun Karina keduanya hanya fokus pada sarapan mereka. Berto yang melihat hal itu hanya bisa diam sambil terus memperhatikan kejanggalan pagi ini.
"Aku berangkat dulu," pamit Eldric, ia hendak memberikan kecupan di kening istrinya. Namun, Karina menghindar.
"Hati-hati, cepat pulang," Sahut Karina tanpa melihat kearah sang suami.
Karina kemudian melangkah masuk, meninggalkan Eldric yang terpaku melihat Karina berlalu dengan rasa bersalahnya. Ia tidak bermaksud meninggalkan istrinya sendirian, tetapi ia juga tidak bisa begitu saja mengundur jadwal rapat akhir tahun hari ini. Dengan berat hati akhirnya Eldric tetap pergi ke kantor.
Tak berapa lama setelah keberangkatan Eldric ke kantor Levina datang mansion. Seperti biasanya dokter muda itu selalu tepat waktu. Jam delapan tepat.
"Karina!" teriak Levina kencang. Dengan semangat 45 ia melangkah masuk dengan menenteng sebuah semangka di tangannya.
"Nona Levina."
"Astaga Paman, kau seperti hantu saja tiba-tiba muncul seperti itu!" pekik levina sambil mengusap dadanya. Jantungnya berpacu dengan cepat.
Berto tersenyum simpul melihat wajah Levina yang masih tegang karenanya.
"Nyonya sedang ada di teras belakang."
"Baiklah. Paman tolong tangani ini hehehe," ujar Levina, ia menyerahkan semangka pada Berto.
__ADS_1