
Karina berjalan memasuki gerbang sekolah yang terbuka, ia tersenyum menyapa penjaga yang menyambutnya. Karina sadar ia di perhatikan oleh beberapa pasang mata, Karina berusaha sebisa mungkin tersenyum menutupi kegugupannya. Gedung besar dan bertingkat itu kini ada di hadapannya. Karena merasa bingung ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya pada salah seorang siswi yang ada di sana.
"Hai ...maaf menganggu, aku boleh tanya nggak?" Karina menyapa seorang gadis yang sedang berdiri menyandar.
"Tanya apa?" jawabnya dingin.
"Ruang guru dimana ya?"
"Ikut gua." gadis dengan potongan rambut sebahu itu pun berjalan mendahului Karina.
Karina mengangguk kecil kemudian ia mengikuti langkah gadis yang ada dihadapannya. Setelah menaiki tangga mereka akhirnya sampai di depan sebuah ruangan.
"Nih ruangannya."
"Terima kasih, kenalin aku Karina." Karina mengulurkan tangannya.
Anak perempuan itu meliriknya sekilas, kemudian menjabat tangannya Karina yang terulur dengan cepat.
"Adel."
"Adel, kita berteman ya," ucap Karina dengan senyum manis.
"Loe nggak usah temenan sama gua, kalau nggak ingin punya masalah," ketus Adel.
"Masalah apa?"
"Pokoknya jangan deket-deket gua deh."
anak itu pun melangkah menjauh, meninggalkan Karina di depan ruang guru.
"Bye Adel." Karina melambaikan tangan pada gadis yang sudah berlalu.
Sementara di ruangan kelas. Pelajaran baru saja di mulai. Semua murid sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh sang guru.
"Permisi, Bu Yeni," ucap seorang wanita berjilbab.
"Iya silahkan."
"Dia adalah murid baru di kelas anda," ujar wanita itu.
"Iya Baik, Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu." Wanita berperawakan tinggi itu mengisyaratkan agar Karina masuk ke kelasnya.
Karina mengangguk kecil, ia pun mulai melangkah masuk dan berdiri di depan kelas. Ia meremas roknya, merasa sangat gugup karena semua kelas sedang memperhatikannya.
"Anak-anak ini ada murid pindahan baru. Ayo perkenalkan dirimu."
__ADS_1
"Hai, namaku Karina," ujarnya dengan senyum untuk menutupi kegugupannya.
"Sebelumnya sekolah dimana?" celetuk salah seorang siswa.
"Di SMA pelita," jawab Karina singkat.
"Ok, karina kamu bisa duduk di bangku kosong yang ada di sebelah adel," ucap sang guru sambil menunjuk kearah bangku kosong.
"Baik." Karina pun beranjak ke bangku yang di tunjukkan gurunya.
Karina tersenyum pada gadis yang mengantarkannya ke ruang guru itu, meskipun ia cuek saat Karina berusaha menyapanya. Pelajaran berlangsung seperti semula Karina menjalani kelasnya dengan semangat.
Saat jam istirahat di kantin para murid laki-laki berbondong-bondong untuk berkenalan dengannya. Karina hanya menanggapinya dengan senyum ramah, ia selalu berusaha menjaga jaraknya dari para laki-laki meskipun itu adalah teman sekelasnya. Karina tahu bagaimana sang suami akan murka jika tahu ia dekat dengan laki-laki selain dirinya.
"Eh ... Karina kamu tinggal dimana sih? boleh dong kapan-kapan kita mampir," goda sala seorang laki-laki yang ada di hadapannya.
"Maaf Kak, aku tinggal sama om ku, dan dia paling nggak suka ada orang lain masuk kerumahnya," ujar Karina menjelaskan.
Maafkan aku suamiku, saya harus memanggil anda om selama di sekolah.
"Kita tunggu aja kalau om kamu nggak ada di rumah, iya nggak gaes," timpal seorang lagi.
"Maaf Kak aku benar-benar nggak bisa."
"Iya deh, kita ngerti kok. Kamu mau ini nggak enak lho." seorang laki-laki berambut pirang menyodorkan makanan miliknya.
"Eh ... punya aku aja, smoke salmon. Menu paling enak di kantin."
"Chicken steak punya aku juga nggak kalah enak, ayo cobain."
"Makasih kak, aku masih kenyang."
Duh, ini kantin apa restoran bintang lima sih, menunya gila semua.
Karina memang tidak memilih apapun yang ada di kantin. Karena merasa makanan yang ada di sana terlalu mewah dan merasa tidak tega untuk menghabiskan uang sakunya. Walaupun eldric memberikannya beberapa lembar uang merah tetap saja Karina sayang untuk membelanjakannya.
Para laki-laki itu berebut memperhatikan Karina. Mereka semua terpesona dengan keimutannya. Apalagi dia selalu tersenyum, meskipun ia menolak. Ia menolak dengan sikap yang sopan.
Tanpa Karina sadari, ia di perhatikan oleh beberapa mata yang ada di sana. Beberapa siswi
"Anak baru caper banget sih," ucap seorang siswi.
"Iya tuh, ngapain sih tuh cowok-cowok ngerubutin dia. Pada nggak liat apa gua yang lebih cetar membahana ini."
"Kapan-kapan kita kasih dia pelajaran biar tau siapa yang berkuasa di sekolah ini!" tegas seorang gadis berambut cokelat.
__ADS_1
Jam sekolah telah usai. Eldric menunggu kepulangan sang istri di depan pintu gerbang sekolah. Ia berdiri dengan bersandar pada mobilnya, tangan terlipat rapi di dadanya. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menambah ketampanannya menjadi dua kali lipat.
Beberapa siswi tanpa memperhatikannya. Bahkan diantara mereka ada yang dengan terang-terangan menggodanya dam minta nomer teleponnya.
"Om, lagi nungguin siapa?" tanya seorang gadis berambut panjang dengan ukuran rok yang hampir memperlihatkan pahanya.
Eldric hanya diam. Ia tidak menghiraukan segerombolan gadis yang berusaha mencari perhatiannya.
"Om, kapan-kapan kita jalan yuk , aku bisa lho nyenengin om," imbuh seorang diantara mereka.
"Sama aku aja om, aku nggak perlu di belanjain apa-apa sama om orang tuaku udah kaya. Aku mau main aja sama om bisa kan," ucap gadis itu, ia maju beberapa langkah mendekati Eldric.
Eldric yang tadinya tidak ingin menghiraukan segerombolan gadis labil itupun akhirnya merasa emosi. Ia tidak masalah jika mereka hanya berbicara semau mereka. Namun, jika mereka mendekat itu lain lagi masalahnya.
"Tetap di sana atau aku patahkan kakimu!" sentaknya pada gadis yang terus saja menggodanya.
Beberapa gadis itu tampak takut dan menutup mulut mereka. Namun, berbeda dengan gadis berambut pirang yang hendak mendekatinya. Tanpa ragu ia justru melangkah semakin mendekat kearah eldric.
"Apa kau tuli." Eldric mendorong dengan kasar tubuh gadis itu hingga tubuhnya terjerembah di tanah.
"Awh.. kenapa Om kasar sekali," ujar gadis itu sambil berusaha bangkit dari tanah tempat ia jatuh.
"Kau mengotori tanganku dasar **** kalau kau mendekati lagi aku akan melakukan lebih dari itu."
Eldric mengeluarkan hand sanitizer dari saku celananya. Ia menuangkan cairan pembersih itu dengan sangat berlebihan. Ia terus menggosok tangannya seolah ia telah memegang sesuatu yang sangat kotor.
Melihat sang suami yang sudah menantinya di depan gerbang sekolah. Karina pun segera berlari menghampirinya. Ia cukup terkejut saat melihat seseorang yang jatuh terduduk si atas tanah, gadis itu masih berusaha berdiri sambil membersihkan tanah yang menempel di bajunya. Ada beberapa siswi lain di sana. Namun, mereka tidak membantu temannya untuk berdiri, mereka seolah ketakutan.
"Kakak kenapa?" Karina mengulurkan tangannya untuk membantu gadis berambut pirang itu.
"Enggak apa-apa, nggak usah sok baik deh." gadis itu menepis kasar tangan Karina.
"Karina."
Suara bariton suaminya membuat ia menoleh seketika. Ia pun menghampiri pria berbadan tegap itu. Eldric menarik tangan mungil itu membawanya ke dalam pelukannya.
"Kenapa lama sekali, hem?"
"Maaf," lirih Karina.
Eldric melepaskan pelukannya. Ia langsung membuka pintu mobil untuk sang istri dan menyuruhnya untuk segera masuk. Eldric tak memperdulikan para gadis yang menatapnya dengan aneh, apalagi saat ia memeluk Karina dengan erat. Eldric segera masuk ke dalam mobilnya, melajukan mobilnya menjauh dari sekolah.
"Kamu nggak apa-apa Shein?" tanya seorang gadis pada gadis berambut pirang.
"Gua nggak apa-apa," ketusnya.
__ADS_1
"Anak baru itu pasti simpanan Om itu, liat aja om loe udah bikin gua malu. Tunggu pembalasan gua yang bakalan bikin loe lebih malu!" sheina menatap tajam pada mobil hitam yang baru saja berlalu.