
Mobil yang di tumpangi joe dan eldric sampai di mansion, berkali kali joe menyalakan klakson mobil. Namun, penjaga gerbang tak kunjung membuka gerbang untuk mereka. Joe segera turun dari mobilnya lalu memeriksa pos penjaga.
Joe melihat dari kaca pos penjagaan, ia terkejut mendapat pos dalam keadaan kosong dan berantakan. Joe memutuskan untuk masuk dengan memanjat pos, lalu masuk melalui dengan menjebol atap dengan sekali tendangan kakinya. Setelahnya ia segera masuk dan membuka pintu pagar.
El langsung mengemudikan mobil masuk tanpa menunggu gerbang terbuka sempurna. Keadaan mansionnya yang sunyi semakin menambah ke khawatirannya. Mobil terparkir sempurna, Eldric segera turun. Ia berlari masuk.
"Berto!" pekiknya.
Laki-laki paruh baya itu bersimbah darah tak sadarkan diri. Tubuhnya tertelungkup di lantai, Eldric panik. Ia ingin mendekati pria yang telah merawatnya itu. Namun, tangannya begitu gemetar.
"Agh ....sial!" eldric mengumpat dirinya sendiri.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendekat Berto yang tergeletak lemah. Ia dengan tubuhnya yang gemetaran akhirnya menyentuh berto, membalikkannya perlahan. Eldric berusaha menahan dirinya agar tidak melempar Berto karena rasa jijiknya.
Eldric memeriksa denyut nadi dan nafas pria tua itu, eldric sedikit bisa bernafas lega. Masih ada denyut nadi meskipun lemah. Joe yang baru datang setelah memeriksa sekitar mansion terkejut saat melihat sang tuan menyentuh Pamannya yang tergeletak lemah.
"Tuan, Paman."
"Panggil ambulan Joe, cepat!"
Joe yang masih shock melihat keadaan pamannya yang bersimbah darah pun segera tersadar. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan segera menghubungi rumah sakit terdekat.
Eldric bangkit, ia membiarkan Joe mengurus Berto. Dengan secepat kilat eldric berlari ke kamarnya.
Pintu kamar terbuka, eldric segera berlari masuk.
"Karina!" teriaknya kencang.
Eldric menggila, ia mencari sang istri ke seluruh kamar dengan terus berteriak memanggil istrinya. Dadanya terasa sesak, ia terus meruntuki kebodohannya.
Tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya. Kamar itu kosong, eldric berlari keluar. Ia mencari karina ke seluruh mansion.
"Karina!"
"Karin!"
Eldric terus berteriak, seperti orang yang sedang kesurupan ia berlarian sambil terus meneriakan nama istrinya. Ia tidak perduli pada mayat-mayat yang tergeletak di belakang mansion saat ia mencari karina di sana.
"Aaaaaaaa ...!!"
Eldric berteriak keras, ia terduduk di lantai kamarnya. Eldric kembali ke kamar setelah ia menggila, berlari memeriksa mansion untuk mencari Istrinya. Eldric merasa bodoh telah meninggalkan istrinya sendirian di mansion.
"Tuan." Joe perlahan melangkah memasuki kamar eldric.
__ADS_1
Pria itu tidak bergeming, ia terlalu larut dalam rasa kehilangannya.
"Tuan, ambulan sudah datang. Saya akan ikut mengantar paman ke rumah sakit," pamit Joe dengan suaranya yang bergetar.
Eldric tersadar, ia menoleh kebelakang dimana joe berdiri sambil menunduk.
"Aku ikut, apa kau sudah menghubungi black?"
"Sudah Tuan, baron dan anggota black lainnya sudah berada di sini."
"Hem."
Eldric bangkit dari lantai. Sorot matanya menyala merah, seolah ia bisa membunuh siapa saja yang ada di hadapannya. Dengan langkah tegas ia berjalan mendahului joe Keluar dari kamar.
Para petugas medis sudah membantu berto masuk ke dalam ambulan, memasang slang oksigen dan beberapa alat medis di tubuh tua itu.
Pria berbadan tegap dengan kulit warna sawo matang segera menunduk hormat saat Eldric keluar dari mansion.
"Tuan," sapa pria sangat penuh tato yang tak lain adalah baron.
"Hem, selidik semuanya. Aku mau hasilnya ada sebelum matahari terbit!"
"Baik."
Baron menatap kepergian sang tuan sampai mobil mereka keluar dari pagar mansion. Baron mengumpulkan semua anggota black setelah menyisir seluruh mansion.
"Bagaimana?" tanya Baron pada ke delapan anggotanya.
"Para penjaga kemungkinan lengah karena asap beracun ini Bang," ujar seseorang sambil menunjuk botol racun asap yang biasa di gunakan oleh para oknum kelas kakap.
"Aku sudah menduganya, tidak mungkin mereka selemah itu."
"Lapor Bang, cctv utama rusak saat kejadian. Tapi cctv cadangan kita aman."
"Bagus. Adam, Eko kalian periksa cctv cadangan itu dengan seksama. Bagas sama saya akan melacak kemana Nyonya di bawa. Sisanya akan mengurus rekan-rekan yang telah tiada, beritahu keluarga mereka jika tidak ada kalian makamkan sendiri mereka dengan layak. Berikan kompensasi seperti yang tercantum dalam kontrak kerja, saya akan memberitahu tuan joe untuk mentransfernya."
"Baik Bang," jawab mereka serempak.
Sementara di tempat lain.
Seorang wanita meringkuk lemas dengan tangan dan kaki yang terikat, mulutnya di sumpal dengan kain yang sangat bau. Tubuhnya lemah, ia tidak tahu kemana ia akan di bawa. Mobil yang membawanya terus melaju tanpa berhenti sedikitpun.
Dua orang berbaju hitam yang ada di kursi depan tak sedikitpun menoleh padanya.
__ADS_1
Rasa sakit di perutnya mulai membuat Karin membuka mata. Kondisi ibu hamil itu sungguh sangat memperihatinkan dengan beberapa luk lebam di tubuhnya.
"Emmmhhhhh," karina merintih kesakitan, ia merasakan perutnya nyeri dan kram luar biasa.
"Apa sih berisik!" bentak salah satu orang dari mereka.
"Ini udah jauh belum bro, kayaknya udah bisa kita bunuh dia di sini."
"Oke, gila gua juga udah capek nyetir dari tadi."
Mereka pun menepikan mobilnya di sebuah jalanan desa sepi, mereka berhenti tepat di sebuah gubuk perkebunan pohon jati yang ada di tepi jalan itu.
"Kiya rehat dulu bro, capek guna nyetir. Buat orang koit juga butuh tenaga!"
"Serah loe, yang penting kan kita udah di transfer!"
Keduanya pun turun dari mobilnya. Kedua laki-laki itu merebahkan tubuhnya di atas dipan bambu di depan gubuk itu, meninggalkan karina yang merintih kesakitan dalam mobil.
Tak butuh waktu lama keduanya terpejam, meskipun fajar sudah menyingsing tinggi. Mereka berdua kelelahan setelah menyetir tanpa henti.
Sebuah mobil mewah berhenti. Seorang laki-laki tampan turun dari mobilnya, ia kemudian berjalan mendekati kedua orang berbaju hitam yang sedang rebahan.
"Bang boleh tanya nggak, Bang?" tanya laki-laki itu dengan sopan.
"Apa sih loe ganggu orang istrirahat aja?" bentak seorang dari mereka.
"Maaf Bang, saya mau tanya jalan. Bener jalan ini bisa sampe Surabaya? dari tadi saya ikuti mba gogo tapi muter-muter terus."
"Loe nggak pernah bawa mobil sendiri ya?"
"Pernah Bang, tapi sampai antar provinsi belum pernah Bang," jawab laki-laki itu sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Hah ... nyusahin aja! loe lurus aja ntar nyampe jalan besar tanya orang lagi. Dah sono gue mau tidur lagi."
"Iya Bang, maaf ganggu. Makasih permisi."
Pemuda itu pun melangkah menjauh. Namun saat ia melewati bagian belakang mobil hitam itu, sayup ia mendengar suara seseorang yang sedang seperti sedang kesakitan.
"Bang temannya sakit ya di mobil?"
"Enggak usah ikut campur, cepet pergi!" teriak mereka.
"Iya Bang!"
__ADS_1
Namun, nalurinya merasa ada yang tidak beres. Pria tampan itu mendekat ke jendela mobil, menakup wajahnya agar bisa melihat kedalam. Ia terbelalak saat melihat seorang wanita meringkuk dengan tangan dan kaki terikat.