
Eldric mendapatkan telepon dari baron segera bergegas pergi meninggalkan rapat yang sedang ia pimpin. Meninggalkan semua pada joe, asistennya yang sangat bisa diandalkan.
Dengan kecepatan tinggi eldric memacu mobilnya, tidak perduli dengan banyaknya lampu merah yang di terobos. Eldric hanya harus pulang sekarang juga.
Setelah cukup lama berkendara dan hampir mengalami kecelakaan karena mengemudi dengan kecepatan tinggi.
Setelah mobil terparkir sempurna di pelataran mansion el segera turun, ia berlari kencang masuk.
"Karin!" panggil el dengan nafas yang tersengal-sengal.
Karina menoleh kearah el, matanya sembab rambutnya basah karena keringat. Wanita itu duduk lemas menyandarkan tubuhnya di sofa. El segera menghampiri istrinya lalu memeluknya erat.
"El ..." ucap karina lirih, air matanya kembali luruh dalam pelukan suaminya.
"Iya Sayang aku di sini," ucapnya sambil mengecup pucuk rambut karina. Satu tangannya mengusap lembut punggung karina yang basah.
Tubuh karina kembali bergetar hebat, ia menangis, meraung keras menumpahkan semua sesak yang selama ini menghimpit dadanya.
El semakin mengeratkan pelukannya, ia sungguh tidak tega melihat istrinya seperti ini. Begitu rapuh, suaranya begitu memilukan menyayat hati el.
"Tuan." berto mendekat lalu sedikit menundukan kepalanya.
Eldric mengangkat mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar berto meninggalkan el dan karina. Berto yang mengerti langsung meninggalkan mereka.
"Aku mommy yang buruk," ucap karina dengan terbata.
"Tidak Honey, kau adalah mommy terbaik."
"Kau bohong, kau selalu berbohong! kau juga sebenarnya jijik dengan ku kan, aku gendut, jelek, tidak sebagus dulu. Sebentar lagi kau juga akan meninggalkan aku," karina mengatakan apa yang selama ini menjadi momok terbesar baginya.
"Astaga Honey, Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? aku tidak perduli dengan bentuk tubuh dan apapun itu, mau itu kotak, bulat, persegi panjang, diagonal apapun bentuk dan wujudnya aku tidak perduli. Selama itu adalah kamu, aku akan mencintaimu."
Eldric melonggarkan pelukannya. Dengan tangannya ia sedikit mendongak wajah istrinya. Wanita itu tampak sangat kacau, matanya bengkak karena menangis terlalu lama, pipinya basah dari hidungnya juga keluar ingus bening khas orang menangis.
"Kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, aku tidak perduli dengan yang lain. Mataku sudah buta dengan pesonamu." el mengambil tisu lalu mulai mengusap lembut pipi istrinya yang basah.
"Meskipun bidadari yang datang dan melepaskan semua pakaiannya di hadapanku, aku tidak akan memperdulikannya karena di hatiku hanya ada kamu, Karina istriku. Sampai Tuhan memanggilku pulang, aku akan selalu mencintaimu." Eldric mengecup kening sang istri lalu keluar matanya yang sembab.
"Benarkah?"
"Percayalah Honey, hanya namamu yang terpatri dalam hatiku." Eldric kembali memeluk istrinya. Mengusap lembut rambut dan punggungnya.
Karina menyusupkan dirinya semakin dalam, tempat ternyaman untuknya. Tempat dimana ia ingin selalu kembali pulang.
Cukup lama eldric memeluk Karina, sampai akhirnya terdengar dengkur halus. Karina terlalu lama menangis, tubuhnya terasa lelah sampai tertidur dalam pelukan suaminya.
Dengan sigap eldric mengangkat tubuh istrinya, mengendongnya ala bridal. Ia melangkah lebar melewati berto yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh.
"Ikut aku ke kamar," titah Eldric.
__ADS_1
"Baik Tuan." Berto melangkah mengekor pada langkah el.
Sampai di depan kamar, Berto membukakan pintu untuk tuannya. Eldric melangkah masuk kemudian membaringkan tubuh Karina dengan perlahan di atas ranjang. Eldric hendak beranjak tetapi karina memegangi ujung kemejanya dengan erat.
Eldric pun mengalah, ia kemudian membandingkan dirinya di samping karina. Ia memiringkan tubuhnya kemudian menarik karina dalam dekapannya.
"Berto apa yang sebenarnya terjadi?" tanya el tanpa memalingkan wajahnya.
"Saya juga sebenarnya kurang tau apa yang terjadi sebelumnya," jawab berto.
"Katakan apa yang kau tau."
Berto kemudian menceritakan bagaimana Karina menangis saat memangilnya. Eldric mendengarnya dengan seksama, ia yakin ini semua ada hubungannya dengan sikap karina yang aneh akhir-akhir ini.
Eldric menghela nafasnya panjang. Hatinya begitu sakit mendengar cerita berto.
"Dimana zoe?" tanya eldric saat berto menyelesaikan ceritanya.
"Nona zoe bersama bagas tuan," jawab berto singkat.
"Baiklah, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang."
"Baik Tuan." Berto menunduk hormat sebelum meninggal kamar itu.
Eldric menatap lekat wajah istrinya, guratan lelah tampak jelas di wajahnya. Ada rasa bersalah yang menggelitik hati eldric, karina mengasuh zoe sendirian. Istrinya pasti sangat kelelahan, eldric meraih ponsel yang ada di sakunya.
Mencari sebuah nomor yang selama ini hanya ia simpan tanpa berniat untuk menghubunginya. Eldric mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia menekankan tombol hijau untuk menghubungi pria itu.
"Halo, ada apa kau menelfon ku?" tanya tama ketus.
"Ck, bisakah biasa saja, aku menantumu."
"Malas rasanya mengakuimu sebagai menantu."
"Diamlah sebentar wahai Bapak mertua yang terhormat. Aku meneleponmu karena sesuatu hal yang penting."
"Apa ini tentang karina?" tebak tama.
Eldric menghela nafasnya panjang. "Iya."
"Ada apa dengan anakku?" suara tama berubah serius.
"Beberapa hari ini karin bersikap aneh, dia sangat sensitif suka menyendiri. Sering marah tanpa sebab yang jelas dan aku sering mendapati matanya bengkak, dia menangis saat aku tidak di sampingnya."
Terdengar helaan nafa panjang tama.
"Lalu."
"Hari ini dia menangis karena tidak bisa menenangkan zoe, dia bilang dia mommy yang buruk, dan takut aku meninggalkannya," ujar eldric sambil menatap sendu wajah istrinya yang terlelap.
__ADS_1
"Kau tahu kenapa aku ingin membawa dia pulang ke Surabaya?"
"Tidak," jawab eldric singkat.
"Karina sekarang kemungkinan mengalami gejala depresiasi postpartum."
"Apa itu? apakah berbahaya?" tanya eldric dengan cemas.
"Depresi postpartum adalah gangguan emosi atau suasana yang di alami oleh ibu setelah melahirkan, bukan hanya baby blues yang bisa di alami wanita setengah melahirkan. Depresi postpartum ini malah berlangsung lebih lama yakni 12 bulan. Ini lebih parah dari baby blues. Apalagi Karina mengalahkan hal yang membuatnya terpukul dengan kehilangan zack."
"Astaga! apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa ini terjadi pada istriku."
"Dia membutuhkan dukungan darimu dan orang di sekitarnya, jangan biarkan dia sendirian. Mereka yang mengalami gejala ini biasanya akan enggan untuk menceritakan apa yang mereka rasakan pada orang lain. Jadilah pendengar yang baik, beri perhatian padanya lebih. Tunjukkan kalau kamu juga perduli pada kesehatannya bukan hanya pada zoe."
"Iya, lalu apa lagi?"
"Ajak dia melakukan aktivitas bersama, beri waktu karina untuk mengunjungi temannya atau pergi kemana ia mau."
Teman, siapa teman karin?
"Hoi, Mantu tua kau masih mendengarku tidak?"
"Ya aku dengar, Bapak mertua."
"Temani dia beberapa hari kedepan, jangan pergi berkerja. Rawat putriku dengan baik, aku belum bisa ke sekarang, mungkin tiga hari lagi."
"Aku mengerti."
"Terus laporkan perkembangannya padaku."
"Baik, Terima kasih."
El memutuskan sambungan teleponnya lalu meletakkan ponselnya dengan asal.
"Maafkan aku Honey. Kita akan melewatinya bersama," ujar eldric kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut.
Aku memang masih awam dengan semua ini, maafkan aku yang kurang peka, aku memang laki-laki bodoh yang belum punya pengalaman apa-apa tentang wanita. Maafkan aku sayang, aku belum bisa menepati janjiku untuk membuatmu bahagia.
Eldric mendekap erat tubuh Karina.
Dalam kehidupan kita memang harus belajar dari pengalaman.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Selamat malam