Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Merajuk


__ADS_3

Eldric yang mendengar suara istrinya segera berlari ke dapur. Ia mendapati Karina sedang meniup punggung tangannya yang sedikit memerah. Mata elang milik pria itu langsung menatap tajam pada wanita yang berdiri di sebelah karina, meskipun wanita itu basah kuyup dengan kulit yang memerah eldric tidak merasa iba sama sekali.


Ia melangkah lebar mendekati istrinya, eldric mendorong keras tubuh Donna Donna satu tangannya hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur di lantai.


"El apa yang kau lakukan!" pekik Donna tidak terima.


Eldric melemparkan tatapan tajam pada Donna, membuat wanita itu dia tak berkutik. Tatapan itu begitu membuatnya ketakutan.


"Honey apa yang terjadi?" Eldric memegang tangan kiri karina yang terlihat sedikit memerah. Meletakkannya di telapak tangannya yang besar.


"Kak Donna dia menuduh aku sengaja menyiram dia dengan air panas, padahal aku tidak sengaja Sayang." Air mata karina mulai meleleh.


"Aku percaya padamu Hon, jangan menangis, Ok." Eldric merangkul karina, sambil menepuk pelan kepalanya.


"Lalu bagaimana tanganmu bisa seperti ini, hem."


"Dia membalasnya dengan membuatku menyentuh nampan panas ini."


"Tidak! dia berbohong El, dia sendiri yang menarik tanganku dan menyentuhkan punggung tangannya sendiri!" pekik Donna membela diri.


Eldric menoleh dan menatap begis pada Donna. Ia seolah bisa mengoyak tubuh itu dengan tatapannya.


"Berto!" teriak eldric.


Pria tua itu datang dengan tergopoh-gopoh bersama Helena. Wanita itu begitu terkejut melihat keadaan Donna dengan kulitnya yang merah dan hampir melepuh.


"Astaga apa yang terjadi, Donna?"Helena berjongkok mendekati Donna yang terduduk di lantai.


"Tuan memanggil saya," sahut berto sambil menunduk hormat.


"Suruh beberapa penjaga kemari, seret kedua wanita ini keluar dari mansion!"


"Baik Tuan." Berto pun segera berlalu untuk memanggil para penjaga.


Mendengar hal itu Helena terkejut, ia kemudian membantu Donna berdiri.


"El apa yang kau katakan Nak? ini pasti kecelakaan, hanya salah paham. Kenapa kau mengusir Mama?!"


"Minggir!"


Tak memperdulikan ocehan wanita itu, ia mengangkat tubuh mungil istrinya lalu membawanya ke kamar. Tak perduli dengan Helena yang terus meneriakinya.


Dua orang bodyguard data ke dapur dan menyeret kedua wanita itu keluar dari mansion.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan! aku Ibu dari tuanmu!" pekik Helena, ia meronta berusaha melepaskan dirinya.


Sementara Donna hanya bisa meringis menahan sakitnya saat tangan besar pengawal itu memegangi tangannya yang memerah karena air panas. Ia bahkan belum sempat mengobati luka bakarnya.


"Agh ... kalian gila! beraninya kalian melakukan ini padaku!"


Keduanya pria bertubuh kekar itu memaksa Helena dan Donna masuk secara paksa kedalam mobil, kemudian menutup pintu mobil dengan kasar.


"Aku bersumpah akan membalas semua yang kau lakukan hari ini, dasar ******!"


"Aaaaaaa!" Donna berteriak frustasi.


Dia juga kesakitan dengan badannya yang memerah.


"Apa kau tidak bisa diam!" sentak Helena.


"Tidak bisa! aku akan turun dan membalas ****** itu!" Donna berusaha membuka paksa pintu mobil. Namun, Helena segera mencegahnya.


"Obati dulu lukamu, kemudian kita akan segera membalasnya," ujar Helena.


"Agh ...!" Donna menjambak rambutnya.


Helena menyuruh sopirnya untuk segera meninggalkan mansion milik putranya itu. Seumur hidupnya Helena tidak pernah tunduk pada orang lain. Namun, hari ini ia berusaha mengambil hati seorang gadis yang malah membuatnya malu.


"Tunggu pembalasanku, kau akan menyesal dan menangis darah."


🐒🐒🐒🐒


Dalam kamar.


Eldric mengoleskan obat luka bakar pada Karina. Istri kecilnya itu meringis menahan sakit saat eldric mengoleskan krim berwarna putih itu. Eldric menatap tajam pada istri kecilnya yang sedang duduk di hadapannya.


"Kau sengaja melakukan ini," ujar Eldric sambil sedikit menekankan cotton but pada kulit karina.


"Aah ... sakit! mana ada seperti itu," kilah Karina sambil mencebikan bibirnya.


"Kau yakin, tidak mau mengakuinya. Apa kau pikir aku bodoh?!" sentak Eldric.


"Tapi aku tidak sengaja melakukannya," elak Karina.


"Kau masih berkilah, hem. Apa kau pikir suamimu ini tidak bisa melihat apa yang terjadi di dapur?!"


Karina terjingkat, ia terkejut dengan suara Eldric yang meninggi. Ia tidak menyangka suaminya akan semarah itu.

__ADS_1


"Maaf," ucap Karina lirih.


Eldric memalingkan wajahnya, seolah enggan menatap wajah Karina. Eldric marah bukan karena karina berbohong atau menyiram Donna dengan air panas. Ia hanya tidak suka Karina menyakiti dirinya seperti itu.


"Sayang ... Suamiku ...," panggil Karina dengan manja. Namun, suami matangnya itu tidak bergeming.


Eldric malah menjauhkan diri, ia duduk sedikit menjauh dari istrinya sambil terus memalingkan wajahnya.


"Apa Suamiku sedang merajuk?"


Karina bangkit dari duduknya. Ibu hamil itu kemudian memaksakan duduk di pangkuan suaminya. Meskipun Eldric tampak enggan. Namun, dalam hatinya ia tersenyum melihat kelakuan istrinya yang sedang berusaha meluluhkan hatinya.


Karina meringsek dalam pelukan suaminya, meskipun eldric tak membalas pelukannya. Karina mengalungkan tangannya di leher Eldric, ia kemudian mencium kedua pipi dan bibir tebal suami. Tak cukup dengan itu, ciuman Karina mulai turun ke leher kokohnya. Mengecupnya dengan manja dan sedikit menyesap, meninggalkan jejak merah. Meskipun tidak sepintar suaminya ia tetap melakukannya.


Eldric mengerang. Ia sungguh tidak bisa bertahan saat istrinya mulai aktif memberikan sengatan pada tubuhnya. Eldric menjadi pria lemah jika sudah berhadapan dengan sang istri. Amarahnya tidak akan bertahan lama.


"Honey, apa kau menggodaku," Eldric berucap dengan suaranya yang sudah serak.


"Apa tidak boleh?"


"Kau harus bertanggung jawab."


Karina menarik wajahnya, ia mengigit bibir bawahnya. Dengan matanya yang menggoda karina menatap suaminya.


"Aku bisa merasakannya bangun, Sayang. Apa kau tidak ingin menidurkannya?" bisik Karina dengan nada yang menggoda.


Tak menunggu lama, eldric membalikkan tubuh mereka. Ia membuka karina duduk di sofa. Eldric melepaskan kaos abu-abu yang dipakainya lalu membuangnya sembarangan.


"Kau yang menginginkannya, jangan mengeluh kalau kau tidak bisa berjalan besok!"


"Lakukan, aku akan sangat menikmatinya."


Eldric langsung menyatu bibir mereka, memainkannya dengan penuh cinta. Karina mulai menggeliat saat tangan Eldric sudah masuk dan bermain dengan squshy yang ukurannya sudah bertambah besar.


"Tubuh ini milikku, kau tidak boleh membuatnya tergores sedikitpun. Mengerti!"


"Yes, Daddy. Maafkan aku." Karina membelai lembut wajah suaminya.


Eldric menyatukan kening mereka, ia menatap dalam manik mata istrinya begitu teduh. Netra bening yang selalu memberikannya keteduhan.


Karina adalah rumah untuk dia pulang. Wanita itu adalah jiwanya, nafasnya.


"Sei il mio ultimo amore, voglio stare con te per sempre."

__ADS_1


[ "Kamu cinta terakhirku, aku ingin bersama kamu selamanya." ]


Ucap yang begitu indah meskipun Karina tidak sepenuhnya mengerti. Karina tersenyum lalu mencium bibir tebal suaminya.


__ADS_2