Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Garis takdir


__ADS_3

"Karin kemasi barangmu, kau akan pulang ke rumah Papa!"


"Apa!" pekik karina terkejut.


"Sayang," panggil Karina dengan suaranya yang lemah.


Eldric menoleh, menatap sang istri dengan sendu. Eldric tersenyum kecil, ia membelai pipi Karina dengan lembut.


"Ikutlah dengan Papa," bujuk Eldric.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Eldric akan kembali ke Jakarta?" potong Tama cepat.


"Enggak Karin nggak mau! kalau El ke Jakarta aku juga ikut. Aku ikut kemana suamiku pergi!" tegas Karina. Matanya sudah berkaca-kaca.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana harus berpisah dengan suaminya. Karina memeluk Eldric dengan posesif, ia mencebikan bibirnya sambil menatap tajam pada sang Papa. Ia tentu saja senang tinggal di rumah orang tuanya, tapi itu tidak akan terjadi tanpa Eldric bersamanya. Tidak akan mungkin.


"Honey mengertilah, aku harus menepati janjiku pada Papa," bujuk Eldric.


"Janji? janji apa?" Karina menengadah wajahnya agar bisa menatap eldric.


"Dia berjanji tidak akan menyentuhmu sampai usia kandunganmu 6 bulan, setidaknya itu masa aman untuk kalian melakukan hubungan intim," sela Tama.


Pria paruh baya itu melipat tangannya sambil menatap menantunya dengan marah.


"Karena El melanggarnya maka kau akan tinggal bersama Papa di sini untuk sementara waktu!" tegasnya lagi.


"Itu nggak adil Pa, mana bisa aku berpisah dari suamiku lagi," rengek karina dengan putus asa.


Tama memijit pelipisnya, kalau seperti ini mana tega ia memisahkan keduanya. Namun, ia juga tidak yakin Eldric bisa menahan dirinya selama dua bulan. Kalaupun Eldric bisa bagaimana kalau karina yang meminta nafkah batin. Sedangkan kondisi kandungannya harus benar-benar dijaga dengan baik.


"Ini demi kebaikan kalian sendiri, Papa takut kalian khilaf, Nak," Tama mencoba memberikan penjelasan kepada putrinya.


"Kalau nggak khilaf mana jadi bunting aku," gumam Karina lirih.


Eldric berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa mendengar gumaman istrinya. Ia kemudian berdehem keras untuk menetralkan dirinya.


"Aku akan pulang ke Surabaya tiap weekend. Bagaimana?"


"Enggak!"


"Aku pulang setiap hari," bujuk Eldric lagi.


Karina tidak menjawab, ia berpikir sejenak. Tak apa kalau kiranya eldric pulang setiap hari, setidaknya ia tidak harus menanggung rindu selama seminggu. Hanya harus berpisah dari pagi hingga petang saja.


"Itu sama saja aku tidak memisahkan kalian," sergah Tama.


Karina mendengus kesal.


"Kalau Suamiku pulang tiap hari aku mau, tapi kalau tidak."


"No!" tegas Karina sambil menggelengkan kepalanya.


"Karina, Honey."

__ADS_1


"No, aku nggak mau. Kalau nggak bobo sama kamu," rengeknya manja.


Bisa kalian bayangkan hati eldric saat ini. Bunga tujuh rupa sudah mekar dengan sempurna di dadanya. Ia sampai tidak sadar kalau senyum lebar sudah terukir di bibirnya walaupun Tama memberikan tatapan membunuh padanya.


Setelah perdebatan yang cukup alot antara ketiganya, akhirnya Tama mengalah. Ia memberikan izin pada Eldric untuk pulang pergi Jakarta- Surabaya. Eldric memang tidak bisa menetapkan di Surabaya, ia masih harus mengurus perusahaannya. Joe masih harus merawat Berto yang masih belum sembuh. Baron dan anggota black sangat bisa diandalkan dalam masalah keamanan. Namun, tidak untuk masalah perusahaan.


Bukan tanpa alasan Tama meminta Karina tinggal bersamanya, selain untuk memberikan hukuman pada Eldric. Tama juga bisa memantau kesehatan karina serta kandungnya secara langsung. Ia sebenarnya cukup khawatir dengan keadaan putrinya. Selain itu, ia ingin menghabiskan waktunya yang pernah ia lewatkan.


Tiga hari kemudian.


Karina duduk di tuang tamu sambil memegangi ponselnya. Ia berkali-kali menelfon suaminya. Ibu hamil itu tidak akan bisa tidur jika sang suami belum pulang Eldric memberitahu Karina jika ia akan sedikit terlambat pulang hari ini.


"Sayang, tidurlah Nak. Ini sudah malam," bujuk Siska.


"Sebentar lagi Ma, aku akan menunggunya pulang." Karina mengusap layar ponselnya dengan wallpaper foto suaminya.


Siska tersenyum kecil, ia meletakkan coklat hangat yang di buatnya untuk karina. Kemudian ia duduk di samping putrinya.


"Apa kau mencintainya?"


Karina mengangguk, tatapannya masih belum teralihkan dari foto suaminya yang ada di ponsel.


"Mama tau, sebelum bertemu dengannya hidup karina pontang-panting untuk mengumpulkan uang untuk makan. Karina berkerja di club sambil sekolah, terakhir karin berkerja di pabrik plastik. Sampai akhirnya Karina di jemput paksa oleh pak joe, asisten pribadi Eldric. Aku di jemput ke mansionnya untuk berkerja, di sana malah aku di ajak nikah. Lucu kan Ma," cerocos karina panjang lebar. Ia sengaja tidak menceritakan detail kejadian sebenarnya, cukup garis besarnya saja.


Siska hanya mendengarkan cerita Karina dengan berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan yang di jalani oleh putri kecilnya.


Ia mengusap lembut pucuk rambut Karina. Karina menoleh, ia mengusap lembut pipi Mamanya yang sudah basah.


"Kenapa Mama nangis?"


"Ma, semuanya sudah berlalu. Mungkin memang ini takdir yang harus Karina jalani. Karin bahagia kok Ma, Mama jangan nyalahin diri sendiri terus." Karina memeluk Siska dari samping.


"Kalau seandainya karin nggak di culik trus di bawa ke Jakarta. Karina nggak akan ketemu El dan menikah dengannya. Karina nggak menyesali apa yang sudah terjadi, kita juga sudah berkumpul lagi sekarang, jadi Mama jangan merasa bersalah terus," imbuh karina lagi.


"Terima kasih Sayang, kamu putri terbaik Mama," ucap Siska dengan tulus. Ia mengecup pucuk rambut Karina dengan lembut.


Karina melepaskan pelukan, ia memberikan ciuman kecil di pipi Mamanya. Siska tersenyum ia kemudian mengacak-acak rambut karina dengan gemas.


"Ini Mama bikin coklat hangat buat kamu." Siska mengambil secangkir coklat panas yang ia letakkan di meja.


"Makasih, Ma."


"Papa kenapa belum pulang Ma?" tanya karina sambil meminum coklat hangatnya.


Siska menggelengkan kepalanya pelan.


"Papa ada operasi darurat malam ini," jawab Siska lembut.


Karina manggut-manggut mengerti. Mamanya pernah bercerita kalau Papanya adalah dokter yang mempunyai rumah sakit tempat ia dirawat kemarin. Meskipun ia adalah pemiliknya. Namun, ia juga tetap berkerja sebagai dokter bedah di sana. Tama tidak suka hanya duduk di dalam kantor dan berkutat dengan berkas-berkas saja. Ia lebih suka berkerja di meja operasi.


"Jadi Mama sering ditinggal sendirian dong. Terus Ma, Kak Naoki kapan pulang?"


"Kalau itu Mama belum pasti," jawab Siska ragu.


Ia berharap Naoki bisa menjelaskan kesalahan pahaman yang terjadi dengan istrinya. Naoki pamit ke Taiwan untuk menyusul Cleo, istrinya itu meninggalkan surat cerai untuk Naoki tepat di setelah naoki melihatnya di rumah sakit.

__ADS_1


Ibu dan anak itu pun berbincang dengan hangat. Mereka membicarakan apa saja dari oppa-oppa korea sampai harga bawang merah yang merangkak naik.


"Selamat malam."


Suara bariton eldric mengalihkan perhatian Karina.


"Sayang!" pekik karina dengan binar mata penuh rindu.


"Stop!" cegah Eldric saat Karina hendak menyongsongnya.


Siska bangkit dari duduknya.


"Mama ke kamar dulu ya," pamit Siska, ia tidak ingin menganggu waktu keduanya.


"Iya, Ma," jawab kedua serempak.


Eldric melangkahkan kakinya lebar kearah Karina. Karina mengulurkan kedua tangannya.


"Gendong," rengek karina manja.


Eldric tersenyum. Ia kemudian mengangkat tubuh mungil istrinya dan mengendongnya ala bridel.


Guratan wajah eldric tampak lelah. Namun, ia tidak pernah mengeluh. Ia melangkahkan kakinya lebar menuju peraduan mereka.


Sesampainya di kamar.


Eldric membaringkan tubuh Karina dengan lembut di atas ranjang, ia kemudian mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.


"Aku mandi dulu ya," pamit Eldric.


Karina menggelengkan kepalanya. Eldric tersenyum ia kemudian melangkah menuju kamar mandi.


Setelah cukup lama membersihkan dirinya, eldric pun keluar dan menganti bajunya dengan baju yang ia bawa dari mansion. ia kemudian menghampiri istrinya yang masih duduk di atas ranjang menantinya.


"Tidurlah, ini sudah sangat larut," ucap Eldric sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Peluk."


"Kau sangat manja sekarang," ujar Eldric.


"Sama kamu aja manjanya."


Pria itu merebahkan diri di sebelah sang istri, Karina pun turut merebahkan tubuhnya.


"Sayang apa tidak lelah, tiap hari pulang pergi?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir Honey." Eldric memeluk erat istrinya.


"Aku takut kau sakit kalau seperti ini terus, tapi aku juga nggak mau kalau tidur sendirian. Terdengar egois memang, tapi mau bagaimana lagi. Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu," cerocosnya panjang lebar.


"Sayang," panggil Karina.


Ia merasa heran karena eldric diam dah tidak merespon ucapannya. Ia mendongakkan wajahnya. Karina tersenyum kecil, ternyata sedari tadi dia bicara dengan Eldric yang sudah tidur.


"Love you my husband." Karina mencium bibir Eldric. Kemudian menyusupkan dirinya di pelukan hangat sang suami.

__ADS_1


__ADS_2