Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Negosiasi


__ADS_3

Bulan berganti zoe sudah mulai bisa merangkak di usianya tujuh bulan, ia juga sangat posesif pada mommy-nya. Tiap kali melihat eldric memeluk mesra istrinya zoe akan menangis kencang.


Tapi ia juga sangat suka bermain dengan daddy-nya. Seperti saat ini, dimana eldric sedang libur berkerja. Ia bermain dengan zoe di ruangan khusus untuk zoe bermain.


Eldric duduk bersila di atas karpet sambil bermain dengan zoe. Gadis kecil itu sangat suka mainan yang di belikan oleh eldric, sebuah robot berbentuk anjing kecil yang bisa menari sambil mengeluarkan music.


"Kau suka zoe?" tanya eldric saat ia menyalakan robot mainan itu.


"Da ...da..,," teloteh zoe, dia tertawa memperlihatkan giginya yang baru tumbuh.


"Kalau kau suka daddy bisa membelikan mainan yang lebih bagus dari ini, tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh bangun saat daddy bercocok tanam," ucap eldric dengan sungguh-sungguh.


"Mam ...mam ...."


Zoe mulai merangkak menjauhi daddy-nya. Eldric menghela nafasnya, sepertinya zoe ingin menghindari percakapan dengan ayahnya. Eldric pun mengikuti zoe merangkak.


"Zoe daddy serius. Daddy akan menuruti keinginanmu, asal kau memberikan daddy izin bercocok taman malam ini."


Gadis kecil itu memang sangat peka, tiap kali eldric akan mempertemukan belutnya dengan sarang cacing milik istrinya. Zoe akan menangis kencang dan menggagalkan semuanya, padahal el baru akan menanam stoberi di atas dua squshy kesukaannya.


Zoe masih acuh, bayi itu berhenti di dekat mainannya. Ia kemudian meraih bola lembut warna-warni lalu melainkannya. Eldric pun duduk di sebelah zoe.


Ia kemudian mengangkat putri kecilnya, ia mendaratkan tubuh zoe di pangkuannya.


"Zoe daddy serius. Apa kau tidak ingin punya saudara? daddy akan membuatkan lima untukmu." Eldric menatap zoe dengan serius, sementara zoe acuh tak acuh.


Tanpa disadari oleh eldric karina berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Jawab princess, kau mau tidak punya adik banyak?" tanya el lagi.


Zoe kemudian tertawa melihat wajah sang ayah yang menatapnya dengan serius.


"Kau senang? itu berarti kau setuju punya adik. Baguslah kalau begitu, tapi kau harus memberikan daddy waktu untuk membuatnya."


"Jangan menangis tiba-tiba saat daddy mulai bercocok tanam, kau tau nak. Itu sangat menyiksaku," keluh eldric.


Karina memicingkan matanya, menatap tajam pada suaminya yang mulai tidak memakai filter saat bicara.


"Kalau kau tidak rewel saat malam, daddy janji akan membelikan mainan yang banyak dan bagus. Bagaimana setuju?"


"Tidak!" tegas Karina.


Eldric seketika menoleh kebelakang.Istri cantiknya itu sudah berkacak pinggang dengan tatapan tajam ke arahannya.


"Honey, sejak kapan kau di sana? kemarilah, aku sedang bernegosiasi dengan putri kita," ucap eldric tanpa rasa bersalah.


"Astaga El, apa yang kau bicarakan. Kau bernegosiasi dengan bayi berusia tujuh bulan," ujar karina kemudian mencebikan bibirnya.


Ia melangkah mendekati eldric, kemudian mengambil zoe dari pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Apa salahku? aku hanya berusaha membuat zoe mengerti," ujarnya eldric dengan polosnya.


"Apa kau tidak malu mengatakan semua itu pada putrimu." karina menggelengkan kepalanya, ia sungguh tidak mengerti kenapa eldric bisa seperti ini.


"Aku hanya bicara soal cocok tanam, tidak bicara kalau aku mau **** kamu, trus kita *****."


"Diamlah, kau meracuni putriku." karina menutup kedua telinga zoe, agar tidak mendengar ucapan vulgar suaminya.


"Aku bicara apa adanya Sayang," kilah eldric.


Karina mendengus kesal. Ia kemudian membawa zoe pergi meninggalkan ruangan itu. Eldric pun bergegas menyusul langkah istrinya.


"Honey aku hanya bercanda, maaf!" teriaknya sambil mengekor pada langkah karina yang jauh di depannya.


"Enggak!"


"Kenapa?"


"Kau mesum!"


"Sayang aku hanya ingin bisa bercocok tanam denganmu nanti malam!" ucap eldric dengan lantang agar karina mendengarkannya.


"Eldric!" pekik karina dengan wajahnya yang memerah.


Ia sungguh tidak habis pikir dengan suaminya. Ia mengatakan hal memalukan seperti itu dengan lantang, seorang mereka hanya berdua saja di mansion itu. Dengan suara baritonnya pasti paman berto dan penjaga lainnya bisa mendengar ucapan absurd eldric dengan jelas.


"Karina Sayang, Honey," suara eldric memanggilnya dengan lembut.


Setelah sampai di kamar karina langsung menutup pintunya, ia kemudian duduk di sofa. Nafasnya memburu, lelah juga ternyata jalan cepat sambil gendong zoe yang berat badannya sudah lumayan.


Eldric membuka pintu kamar dengan perlahan. Ia masuk kemudian berjalan mendekat kearah karina.


Karina yang tau eldric datang, melengos memalingkan wajahnya. Eldric duduk di samping istrinya, ia menjatuhkan keningnya di bahu karina.


"Sayang jangan diam, aku tidak bisa kalau kamu begini," rengek eldric manja.


Karina masih tak bergeming. Ia masih tetap memalingkan wajahnya dan menatap lurus keluar jendela. Zoe mulai menarik narik baju karina, menandakan ia sedang haus.


"Sayang mau susu ya." karina membuka empat kancing bajunya lalu kemudian mengeluarkan satu botol gantung miliknya dari pengaman.


Dengan lahap zoe meminum ASI langsung dari tempatnya. Pemandangan yang membuat eldric susah payah menelan ludahnya.


"Mommy daddy juga mau," rengekannya pada karina.


"Enggak ada!" tegas karina.


"Kenapa? daddy juga mau tumbuh besar."


"Daddy udah nggak bisa besar, daddy udah tua. Nggak usah macem-macem," jawab karina dengan ketus.

__ADS_1


Eldric pun akhirnya mengalah, ia bangkit kemudian melangkah gontai menuju ranjangnya. Eldric berbaring kemudian memiringkan tubuhnya memunggungi karina. Terlihat sangat tidak berdaya, seolah dia adalah korban dari istrinya.


Setelah puas menyusu zoe pun terlelap, karina kemudian membaringkan putri kecilnya dalam box miliknya.


Karina menghela nafasnya saat melihat eldric yang masih terbaring miring. Ia diam tanpa suara, sambil menatap kosong kearah pintu. Karina berjalan mendekat, kemudian duduk di tepi ranjang.


"Daddy Kenapa?" tanya karina lembut.


Eldric tidak menjawab, ia memalingkan tubuhnya kearah lain.


"Apa ucapanku salah?"


"Tidak, kau benar daddy memang sudah tua," ujar eldric dengan nada yang di buat merajuk.


Karina kemudian ikut berbaring lalu memeluk tubuh kekar yang di balut kaos abu-abu polis itu dari belakang.


"Daddy nggak tua kok, mommy hanya bercanda saja," bujuk karina, ia takut eldric benar-benar tersinggung dengan ucapnya.


"Tidak apa-apa, daddy memang tua. Tidak seperti mommy yang masih muda dan cantik." Eldric menjeda ucapannya. " Daddy sudah tidak menarik di mata mommy."


Astaga, bayi besarku benar-benar merajuk.


Karina memalingkan tubuh suaminya hingga eldric terlentang. Karina pun naik keatas tubuh kekar itu dan duduk di atasnya.


"Kenapa Daddy bilang begitu, mommy kan hanya bercanda. Maaf ya," ucap karina dengan nada yang begitu manja dan menggoda.


Eldric tersenyum kecil, tidak sia-sia ia berjuang untuk pura-pura merajuk seperti anak kecil.


"Benarkah?" tanya eldric.


"Apa Daddy tidak percaya padaku," ujar karina sambil memasang wajah paling imut.


"Kalau hanya ucapan mana aku bisa percaya. Lakukan dan yakinkan aku."


"Kalau itu bisa memuaskan Suamiku."


Mereka berdua pun memulai perkejaan yang paling menyenangkan. Bercocok tanam, stroberi dan pisang di atas ranjang. Asik bukan.


Semoga zoe tidak bangun lagi, doa eldric sepenuh hati.


.


.


.


.


Mampir ke nopel othor muda berbakat 🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2