Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Firasat


__ADS_3

Seorang wanita terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wanita itu membuka matanya lalu menatap nanar keluar jendela. Ia baru saja di pindahkan dari klinik kecil di pinggir kota ke rumah sakit ini.


Seorang laki-laki tampan membuka pintu kamar rawatnya. Ia masuk dengan membawa sekantong kresek makanan. Wanita itu menoleh kearah pintu saat mendengar suara decitan pintu yang terbuka.


"Hai ... sudah bangun rupanya?"


Wanita itu hanya tersenyum tipis, ia merasa sangat lemas.


"Aku bawa bubur ayam, apa kau mau?" ujar pria itu menawarinya.


"Iya, terima kasih."


"Kau sudah mengatakan itu berkali kali."


"Rasanya tidak akan pernah cukup saya berterima kasih pada, Tuan," lirih Karina.


Pria tampan itu tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di samping brankar. Ia mulai membuka kantong kresek yang di bawanya, kemudian si tampan mengeluarkan kotak stereo foam.


"Kita belum kenalan kan. Kenalin aku Naoki!"


Mereka memang belum sempat berkenalan karena Karina yang tidak sadarkan diri saat ia membawanya ke klinik, bahkan saat karina di bawa ambulan ke rumah sakit ia belum sadarkan diri selama dua hari.


"Naoki?" ulang Karina.


Ia merasa begitu akrab dengan nama itu di masa lalunya.


"Kenapa?" Naoki menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka kotak stereo foam.


"Tidak apa-apa, nama yang bagus Tuan," kilah Karina.


"Jangan panggil aku Tuan, panggil Naoki saja. Siapa nama kamu?"


"Karina," jawab wanita itu sambil tersenyum.


Naoki terkejut sampai tubuhnya menegang. Nama yang sama dengan nama perempuan yang dicarinya selama ini, apakah ini kebetulan atau Tuhan sudah mentakdirkan mereka untuk bertemu.


Apakah kau dia? Apakah kau adikku? Tuhan apa ini semua? Tapi aku tidak boleh gegabah, aku harus memastikan kalau dia benar-benar adikku. Bisa saja nama mereka sama tapi bukan berarti mereka orang yang samakan.


"Tuan Naoki, apa Anda baik-baik saja?"


"Ah ...iya," Naoki menjawabnya dengan gelagapan.


Ia kemudian membantu Karina mengatur ranjangnya, agar ibu hamil itu bisa setengah menyandar.


"Ini makanlah sebelum dingin." Naoki menyodorkan bubur ayam yang di belinya.


Karina menerimanya dengan tersenyum manis. Ia sama sekali tidak berselera dengan makanan apapun, saat ini pikirannya hanya tertuju pada suaminya. Namun, ada kehidupan yang bergantung padanya. Karina pun memaksakan bubur itu masuk ke dalam lambungnya.


Naoki pun makan dengan pikirannya yang kalut, ia tidak menikmati makanannya. Sesekali ia melirik pada karina. Wanita yang memang kalau dipikir-pikir adiknya pasti seumur Karina sekarang . Tapi apakah semudah ini, ia bahkan mencarinya selama bertahun-tahun dengan hasil yang mengecewakan.


Karina yang merasa di perhatikan pun berusaha tidak menghiraukannya. Meskipun ia tidak tahu kenapa laki-laki itu memperhatikannya. Yang karina tahu, ia berhutang nyawa padanya. Karina masih ingat bagaimana dua pria suruhan sang mertua berencana membunuh dah membuang jasadnya.


"Em ...Tuan Naoki."


"Naoki saja."


Karina tersenyum kecil. Ia meletakkan kotak bubut yang sudah kosong ke atas nakas. Namun, karena tangannya yang tak sampai, naoki meraihnya kemudian meletakkannya bersama miliknya.


"Naoki, bolehkah saya minta tolong."


"Kau mau minta tolong apa? jika aku bisa aku akan menolongmu."


"Bisakah Anda menghubungi suami saya. Dia pasti sangat khawatir sekarang, apalagi saya sudah menghilang selama dua hari tanpa kabar," ucap karina dengan sendu.


Ia menundukkan kepalanya, dalam hatinya ia juga mengkhawatirkan keadaan suaminya. Entah bohong atau tidak. Namun, saat mereka mengatakan eldric terluka karena kebakaran di gudang pabriknya. Karina merasa tidak tenang, ia hanya akan lega jika melihat suaminya langsung.


"Apa kau hafal nomer telpon suamimu?" tanya Naoki.


Karina menggelengkan kepalanya.


"Tolong Anda cari di internet nama Eldric Hugo. Pasti ada berita tentang kebakaran di gudang pabriknya, kebakaran itu terjadi di malam yang sama pada saat saya di culik dari mansion."


Tanpa banyak bicara Naoki mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia kemudian mulai mencari nama seseorang yang Karina sebutkan. Benar seperti yang Karina ucapkan, yang muncul di halaman web adalah berita kebakaran gudang pabrik di salah satu kota di Jakarta.


"Apa ini suamimu?" tanya Naoki sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan seorang laki-laki tampan dengan memakai jas.


Karina mengangguk cepat. Matanya berkaca-kaca melihat wajah suami yang ia rindukan. Rasa rindunya begitu menggebu dalam hatinya. Entah karena rasa cintanya atau karena bayi mereka, jika bisa Karina ingin berhambur ke pelukan eldric sekarang juga.


Naoki kembali menarik ponselnya. Ia kemudian mencari informasi tentang alamat atau nomer telpon yang bisa dihubungi. Sebuah nomer kantor tercantum di sana. Naoki pun segera menghubungi nomer itu.

__ADS_1


Setelah beberapa kali nada sambung akhirnya seseorang mengangkat telponnya.


"Halo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki dengan ramah di ujung telepon.


"Apa benar ini kantor De Luce?" tanya Naoki memastikan.


"Benar Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" ulang laki-laki itu.


"Apa saya bisa berbicara dengan atasan Anda, Tuan Eldric?"


"Maaf dengan Tuan?"


"Naoki, dari Surabaya," jawab Naoki cepat.


Karina terus memperhatikan Naoki dengan tidak sabar.


"Tuan Naoki, maaf sebelumnya. Tuan Eldric beberapa hari ini tidak masuk kantor, tapi saya bisa menyampaikan pesan Anda kepada beliau," jawab resepsionis itu.


"Tolong sampaikan padanya, istrinya sedang menunggunya."


"Istri?"


"Iya, cepat sampaikan ini sangat penting," desak Naoki.


"Baik akan saya sampaikan, Tuan."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Bagaimana?" tanya Karina tidak sabar.


Naoki menggelengkan kepalanya.


"Suamimu sudah beberapa hari tidak ke kantor, tapi aku sudah menitipkan pesan."


Karina tersenyum getir. Pikirannya langsung melayang kemana-mana, ia membayangkan bagaimana jika suami benar-benar terluka. Bagaimana kalau kedua iblis betina itu juga mencelakainya.


Masih jelas di ingatannya bagaimana paman berto di tusuk oleh salah seorang orang suruhan helena, karena berusaha menyelamatkan Karina. Ia takut mereka akan melakukan hal yang sama pada suaminya. Sepertinya kedua wanita itu mampu melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.


Seorang dokter dan perawat masuk kedalam ruangan rawat Karina.


"Selamat pagi Dokter, Saya masih lemas Dok."


"Nyonya butuh istirahat yang banyak, dan makan makanan yang bergizi. Apa perutnya masih sakit?" dokter itu memasang stetoskopnya kemudian mulai memeriksa detak jantung Karina.


"Tidak Dokter saya hanya lemas saja."


Dokter itu manggut-manggut mengerti.


Setelah dokter itu memeriksa detak jantungnya, si perawatan memasang alat untuk memeriksa tensi darahnya.


"100/70," ucap sang perawat.


"Masih rendah, istirahat yang cukup. Nyonya maaf saya harus menyampaikan ini, dari hasil pemeriksaan salah satu dari bayi Anda terpengaruh dengan obat penggugur kandungan yang sempat tertelan oleh Anda."


Bagaimana di sambar petir, air mata karina jatuh seketika. Suami sedang tidak ada di sampingnya, ia sendiri juga sedang khawatir dengan keadaannya. Sekarang ada masalah dengan salah satu buah hatinya akibat ulah dari mertua kejamnya.


Melihat karina yang begitu bersedih, Naoki refleks bangkit lalu memeluknya. Entah kenapa ia merasa sangat mengenal Karina sejak ia pertama melihatnya meringkuk di mobil penjahat itu.


"Saya akan memberikan vitamin untuk Anda konsumsi, saya sarankan untuk istrirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi. Cobalah untuk tidak stress, Nyonya."


"Baik Dokter," ucapnya sambil mengangguk kecil dalam pelukan Naoki.


"Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah," ucap Naoki berusaha menguatkan wanita itu.


Karina hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter itu undur diri.


Dokter itu melangkah keluar dengan perawatan mengekor di belakangnya.


"Tunggu Dokter!" cegah Naoki. Ia kemudian melepaskan pelukannya pada karina.


"Aku tinggal sebentar ya," pamit Naoki.


Lagi-lagi Karina hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.


Naoki kemudian melangkah menghampiri Dokter yang berdiri menunggunya di ambang pintu.

__ADS_1


"Ada apa Tuan?" tanya dokter itu.


"Hais ...sudah saya bilang jangan panggil Tuan," tukas naoki setengah berbisik.


"Mana bisa, Anda adalah anak dari pemilik rumah sakit ini!"


"Yang punya papa saya, bukan saya Dokter Bram."


"Ya ...ya terserah. Kenapa Anda memanggil saya?"


Naoki melirik kearah perawat yang berdiri di belakang Bram. Dokter muda itu seolah paham, ia pun menyuruh si perawat untuk meninggalkan mereka. Bram pun mengajak Naoki ke ruangannya, ia dapat menebak kalau temannya itu akan membicarakan sesuatu yang penting.


Sesampainya mereka di ruang Dokter Bram.


"Ada apa?" tanya Bram to the point.


"Tolong aku untuk melakukan tes DNA pada wanita tadi?"


Bram mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Aku hanya curiga saja, namanya sama seperti nama adikku yang hilang selama bertahun-tahun."


"Kalau hanya nama itu bukan alasan yang kuat untuk kamu melakukan tes DNA," ujar Bram sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Tapi firasat aku kuat, Bram. Entah kenapa aku merasa dia adalah adikku, dan satu lagi tolong kau periksa apakah di tengkuk leher belakangnya ada tanda lahir berwarna merah, jika memang ada aku yakin dia benar-benar adikku."


"Baiklah, aku akan membantumu."


"Terima kasih, tolong rahasiakan ini dari Papa. Aku akan memberitahunya saat hasil tes DNA sudah keluar."


"Oke, tenang saja. Semua aman bersamaku."


Sementara itu di mansion.


Eldric sedang berada di ruangan kerjanya dengan baron dan bagas, mereka masih belum berhasil menemukan jejak sang nyonya.


Mereka hanya menemukan tempat terakhir Karina di bawa, sebuah hutan jati. Setelahnya baron berhasil menemukan bahwa orang suruhan helena sudah ada di penjara, karena seseorang yang melaporkannya. Namun, setelah itu baron kembali kehilangan jejak.


"Maaf Tuan," ujar baron lirih, ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


Brakk.


Eldric melemparkan sebuah patung hiasan hingga mengenai dinding.


"Aku tidak butuh kata maaf mu!"


Baron dan bagas hanya bisa menunduk.


"Kalian-


Drrrt... drtt ..


Kemarahan Eldric terganggu dengan suara ponselnya yang bergetar. Ia mendengus kesal. Namun, melihat nama joe di layar ponsel. Eldric bergegas mengangkatnya. Ia takut terjadi sesuatu pada Berto.


"Halo Joe, apa terjadi sesuatu pada Berto?"


"Tidak Tuan, paman berto baik-baik saja. Ada yang lebih penting Tuan."


"Apa?" mendengar suara joe yang begitu cemas membuat Eldric penasaran.


"Ada seseorang yang menelfon ke kantor. Dia berpesan, istri Anda sedang bersamanya dan sedang menunggu kedatangan Anda Tuan!"


"Apa!" pekik Eldric terkejut.


"Siapa dia, dimana mereka sekarang?!" cerca Eldric tidak sabar.


"Saya akan mengirimkan nomer teleponnya pada Tuan."


Joe mematikan sambungan teleponnya. Tidak lama sebuah pesan masuk.


"Cari lokasi nomer ini sekarang!" perintah Eldric pada kedua anak buahnya.


Ia mengirimkan nomer telpon itu pada baron.


"Baik Tuan."


Keduanya pun segera keluar dari ruangan kerja Eldric.

__ADS_1


__ADS_2