Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Tangisan memilukan


__ADS_3

Siang hari, lagi-lagi Karina hanya meminta berto untuk membuatkannya salad untuk makan siang, jika biasanya karina akan meminta ini itu untuk camilan. Namun, tidak untuk hari ini ia hanya meminta sebuah apel sebagai camilannya.


"Nyonya, ini makan siang Anda," ujar berto sambil meletakkan semangkuk salad segar di meja.


"Terima kasih Paman." dengan semangat Karina memakan sayuran hijau segar itu. Jujur saja karina merasa sangat lapar.


Sesungguhnya berto merasa cemas dengan sang nyonya kecil, ia sedang menyusui tetapi hanya makan seporsi salad tanpa mengandung karbohidrat sama sekali.


"Nyonya apa Anda ingin makan yang lain? saya akan dengan senang hati memasaknya untuk Anda," berto mencoba membujuk karina dengan halus, ia melihat sang nyonya memakan salad itu dengan sangat lahap. Sangat kentara ia merasa sangat lapar.


"Tidak Paman ini saja sudah cukup, aku akan minum susu setelah ini," jawab Karina.


"Saya akan membuatkan susu untuk Anda." berto bergegas ke dapur, ia tidak ingin Karina membuat susu sendiri. Berto ingin bisa melayani majikannya dengan baik.


Setelah beberapa saat berto kembali ke meja makan dengan segelas susu hangat.


"Nyonya ini susu Anda."


"Seharusnya Paman tidak perlu repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri," sahut karina dengan tidak enak hati.


"Ini sudah tugas saya untuk melayani Anda," tukas berto.


Karina hanya bisa menghela nafasnya panjang, ia kemudian menenggak susu yang di sodorkan berti sampai habis kemudian meletakkan gelas kosong dengan kasar sampai menimbulkan bunyi.


Berto tersingkap, baru kali ini ia melihat karina begitu kesal seperti itu, apakah dia melakukan kesalahan dengan membuatkan susu itu?


Karina mendorong kursinya dengan kasar kemudian bangkit dari duduknya, berjalan dengan langkah lebar ke kamarnya. Melihat zoe yang sedang tertidur lelap karina merasa lega, ia menatap wajah polos putrinya dengan lekat matanya berkaca-kaca kemudian air matanya jatuh begitu saja.


Karina tak bisa menjelaskan perasaannya saat ini, ia hanya merasa kalut, marah, sedih, kecewa dan ketakutan yang ada dalam dirinya. Tidak adanya zack masih masih membuatnya sedih, ia hanya menutupinya dengan berpura-pura baik.


Wanita itu rapuh, hatinya seakan tercabik-cabik lagi dan lagi. Tubuh karina merosot hingga terduduk di lantai, tak ingin menganggu zoe tidur karina menangis dalam diam, sesak sebenarnya dadanya terasa begitu penuh. Air matanya mengalir semakin deras, tetapi tak sedikitpun menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


Karina terus tenggelam dalam kesedihannya. Kamar itu terasa sepi seperti halnya karina saat ini. Ia merasa sendiri, sedih dan kesepian.


Karina berusaha menghentikan tangisannya saat mendengar tangisan zoe. Ia perlahan bangkit lalu membawa zoe dalan dekapannya.


"Shh... tenang ya Sayang." karina mengayunkan tubuhnya menimang malaikat kecilnya yang masih menangis.


"Zoe, Sayang. Apa kau lapar? hem," tanya karina dengan suaranya yang serak dan pipinya yang masih basah dengan air mata.

__ADS_1


Karina membawa zoe duduk di sofa, selama ini Karina memang jarang membawa zoe keluar kamar. Ia lebih suka menyendiri di kamar bersama putrinya.


Karina duduk berselonjor dan mulai menyusui zoe. Namun, gadis mungil itu menolak ia tidak mau menyesap ujung ******.


"Kenapa Sayang? bukankah kau haus?" Karina mulai panik, zoe terus menangis.


Karina merapikan kembali bajunya, ia mendekap zoe yang menangis, menepuk bokongnya pelan. Ia kemudian berdiri dan mulai mengayunkan tubuhnya, berharap zoe akan bisa tenang. Tetapi zoe tidak kunjung diam, air mata karina pun ikut berderai.


"Zoe sayang sudah ya jangan menangis lagi, mommy mohon tenanglah."


Seakan turut merasakan apa yang sedang ibunya rasakan, Zoe menangis seiring air mata karina yang kembali berderai.


"Kenapa masih menangis? aku harus minta tolong siapa, hiks ...hiks...."


"Zoe aku mohon tenanglah!" suara Karina meninggi, zoe menangis semakin kencang.


Perasaan karina bertambah kalut bukan hanya kesedihannya memikirkan zack kini ia juga merasa gagal menjadi ibu karena tidak bisa membuat zoe tenang.


"El, aku harus bagaimana?" ujar karina di tengah tangisnya.


"Maafkan mommy Nak, maafkan mommy," gumam karina penuh penyesalan, ia menyesal telah meninggikan suaranya.


"Paman!"


"Paman!"


Karina berteriak bahkan sebelum ia sampai di dapur. Berto yang mendengar karina berteriak. Teriakkan yang dibarengi dengan suara tangisan zoe.


"Nyonya!" pekik berto terkejut.


Karina mengendong zoe dengan linangan air mata di pipinya, wanita itu tampak kacau. Zoe juga menangis kencang, bayi itu seolah meminta pertolongan.


Berto bergegas mendekati Karina, ia kemudian mengambil alih zoe dari gendongannya. Karina hanya menurut saja.


"Paman zoe tidak mau diam, apa dia sakit? dia juga tidak mau minum ASI-ku," karina menjelaskan sambil terisak-isak. Ia mengusap pipinya dengan kasar dan berusaha menghentikan tangisannya, tetapi air mata itu seolah tak ingin berhenti mengalir.


"Tenang Nyonya, zoe tidak apa-apa. Sudah biasa jika bayi rewel seperti ini," ujar berto mencoba menenangkan.


"Tenang bagaimana? apa kau tidak lihat dia menangis kencang seperti itu! Bagaimana kalau dia sakit ...dan pergi bersama zack!" teriaknya kencang.

__ADS_1


Pikiran karina sangat kalut saat ini, gelisah sedih dan takut bercampur menjadi satu, ia juga marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk zoe, wanita yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk suaminya.


"Hua ...!" mendengar teriakkan sang ibu zoe menangis semakin kencang.


Baron dan bagas yang mendengar keributan di dalam segera masuk. Mereka pun terkejut dengan apa yang mereka lihat, sang nyonya sudah terduduk di lantai sambil menangis, sementara zoe juga masih menangis dalam gendongan berto.


"Paman apa apa ini?" tanya bagas panik, ia sungguh tidak tega melihat sang nyonya menangis begitu memilukan.


"Baron cepat hubungi tuan, katakan padanya nyonya membutuhkannya sekarang!" baron mengangguk ia segera meraih ponsel di sakunya untuk menghubungi eldric.


"Bagas kemari."


Bagas pun mendekat kearah berto.


"Apa kau pernah mengasuh bayi?"


"Adikku, tapi-


"Jaga nona zoe dengan baik." berto memberikan zoe dalam gendongan bagas.


Pria itu mematung, yang ada di tangannya adalah putri mahkota dari mansion itu. Bagas merasa sangat takut.


"Bagas ayun badanmu, buat nona zoe nyaman!" sentak berto.


"Seperti ini Paman?"


"Iya seperti itu."


Bagas mengerakkan tubuhnya seperti orang yang sedang joget patah-patah. Berto pun segera menghampiri karina.


"Nyonya, nona zoe tidak sakit. Dia hanya merasa sedih karena melihat Anda terus menangis," ujar berto.


"Benarkah Paman?"


Berto mengangguk.


"Nona sangat peka pada Anda, Nyonya. Dia juga ikut merasakan apa yang Anda rasakan.


Mendengar ucapan berto Karina mulai menyusutkan air matanya. Ia tidak ingin zoe ikut bersedih.

__ADS_1


__ADS_2