
Helena melangkahkan kakinya dengan kesal. Sebelum ia menyingkirkan menantu sialannya itu dia harus menyingkirkan berto terlebih dahulu. Laki-laki itu akan menjadi penghalang besar dalam rencananya.
"Dimana istri eldric?"
"Nyonya sedang bersantai di teras belakang."
"Nyonya?"
"Dia adalah Nyonya di mansion ini!" tegas Berto. Ia kemudian melangkah mendahului kedua tamunya.
"Cih ...Aku yang seharusnya menjadi nyonya di mansion ini, Bi," protes Donna.
"Sudah diamlah, kita harus segera menemui gadis jala"g itu," bisik Helena lirih.
Dengan menahan kesalnya Donna mengikuti langkah Helena yang mengekor pada berto. Setelah melewati beberapa ruangan akhirnya mereka sampai di teras belakang yang sejuk dan indah. Terdapat beberapa pot bunga yang di tata tapi oleh karina.
Di salah satu sofa yang mengelilingi meja kayu, seorang wanita cantik yang duduk dan memainkan ponselnya.
"Nyonya," sapa Berto sambil menunduk hormat.
Karina mendongakkan kepalanya, ia tersenyum manis melihat kedua tamunya yang sudah ada di hadapannya. Ia kemudian bangkit dan menghampiri mereka.
"Nyonya Helena dan Nona Donna, maaf kalau sebelumnya pertemuan pertama kita meninggalkan kesan yang kurang baik. Perkenalkan saya karina istri sah dari Eldric Hugo," ucap karina dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Kau sudah tahu namaku rupanya," sahut Helena dengan seutas senyum palsu.
"Tentu Nyonya, Nona cantik ini menyinggung nama Anda saat pertama kali dia berkunjung ke kantor suami saya setelah pernikahan kami." Karina menatap sinis pada Donna yang sedang menatapnya dengan tidak suka.
Walaupun senyum manis tersungging di bibirnya. Namun, karina bisa merasakan kepalsuan dari senyumannya itu.
"Oh ... maaf saya hampir saja lupa, silahkan kalian duduk. Anggap saja rumah sendiri."
"Paman tolong siapkan minuman dan camilan untuk kedua tamu kita," titah karina.
"Baik, Nyonya."
Dengan enggan Berto berjalan menjauh, sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan sang nyonya kecil bersama dua rubah betina itu.
Kedua wanita itupun mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa. Begitu pula karina ia duduk dengan anggun di sofa yang berhadapan langsung dengan kedua tamunya.
"Ehm ... Karina, sebenarnya aku ke sini untuk meminta maaf padamu. Waktu itu aku keterlaluan, aku begitu terkejut mengetahui Eldric telah menikahimu. Aku tahu aku salah, tapi aku harap kau bisa mengerti karena aku dan El adalah tunangan sejak kecil," ujar Donna panjang lebar.
Wanita itu berucap dengan wajahnya yang dibuat sendu. Karina tidak bisa merasakan ketulusan disorot matanya. Namun, Karina memilih mengikuti permainan bibit pelakor itu.
"Saya mengerti, saya juga tidak dendam dengan kejadian waktu itu. Itu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang semestinya tidak perlu terjadi."
"Kau memang gadis yang baik, sekarang aku mengerti kenapa El memilihmu. Kau memang pantas untuknya," ucap Donna dengan senyum yang di paksakan.
"Tentu saja, lagi pula tidak ada yang pantas selain saya untuk menjadi pendamping hidup Eldric," tukas karina dengan penuh percaya diri.
Di balik senyumannya tangan Donna mengepal kuat. Kalau saja bukan karena rencana Helena, ia tidak mungkin setuju untuk bersikap manis pada wanita yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
Helena tersenyum simpul, ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kue kepada karina.
"Ini ada sedikit kue untukmu, Mama sengaja membawakan ini untukmu," ucapnya dengan lembut.
Karina tersenyum manis menerima kotak itu. Dengan bersemangat Karina membukanya. Senyum di bibirnya hilang seketika setelah melihat isi kotaknya.
"Kenapa? apa kau tidak suka?" tanya Helena saat menyadari raut wajah karina yang berubah.
"Maafkan saya Nyonya Helena, semenjak hamil saya suka dengan rasa vanilla," ucap Karina menjelaskan.
"Apa? ka-kau hamil!" pekik Donna terkejut.
"Iya begitulah, kami membuat adonan setiap malam dan akhirnya Tuhan berikan kepercayaan padaku untuk menjadi ibu dari anak-anak suamiku," ujar karina dengan bangga.
Helena langsung bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Karina lalu segera memeluknya.
"Aku sungguh sangat bahagia Nak, terima kasih karena telah memberikan keluarga Hugo kebahagiaan. Semoga kau dan bayimu selalu sehat."
"Terima kasih Nyonya."
"Panggil aku Mama, kau adalah menantuku." Helena melepaskan pelukannya. Ia kemudian duduk di samping karina.
"Baiklah Mama,"
"Sudah berapa bulan umur kandunganmu?" tanya Helena sambil mengusap perut Karina yang sedikit buncit.
Karina memakai dress longgar hingga membuat perutnya tidak begitu kentara.
Melihat Helena yang memperlakukan karina dengan sayang membuat Donna semakin geram. Namun, ia berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum dan menyembunyikan amarahnya.
Sial wanita ini sudah hamil anak eldric. Aku harus menyingkirkan dia berserta bayi yang ada dalam kandungannya itu. Tidak ada seorang pun yang pantas menjadi nyonya Hugo selain aku.
"Selamat atas kehamilanmu," ucap Donna dengan senyum manisnya.
"Terima kasih."
"Karin, bisakah kau membantu Mama untuk membujuk eldric. Hubungan Mama memang tidak terlalu baik dengannya, tapi Mama ingin menebus kesalahan Mama dimasa lalu Nak," Helena mulai mengeluarkan air mata buaya miliknya.
"Nyonya silahkan."
Berto baru saja datang membawa minuman serta camilan untuk nyonya kecil dan kedua tamunya. Berto menatap sini pada Helena yang sedang memulai dramanya.
"Terima kasih Paman," sambut Karina dengan senyum manisnya.
"Sama-sama, Nyonya." Berto mulai meletakkan minuman di meja sesuai dengan letak para wanita itu duduk.
"Karin, bantulah Mama Nak, Mama hanya ingin lebih dekat dengan anak Mama," sambung Helena lagi.
"Maaf Ma, saya tidak bisa membantu untuk itu. Lebih baik jika Anda berbicara sendiri padanya, itu akan lebih baik," tukas Karina tegas.
"Kau adalah istrinya, eldric akan lebih mendengarmu. Apa salahnya membantu Bibi Helena," sahut Donna.
__ADS_1
"Memang tidak salah, tapi saya rasa. Saya tidak bisa mencampuri urusan suami saya terlalu jauh, dia punya privasinya sendiri!" tegas karina.
"Karin, apa kau benar-benar tidak bisa membantu orang tua ini, Nak," ucap Helena sambil tersedu.
"Maaf, lebih baik Mama bicarakan sendiri dengan eldric. Aku yakin dia akan bisa menerima Mama lagi kalau Mama minta maaf dengan tulus, tidak ada seorang anak yang bisa sepenuhnya membenci ibunya, cobalah Ma." Karina menggenggam tangan Helena.
Wanita itu menoleh pada karina, menunjukkan wajahnya yang sudah bersimbah air mata. Karina tersenyum tulus, ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Namun, jika memang Helena ingin meminta maaf dan tulus ingin menebus kesalahannya pada Eldric. Karina merasa tidak ada salahnya dengan itu.
"Nyonya, sudah waktunya Anda istirahat," Sela Berto.
"Baik Paman, maaf Ma, Donna saya harus beristirahat sekarang."
"Baiklah Nak, kami juga akan pulang sekarang. Tapi apa masih boleh kami berkunjung kemari?"
"Silahkan, saya tidak melarang Anda untuk datang."
"Terima kasih Nak," ucap Helena dengan sendu.
Keduanya pun pamit undur diri. Karina mengantarkan kedua tamunya sampai ke pintu depan.
Setelah mobil yang di tumpangi Helena berlalu, berto memberanikan diri untuk bertanya pada sang nyonya.
"Nyonya Kenapa Anda mengizinkan mereka berkunjung, mereka bukan orang baik Nyonya," tegur Berto.
"Aku tahu Paman, aku tidak bisa merasakan ketulusan dari mereka. Tapi aku juga bukan orang jahat yang memisahkan ibu dan anaknya."
"Anda terlalu baik Nyonya."
"Aku tidak sebaik itu Paman, aku hanya sedang mengikuti permainan mereka, dan membalasnya dengan tepat. Aku tidak bisa melakukan sesuatu sebelum mereka menunjuk taringnya," ucap Karina sambil menyeringai kecil.
"Saya akan membantu selalu membantu Anda," ujar Berto dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih. Kita akan bermain cantik pada saatnya nanti."
.
.
.
.
.
.
Hai gaes mampir ke nopel othor muda berbakat 🥰🥰 .
Sudah Bab ke 3 mulai gemes sama Helena dan Donna 🤣🤣
__ADS_1
Besok kita tunggu permainan dari karina 🤭🤭🤭