Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Kita lalui bersama


__ADS_3

Matahari mulai menyapa, Karina mulai membuka mata lentiknya yang sembab. Semalam ia mencurahkan semua isi hatinya lewat air matanya. Tak ada satupun kata yang ia ucapkan selain nama sang suami di sela isaknya.


Mata Karina yang kecil terlihat semakin sipit. Tangan yang tersemat jarum infus terangkat keatas membelai wajah yang terlelap di sampingnya. Air matanya yang baru mengering kini tumpah lagi.


Merasa seseorang membelainya. Eldric membuka matanya, ia melihat wajah istrinya yang kembali menangis melihat dengan dalam.


"Honey, .... Jangan menangis lagi." Eldric mengusap lembut pipi istrinya yang basah.


Bukannya diam, karina malah meraung semakin kencang, ia menjerit keras menumpahkan kesedihannya. Karina meluapkan segala apa yang ia tahan selama beberapa hari ini.


"Anak kita ....bayiku....!" jeritnya dengan keras.


"Ada apa dengan anak kita? katakan. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Eldric menakup wajah mungil istrinya yang sudah bersimbah air mata. Karina hanya menangis sambil memegangi perutnya, ia tak sanggup mengeluarkan kata dari mulutnya. Eldric semakin cemas saat tiba-tiba Karina memejamkan matanya dan tak sadarkan diri.


"Karin... Karin ...buka matamu Sayang!" Eldric memukul pelan kedua pipi istrinya.


Panik, ia segera melompat turun dari ranjang. Eldric segera menekan tombol nurse, ia mencoba untuk membangunkan istrinya. Namun, Karina sama sekali tidak merespon.


Seorang dokter bergegas masuk dengan dua orang perawat. Mereka bertiga berjalan cepat menghampiri Karina yang terbaring lemah di brankar.


"Tuan, sebaiknya Anda menunggu di luar," ujar sang dokter.


"Tapi dia istriku! beraninya kau menyuruhku untuk keluar!" sentak Eldric dengan penuh amarah.


"Kami mohon pengertiannya, silahkan Anda keluar terlebih dahulu." salah satu dari perawat itu.


"Apa hak kamu mengusirku! Hah!" teriak Eldric dengan penuh amarah.


"Maaf Tuan, biarkan Dokter menangani pasien terlebih dahulu, jika Anda tidak keluar. Silahkan Anda duduk di sana." ujar sang perawat sambil menunjuk kearah sofa.


Eldric mendengus kesal, ia akhirnya terpaksa mengikuti arahan dari perawat itu.


Eldric menghempaskan tubuh di sofa dengan kasar. Ia tak berhenti mengetukkan kakinya karena cemas, mata elangnya tak lepas memperhatikan istri kecilnya yang sedang di periksa dokter.


Setelah selesai pemeriksaan. Dokter muda itu menghampiri Eldric dan mengajak untuk keruangnya. Eldric pun dengan sangat terpaksa mengikuti langkah sang dokter. Sejenak menghentikan langkahnya.


"Jaga istriku!" titah Eldric pada Baron. Yabg sejak semalam berjaga di depan kamar rawat.


"Baik Tuan," jawab Baron, kemudian membungkuk hormat.


Eldric melanjutkan langkahnya mengikuti sang dokter.


Setelah mereka sampai di ruangan dokter.


"Silahkan duduk," ucap Bram.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan istriku, Dok? kenapa dia terus menangis?" tanya eldric langsung.


Dokter itu menghela nafas dalam.


"Jadi Anda adalah suami dari pasien?" Bram balik bertanya.


Eldric hanya menjawabnya dengan anggukan tegas.


"Begini Tuan, satu janin yang ada dalam kandungan istri Anda telah meninggal dunia," ujar sang dokter menjelaskan.


Bagai tersambar petir, jantung Eldric seolah berhenti berdetak saat itu juga. Eldric memejamkan matanya, ia mengambil nafas dalam mencoba untuk menahan gemuruh di dadanya. Ia kemudian perlahan membuka mata, menatap tajam pada Dokter yang duduk di hadapannya.


"Apa yang membuat calon anakku meninggal, Dok?" tanya eldric berusaha setenang mungkin.


"Ukuran janin Anda memang lebih kecil daripada saudaranya, sebenarnya itu bukan masalah karena kita bisa mengatasinya dengan memantau perkembangan dan memberikan vitamin dan asupan gizi lebih pada istri Anda. Tapi, obat penggugur kandungan yang sempat tertelan oleh istri Anda membuatnya tidak bisa bertahan. Dia yang memang sudah lemah tidak bisa bertahan dengan adanya obat itu Tuan," ujar sang dokter menjelaskan panjang lebar.


Tangan Eldric mengepal, dadanya sudah bergemuruh hebat.


"Lalu bagaimana? apa itu akan membahayakannya? lalu bagaimana dengan janin yang selamat?" cerca Eldric.


"Karena umur janin masih 13 minggu maka saya sarankan untuk membiarkan janin yang meninggal tetap dalam rahim, sampai saatnya melahirkan. Tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari dokter. Kesehatan istri Anda dan juga janin yang bertahan cukup baik, tapi semua kembali lagi pada keputusan Anda dan istri Anda Tuan. Karena saat melahirkan nanti akan ada resiko pembekuan darah pada sang ibu, walaupun itu jarang terjadi," ujar sang dokter menjelaskan panjang lebar.


"Lalu kenapa dia bisa pingsan?!"


"Kematian janin yang ada dalam kandungannya membuat psikis istri Anda terguncang, itu bisa menjadi salah satu pemicu stess dan depresi bagi istri Anda Tuan, apalagi di umurnya yang masih sangat muda. Saya harap Anda selalu ada di sampingnya, karena dukungan dari Anda yang ia butuhkan saat ini."


Eldric menunduk sambil memijit batang hidungnya, ia sungguh marah saat ini. Namun, ia juga harus memberikan dukungan moral pada karina. Ia tidak bisa menunjukkan kemarahannya sekarang.


Dengan rasa yang berkecamuk Eldric kembali di hatinya, Eldric kembali ke ruangan karina. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah brankar Karina.


Eldric menggenggam tangan kecil yang terasa dingin, ia menciumi punggung tangan karina berkali-kali. Mata lentik itu perlahan terbuka, ia menoleh menatap wajah suaminya. Air mata Karina kembali luruh.


"Sayang jangan menangis, aku sakit melihatmu seperti ini." Eldric bangkit dari duduknya ia menunduk mengecup kening dan dua kelopak mata istrinya yang masih berlinang air mata.


"Bayiku ... bayiku, dia .."


"Sst ..."


Eldric meletakkan ujung telunjuknya di bibir Karina.


"Mereka akan baik-baik saja, kau juga akan baik Honey. Tidak ada yang perlu kau cemaskan," ucap Eldric memenangkan sang istri. Meskipun hatinya sendiri sudah hancur.


Seulas senyuman yang di paksakan tersungging di bibir tebalnya.


"Dia tidak baik, El. Dia sudah meninggal," Karina kembali terisak. Eldric merengkuhnya.


Dada eldric terasa sangat sesak dan sakit melihat istrinya seperti ini.

__ADS_1


"Raganya masih bersama kita Sayang, dia akan lahir bersama dengan saudaranya. Kau harus kuat, untuk janin yang masih bertahan dalam kandunganmu. Kau tidak ingin dia ikut sedih kan."


Karina mengangguk cepat.


"Kita akan melaluinya bersama, aku akan selalu ada di sisimu. Maafkan aku yang lalai menjagamu dan anak kita."


"Tidak, ini bukan salahmu," lirihnya. Karina mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku Honey, maafkan aku."


Eldric sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menangis, ia tidak ingin karina melihat bersedih. walaupun itu percuma, air matanya tetap saja luruh tanpa permisi.


Tubuh Eldric bergetar. Karina bisa merasakan bahunya basah. Ia tahu suaminya sedang menitikan air matanya. Karina mengusap lembut punggung sang suami.


Rasa kehilangan dan kecewa pada diri sendiri di rasakan oleh keduanya. Namun, bukan saatnya mereka larut ada kehidupan yang harus mereka jaga. Mereka berdua sudah kehilangan satu di antaranya, keduanya harus bisa menjaga yang masih ada dengan sepenuh jiwa.


Karina meremas jas yang di pakai suaminya sejak semalam. Keduanya menangis tanpa suara. Setelah karina tenang. Eldric mengusap air matanya, melonggarkan pelukannya. Ia menarik dirinya agar bisa melihat wajah istrinya.


"Apa kau ingin makan sesuatu , Honey?" tanya eldric lembut.


Ia mencoba mengalihkan Karina. Namun, istri kecilnya itu menggelengkan kepalanya. Karina tidak sedikitpun mempunyai selera untuk makan.


Eldric menghela nafas, ia kemudian memundurkan dirinya hingga sejajar dengan perut Karina.


"Hai baby, apa kau merindukan Daddy? kau ingin makan sesuatu sayang?" tanya eldric seolah janin itu bisa menjawabnya.


"Daddy," lirih Karina sambil mengusap rambut Eldric. Matanya begitu sendu menatap suaminya.


"Aku suka saat kau memanggilku itu," ucap Eldric dengan senyum.


"Dad, aku ingin ke kamar mandi," ujar karina malu-malu.


Eldric tersenyum, ia kemudian menyibakkan selimut yang menutupi tubuh karina. Eldric mengambil kantong infus lalu memberikannya kepada sang istri. Dengan perlahan ia mengangkat tubuh mungil itu dalam dekapannya.


Ia melangkah lebar membawa Karina ke kamar mandi. Eldric kemudian mendudukkannya di atas closed.


"Ehm ... bisa kau keluar?"


"Kenapa?"


"Aku malu," jawab Karina sambil tersipu


"Aku sudah hafal tiap inci dari tubuhmu, Kenapa harus malu?" tanya eldric dengan nada yang menggoda.


"Ish .... keluar sana, nanti pipisnya nggak mau keluar kalau ada kamu," rengek karina.


"Apa aku bantu mengeluarkannya?" Eldric menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Dasar mesum keluar sana!"


Eldric terkekeh kecil, ia terpaksa keluar dari kamar mandi dan menunggu di depan pintu.


__ADS_2