
Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam. Bayi besarnya itu seperti sedang merajuk. Karina mendesah, membuang nafas panjang.
"Suamiku, apa yang terjadi? kenapa anda terlihat begitu kesal?" tanya Karina sehalus mungkin.
"Aku tidak apa-apa, diamlah!" sentaknya pada Karina.
Karina pun diam seketika. Ia merasa suaminya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Karina memilih diam dengan sesekali ia mengusap lembut lengan suaminya, ia berharap bisa sedikit menenangkan bayi besarnya itu.
Karina memperhatikan wajah suaminya yang terlihat begitu tampan di usianya yang tak lagi muda. Pantas saja bila teman sekolahnya banyak yang mencari perhatiannya. Setelah perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai di kantor.
"Eh ...kita tidak pulang?"
"Tidak, aku banyak perkerjaan hari ini," tukas eldric.
Ia pun segera turun dari mobilnya, kemudian segera membukakan pintu untuk istrinya. Suasana hati eldric benar-benar kacau hari ini. Karina pun segera turun kemudian bergelayut di lengan kekar suaminya. Mereka pun berjalan memasuki kantor, ia tidak perduli dengan para karyawan yang sedang menatapnya. Karina hanya tahu ia harus membuat suasana hati sang suami membaik.
Setelah menaiki lift khusus akhirnya mereka sampai di ruangan eldric. Karina tak sekalipun melepaskan tangannya dari lengan suaminya. Eldric mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana. Ia memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening dengan semua teror dari mamanya.
"Suamiku, ada apa?" tanya Karina dengan lembut, ia memijit pelan lengan suaminya.
"Suamiku ini kenapa? apa yang terjadi pada tangan anda?" Karina menyentuh tangan Eldric yang memerah.
"Biarkan saja," jawab acuh.
"Biarkan saja bagaimana?! itu sangat merah, kenapa bisa seperti itu."
"Obat. Mana kotak obatmu itu harus segera
diobati," ujar Karina dengan panik.
Karina hendak beranjak dari duduknya. Namun, tangannya di pegang oleh sang suami. Eldric menariknya hingga ia kembali terduduk di sisinya.
"Aku bilang biarkan, kau tidak akan bisa menyembuhkannya."
"Kau, apa kau meremehkanku. Aku tau aku hanya anak kecil yang tidak bisa apa-apa tapi setidaknya aku bisa jika hanya merawatnya," ketus Karina kesal.
Ia menggeser posisi duduk membelakangi sang suami sambil mencebikan bibirnya. Eldric tersenyum kecil, ia melihat istrinya yang merajuk. Eldric melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya, menopangkan dagu di bahu istrinya.
"Aku tidak perlu obat, aku hanya perlu kamu. Cukup diamlah di sini dan biarkan aku memelukmu," lirih eldric.
Suaranya terdengar begitu sendu. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan. Karina menyandarkan tubuhnya pada suaminya, mengusap lembut tangan yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Tapi ini sangat merah, pasti sakit kan?"
"Tidak, ini hanya terasa panas dan sedikit gatal," jawab eldric singkat.
"Kenapa bisa seperti ini, bukankah tadi pagi baik-baik saja?"
"Ini karena aku menyentuh orang lain selain dirimu," jawab eldric apa adanya.
Mata Karina membulat sempurna, ia melepaskan tangan suaminya. Karina memutar posisi duduk jadi berhadapan dengan suaminya.
"Serius?"
Eldric hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Tanpa aba-aba Karina langsung melompat memeluk suaminya. Ia begitu terkejut sekaligus terharu dengan ucapan suaminya.
"Hey, Kenapa kau begitu senang? apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku tidak bisa bersentuhan dengan orang lain."
"Yang penting kau bisa menyentuhku, aku tidak harus khawatir dengan pelakor kalai seperti ini." Karina semakin mengeratkan pelukannya.
"Dasar gadis nakal." Eldric mengacak-acak rambut istrinya dengan gemas.
__ADS_1
Tok...tok..
Suara ketukan pintu membuat karina terpaksa meleraikan pelukannya.
"Masuk Joe," sahut Eldric.
Joe pun mendorong pintu dari luar kemudian ia segera masuk.
"Maaf Tuan, sebentar lagi rapat akan dimulai," ucap joe.
"Baiklah aku akan ke sana." Eldric bangkit dari duduknya.
"Bersihkan dirimu, aku akan kembali sebentar lagi. Jangan keluar dari ruangan ini, mengerti."
Karina mengangguk kecil dengan senyum manisnya. Eldric pun keluar dari ruangan itu bersama dengan asistennya. Meninggalkan Karina sendirian di ruangan itu.
Setelah kepergian suaminya, Karina segera membersihkan dirinya. Ia pun mengganti bajunya dengan beberapa baju yang di siapkan di sana. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, salah satu tempat yang pernah menjadi saksi keganasan suaminya. Perlahan mata Karina terasa berat, gadis kecil itu pun akhirnya terlelap.
Entah berapa lama ia terlelap. Saat ia terbangun dan keluar dari ruang istirahat, ia sudah menemukan suaminya duduk di meja kerjanya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Karina sambil mengucek matanya.
"Jam tujuh malam," jawab Eldric singkat, tanpa mengalihkan pandangannya pada laptop di hadapannya.
Karina mendudukkan dirinya di sofa. Ia menopangkan dagu dengan satu tangannya yang bertumpu pada lututnya. Menatap lurus pada suaminya yang sedang berkerja.
Waktu terus berlalu tak terasa sudah hampir dua jam ia duduk dia tanpa berbicara. Kebosanan mulai menyergapnya.
"Suamiku, apa masih lama?"
"Kau mengatakan itu satu jam yang lalu. Apa kau tidak kasihan padaku, bokongku rasanya sudah di tumbuhi jamur karena terlalu lama duduk di sini," ketus Karina sambil mencebikan bibirnya.
"Aku sudah selesai, apa kau lapar?"
"Enggak," kilahnya.
Kruuukk.
Perut Karina berbunyi kencang, sepertinya cacing di sana sudah berkeroncong ria. Wajah Karina memerah menahan malu.
"Kau tidak lapar tapi cacingmu sudah berdemo, ayo kita pulang. Berto pasti sudah menyiapkan makan malam untuk kita."
"Bisakah kita makan malam di luar," lirih Karina.
Eldric tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya pada saat istri. Karina menatap tangan suaminya yang terlihat merah. Namun, tidak semerah saat ia melihatnya tadi. Karina tersenyum kemudian menggenggam tangan suaminya dengan lembut.
"Kau ingin pergi kemana?" tanya Eldric saat mereka sudah berjalan keluar dari ruangan eldric.
"Aku ingin ke mall, apa boleh?" tanya karina dengan penuh harap.
"Tapi ini tidak akan gratis," jawab Eldric dengan seringai liciknya.
"Ya ..ya baiklah terserah anda," ujar Karina pasrah.
Mereka pun berjalan keluar dari kantor. Joe sudah menunggu mereka di depan kantor disamping mobil. Ia membungkuk hormat kemudian membukakan pintu untuk tuan dan nyonya kecilnya.
"Apa kita akan pulang Tuan?" tanya Joe setelah ia duduk di kursi kemudi.
"Tidak, kita akan ke mall. Istriku ingin memakan sesuatu di sana."
__ADS_1
"Ke mall Tuan? apa anda yakin?"
"Aku tidak akan mengucapkannya dua kali Joe. Cepat hidupkan mobilnya!"
"Baik, Tuan."
Mobil yang mereka tumpangi pun akhirnya melesat di jalan raya yang cukup ramai. Hingga setengah beberapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta.
Eldric menarik nafasnya dalam beberapa kali, ia terlihat gugup. Eldric memang jarang pergi ketempat keramaian seperti ini. Karina menggenggam tangan suaminya.
"Ayo," ajaknya sambil tersenyum.
Keduanya pun turun dari mobil. kemudian mereka segera berjalan masuk dan mencari food court, Karina sudah sangat merasa kelaparan.
Setelah selesai makan mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Karina terus bergelayut manja di lengan suaminya, ia tidak perduli dengan orang lain yang menatap mereka dengan aneh.
"Apa kau ingin membeli sesuatu?" tanya Eldric. Ia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Tentu, apapun untukmu."
"Baiklah, kalau begitu aku mau boneka pokemon besar, terus kaos couple, ..."
"Hanya itu, kau tidak ingin tas mahal perhiasan atau barang branded?" tanya eldric.
"Semuanya sudah ada di rumah, kenapa aku harus beli lagi?"
"Terserah kau saja." Eldric mengacak-acak gemas rambut istrinya.
"Issh ...kan berantakan jadinya," keluh Karina.
"Kau tau Suamiku, aku seperti sugar baby kalau seperti ini," ujar Karina sambil tersenyum kecil.
"Kalau begitu jadilah sugar baby ku fan puaskan aku malam ini."
"Bukannya tiap malam kita melakukannya, apa Anda tidak bosan?"
"Aku tidak akan pernah bosan dengan tubuhmu." eldric mengecup singkat bibir istrinya.
"Eh ...kita di tempat umum, malu," lirih Karina sambil menundukkan kepalanya.
Eldric terkekeh. Ia semakin mengeratkan tangannya kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Tanpa mereka sadari seorang mengikuti mereka.
Joe hanya bisa menghela nafasnya. Melihat sang tuan yang mengumbar kemesraan di depan umum. Namun, Joe juga merasa senang karena tuannya bisa mengatasi rasa phobia-nya.
Semua karena Nyonya. gumam Joe sambil tersenyum.
Joe melanjutkan langkahnya mengikuti tuan dan nyonya kecilnya yang sedang menjelajah.
.
.
.
.
.
.
. Jangan bilang Mak pelit ya hari ini udah up 3 bab. semoga bisa lancar terus up 3 bab perhari.
__ADS_1
Jangan lupa kasih sajen 😌