
Pagi menyapa dengan indahnya. Cahaya matahari hangat menyambut para manusia yang sudah mulai sibuk dengan berbagai aktivitasnya. Termasuk tuan putri kecil kita zoe, setelah puas begadang bersama orang tuanya. Sebelum matahari terbit dia sudah kembali membuka matanya, alhasil Karina harus bangun dan mengurus anak semata wayangnya.
"Zoe sayang, kalau kau sudah boleh di ajak keluar mommy akan mengajakmu menemui zack. Mommy juga belum pernah ke sana, kata daddy tempat zack sangat indah." Karina mengayun langkahnya membuat zoe terayun dalam dekapannya.
Karina tersenyum melihat malaikat kecilnya yang sudah kembali terlelap, zoe akan bangun jam empat pagi dan kembali tertidur saat matahari mulai menyapa.
Dengan perlahan Karina meletakkan zoe dengan perlahan di box bayi. Menutupi tubuh mungil putrinya dengan selimut, setelah itu karina bergegas membersihkan dirinya. Sedikit waktu yang tersisa, ia masih harus menyiapkan suaminya untuk ke kantor. Sebenarnya el sudah melarangnya tetapi karina bersikeras untuk melayani suaminya sendiri.
Setelah selesai membersihkan dirinya karina segera ke ruang ganti, ia mematutkan dirinya di cermin besar dengan handuk yang masih melilit tubuhnya. Karina mengusap lengannya, paha dan perutnya, semua bertambah besar. Karina mendesah pasrah, ia tidak menyukai perubahan pada fisiknya saat ini.
Puas menatap dirinya yang sudah mengembang seperti adonan yang di kasih pengembangan kue, ia pun memutuskan untuk segera mengenakan baju. Karina mengambil baju dengan asal, moodnya buruk hari ini merasa sangat tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
Selesai memakai baju dan mengeringkan rambutnya ia segera menghampiri eldric yang masih tertidur pulas efek dari begadang semalaman.
Karina menatap lekat wajah el terlihat sangat tampan di usianya yang sudah matang. Alis tebal, rahang kokoh yang membingkai wajahnya serta bibirnya yang begitu seksi, setiap kaum hawa pasti menyukainya. Lain dengan el semakin kesini Karina semakin tidak terawat kadang ia merasa tidak aman pada dirinya sendiri. Ia takut el akan berpaling darinya.
"Sayang bangun, kau harus ke kantor." Karina mengoyangkan lengan kekar suaminya.
El mengeliat kemudian mengerjapkan matanya berusaha menetralkan cahaya matahari yang masuk lewat jendela kaca kamar mereka.
Sungguh sangat indah, pemandangan pertama yang dilihat el adalah wajah cantik istrinya.
"Pagi Honey," sapa el.
"Pagi Sayang, ayo bangun aku akan membantumu." Karina mulai menyibakkan rambut yang menutupi tubuh suaminya.
"Zoe masih tidur?"
"Baru tidur lebih tepatnya." jawab karina dengan senyum kaku, ia berusaha menutupi kecemasan yang ia rasakan.
"Dia bangun lagi rupanya, maaf aku tidak bangun untuk menemanimu." El melingkarkan tangannya di pinggang karina yang sudah tidak ramping.
"Tidak apa-apa, kau juga harus berkerja. Aku tidak tega jika terus merepotkanmu," jawab karina sambil mengelus rambut coklat el.
"Apa yang kau katakan Honey, zoe putri kita. Tidak ada kata merepotkan, kita memang harus mengasuhnya bersama."
Ucapan el begitu menghangatkan hati karina. Ia merasa tidak sendirian dalam usahanya untuk mengasuh zoe dengan mandiri.
"Iya, sudah sana mandi. Kau butuh waktu satu jam untuk mandi, kalau tidak sekarang kau akan terlambat ke kantor."
"Mandiin," rengek el tanpa melepaskan pelukannya.
"Apa kau tidak malu? kita sudah punya zoe dan kau masih manja seperti ini."
__ADS_1
"Sebelum zoe, aku adalah bayi besarmu jadi kenapa harus malu. Lagipula aku adalah suamimu apa salahnya bermanja-manja padamu," rengekannya manja. El mendongakkan kepalanya menatap Karina dengan wajahnya yang dibuat memelas.
"Udah cepetan mandi sana, aku mau menyiapkan sarapan." Karina mencoba menarik tubuh el agar beranjak dari tempat tidur.
"Ayolah, ini sudah siang kau akan terlambat," ujar Karina sambil menarik tangan suaminya yang sedang malas.
Akhirnya el bersedia beranjak walaupun dengan sangat enggan. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi.
Setelah memastikan zoe masih terlelap, karina segera pergi melangkah ke dapur.
Di dapur Berto sedang berkutat menyiapkan sarapan.
"Pagi Paman."
"Nyonya selamat pagi." Berto menghentikan tangannya sejenak untuk menyapa dan sedikit membungkuk hormat.
"Paman, tolong buatkan salad untuk sarapanku," pintu karina.
Wanita itu mengambil gelas untuk membuat susu khusus ibu menyusui. Karina terbiasa untuk melakukannya sendiri, ia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Salad Nyonya," beo berto.
"Iya salad saja, sedangkan untuk el pama buatkan seperti biasanya, terima kasih," ucap karina kemudian meneguk segelas susu hangat rasa coklat yang baru, setelah itu ia mencuci gelas kotornya sendiri.
"Hanya hal kecil Paman, aku bisa melakukannya," ucap karina sambil tersenyum, ia kemudian kembali melangkah ke kamar. Khawatir zoe akan segera bangun.
Benar saja saat Karina kembali ke kamar zoe sudah membuka matanya, dan el belum selesai dari ritual bersih - bersihnya. Zoe tidak menangis ia mulai bisa fokus melihat mainan berbentuk bintang dan planet yang bergerak pelan di atasnya.
"Halo Princess paling imut dan cantik sedunia."
Zoe tertawa tanpa suara menunjukkan gusinya yang belum tumbuh gigi. Karina mencium kedua pipi anaknya zoe yang gembul seperti bakpao. Karina terus bercanda dengan zoe sampai el selesai mandi.
Karena zoe tidak rewel Karina beralih tugas sejenak, ia menyiapkan pakaian sang suaminya dan mendandaninya dengan rapi. Eldric terlihat tampan dengan jas hitam yang melekat di tubuhnya. Setelahnya, karina memandikan zoe.
"Sayang, aku ganti baju dulu ya. Nitip zoe sebentar."
"Siap," jawab Eldric.
Setelah selesai memandikan dan memakaikan baju pada putrinya, karina melangkah menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya yang basah. El mengendong zoe sambil menunggu karina. Zoe terlihat cantik dengan memakai baju warna putih dan bando bunga yang dipakainya.
Setelah Karina selesai keluarga kecil itu menuju meja makan dimana berto sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Zoe di baringkan di stroller yang disiapkan di sama. Sementara kedua orang tuanya menikmati makan pagi mereka, el menikmati sarapan yang buat berto sementara Karina hanya makan salad saja.
__ADS_1
Eldric mengerutkan keningnya saat melihat makanan yang ada di hadapan karina.
"Honey, apa kenyang hanya dengan makan itu?"
"Kenyang kok, jangan khawatir aku hanya sedang ingin makan ini. Nanti aku makan yang lain juga," jawab karina sambil memasukkan sayuran segar kedalam mulutnya.
"Baiklah, terserah kau saja. Ingat kau tidak boleh kurang makan, Hon. Nanti ASI mu tidak keluar, ada zoe yang bergantung padamu."
"Iya ...iya ... aku ngerti, nggak usah di ingetin terus," sahut karina dengan nada sendu.
Merasa ada yang salah dengan nada bicara istrinya el segera menghentikan tangannya yang hendak menyuap.
"Honey bukan begitu maksudku-
"Sudahlah, sudah siang cepat ke kantor. "
Karina meletakkan garpu sayur miliknya, selera makannya hilang begitu saja.
"Honey maafkan aku kalau aku salah bicara, aku tidak bermaksud seperti itu." eldric menggenggam tangan istrinya.
Karina mengangguk tanpa suara, ia malas menatap wajah el.
"Cepat pergi kerja!"
"Aku tidak akan pergi sampai kau memaafkan ku."
"Iya iya aku maafkan," ujar karina terpaksa.
"Beneran."
"Iya."
"Yakin?"
"El, tutup mulutmu dan cepat pergi sebelum aku tambah kesal dan membuatmu tidur diluar malam ini!"
"Iya maaf, aku akan pergi sekarang."
El segera bangkit dari duduknya, ia kemudian mengecup singkat kening istrinya yang masih memasang wajah masam. Ia kemudian mencium kedua pipi zoe.
"Daddy berangkat ya Sayang, jaga mommy di rumah, sepertinya mommy sedang kesal hari ini," bisik el pada putrinya.
Setelah itu el pun segera berjalan keluar tanpa diantar oleh istrinya.
__ADS_1