Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Monyet


__ADS_3

Weekend saatnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, seperti itu pula eldric ia menghabiskan waktunya di mansion bersama istri dan calon anak-anak mereka.


Kini keduanya menikmati sepoinya angin di halaman belakang, sambil menikmati pemandangan taman mini yang di minta oleh karina beberapa waktu lalu, tentu saja hal itu langsung si kabulkan oleh sang suami meskipun eldric sama sekali tidak suka dengan bunga.


Eldric merebahkan tubuhnya sofa dan menjadikan paha karina sebagai bantalnya. Karina mereka sedang menikmati potongan buah segar.


Kapan mereka akan besar Honey, aku sungguh tidak sabar bertemu dengan mereka. Apa kau sudah memikirkan nama untuk mereka? mereka pasti mirip denganku," ucap Eldric sambil mengelus perut istrinya yang buncit.


"Enak aja! aku yang mengandungnya masa mirip kamu semua!" sahut Karina tidak terima. Ia menyuapkan potong melon pada eldric.


"Tapi Honey, itu benih premium dariku."


"Bukan hanya benihmu yang bagus, tapi lahanku juga subur makanya langsung tumbuh dua. Coba saja kau nanam bibit di lahan lain, belum tentu bisa tumbuh!" cerocosnya kesal.


"Berarti kau memberi izin untukku mencoba lahan baru."


"Coba saja kalau berani! akan ku potong belutmu lalu aku goreng dan aku penyet pake sambal!"


Eldric tertawa lepas melihat istrinya yang begitu emosi dan menganggap apa yang diucapkan olehnya serius.


"Kau sangat lucu kalau sedang marah," ujar Eldric sambil mencolek dagu istrinya.


"Ish ... nggak usah sentuh- sentuh!"


"Hon, aku hanya bercanda."


Namun, Karina terlanjur terbawa perasaan. Ia kesal dengan suaminya itu. Karina berusaha mendorong, mengangkat kepala eldric yang ada di pahanya.


"Minggir, aku mau berdiri!" bentak karina.


Mau tidak mau, akhirnya eldric mengangkat tubuhnya. Membiarkan sang istri untuk bangkit dari duduknya. Dengan langkah kesal karina melangkah masuk. Eldric pun langsung mengikuti langkah istri kecilnya.


"Ayolah Honey, Sayang ...aku hanya bercanda."


"Bercanda ... istri lagi hamil malah minta izin buka lahan baru. Dia pikir enak apa hamil, udah mual tiap pagi, tidur nggak nyaman, berat badan udah naik nggak karuan. Tubuhku sudah seperti kuda nil seperti ini, huf ...dasar laki-laki nggak punya perasaan," karina terus menggerutu sepanjang jalan.


Karina memekik kecil saat tubuhnya serasa melayang untuk sejenak. Ternyata eldric mengangkat tubuhnya dari belakang.


"Siapa laki-laki yang tidak berperasaan."


"Monyet!" jawab karina asal.


"Berarti suamimu ini monyet?" tanya eldric sambil mengerutkan keningnya.


"Baru sadar, kamu itu rajanya monyet tau nggak. Nyebelin!" ketus karina, ia mendengus kesal sambil membuang mukanya kesamping.

__ADS_1


"Kalau aku raja monyet berarti kau adalah ratu monyet, dan dalam perutmu babys monkey."


Eldric membaringkan tubuh Karina di sofa ruang tamu. Ia kemudian mengungkungnya.


"Enak aja, ya nggaklah. Mereka bayi manusia dan aku juga nggak mau jadi ratu monyet. Kamu aja yang monyet," sahutnya sebal.


"Baiklah aku monyet, dan monyet ini akan menerkammu!"


Eldric menahan kedua tangan Karina. Ia menyeringai licik kemudian ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Karina, ia menghujani leher dan wajah istrinya dengan kecupan. Ia melepaskan tangan karina.


Ia mengunakan tangannya kekarnya untuk menggelitik tubuh mungil istrinya. Karina tergeletak kegelian, ia terus menggeliat karena ulah suaminya.


"Hahahaha ... hentikan, geli!" pekik karina.


Eldric menyeringai licik. Bukannya berhenti, eldric malah semakin menjadi. Karina tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar.


"Stop .. El perutku sakit!"


Mendengar itu, Eldric baru mengehentikan aksinya.


"Benarkah sakit? Mana yang sakit? kita harus ke dokter sekarang!" ujar Eldric panik.


Pria itu menatap istrinya dengan dalam. Nafas karina tersengal karena terlalu banyak tertawa, ia menatap gemas pada Eldric. Kemudian Karina menjulurkan lidahnya.


"Kena kau, monyet!"


"Waaa ... tolong jangan lagi. Hahaha ... geli El, tolong!" pekik karina sambil tertawa cekikikan.


Keduanya tidak sadar jika dua orang wanita telah memperhatikan mereka. Donna sungguh merasa terbakar melihat kemesraan Eldric dengan istrinya.


"Ehem!" Helena berdehem keras.


Suaranya itu menyadarkan Eldric kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka. Eldric mengehentikan aksinya, ia mengangkat wajahnya menoleh kearah pintu. Tatapan mata Eldric menajam melihat dua orang wanita yang sedang berdiri di ambang pintu


Perlahan ia turun dari atas tubuh Karina kemudian membantu istrinya untuk duduk. Karina memberikan tatapan yang sulit diartikan pada kedua wanita itu. Eldric memeluk erat pinggang istrinya dengan posesif.


"Sayang ada tamu, kita persilahkan mereka masuk ya," ujar karina lirih.


"No, aku tidak suka mereka ada di sini!" tegas Eldric.


"Ayolah Sayang, biarkan aku bermain dengan mereka," bujuk Karina pada sang suami.


Mendengar ucapan sang istri, eldric pun akhirnya mengiyakan keinginannya itu. Ia tahu karina punya rencana sendiri untuk menghadapi kedua tamu tak diundang itu.


"Mama, Nona Donna. Kenapa berdiri saja? ayo, silakan masuk."

__ADS_1


Karina mengajak sang suami untuk berjalan mendekat, menyambut tamu mereka. Helena tersenyum simpul ia kemudian mencium kedua pipi karina.


"Maaf Mama tiba-tiba kemari tanpa memberitahu terlebih dahulu. Mama rindu padamu Karin," ujarnya lembut.


"Oh benarkah, aku merasa senang Mama merindukan aku."


"Hai Karin apa kabar? bagaimana kehamilanmu?" tanya Donna basa-basi.


"Aku baik dan kehamilanku juga sangat baik. Apalagi Daddy-nya selalu memperhatikan kami dengan sangat baik. Aku sangat beruntung punya suami seperti Eldric," ucap Karina sambil menatap suaminya dengan penuh cinta.


"Aku yang beruntung, Honey." Eldric mengecup lembut kening istrinya.


"Ah ... Suamiku, kau membuatku malu. Kita sedang ada tamu, romantisnya ditunda dulu."


Donna memalingkan wajahnya dengan rahangnya yang mengeras menahan bara dihatinya.


"Ayo silakan masuk, silahkan duduk. Aku akan membuatkan minuman spesial untuk kalian berdua."


Keduanya wanita itu pun duduk di sofa ruang tamu. Helena meletakkan sekotak kue coklat yang sengaja ia bawa untuk menantunya. Sementara Karina dan Eldric duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.


"Karin, Mama membawakan kue coklat untukmu." Helena menyodorkan kotak itu pada karina.


"Istriku tidak boleh makan sembarangan," sela Eldric.


"Tapi El, Mama hanya ingin memberikan kue untuk menantu Mama. Saat hamil seperti ini pasti dia akan suka memakan cemilan, iyakan Sayang," ujar Helena penuh kelembutan.


"Iya Ma, terima kasih. Tapi aku tidak suka coklat, itu membuatku ingin muntah," bohongnya dengan wajah yang imut.


"O begitu, maaf kalau begitu. Kau bisa bilang pada Mama apa yang ingin kau makan, agar Mama bisa membelikannya untukmu."


"Tidak usah repot-repot Ma, Suamiku selalu memenuhi kebutuhanku."


"Ah .. hampir saja lupa aku akan membuatkan minuman untuk kalian, Suamiku aku ingin ke dapur." karina merentangkan kedua tangannya.


Eldric tersenyum tipis, ia mengerti apa yang di inginkan istri kecilnya. Eldric bangkit dari duduknya, ia kemudian menyambut tangan karina. Mengangkat sang istri, mengendongnya seperti koala.


"Mama dan Nona Donna tunggu sebentar, aku akan segera kembali!" Pekik karina.


Donna semakin geram melihat Karina yang sengaja memamerkan kemesraan mereka.


"Agh ... Bibi aku sudah tidak tahan, aku ingin menyeret dan melempar wanita itu ke jalanan!" pekik Donna kesal.


"Jaga sikapmu, aku akan membujuk Eldric agar tetap menikahimu. kemudian dita singkirkan wanita itu pelan-pelan," ujar Helena sambil menyeringai.


"Sampai kapan Bi, aku sudah tidak tahan melihatnya ada di sekitar El!"

__ADS_1


"Sebentar lagi. Jangan gegabah."


__ADS_2