
Karina duduk termenung kursi kayu yang ada disamping kolam ikan yang baru beberapa hari yang lalu selesai dibuat. Tentu saja atas permintaan ibu hamil dengan dalih ngidamnya. Sebenarnya ia menginginkan kolam ikan itu sejak dulu. Karina baru berani mengatakannya sekarang.
Tak lupa satu set meja kursi kayu di letakkan disebelahnya, agar memudahkan Karina menikmati kolam ikan itu.
Sebuah kolam dengan beberapa ikan koi yang menghuninya tampak apik dengan beberapa tanaman hias dan air terjun buatan. Sesekali karina melempar pelet ikan yang di sambut dengan lahap oleh para penghuni kolam.
"Hei BuMil kecil, ngelamun aja ntar kesambet lho."
Karina menoleh sekilas kearah Levina, kemudian ia kembali melihat para ikan yang sedang asik berenang sambil memakan makanan mereka.
"Nggak bakal kesambet lah. Wong setannya aja baru dateng!" tukas karina.
"Sabar- sabar demi cuan," gumam Levina sambil mengusap dadanya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan karina.
"Kamu kenapa sih, wajahmu lebih asem dari tomat busuk."
"Nasi basi nggak usah menghina tomat busuk yang kaya manfaat."
Levina mengusap dadanya ia mencoba bersabar meskipun tensi darahnya sudah naik di atas normal. Berbincang dengan karina saat ibu hamil itu badmood sangat tidak baik untuk kesehatan.
Karina menghembuskan nafas panjang. Ia teringat kejadian dimana ia gagal menggoda suami di ruang ganti.
"Nyonya, Nona Levina. Silahkan nikmati semangkanya," ujar Berto sambil meletakkan semangka yang sudah ia potong dadu agar lebih mudah dimakan.
"Siapa yang membeli semangka ini Paman?" tanya karina sambil memperhatikan buah berwarna merah segar yang begitu mengiurkan.
"Nona Levina yang membawanya," jawab Berto singkat.
Karina memicingkan matanya, menatap Levina dengan penuh curiga.
Levina mengerutkan keningnya. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Paman Berto apa kau sudah mencicipinya, aku khawatir Nona muda ini memberikan semangka beracun untuk aku makan."
"Astaga Rin, apa sebenarnya yang ada di otakmu?" cetus Levina kesal.
"Bisa sajakan Kak Levina iri dengan kebahagiaan aku dan suamiku jadi Kak Levi bisa merebut posisiku di rumah ini. Aku dengar orang yang terlalu lama jomblo bisa saja punya pikiran iri yang berlebihan," celetuk Karina.
"Jujur aja Kak Levi irikan, aku yang masih kecil udah ngasilin bocil. Sedangkan Kak Levi, hemh ... udah umur tapi ketemu belut aja belum" ledek karina
Berto hanya berdiri memerhatikan sang Nyonya kecil yang menggoda sepupunya.
"Yak! Karina, jaga bicaramu dasar BuMil sedeng!" Levina mencak-mencak sambil menjambak rambut.
"Hahaha .. Kak Levi lucu sekali seperti topeng monyet yang ada di televisi!" Karina tergelak sambil memegangi perutnya.
Jika saja wanita yang ada dihadapannya itu tidak dalam keadaan hamil, Levina pasti sudah membuatnya kapok. Ia kan mengelutnya hingga Karina kehabisan tenaga, sayangnya Levina tidak bisa membalas ibu hamil itu, selain takut kualat dia juga takut tidak digaji.
Berto hanya bisa tersenyum menyaksikan interaksi antara mereka. Karina selalu berhasil membuat Levina frustasi setiap harinya.
Levina mengambil nafas dalam. Ia mengambil garpu kecil lalu menusuk potongan semangka itu dengan kasar. Levina memasukkan potongan semangka pada karina, ibu hamil yang sedang tertawa lebar itu langsung terdiam setelah benda merah berair itu masuk kedalam mulutnya.
"Manis," gumam Karina.
"Iyalah aku yang beli," ujar Levina dengan bangga.
"Apa Nyonya perlu sesuatu?" tanya Berto.
"Tidak Paman, terima kasih," jawab karina dengan sopan.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Berto. Ia kemudian melangkah masuk meninggalkan kedua wanita beda usia itu.
Levina sibuk memasukkan potongan semangka itu kedalam mulutnya. Rasa manis dan segar benar-benar membuatnya ketagihan. Berbeda dengan Levina, BuMil kecil itu tampak lesu dan tidak bersemangat padahal kemarin dia yang merengek minta semangka pada Levi.
"Rin, sebenarnya ada apa? aku tau kau sedang memikirkan sesuatu."
__ADS_1
Karina menghela nafasnya panjang. Ia menopangkan dagu pada satu tangannya, lalu membuang pandangannya kearah kolam.
"Kak apa aku tidak menarik lagi ya?" tanya karina dengan lesu.
"Hem sebentar,.... kalau di bandingkan dengan aku jelas kau kalah banyak," sahut Levina.
"Aku tidak minta dibandingkan dengan tiang listrik," ketus karina.
"Karina!" teriak Levina.
Karina hanya menyengir kuda memamerkan jajaran gigi putihnya.
"Dahlah males ngomong sama kamu!" tukas levina kesal.
Keduanya diam sesaat menikmati potongan buah semangka yang tinggal separuh.
"Sebenarnya kamu tuh kenapa sih, Rin?"
"Nggak apa-apa kok Kak," elak Karina.
Levina tau ada sesuatu yang dipikirkan oleh Karina. Tetapi Levina juga tidak bisa mendesak Karina untuk bercerita padanya.
"Kak Lev, gimana caranya bikin laki-laki on?" tanya karina tiba-tiba.
"Uhuk...!" Levina sungguh terkejut dengan pertanyaan Karina yang begitu frontal.
"Kenapa? apa suami tuamu itu nggak bisa on?" tanya Levina penasaran.
"Bisa, kalau pagi belutnya masih bangun kok!" tegas karina.
"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?"
"El sepertinya udah bosan ama aku Kak, tadi pagi aja aku godain dia tapi nggak ada reaksi," keluh karina, ia merebahkan kepalanya di meja.
"Apa yang kamu katakan, Rin. Meskipun aku nggak begitu suka sama sepupuku itu, tapi aku bisa menjamin El hanya menyukaimu. Bagaimana kalau kau memberikan kejutan untuk suamimu itu."
Karina mengangkat kepalanya dengan malas.
"Kejutan apa?"
Levina bangkit dari duduknya, ia berpindah ke samping Karina. Gadis itu kemudian mendekat lalu membisikkan sesuatu pada Karina.
"Kak Levi yakin?"
"Coba saja."
"Baiklah kalau itu berhasil, aku akan meminta El untuk memberikan bonus pada kak Levi."
Levina tersenyum lebar membayangkan nominal yang akan ia terima sebagai bonus.
🌝🌚🌝
Seperti apa yang telah di sarankan oleh Levina, karina sengaja berdandan dengan begitu cantik malam ini. Memilih gaun yang membuat terlihat dewasa dan mempesona.
Ia duduk dengan anggunnya di sofa yang ada didekat jendela. Menunggu sang pangeran pulang.
Cukup lama Karina menunggu, sampai terdengar suara knop pintu yang dibuka dari luar. Seketika wajah karina berbinar, ia segera bangkit lalu berjalan mendekat menyambut kedatangan Eldric.
"Sayang," ucap karina dengan manja, ia memeluk erat tubuh suaminya menengelamkan wajahnya di dada bidang Eldric.
Eldric membalas pelukan Karina tidak terlalu erat, ia tidak ingin membuat buah hati mereka sesak nafas. Pria itu mengusap lembut rambut istrinya lalu mengecupnya dengan penuh kasih.
"Kenapa belum tidur?"
__ADS_1
"Aku menunggumu, aku rindu," rengekannya manja.
Sudut bibir Eldric tertarik keatas.
"Kau begitu merindukan?"
Karin hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Ia meleraikan pelukannya, dengan senyum termanis yang ia punya Karina menarik tangan Eldric lembut agar pria itu duduk di sofa. Ia kemudian mendudukkan dirinya diatas pangkuan Eldric.
"Sayang berapa usia kehamilanku sekarang?" tanya karina.
Sejenak Eldric terdiam dan mencoba berfikir.
"Lima, eh .. bukannya sudah menginjak enam bulan," ujar Eldric ragu.
Enam bulan.
Eldric terhenyak mendengar ucapannya sendiri, ia menatap netra bening istrinya dengan penuh arti. Karina tersenyum lalu mengangguk pelan.
Eldric menuntun istrinya untuk berdiri, satu tangan eldric melingkar di pinggang sang istri dan satunya lagi menggenggam erat tangan mungil karina. Tubuh mereka mulai bergerak, berdansa tanpa irama. Hanya degup jantung mereka saling bersahutan mengiringi langkah kaki mereka.
Eldric menatap dalam mata karina yang selalu membuatnya hanyut dalam keteduhan. Karina pun sama, ia menatap sang suami dengan penuh cinta. Cinta yang selalu membuatnya nyaman dalam dekapannya. Tak perduli dunia berkata apa, jarak umur mereka yang terpaut jauh memang tak pernah lepas dari cibiran orang lain. Tetapi Karina memilih untuk tidak meladeninya, ini kehidupannya dan Eldric adalah suaminya yang sah dimata agama maupun negara.
"Apa karena ini kau membuat dirimu begitu cantik malam ini Honey?" tanya Eldric berbisik.
Ia mengecup leher Karina dengan lembut.
"Apa kau suka?"
"Sangat suka." El mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Bagaimana gaunku? apa terlihat aneh?" tanya karina lagi.
"Apapun yang kau pakai akan terlihat indah Honey, tapi sayang kau tidak membutuhkannya lagi," jawab Eldric sambil menyeringai licik.
Belum sempat Karina bertanya kenapa, Eldric sudah membungkamnya dengan ciuman yang begitu lembut dan membukakan. Karina dibuat melayang dengan sentuhan Eldric yang begitu lembut.
Keduanya menyalurkan rasa rindu lewat sentuhan bibir mereka, ciuman yang semakin lama semakin panas dan menuntut, saling menyesap dan mematuk. Eldric melepaskan tautan bibirnya, ciumannya kini turun ke leher dan bahu Karina yang terbuka.
"El," panggil Karina dengan manjanya.
"Yes Honey," jawab Eldric sambil terus membuat tanda kepemilikan di leher dan bahu Karina.
"Bisakah kita tidak berdiri," pinta karina dengan terbata, ia merasakan kakinya lemas. Karina tak sanggup menerima serangan suaminya yang begitu lembut. Namun, menuntut.
"As your wish Honey."
Karina sungguh merasakan kakinya seperti tak bertulang, ia mencengkram erat kemeja eldric agar tidak terjatuh. Eldric menahan tubuh mungil istrinya, tangannya terulur ke punggungnya untuk menurunkan resleting gaun yang melekat di tubuh Karina.
Eldric mengendong karina ala bridal, lalu membaringkan tubuh istrinya yang hampir polos diatas ranjang dengan perlahan. Eldric melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya.
Setelah itu naik keatas tubuh Karina, memulai penyatuan cinta yang lama mereka nantikan. Di mulai dari pertemuan bibir, lu"atan kecil yang berubah jadi begitu ganas. Tangan eldric terus menjelajah, memainkan dua gundukan yang sangat menjadi kegemarannya.
Di bawah temaramnya lampu kamar keduanya menyatu dengan penuh kelembutan, secara perlahan tanpa terburu-buru. Eldric ingin menikmati setiap lekuk tubuh Karina. Melahapnya dengan penuh cinta. Peluh keduanya menyatu, ruangan yang semula senyap kini penuh dengan suara-suara decakan dan kenikmatan yang mereka rasakan.
Si belut bersorak kegirangan karena bisa kembali pulang kedalam sarang cacing berlendir setelah sekian lama terkurung dalam kandang pengaman. Belut listrik milik Eldric tak menyia-nyiakan kesempatan , ia terus bergerak keluar-masuk sampai mabuk dan memuntahkan lahar dingin pada lubang cacing milik Karina.
.
.
.
.
. Pelan Bang El inget masih ada bocil di dalem, mabok santen ntar 😅😅😅😅
__ADS_1