Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Pengorbanan cinta 1


__ADS_3

Joe mengikut langkah pengawal yang ada didepannya. Kaki joe melangkah dengan mantap tak ada keraguan di hatinya, ia akan menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya, apapun itu walau kematian sekalipun.


Niat joe hanya satu, dalam pikirannya hanya satu cintanya levina. Wanita itu telah berkorban banyak demi mereka, sekarang gilirannya.


Joe terus berjalan sampai melewati ruang tamu, sesekali mata joe melirik kearah lain berharap bisa melihat wajah pujaan hatinya.


Pria yang ada di depannya menghentikan langkahnya di depan pintu besar, dia mendorong pintu itu hingga terbuka. Pria itu berjalan masuk dengan joe yang masih mengekor di belakangnya.


"Tuan." pria itu menunduk hormat, ia kemudian berjalan dan berdiri di belakang joe.


Alessio menatap joe dengan remeh, baginya joe tidak lebih dari seorang gembel.


Joe memberikan salam dengan menunduk hormat kepadanya, bukan untuk tunduk. Tetapi untuk menunjukkan bahwa ia menghormati alessio sebagai orang tua dari levina.


"Angin apa yang membawamu kembali ke negara ini?" tanya alessio memecah keheningan di antara mereka.


"Saya ingin melamar putri Anda Tuan," jawab joe mantap, ia menatap alessio tanpa keraguan.


"Hahaha ....!"


Alessio bangkit dari duduknya, tawanya pecah menggema di seluruh ruangan itu.


"Apa modalmu? harta? tahta? kau hanya anak pungut. Sampah!" hardik Alessio.


Hinaan seperti itu sungguh sudah biasa joe terima sejak ia kecil, selain alano dan keturunannya tidak ada yang menganggap joe sebagai manusia. Ia hanya sampah yang dipungut alano, hanya sampah kotor.


"Saya yakin, saya bisa membahagiakan putri Anda Tuan, saya harap Anda merestui hubungan kami," jawab joe pasti.


Rahang alessio mengeras, wajahnya berubah memerah seketika. Ia tidak suka dengan kepercayaan diri joe dan ketenangannya saat berada dihadapannya.

__ADS_1


"Kita lihat dengan apa kau akan membahagiakan levina!"


Alessio memberikan kode pada pria yang ada di belakang joe. Pria itu mengangguk mengerti. Satu tendangan mendarat di lutut belakang joe, membuat pria itu jatuh berlutut di depan Alessio.


"Kita lihat joe valentino, berapa lama kau bisa bertahan dengan ini. Kau akan mendapatkan restuku jika kau bisa bertahan sampai matahari terbenam hari ini," ujar alessio dengan seringainya.


Dua orang laki-laki berbadan besar masuk ke ruangan itu. Ketiga pengawal yang ada di sana berdiri mengelilingi joe, alessio berjalan mundur. Ia kembali duduk di kursi untuk menikmati tontonan menarik.


Sementara itu di kamar levina menghancurkan semua barang, ia berteriak, memohon agar pintu kamarnya terbuka.


"Joe apa yang ayah lakukan padamu, aku mohon bertahanlah." kedua tangan levina gemetar, hatinya sejak tadi tidak merasa tenang.


"Berpikirlah bodoh, bagaimana caranya keluar dari kamar sialan ini," levina bermonolog pada dirinya sendiri. Tangannya menjambak rambutnya dengan kasar.


Sebuah adegan film tiba-tiba terlintas si otaknya, sang tokoh utama yang di culik kabur dari lantai atas dengan mengunakan kain.


Levina segera bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju lemari kemudian mengeluarkan beberapa sweater lengan panjang dan celana kain. Satu persatu ia ikat hingga membuat tali panjang, entah masuk akal atau tidak. Berhasil atau gagal, levina harus mencoba.


"Oke, siap levina," gumamnya menyakinkan diri sendiri.


Levina mengambil nafas dalam-dalam sebelum memulai aksinya. Perlahan ia mulai menuruni tali dari baju yang ia buat.


Ben sangat cemas dengan keadaan joe di dalam sana, ia memperhatikan bangunan itu sampai ia melihat levina bergelantungan dengan kain atau baju di balkon kamarnya.


"Nona levina!" pekik ben kencang, hingga pengawal yang menjaganya ikut menoleh kemana mata ben melihat.


Pengawal itu segera berlari masuk saat melihat nona muda itu bergelantungan tidak jelas, karena tali baju yang di buatnya tidak cukup panjang.


"Nona apa yang Anda lakukan?" tanya pengawal itu.

__ADS_1


"Cepat ambilkan aku tangga!"


"Tapi Nona."


"Aku bilang cepat, sebelum aku jatuh dan kakiku patah!" teriaknya kencang.


Pengawal itu pun tergopoh-gopoh pergi mengambil tangga, sementara ben terkekeh melihat perempuan itu. Pantas saja joe sangat gigih memperjuangkannya, wanita itu sendiri juga sedang memperjuangkan cinta mereka rupanya. Ben merasa senang karena joe tidak mempertahankan hubungannya sendirian.


"Hai Nona? apa yang kau lakukan sebenarnya?" tanya ben.


Levina menunduk, keningnya berkerut saat melihat laki-laki yang sedang berdiri di bawahnya.


"Siapa kau?" tanya levina balik, ia merasa belum pernah melihat pria itu sebelumnya.


"Aku Ben, aku datang bersama joe kemari," jawab ben.


"Joe! dimana dia sekarang Paman? kenapa kau sendiri berdiri di sini?" cerca levina cemas.


"Ayahmu menyuruhnya untuk masuk sendiri kedalam, dia tidak membiarkanku masuk."


Mendengar jawaban dari ben. Perasaan jadi semakin tidak tenang, levina masih dengan sekuat tenaga berpegangan pada rangkaian baju yang ia buat tali.


Tak berapa lama pengawal itu datang dengan dua orang temannya dengan membawa tangga. Mereka meletakkan tangga lipat di bawah levina, dengan perlahan gadis itu turun.


"Terima kasih," ucap levina pada ketiga pria itu.


"Sudah tugas kami, Nona," jawab mereka hampir serempak.


"Kembalikan tangganya ke gudang!" titah levina.

__ADS_1


"Baik Nona," jawab salah seorang diantara mereka.


Pria itu melipat kemudian mengangkat tangga itu sendiri.


__ADS_2