
Pagi mulai menyapa, Karina menggeliat kecil dalam selimutnya. Ia langsung membuka matanya begitu merasakan ranjang kosong di sisinya. Karina segera bangkit dari duduknya, ia terkejut saat melihat suaminya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Suamiku," rengekannya dengan suara seraknya.
Eldric menghentikan gerakan jarinya, ia mendongakkan wajahnya menatap sang istri yang duduk di atas ranjang sambil mengucek matanya.
Wajahnya masih bau bantal dengan rambutnya yang acak-acakan, terlihat sangat mengemaskan bagi Eldric. Karina menyibakkan selimutnya, perlahan ia turun dari ranjangnya kemudian ia berjalan menghampiri Eldric dengan langkahnya yang masih sempoyongan.
"Kenapa Anda belum mandi?" tanya karina sambil menggeliat tubuhnya di hadapan eldric.
Karina merenggangkan kedua tangannya, menggerakkannya ke atas sehingga membuat gaun tidurnya tersingkap keatas. Hal itu tentu saja membuat si belut listrik ngeces minta masuk kedalam lubang sarangnya.
"Apa kau sedang menggodaku?" Eldric menyimpan ponselnya di nakas.
Ia menyilangkan kakinya dan melipat tangan di dada. Karina menghentikan gerakannya, ia menatap Eldric dengan penuh tanya. Sejak kapan peregangan di pagi hari masuk dalam gerakan menggoda?
"Tidak Suamiku, saya hanya bertanya. Kenapa Anda belum mandi? ini sudah agak siang, bukankah seharusnya Anda sudah bersiap ke kantor?"
"Ugh ..." Karina menutup mulut dengan kedua tangannya.
Perutnya tiba-tiba terasa bergejolak. Ia segera bergegas menuju kamar mandi. Seperti rutinitasnya setiap pagi Karina akan mengeluarkan isi perutnya. Meskipun sudah tidak separah kemarin. Namun, tetap saja Karina masih merasa sangat tidak nyaman. Eldric segera menyusul langkah istrinya, dengan telaten ia memijit tengkuk Karina yabg sedang tertunduk di wastafel.
"Apa masih mual?" tanya eldric cemas.
Karina hanya mengangguk sambil berkumur untuk membersihkan mulutnya.
"Anda keluarlah, saya sudah tidak apa-apa," ucap karina dengan bibirnya yang pucat.
"Tidak apa-apa bagaimana. Lihat saja wajahmu, pucat seperti mayat!"
"Tapi saya mau buang air. Saya malu kalau Anda terus di sini!" protesnya.
Eldric mendengus kesal, ia pun melangkah keluar dari kamar mandi. Pintu kamar mandi ditutup dengan keras oleh Karina.
Setelah beberapa saat akhirnya karina menyelesaikan panggilan alamnya. Ia keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati suaminya yang sudah duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
Karina naik keatas pangkuan suaminya. Sejak hamil karina memang lebih berani menempel pada eldric. Ia akan seperti ini tidak perduli dimana pun mereka berada.
Eldric menyambut Karina dengan hangat, ia melingkarkan satu tangannya di pinggang Karina kemudian mengusap perutnya yang masih rata.
"Selamat pagi anak-anak Daddy. Apa tidur kalian nyenyak?" tanya Eldric seolah kedua janin itu sudah bisa mendengarnya.
"Baik Daddy," jawab karina dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
Eldric tersenyum kecil, ia mengacak-acak rambut istrinya yang sudah berantakan itu.
__ADS_1
"Anda belum menjawab pertanyaan saya. Kenapa Anda belum mandi?" tanya karina untuk kesekian kalinya.
"Kau masih bertanya, bukankah tugasmu untuk memandikan ku."
Karina mengerutkan keningnya, bukankah beberapa hari ini eldric selalu mandi sendiri. Kenapa hari ini tiba-tiba dia membahas itu?
"Apa yang dipikirkan otak kecilmu itu? Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang janggal di kamar mandi?"
Karina berpikir sejenak.
"Oh ... Kenapa tidak ada sabun mandi di sana? kemana semua peralatan mandi itu pergi?" tanya karina dengan polosnya.
"Kau baru sadar. Dasar lambat."
Eldric langsung mengangkat tubuh karina. Wanita itu sontak langsung melingkarkan tangannya di leher suaminya agar tidak jatuh. Eldric melangkahkan kakinya lebar keluar dari kamarnya, dengan hati-hati ia menuruni anak tangga sambil menggendong istrinya.
Sesampainya di lantai bawah. Eldric membawanya ke ruang tengah kemudian mendudukkannya di sofa. Mata karina terbelalak melihat semua sabun dengan berbagai merek dan berbagai varian harum yang ada di atas meja.
"Pilih, mana yang wanginya nyaman untukmu," titah eldric.
Pria itu mendudukkan dirinya dengan santai di samping Karina. Karina menatap Eldric dengan tidak percaya, ia menyiapkan semua ini untuk dirinya.
"Kenapa?" tanya Karina dengan masih terheran-heran.
"Kau merasa mual dengan wangi sabun yang biasa kupakai dan aku tidak tahu varian wangi apa yang kau suka. Maka pilihlah. Pilih yang membuatmu paling nyaman," jawab Eldric.
"Menurutmu."
"Uh ... Suamiku sangat manis." Karina menaruh tangannya di dadanya. Ia masih tidak percaya eldric bisa semanis itu.
Mata Karina berbinar menatap semua sabun mandi mewah yang ada di meja bundar itu. Dengan semangat Karina mulai membuka botol-botol sabun cair untuk menghirup aromanya satu persatu.
Eldric cukup puas melihat istrinya yang begitu antusias memilih sabun untuknya.
Tidak sia-sia aku searching semalaman tentang ibu hamil. Baiklah sekarang aku siap untuk menjadi suami yang siaga. Gumam Eldric bangga.
Setelah beberapa saat memilih akhirnya Karina memutuskan untuk memilih sabun beraroma mawar, sangat segar dan manis sangat menenangkan bagi Karina.
Karina tersenyum kecil lalu membawa sabun cair berwarna merah muda itu pada suaminya.
"Apa boleh yang ini?" karina menyodorkannya pada Eldric.
"Kau suka?" tanya Eldric balik.
"Iya saya suka, Wanginya sangat segar dan menenangkan."
__ADS_1
"Baik, kita pakai ini."
Eldric langsung menarik tangan Karina, mengajaknya untuk pergi ke kamar mereka.
Tubuh Eldric sudah terasa amat lengket dan ingin segera mandi. Namun, ia mencoba menahannya dan menunggu Karina bangun untuk memilih sabun mandi mereka.
"Kita mau kemana?" tanya karina.
"Mandi," jawab Eldric cepat.
"Anda bisa mandi sendiri."
"Kita mandi bersama, itu akan lebih cepat!"
Mandi bersama! apa suamiku mengajak iya iya di kamar mandi, tapi aku kan masih belum boleh berhubungan terlalu sering. Ish ...kenapa otakku mesum begini sih. Tapi roti sobek suamiku memang selalu menggoda, em... ngegemesin!
Sesampainya mereka di tangga Eldric langsung mengangkat tubuh karina dalam dekapannya. Ia tidak ingin mengambil resiko.
"Apa yang kau pikirkan, kenapa wajahmu merah begitu?" tanya eldric.
"Ah ...mana ada," kilah karina sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Apa kau membayangkan roti sobek milikku," goda eldric.
"Ah, tidak. Anda terlalu percaya diri, Suamiku," elak Karina.
Duh, jangan sampai dia tau pikiran kotorku.
"Sepertinya aku harus memindahkan kamar kita," ujar Eldric tiba-tiba, ia terus menaiki anak tangga dengan perlahan.
"Mau pindah kemana?"
"Ke lantai bawah, aku tidak mau kau terlalu capek naik turun tangga. Aku tidak bisa menggendongmu terus, aku tidak selalu bisa ada di rumah."
"Jangan khawatir saya akan menjaga diri dengan baik selama Anda berkerja. Lagi pula saya tidak sendirian di sini, ada paman dan para penjaga lainnya," ucap karina lembut. Ia sungguh merasa senang suaminya selalu memikirkan dirinya.
"Jadi kau ingin berto dan orang-orang itu menggendongmu seperti ini! Apa kau ingin disentuh oleh mereka, heh!"
"Tidak! Anda salah paham, saya hanya ingin mengatakan jika terjadi sesuatu pada saya.
Banyak orang di sini yang bisa menolong," ucap Karina menjelaskan.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu itu sampai terjadi!" tegas Eldric.
"Saya mengerti. Terima kasih." Karina mengecup singkat pipi suaminya.
__ADS_1
Eldric berdecak kesal. Ia segera melangkahkan kakinya ke kamar untuk segera melaksanakan kegiatan bersih-bersih pagi mereka.