
Naoki memicingkan matanya, ia merasa mengenal wanita yang sedang tergopoh-gopoh pergi kearah pintu keluar. Ia terlihat sangat terburu-buru hingga menabrak beberapa suster yang sedang bertugas.
"Cleo," gumam Naoki.
Dia yakin wanita ceroboh yang berjalan cukup jauh di depannya adalah istri kecilnya. Naoki mempercepat langkahnya. Ia berusaha mengejar langkah Cleo.
"Sedang apa dia di sini?" tanya naoki pada dirinya sendiri.
Cleo menghapus air matanya dengan kasar. Ia melangkahkan kakinya cepat menuju parkiran rumah sakit. Baru saja ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa sebelum akhirnya dihempaskan begitu saja oleh suami.
Cleo segera memakai helmnya full face miliknya. Ia kemudian segera naik dan memacu motor matik miliknya dengan kencang. Naoki menghentikan langkahnya, ia terlambat menyusul, cleo sudah melaju kencang meninggalkan rumah sakit.
Naoki hanya menatap punggung istrinya yang sudah berlalu.
"Apa dia sakit? perasaan di rumah tadi nggak kenapa-kenapa," ucap Naoki.
Laki-laki berdiri terdiam bagaimana patung selamat datang di depan rumah sakit, ia memikirkan alasan sang istri bisa berada di rumah sakit.
"Ki, ngapain kamu di sin"
Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Naoki dari lamunannya. Ia pun menoleh ke arah samping seorang pria paruh baya memakai kemeja berwarna biru, berdiri di samping bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah ibunya.
"Eh, ...nggak ngapa-ngapain kok, Naoki mau beli sarapan buat karina," jawab Naoki.
"Jadi beneran adik kamu sudah ketemu, Nak?" tanya Siska dengan penuh harap.
Air matanya sudah menggenang, wanita paruh baya itu sudah tidak bisa menahan rasa rindu pada putri kecilnya.
Naoki menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Oh... Terima kasih Tuhan, ayo Ki. Bawa Mama pada putri kecil Mama Nak." Siska menarik tangan Naoki dengan tidak sabar.
"Sabar, Ma. Naoki bilang dia mau membeli sarapan untuk putrimu, biarkan dia pergi sebentar," ujar Tama menenangkan istrinya.
"Sabar gimana Pa, kita sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Mama ..." Siska tidak kuasa meneruskan ucapannya. Tangisnya tumpah seketika.
"Sstt tenang Ma. kita akan ke kamar Karina biar Naoki pergi beli sarapan, ok." Tama segera memeluk istrinya.
"Ki, di kamar berapa adik kamu?" tanya Tama sambil menenangkan sang istri.
"VVIP nomer empat Pa," jawab Naoki singkat
"Ok, kamu pergi aja beli sarapan. Aku sama Mamamu akan langsung ke sana."
"Iya Pa." Naoki langsung mengayunkan langkahnya, menjauh.
__ADS_1
Sedangkan pasangan yang tidak lagi muda itu, berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Mereka menaiki lift untuk naik ke lantai tiga tempat ruang rawat karina.
Setelah lift sampai di lantai tiga, Siska begitu tergesa-gesa keluar untuk mencari kamar anaknya. Tama segera menyusul langkah sang istri. Wanita itu sungguh tidak sabar untuk bertemu anaknya yang telah lama ia rindukan. Dadanya bergemuruh hebat saat ia berdiri di depan pintu dengan angka empat berwarna emas menempel di daun pintu.
Siska mengambil nafas dalam, ia menaruh tangannya di dada berusaha menetralkan detak jantungnya. Tama meraih bahu istrinya, seketika Siska menoleh pada suaminya. Tama mengangguk kecil, mengisyaratkan Siska untuk membuka pintu yang ada di hadapannya.
Tawa renyah menyambut mereka. Karina sedang bercengkrama dengan sang suami, tanpa menyadari adanya seseorang yang masuk kedalam kamarnya.
Perlahan tapi pasti Siska melangkah mendekati Karina yang duduk membelakanginya. Mendengar derap langkah kaki mendekat karina, kemudian ia menoleh kebelakang.
"Karina," panggil Siska dengan lembut, suaranya terdengar bergetar. Antara takut dan gugup.
Takut jika ini hanya mimpi semata.
"Anda siapa?" tanya karina dengan sopan.
Siska berlari kecil kearah Karina, dengan serta merta ia memeluk putri kecilnya. Sang putri yang kini sudah berubah menjadi dewasa. Siska menangis kencang. Karina tidak membalas pelukan wanita itu. Ia bingung harus bagaimana, wanita ini begitu saja memeluknya setelah memanggil namanya. Namun, pelukan ini terasa tidak asing.
"Karina ... putriku," ucap Siska di sela tangisnya.
"Putri?!" ulang Karina terkejut. Ponsel yang dipegang olehnya jatuh kelantai.
"Ia Nak, kau putriku ... putriku yang lama menghilang."
Jantung Karina berdegup kencang. Seperti mimpi, meskipun Naoki sudah memberitahunya. Namun, tetap saja ia merasa semua ini seperti tidak nyata.
Siska menarik tubuhnya agar bisa menatap wajah Karina. Wanita itu membelai pipi Karina, ia mengenang bagaimana wajah mungil putri kecilnya.
"Apa kau baik-baik saja, Nak? bagaimana hidupmu selama ini? maafkan Mama ... maafkan Mama ..." Siska kembali terisak.
Ia teringat saat dimana ia kehilangan sang putri. Tama segera menarik siska dalam pelukannya.
"Mama tenang ya .. Semuanya sudah berlalu. Kita sudah berkumpul kembali dengan karina," ucap Tama sambil mengusap lembut punggung sang istri.
"Dia sempat mengalami depresiasi saat kau diculik dulu."
Karina terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh pria paruh baya itu. Ternyata bukan hanya dia yang menderita selama ini, tapi Mamanya juga.
"Mama Papa," panggil karina lembut.
"Kau memanggilku Papa?"
Karina mengangguk kecil, mata lentiknya kini juga sudah berlinang air mata.
"Aku ...aku tidak di buangkan? Kalian tidak dengan sengaja mengabaikan aku kan?"
__ADS_1
"Astaga Sayang, kenapa kau bisa berpikir seperti itu, kami mencari keberadaanmu selama ini Nak. Percayalah, kami tidak pernah membuangmu," jawab Tama dengan sungguh-sungguh.
"Maafkan Mama Nak, ini semua salahku. Andai saja waktu itu aku tidak pergi ke dapur dan membiarkanmu di luar sendirian," sahut Siska.
Karina menggelengkan kepalanya cepat, ia akhirnya tahu kenapa ia sampai di jalanan. Ia merasa bahagia bahwa kenyatannya ia tidak di buang, orang tuanya begitu menyayanginya. Mereka juga merindukannya, sama seperti Karina yang merindukan keberadaan mereka.
"Ma, Pa. Karin boleh minta peluk nggak?" Karina merentangkan kedua tangannya.
Dengan senyum bahagia yang bercampur air mata. Siska dan Tama memeluk putri mereka. Air mata ketiganya kembali tumpah. Rasa haru dan bahagia menjadi satu.
Sementara mereka melepaskan rindu. Naoki sedang dilanda kegelisahan. Istri nakalnya itu tidak mengangkat telponnya sama sekali.
"Ck ... kemana dia? Kenapa dia tidak mengangkat telponnya?" gumam naoki geram.
Laki-laki itu berjalan cepat membawa sarapan yang ia janjikan untuk Karina. Entah mengapa Naoki merasa sesuatu yang berbeda dari istrinya hari ini.
Ponsel Naoki senyap, tidak ada notifikasi pesan dari istrinya yang super cerewet itu. Biasanya ponselnya sudah bergetar berkali kali dalam satu jam, entah itu pertanyaan bodoh atau sekedar emoticon yang di kirimkan oleh Cleo.
Naoki mempercepat langkahnya. Sesampainya di kamar Karina. Ia mendapati keluarganya yang telah utuh. Mama, Papa dan adik kecilnya kini sedang bercengkrama bersama.
"Rin, makan dulu. Aku tidak mau suami bucinmu ngamuk karena kau telat makan," sindir Naoki.
"Iya Kak, terima kasih," ucap Karina. Ia tersenyum menerima sebungkus bubur ayam dari naoki.
"Mama suapi ya."
"Iya Ma."
Siska mengambil bubur yang ada di tangan anaknya, ia kemudian mulai menyuapi putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Rin, kapan suamimu kembali? Papan ingin bertemu dengannya."
"Sore nanti, Pa," jawab Karina singkat.
Tama manggut-manggut.
"Pa Ma, Naoki pamit dulu ya."
"Mau kemana kamu?" tanya Tama heran, anaknya itu terlihat cemas.
"Ada urusan sebentar, nitip Karina."
"Iya, pergi saja, Mama akan menemani adikmu."
"Terima kasih Ma."
__ADS_1
Naoki pun bergegas keluar, ia merasa harus menemui Cleo sekarang juga. Entah firasat apa ini, tapi yang jelas ini bukan sesuatu yang baik.