Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Pandangan yang manis


__ADS_3

Sebuah mobil van berwarna hitam pekat melaju memecahkan keheningan hutan, melewati jalanan yang tak lagi aspal.


"Sudah lumayan jauh kayaknya," ujar bagas.


"Sebenar lagi, ini masih terlalu dekat dengan pemukiman," sahut eko.


"Serah Lu dah," tukas bagas. Sebenarnya pria itu sudah tidak tahan mendengar rintihan wanita yang ada di belakang mereka, kupingnya sudah sangat gatal di tambah lagi bau tai ayam yang sangat menganggu hidungnya.


"Lu bawa ayam buat apa sih Ko," keluh bagas kesal.


"Enggak usah cerewet, nanti juga tau." Eko fokus pada kemudi setirnya.


Bagas berdecak, ia kemudian sedikit membuka jendela mobil. Berharap angin bisa membawa bau tai ayam itu pergi.


Mobil itu membawa mirah yang sudah penuh luka kedalam hutan seperti perintah el, kedua anak buahnya akan membuangnya ke hutan. Setelah hampir seharian mengemudi akhirnya mereka sampai, eko menghentikan mobilnya.


Mereka ada di sebuah hutan yang masih sangat sangat terjaga, pohon-pohon besar tinggi menjulang, rimbunnya daun menghalangi cahaya matahari masuk. Sejuk, tetapi juga menakutkan.


Eko dan bagas menggotong tubuh Mirah keluar dari mobil, wanita itu hanya bisa pasrah ia tidak punya tenaga lagi untuk melawan. Dengan kasar mereka menghempaskan tubuh penuh luka itu ketanah. Mirah memekik keras tapi hanya erangan yang keluar dari mulutnya. Kondisinya sudah sangat menggemaskan, lebam dan luka menganga hampir di sekujur tubuhnya. Darah yang tadinya mengalir sebagian besar sudah mengering.


Eko mengambil ayam hidup yang ia bawa. Dengan satu tebasan pisau ia menebas hewan berkaki dua itu. Ia biarkan darah ayam itu mengucur deras membasahi tanah yang ada di sebelah Mirah.


Eko menyeringai, sementara bagas hanya memperhatikannya.


"Darah segar ini akan mengundang datangnya predator. Aku yakin hutan ini penunggunnya masih lengkap." Eko melemparkan pisau yang berlumuran darah ayam pada Mirah.


"Kalau kamu pintar kamu akan memilih kematian instan dari pada merasakan gigitan taring harimau," ujar Eko lagi.


Mirah mendelik, ingin rasanya ia memaki, tetapi mulutnya tidak bisa ia gerakkan. Rahangnya bergeser, hancur dan hampir jatuh.


Kedua laki-laki itu pergi meninggalkan wanita putus asa tanpa harapan itu sendirian di tengah hutan. Jika ia di tolong seseorang dan diobati, mirah akan cacat karena sebagian besar tulangnya sudah hancur karena eldric.


Wanita itu berusaha meraih pisau yang dilemparkan Eko. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menggenggam dan menghujamkan pisau itu pada jantungnya.


Mirah memekik, kedua laki-laki itu menoleh. Eko dan bagas tersenyum miring.


"Pintar juga dia," ucap bagas.


"Hidup pun percuma, tubuhnya sudah hancur. Jika di obati butuh biaya yang tidak sedikit, itu juga tidak akan sepenuhnya menjamin dia bisa normal. Dengan seperti itu dia akan merasakan sakit sebentar saja, jika dia memilih menunggu binatang mengoyak dan memakan tubuhnya secara perlahan itu akan membuatnya kesakitan. Merasakan mati perlahan dengan matanya melihat bagaimana bagian tubuhnya di makan oleh binatang buas."


Bagas bergidik geri memikirkan apa yang baru saja rekannya ucapakan, sementara eko terlihat sangat saja mengucapkannya. Pria itu memang seperti es batu di kulkas, hatinya dingin, seperti taj merasakan belas kasih sama seperti Baron. Keduanya pun naik ke mobil dan segera meninggalkan hutan itu.


🏥🏥🏥


Eldric yang sudah menyelesaikan urusannya dan sudah bersih wangi segera kembali ke rumah sakit untuk menemani sang istri. Langkah kaki el berderap cepat, ia begitu tidak sabar untuk bertemu dengan karina.


Saat Eldric sampai di kamar istrinya, ia cukup terkejut dengan semua orang yang ada di sana. Mereka semua bercengkrama dengan karina, seorang wanita yang umurnya tak jauh berbeda dengan Karina tampak tersenyum dan berbincang hangat dengan istrinya.


"Honey, siapa mereka?" tanya Eldric dengan bingung.

__ADS_1


Mendengar suara Eldric semua orang menoleh padanya, Eldric hanya terus berjalan mendekati istrinya yang sudah duduk bersandar di ranjangnya yang sudah diatur agar karina bisa duduk dengan nyaman.


"Sayang, mereka mertua dari Kak Naoki, dan ini istrinya." Karina menunjuk pada seorang wanita bermata sipit yang ada di sebelahnya, el hanya mengangguk tanpa senyuman.


Ia merasa tamu-tamu ini sangat menganggu, el seharusnya bisa menghabiskan waktunya bersama karina saja.


"Hai Adik ipar bagaimana kabarmu?" sapa Naoki setengah meledak. El mendelik tajam kearah naoki, sungguh geli rasanya mendengar naoki menyapanya dengan adik ipar.


Karina terkekeh kecil melihat suaminya, ia menyentuh lembut tangan eldric. El seketika menoleh, rasanya kesalnya hilang begitu saja saat melihat senyum manis yang tersungging di bibir karina.


Tama kemudian memperkenalkan Alex dan Arie yang tak lain adalah besannya kepada eldric, Cleo juga memperkenalkan dirinya. Mereka semua sengaja datang setelah mendengar Karina melahirkan.


Cleo pulang ke Indonesia setelah kedua orang tuanya menyusulnya ke Taiwan, awalnya dia enggan untuk pulang, ia masih merasa marah pada naoki. Namun, di sisi lain ia juga tidak ingin membuat mertuanya bersedih dengan ketidak hadiran dirinya.


"Karina kami pulang dulu ya, istrirahatlah dengan baik," pamit Arie dengan lembut.


"Terima kasih Tante," jawab Karina. Arie mengangguk tersenyum, ia mengandeng lengan Alex.


"Ma, Cleo pulang sama Mama," sahut Cleo, ia berjalan mendekati Mamanya.


"C, sebaiknya kamu pulang sama suami kamu ya. Selesaikan semuanya, bicarakan dengan baik, bicaralah dari hati ke hati," ucap Arie setengah berbisik. Cleo hanya bisa menunduk pasrah, cleo paling tidak bisa membantah ucapan sang mama.


"Kami pulang dulu ya," pamit Arie sekali lagi pada semuanya. Cleo hanya bisa melepaskan kepergian orang tuanya dengan berat hati.


"Kami akan mengantarmu," ucap Tama.


Tama berdecak, dengan tidak sabar menggeret lengan Alex hingga Arie terpaksa melepaskannya. Siska hanya terkekeh melihat tingkah suaminya.


"Ayo Mbak, kita juga keluar," ajak Siska pada Arie.


"Ayo."


"El, titip Karina ya. Mama akan mengajak besan makam malam diluar," pamit Siska.


"Iya Ma," jawab El.


Kedua wanita paruh baya yang tak kehilangan kecantikan mereka itu pun melangkah mengikuti kedua suami mereka yang sudah lebih dahulu keluar. Cleo mengantarkan kedua hingga ambang pintu.


Sementara Naoki, pria itu ingin sekali mendekat dan merengkuh tubuh istrinya. Namun, ia tahu Cleo akan bertambah marah, ini semua salahnya. Ia sudah mematahkan hati yang rapuh itu berkali kali tanpa ia sadari, kini naoki harus memulainya lagi. Menyusun serpihan hati Cleo agar bisa utuh lagi, meskipun berat naoki akan berusaha membuat cleo sekali lagi jatuh cinta padanya. Pria itu hanya bisa menatap Cleo dengan dari sofa tempat ia duduk sekarang.


Karina dan El bisa merasakan ada yang tidak beres antara Naoki dan Cleo tetapi mereka tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga mereka, jika naoki meminta pendapat eldric akan dengan senang hati membantu. Namun, el tidak akan dengan sengaja bertanya tentang masalah mereka.


"Honey apa kau lapar?" tanya Eldric, ia berusaha mengalihkan perhatian sang istri dari Cleo tengah berdiri di ambang pintu mengantarkan kepergian orang tuanya.


"Iya, tapi aku tidak ingin masakan rumah sakit, tidak enak," keluh karina dengan nada yang manja.


Cleo membalikkan tubuhnya, ia berjalan mendekati brankar Karina.


"Apa ingin makan sesuatu? aku akan membelikannya," ujar cleo menawarkan diri.

__ADS_1


"Apa itu tidak merepotkan Kakak?" tanya karina.


"Tidak, kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu," jawab cleo berkilah, ia hanya tidak ingin ada di dekat Naoki. Rasanya sungguh sesak bila ia harus di sana lebih lama.


"Kalau kak Cleo nggak keberatan, aku mau minta tolong beliin sup ayam sama dimsum," ucap Karina sambil menyengir kecil.


"Apa itu cukup, kau harus makan dengan baik Honey," ucap Eldric setelah mencium pipi istrinya.


"Em ... apa boleh yang lain?" Karina menatap suaminya dengan wajah berbinar.


"Anything." tangan el tek henti membelai lembut rambut istrinya.


"Mie instan?" ucap Karina dengan mata membulat seperti kucing.


"No!" tegas El.


Karina menatap eldric penuh harap, otaknya sudah memikirkan mie instan kuah soto hangat dengan telur rebus. Karina memeluk el lalu menduselkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Ayolah, katanya anything," rengek Karina.


"Saat kau sudah sehat, kau bisa memakannya sesukamu."


"Janji?" tanya karina manja.


"Kapan aku pernah berbohong padamu?"


"Never, Mr Hugo. Kau selalu menepati janjimu." karina Karina menengadahkan wajahnya, kedua netra beningnya bertabrakan dengan mata el yang menatapnya dalam.


"Apapun untukmu Mrs. Hugo."


El tersenyum, ia mengecup singkat kening istrinya. Pemandangan yang sungguh manis, sebuah senyum getir tersungging di bibir cleo. Seperti itulah pernikahan yang ia impikan bisa bermanja-manja dengan suaminya, tetapi ia sudah mengubur semuanya. Ia tak ingin lagi terluka sudah cukup.


"Ehem ...mau nitip maka apa mau sayang- sayangan. Aku dah laper nih," tegur cleo.


Karina menoleh, ia memamerkan jajaran giginya yang putih. Ia baru bertemu dengan cleo, tetapi Karina langsung merasa akrab. Mungkin karena umur mereka yang hanya berbeda beberapa bulan, selain itu cleo juga sangat baik.


"Hehehe iya Kak nitip."


"Beli apa saja yang sekiranya kau suka, dan belikan sesuatu yang aman dimakan istriku," sahut El.


Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu, lalu menyodorkannya pada Cleo.


"Tidak usah Tuan, anggap saja aku mentraktir kalian sebagai hadiah pertemuan pertama kita."


Cleo tersenyum ramah, ia kemudian segera melangkah keluar.


"C, biar aku antar!" teriak naoki yang seolah tak di dengar cleo.


Wanita itu malah mempercepat langkahnya. Naoki segera berlari menyusul Cleo. El dan Karina hanya menatap kepergian mereka dengan penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2