
Setelah dua hari akhirnya Karina di perbolehkan menemui zoe di Nicu. Karina duduk di kursi roda yang di dorong suaminya, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa gugup sekaligus tidak sabar.
Setelah membantu istrinya memakai baju steril dan dia pun memakainya. El mendorong Karina masuk ke ruang NICU, seorang suster menyambut mereka.
Air mata karina meleleh begitu saja melihat malaikat kecilnya mengeliat di dalam inkubator.
"Anda bisa mengendongnya jika Anda mau," ucap suster itu menawarkan.
"Apa boleh suster?" tanya karina.
"Tentu saja boleh Nyonya, keadaan zoe sudah sangat baik."
Suster itu mengangkat tubuh mungil zoe dari dalam inkubator kemudian memberikannya pada Karina.
Ibu muda itu menerima zoe dengan tangannya yang gemetaran. Ada rasa bahagia bercampur haru yang menyeruak dalam hatinya. Air matanya tak henti mengalir membasahi pipinya.
"Zoe, Sayang ini benar-benar putri kita?" tanya karina tidak percaya.
Eldric berjalan memutar lalu, berjongkok di depan Karina.
"Iya, dia mirip sekali dengan. Honey."
Air mata karina jatuh semakin deras. Tangan eldric terulur untuk mengusap pipi Karina yang basah.
"Aku benar-benar seorang ibu El," ucapnya dengan bahagia.
"Iya kau seorang ibu yang hebat."
Karina ingin mengehentikan tangisnya, tetapi entah kenapa air mata itu jatuh begitu saja.
Tangan kecil zoe terulur ke atas, mulut kecilnya berdecak-decak seolah menginginkan sesuatu.
"Sepertinya bayi Nyonya lapar. Nyonya bisa coba menyusuinya langsung," ujar suster.
"Iya Suster akan saya coba."
Karina mulai membuka kancing baju steril yang dipakainya, ia kemudian mengeluarkan gentong susu miliknya. Perlahan, dengan hati-hati Karina mengarahkan ujungnya ke mulut mungil zoe.
Zoe melahap pucuk gentong sang ibu dan menyesapnya dengan kuat. Karina meringis merasa zoe yang menyesap put"ngnya dengan begitu kuat.
"Apa sakit?" tanya el saat melihat ekspresi wajah istrinya.
"Sedikit," jawabnya sambil meringis kecil.
Pengalaman pertama bagi Karina memberikan langsung ASI miliknya pada sang buah hati. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan.
Setelah selesai dengan sisi kanan dengan hati-hati Karina juga memberikan sisi kirinya untuk disesap zoe. Setelah mereka kenyang bayi mungil itupun kembali terlelap. Zoe kembali tidur di inkubator dan karina kembali diantar el kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Dia cantik sekali bukan?" tanya karina dengan binar bahagia.
"Cantik sepertimu," jawab el dengan senyum.
Kedua tangannya sibuk mengupas buah apel untuk karina. Setelah kembali dari NICU el membantu Karina duduk di sofa, karina merasa lelah hanya berbaring selama dua hari.
"Buka mulutmu," titah el.
"Aaa." Karina membuka sedikit mulutnya.
Eldric memasukkan potongan buah apel yang baru saja selesai dia kupas.
"Bagaimana enak?"
"Sangat manis aku suka, jangan hanya aku kau juga makan." Karina mengambil satu potong apel lalu menyuapkan pada el.
"Maniskan."
El menggelengkan kepalanya.
"Lebih manis ini," ujar el sambil mengusap lembut bibir karina yang masih mengunyah potong apel.
"Ish ...apa sih." Karina memukul pelan lengan suaminya.
Eldric terkekeh, ia kemudian menarik karina agar bersandar di dadanya.
Waktu begitu cepat berjalan bagi karina. Ia sungguh tidak menyangka akan menjadi seorang ibu diumurnya yang masih muda. Sebelumnya karina tidak pernah berpikir akan menikah muda. Ia juga tidak tahu seperti apa kedepannya jika ia tidak menikah. Yang Karina tahu, ia hanya ingin berkerja dengan baik dan menghasilkan uang untuk hidupnya.
"Maafkan aku," ucap eldric lirih.
"Kenapa minta maaf?" Karina menarik dirinya sedikit menjauh agar bisa melihat wajah suaminya.
"Mungkin jika aku tidak memaksamu menikah denganku, hidupmu akan lebih baik. Kau bisa seperti remaja lainnya, bermain dan mengapa cita-cita seperti yang kau inginkan-
"Hemp."
Karina mencium bibir tebal suaminya. Perlahan ia mel"matnya pelan, el memejamkan matanya menikmati penyatuan bibir mereka. Karina menarik bibirnya melepaskan tautan mereka.
"Jangan kata itu lagi, tidak pernah sekalipun aku menyesal karena menikah denganmu. Aku merasa bersyukur karena menjadi istrimu." Karina kembali mengecup bibir el.
Sungguh el kehabisan kata. Ia merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada wanita bertubuh mungil di hadapannya itu. Dunia bisa menghujatnya sebagai pedofil atau orang yang tidak tahu malu karena menikah gadis yang umurnya jauh di bawahnya, el tidak perduli. Satu yang eldric tahu, ia sangat mencintai istrinya sekarang, nanti dan selamanya.
.
.
.
__ADS_1
Setelah empat hari di rawat di rumah sakit akhirnya Karina dan putri kecilnya di perbolehkan pulang. Keadaan Karina sangat baik, begitu pula dengan zoe berat badannya meningkat pesat bayi itu kini dalam keadaan sehat sepenuhnya. Meskipun tetap harus memperhatikan beberapa hal.
El membantu istrinya untuk bersiap pulang, zoe terlihat sangat imut memakai baju berwarna pink dengan kupluk rajut dengan warna senada.
"Ais lucunya cucu oma," ujar Siska sambil menoel pipi zoe yang gembul yang ada dalam gendongan Karina.
Karina duduk di kursi roda, sebenarnya Karina bisa berjalan dengan normal. Namun, eldric melarangnya. Ia tidak ingin karina terlalu lelah.
"Boleh Mama mengendongnya?"
"Tentu Ma."
Siska mengambil zoe dari tangan Karina dengan perlahan dan hati-hati.
"Dia mirip sekali denganmu Rin," ucap Siska sambil menatap lekat pada cucu pertamanya.
"Tapi untungnya hidung zoe mirip el, jadi bisa di bilang aku sudah memperbaiki keturunan," canda karina.
Kedua wanita itu pun tergelak bersama.
Sementara di depan ruangan karina, el dan papa mertuanya sedang bersitegang memperebutkan kemana karina harus pulang.
"Karina harus pulang ke Surabaya," kekeh Tama.
"Maaf tapi karina istri saya, dia akan pulang ke mansion," sahut el tak mau kalah.
"Kau berani membantah orang tua!"
"Umur kita tidak jauh beda, jangan memasukkan kata tua dan muda di sini. Karin tetap akan pulang bersamaku titik!'
"Dasar menantu durhaka, dia akan pulang ke Surabaya. Istriku bisa membantu Karin mengasuh zoe, dengan begitu Karina tidak akan terlalu lelah."
"Tidak usah khawatir, saya sudah memperkejakan pengaruh bayi yang kompeten dalam hal ini," kilah el.
Eldric sangat tidak suka orang asing masuk kedalam mansionnya. Dalam otak el hanya ada satu kandidat yang akan ia perkerjakan dalam hal ini, siapa lagi kalau bukan sepupunya.
"Kau seharusnya menghormati keputusan orang tua!"
"Cih ...sok tua, ingat Pa. Maaf jika saya kurang ajar tapi umur kita tidak jauh beda, dan dalam hal ini saya adalah suami dari putri Anda, jadi saya merasa lebih berhak pada karina!"
"Kau!" jari telunjuk Tama menegang di wajah el.
"Ada apa ini? kenapa wajah kalian begitu tegang?" tanya Siska yang baru keluar dari kamar Karina sambil mendorong kursi roda yang Karina duduki.
"Tidak ada apa-apa Sayang, kita cuma bercanda kok, iyakan El." Tama merangkul bahu Eldric lalu menepuknya dengan keras.
"Iya Ma, kita hanya bercanda."
__ADS_1
"Ayo pulang keburu siang, kasihan zoe panasan nanti." Siska mendorong kursi roda mendahului dua pria yang masih saling melemparkan tatapan tajam.