
Hari ini Karina bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit. Setelah beberapa hari di rawat akhirnya Karina di perbolehkan untuk pulang. Dominic sudah kembali ke Italia dengan dua ular yang di Kurung Eldric di mansionnya. Eldric tidak perduli dengan mereka, asalkan mereka tidak lagi menganggu keluarga kecilnya.
Eldric tidak memperolehkan istrinya untuk Melaka apapun, ia menugaskan Baron untuk membereskannya baju dan peralatan lainnya.
"Baron, biar saya sendiri yang membereskannya," ucap Karina saat melihat anak buah suaminya itu mulai memasukan pengaman miliknya kedalam koper kecil.
"Tidak apa-apa nyonya ini sudah menjadi tugas saya," jawab Baron singkat.
"Sayang, biarkan aku mengemasi barang milikku sendiri. Aku Malu," bisik Karina tepat di telinga suaminya.
"Kenapa malu Hon, biarkan saja dia berkerja. Kau cukup duduk manis diatas pangkuanku seperti ini." Eldric menduselkan wajahnya ke leher jenjang istrinya.
"Tapi dia, menyentuh pengaman ku. Aku malu," rengek karina.
"Pengaman apa maksudmu?" tanya eldric tidak mengerti.
Karina berdecak kesal, ia menempelkan bibirnya di telinga Eldric lalu membisikkan sesuatu. Mata Eldric terbelalak saat mendengar penjelasan istrinya.
"Ais ...kenapa aku bisa lupa dengan barang pribadi milikmu, sepertinya ini efek kurang gizi."
"Kurang gizi apa? bukankah kau sudah makan dengan baik?" tanya karina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Gizi ini."Eldric mengusap lembut bibir mungil Karina, lalu turun ke bawah menyentuh pintu lubang cacing yang. masih tertutup rapat.
"Ish ...dasar suami mesum!" pekik karina kesal.
"Mesum hanya denganmu." Eldric mencium pipi istrinya sekilas.
Karina tersipu, suaminya itu selalu saja menciumnya tiap ada kesempatan. Namun, karina berusaha maklum, dua hari terakhir Karina memang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Mamanya. Sebenarnya Karina juga merasa rindu pada sentuhan suaminya.
"Sayang, bisakah kau suruh dia keluar sebentar." Karina mengalungkan kedua tangannya di leher Eldric.
Pria itu mengangguk setuju.
"Letakkan semuanya, dan keluarlah," titahnya pada baron.
"Baik Tuan," jawab pria itu.
__ADS_1
Ia berdiri kemudian dan segera melangkah keluar. Setelah anak buah suaminya keluar, Karina menarik wajah suaminya mendekat. Ia memberikan kecupan besar di bibir tebal Eldric. Pria itu menahan tengkuk istrinya, memperdalam pertemuan bibir mereka.
Keduanya larut dalam penyatuan belahan kenyal yang sangat manis. Karina menarik tengkuk leher Eldric agar sang suami menyesapnya lebih dalam. Karina membuka mulutnya memberikan akses pada suaminya untuk masuk.
Eldric menyusupkan lidahnya, keduanya menari dalam rongga mulut dengan lidah mereka, saling membelit dalam irama rindu yang tersalur tanpa kata. Suara decakan memenuhi ruangan itu, ciuman yang semula lembut kini semakin panas dan menuntut. Mereka seolah lupa dimana mereka berada.
Alarm di kepala Eldric terus berbunyi, ia harus menghentikan aksinya sebelum terlalu jauh. Namun, Karina yang mulai merasakan panas di tubuhnya mulai mencari peredam rasa inginnya. Tangannya mulai membuka kancing kemeja eldric, menyusupkan tangannya masuk membelai dada bidang suaminya dengan lembut.
"Honey, kita harus berhenti," ucap Eldric Setelah melepaskan tautan bibirnya.
"I want it," rengek Karina manja.
Ia mencium leher kokoh Eldric, dengan tangan kecilnya yang terus membelai dada bidang miliknya. Eldric mengerang menikmati setiap sentuhan lembut karina.
"Aku bisa gila, Hon." Eldric merasakan si belut yang sudah berdiri tegak dan mengeras dibalik celananya.
"Maka mengilalah, aku akan sangat menyukainya," bisik Karina dengan nada sensual, ia juga meniup telinga Eldric. Membuat pria itu semakin meremang.
Eldric tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Ia meraih tengkuk leher istrinya, meraup kasar bibir ranum yang sejak tadi menggodanya. Karina meresponnya dengan baik. Sejak menginjak trisemester kedua karina memang lebih agresif. Namun, sayangnya Eldric selalu manahan diri.
Semua itu Eldric lakukan untuk kebaikan karena. Hubungan suami-isteri akan sangat beresiko pada kandungan istrinya. Sp3rm" mengandung zat prostaglandin yang dapat memicu kontraksi pada janin, dan juga saat orgasm3 pada saat melakukan hubungan dapat menyebabkan kontraksi pada rahim. Ia sudah sangat di wanti-wanti oleh ayah mertuanya.
Alarm di kepala Eldric terus berdering . Namun, hasratnya sudah di ubun-ubun. Apalagi Karina begitu agresif mencumbunya. Eldric berusaha menahan dirinya, meskipun kancing kemejanya sudah terlepas semua. Ia berusaha mencegah tangannya agar tidak berkelana, Eldric tidak bisa menjamin kewarasannya jika ia memegang squshy kesukaannya. Ia hanya memegangi pinggang istrinya yang mulai melebar.
"Sayang," bisik Karina dengan suaranya yang seksi.
Eldric memejamkan, ia menarik nafasnya dalam. Mencoba menjaga akal sehatnya agar tetap waras. Karina menyandarkan kepalanya di dada eldric yang hampir polos.
"Kenapa? apa aku sekarang tidak cantik lagi, sudah tidak seksi lagi. Jadi kau tidak mau melakukannya," ucap Karina dengan sendu.
Eldric menakup wajah mungil istrinya, ia sedikit menundukan kepalanya dan menengadahkan wajah karina yang terlihat sendu.
"Apa yang kau katakan Hon, kau tau betapa inginnya aku sekarang. Kau bisa merasakan apa yang kau duduki sekarang sudah sangat keras."
Karina mengangguk-anggukkan kepalanya, ia bisa merasakan sesuatu yang mengganjal, seperti batang kayu yang ada di sela paha suaminya.
"Aku menginginkanmu lebih dari apapun, kau tau itu. Tapi aku juga tidak ingin menyakitimu dan anak kita," ujar Eldric sambil mengusap lembut perut istrinya.
__ADS_1
"Sayang." Karina memeluk erat tubuh suaminya. Ia merasa terharu mendengar alasan sang suami.
Eldric tersenyum, ia mengelus rambut sang istri dengan lembut dan menciumnya beberapa kali. Biarlah dia bermain dengan busa untuk sementara waktu, sampai pada waktunya lubang cacing bisa digunakan kembali.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Tama.
Pria itu berkacak pinggang, mukanya merah padam menahan amarahnya. Karina dan Eldric gelagapan mereka seperti maling yang kepergok tuan rumah.
Karina segera turun dari pangkuan suaminya, ia berdiri sambil merapikan baju dan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Sementara eldric, pria itu tergopoh-gopoh mengancingkan kemejanya dengan asal kemudian berdiri di samping istrinya yang sedang tertunduk.
"Ehm .. selamat pagi, Pa," ucap Eldric dengan kaku.
Ia berusaha bersikap biasa meski ia merasa takut setengah mati. Ia tidak takut di marahi tapi ia takut ancaman sang mertua tempo hari.
"Selamat pagi ... selamat pagi. Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini. Mesum!" hardik Tama.
Eldric hanya diam dan menelan salivanya.
"Apa kau lupa dengan apa yang aku katakan kemarin, dan aku tidak main-main dengan ucapanku!" tegas Tama.
"Tapi Pa, kami tidak melakukan apa-apa. Hanya berciuman saja," gumam karina lirih diakhir kalimatnya. Ia merasa malu mengungkapkan itu pada Papanya.
"Hanya ciuman hem, bagaimana kalau aku tidak segera masuk. Apa kalian bisa menjamin tidak akan kebablasan. Kau seharusnya bisa memegang janjimu sebagai seorang laki-laki!" Tama menegangkan telunjuknya tepat di wajah Eldric.
"Apa salahnya, lagi pula aku melakukan dengan suamiku," tukas Karina membela sang suami.
Tama menghela nafasnya.
"Karin, kandunganmu harus dijaga dengan baik. Kau tau itu kan," ucap tama lembut.
"Aku tau Pa, makanya kami nggak sampai anu hanya colek-colekan saja."
"El, kau tau kesepakatan kita."
Eldric mengangguk cepat. Beda dengan karina yang bingung dengan pembicaraan kedua laki-laki dewasa itu.
"Karin kemasi barangmu, kau akan pulang ke rumah Papa!"
__ADS_1
"Apa!" pekik karina terkejut.