Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Perhatian kecil


__ADS_3

POV Karina.


"Hoam ...."


Sudah pagi lagi, rasanya seluruh badanku remuk redam tiap pagi. Suhu AC yang di atur begitu dingin membuatku semakin nyaman menyusup di ketek suamiku. Asem, nggak dong jadi candu malah. Tangan kekarnya mengerat semakin menempelkan tubuh kami yang masih sama polosnya.


Ponselnya terus berdering. Namun, suamiku sepertinya masih betah berlama-lama memeluk aku. Aku tidak punya keberanian untuk membangunnya, apalagi melihat wajah suamiku yang yang masih lelap. Terlihat lelah setelah pulang larut semalam, apalagi dia juga melembur aku dua ronde.


Aih ... Babang El aku jadi makin sayang. Aku menjerit dalam hati saja.


Malu dong aku yang ngomong duluan. Dianya aja udah naik turun main kuda-kudaan sama aku. Belum pernah ngomongin soal cinta dan kasih sayang. Pada aku udah hampir sebulan jadi istrinya.


Meskipun pernikahan kami berdasarkan sebuah kesepakatan, tapi aku merasa aman dan nyaman saat bersamanya. Meskipun dia suka memerintah dan suka bentak-bentak aku. Tapi dia juga bisa berlaku lembut saat aku terluka.


Aku ingin pagi ini tetap seperti ini. Aku tidak ingin dia pergi. Aku menarik selimut semakin tinggi sampai menutupi leherku.


POV Karina end.


Suara ponsel eldric terus berdering semakin nyaring. Pria itu mau tidak mau harus mengangkatnya. Dengan perlahan ia menggeser posisinya agar tidak mengangguk istri kecilnya yang masih terlelap. Eldric tidak tahu kalau Karina sudah bangun sejak tadi.


"Ya, ada apa?" tanyanya sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Maaf Tuan, saya hanya memastikan anda tidak terlambat bangun. Karena jam 8 nanti kita harus berangkat," jawab joe do seberang telepon.


"Kenapa kau harus menelfon, kau bisa mengetuk pintu kamar dan bicara langsung padaku.Joe!"


"Maaf Tuan, bukankah anda kemarin melarang saya untuk mengetuk pintu kamar apapun yang terjadi."


"Ck, diam. Sebentar lagi aku akan turun."


Eldric langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia kembali meletakkan ponselnya di nakas kemudian kembali menyusup kedalam selimut. Eldric kembali mencumbu leher sang istri yang sudah penuh dengan bercak merah.


"Hey bangun, aku harus siap sebentar lagi. Kata Eldric sambil memainkan squshy kesukaannya.


"Emh ...jam berapa sekarang? aku masih ngantuk." Karina menggeliat kecil, ia pura-pura baru saja bangun dari tidurnya.


"Sudah siang, aku harus pergi keluar kota hari ini. Aku sudah memberitahumu semalam."


"Semalam kapan?"


"Jangan pura-pura lupa. Aku tahu ingatanmu berfungsi dengan baik."


Eldric menekan kening istrinya dengan telunjuk. Karina memberengut, ia bukan tidak ingat. Gadis itu hanya tidak ingin suaminya pergi jauh. Karina menggosok keningnya dengan bibirnya dengan mencebikan bibirnya.


Eldric tersenyum miring. Ia kemudian segera bangkit dari tempat tidurnya. Karina segera mengikuti langkah suaminya yang telah melangkah masuk ke kamar mandi. Tentu setelah ia memungut bajunya yang berserakan di lantai lalu memakainya. Sudah menjadi tugasnya membantu sang suami mandi setiap harinya.


"Bisakah kau tidak pergi?" tanya Karina dengan ragu.


Kedua tangannya sibuk memberikan pijatan lembut di kepala suaminya yang di penuhi busa sampo.


"Kenapa? kau mau ikut?"


"Boleh?" tanya Karina dengan semangat.


Sudah hampir satu bulan ini, ia terkunci dalam mansion. Satu kali saja ia pergi ke kantor untuk mengantarkan makan siang suaminya. Setelah itu, ia kembali masuk kandang. Nggak bisa ketemu tukang cilok, kang bakso, mie ayam dan dia bahkan belum bertemu dengan mie instan kesukaannya.

__ADS_1


"Tentu ...saja tidak!" tegas Eldric.


Karina kembali memberengut. Ia membilas rambut suaminya dengan sedikit kasar. Kesal karena sang suami hanya memberinya harapan palsu.


Setelah selesai ritual basah basah dan memakaikan baju pada sang suami. Karina pun mengantar kepergian suaminya dengan wajah masam tanpa senyum.


"Aku hanya akan pergi dua hari kenapa wajahmu masam begitu?" tanya eldric sebelum ia masuk kedalam mobilnya.


"Tidak, mana ada. Aku sedang tersenyum bahagia. Lihat, hiii.." Karina memamerkan jajaran gigi putihnya.


"Jangan di paksa senyum kalau tidak ingin. Kau terlihat jelek."


Karina mencebikan bibirnya. Tangannya mengepal erat, ia memejamkan matanya mengambil nafas dalam sejenak.


"Suamiku, cepatlah berangkat. Hari sudah semakin siang, saya takut anda akan terlambat," ujar Karina dengan senyum manisnya yang di paksakan.


"Kau mengusirku?" Eldric menatap istrinya dengan penuh selidik.


Ya cepat pergi, kalau bisa jangan pernah kembali!


"Tidak Suamiku, saya tidak berani melakukannya," kilah Karina.


"Kemari."


Karina melangkah mendekat ke arah mobil. Ia sedikit menunduk agar bisa mensejajarkan dirinya dengan sang suami yang sudah duduk di dalam mobil.


"Apa kau melupakan sesuatu?"


"Apa?" tanya Karina bingung.


Eldric menarik tengkuk istrinya, mencium bibir mungil itu dengan kasar.


"Ingat untuk selalu melakukan ini sebelum aku berangkat. Ok," titahnya pada sang istri setelah melepaskan bibirnya.


Karina mengangguk cepat. Pipinya bersemu kemerahan, malu dan gugup. Entah kenapa ia selalu seperti itu saat Eldric menciumnya. Padahal mereka sudah melakukan hal yang lebih dari itu.


"Jadilah anak baik selama aku tidak ada di sini." Karina menjawabnya dengan anggukan.


"Dilarang keluar untuk alasan apapun. Dilarang menelfon lawan jenis, dilarang mogok makan. Jangan melakukan pekerjaan rumah, ada pelayan yang akan melakukannya. Kau harus makan teratur, berat badanmu harus naik saat aku pulang. Kau terlalu kurus saat aku memelukmu semalam."


"Iya," jawab Karina dengan malas.


"Ingat, terus pikirkan aku!"


Karina mengerutkan keningnya heran. Eldric menatap wajah lucu istrinya sebelum ia menaikkan kaca mobil. Sungguh raut wajah yang lucu.


Mobil itu pun segera melaju kencang meninggal mansion. Karina pun kembali masuk, hari ini dia ingin istirahat saja melanjutkan tidur panjangnya.


Sesampainya di kamar karina langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang belum ia ganti spreinya. Biarlah ia malas untuk hari ini, lagi pula suaminya tidak akan pulang malam ini.


Perlahan mata Karina mulai sayu. Ia begitu lelah karena baru tidur jam tiga dini hari tadi. Baru saja ia terlelap, ponsel miliknya sudah berdering kencang. Dengan enggan Karina meraba-raba nakas di sebelah ranjangnya.


Tanpa melihat nama yang melakukan panggilan, Karina langsung saja menggeser logo hijau di layar ponselnya kemudian mendekatkannya ke telinga


"Halo."

__ADS_1


"Kenapa lama sekali mengangkatnya?"


Mata Karina langsung melebar mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.


"Su-suamiku!"


"Ya, kenapa kau begitu terkejut. Kau berharap siapa yang akan menelfon mu!"


Suara eldric terdengar marah.


"Siapa saja yang penting bukan anda," lirih Karina. Namun, masih terdengar sang suami.


"Apa?"


"Eh ...bukan maksud saya tentu saja saya mengharapkan anda yang menelfon."


Baru saja berangkat kenapa dia menelepon sih!


"Bagus! ubah jadi video call!"


"Tapi suamiku!"


Aku belum mandi, kamar masih berantakan. Bagaimana ini, dia pasti marah. gumam Karina dalam hatinya.


"Tidak ada tapi, atau kau tahu sendiri akibatnya!"


Karina mendesah pasrah. Ia pun mengubah panggilannya menjadi sambungan video.


"Bagus sekali. Baru saja aku tinggal sebentar dan kau mulai malas-malasan. Kau belum, dan lihat kamarmu. Bahkan kamar kau biarkan berantakan seperti itu!"


Karina hanya menunduk dengan wajah kusiy, mendengarkan omelan sang suami.


"Cepat mandi, bawa ponselnya ke kamar mandi. Jangan putuskan panggilan video!"


"Ta-tapi saya malu," protes Karina.


"Malu apa? aku bahkan sudah melihat dan hafal tubuhmu luar dalam kenapa masih malu hem?"


Dasar Mesum!!!


Teriak Karina kencang dalam hatinya.


Ia pun akhirnya pasrah dan segera mandi sambil terus melakukan sambungan video call dengan suaminya itu. Setelahnya ia pun memakai baju. Namun, Eldric melarangnya untuk berhias dengan alasan karena ia tidak ada di rumah.


Setelah selesai beberes kamar dan menganti sprei, Karina duduk di sofa untuk sedikit melepaskan penatnya.


"Tidurlah, kau pasti sangat lelah," ucap eldric dengan lembut.


"Tubuhmu sudah segar dan bersih."


"Tempat tidur yang bersih akan terasa lebih nyaman untuk beristirahat. Jangan lupa mimpikan aku!"


Beep.


Eldric memutuskan panggilan telefon tanpa sempat Karina menjawab ucapannya. Karina memeluk erat ponselnya, ternyata eldric memperhatikannya. Karina menghentak- hentakan kakinya, ia sungguh seperti anak ABG yang sedang kasmaran.

__ADS_1


Eh Karina memang masih abg ya 😅


__ADS_2