
Sebuah mobil mewah melaju kencang di jalanan kota Jakarta dua orang wanita yang berbeda usia duduk di kursi penumpang, kedua tampak mengobrol dengan begitu serius.
"Bibi, apa bibi yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Donna pada seorang wanita yang duduk di sebelahnya.
"Kau meragukan kemampuan Bibimu ini, Donna. Eldric anakku, aku tau bagaimana wataknya. Ikuti saja permainanku, aku yakin kita akan berhasil," ujar Helena penuh percaya diri.
"Baik, aku akan mengikuti permainan Bibi." Donna menyeringai licik, kali ini ia sangat yakin dia bisa menyingkirkan Karina dan merebut posisi nyonya Hugo.
Mobil itu melaju dengan kencang menuju mansion Eldric. Entah apa yang direncanakan Helena. Yang wanita itu tau dia tidak ingin memiliki menantu selain Donna. Gadis itu akan menjadi pion yang baik baginya untuk memperkuat posisinya di keluarga hugo.
Sementara itu di mansion.
Eldric dan istrinya sedang menikmati sarapan mereka. Pagi ini karina begitu manja. Ia bahkan tidak ingin jauh dari suaminya sedikitpun, karina duduk di pangkuan Eldric sambil disuapi oleh suaminya.
"Apa sudah kenyang?"
Karina menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa perutnya masih perlu diisi lagi. Meskipun itu adalah bubur ayam kedua yang sudah tandas olehnya.
Eldric mengusap lembut ujung bibir karina yang kotor dengan jempolnya. Kemudian ia menyesapnya sendiri. Ia kemudian mengambil satu mangkuk bubur lagi kemudian mulai menyuapi istrinya lagi.
Berat Badan karina meningkatkan drastis, di kandungan yang menginjak usia tiga bulan beratnya sudah naik 5 kilo. Pipinya sudah semakin chubby dan bulat seperti bakpao.
"Suamiku, jangan pergi kerja. Temani aku hari ini," ujarnya sambil menatap eldric dengan penuh harap.
"Bukankah kau sudah ada levina yang menemanimu."
"Aku mau kamu." Karina mengeratkan pelukannya, entah kenapa hari ini ia tidak ingin jauh dari suaminya.
Karina memang begitu manja pagi ini. Namun, eldric sangat menyukai sikap manjanya membuat ia merasa sangat di butuhkan.
"Tapi aku ada rapat penting hari ini, Honey," ucap Eldric berusaha membujuk istrinya kecilnya.
"Penting mana, aku atau rapatmu?" Karina melepaskan pelukan kemudian ia berkacak pinggang sambil menatap suaminya dengan bibirnya yang sudah manyun lima centi.
"Bagaimana kalau kau ikut ke kantor hari ini, jujur saja aku tidak bisa menunda rapat hari ini."
"Baiklah kalau begitu aku akan mengganti bajuku sebentar."
"Habiskan dulu sarapannya." Eldric kembali menyuapi istrinya.
Setelah mangkuk ketiga tandas, barulah karina turun dari pangkuan suaminya. Ia bergegas ke kamar untuk mengganti bajunya. Setelah selesai karina segera keluar dari kamar, ia berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa merah yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Suamiku ayo berangkat," ucap karina sambil berpose imut.
Eldric menatap tajam pada istrinya yang terlihat sangat imut. Ia menghela nafasnya kemudian bangkit dari duduknya.
"Bisakah kau tidak seimut ini." Eldric mencubit gemas kedua pipi istrinya.
"Ah ... sakit," rengekannya sambil mengusap pipinya yang memerah.
"Mari," Eldric menyodorkan lengannya.
Dengan senang hati karina merangkul lengan suaminya dan bergelayut manja di sana. Keduanya pun melangkah keluar menuju mobil, seperti biasanya joe sudah menunggu mereka kemudian pria itu membukakan pintu untuk kedua majikannya.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya," ucap joe sambil membungkuk hormat.
"Selamat pagi Pak Joe!" sahut Karina dengan riang.
Eldric membantu istrinya untuk duduk kedalam mobil sebelum ia duduk di sampingnya.
"Apa kau tidak ingin membeli sesuatu?" tanya eldric saat mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.
"Makananmu sekarang lebih normal, Honey."
"Normal?" ulang karina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya pernah aku makan makanan yang tidak normal, Suamiku," sahut Karina lagi dengan penuh penekanan.
"Kau pikirkan saja, ayam goreng dengan eskrim rasa teh hijau, biskuit dengan sambal, nasi dengan susu coklat."
"Itu hanya unik, dan anak-anak yang minta untuk makan itu," ketus karina.
Eldric tersenyum kemudian memberi kecupan manis di kening istrinya.
"Ya, selera anak-anak kita memang sangat unik," ucap Eldric seraya mengusap lembut perut istrinya.
"Kapan mereka akan tumbuh besar, aku sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan mereka?"
"Masih tiga bulan Suamiku, kalau hamil normal biasanya kan 9 bulan 10 hari. Kalau aku entahlah," ucap karina dengan sendu.
__ADS_1
Kata-kata dokter masih terngiang jelas di telinga Karina saat mereka melakukan kontrol rutin beberapa hari yang lalu. Dokter menjelaskan bahwa kemungkinan kandungan Karina akan lahir prematur dikarenakan faktor usia dari ibu, dan itu juga salah satu resiko dari kehamilan kembar.
Karina menundukkan kepalanya menatap sendu pada perutnya. Eldric menyentuh tangan istrinya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Honey."
Karina mengangguk kecil, ia menyandarkan tubuhnya dalam pelukan eldric. Ia merasa sangat takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, hanya eldric yang ia punya. Hanya suaminya orang yang ada untuknya.
"Sayang, apa kau akan selalu ada untukku?" tanya karina tiba-tiba.
Suaranya terdengar bergetar. Eldric yang menyadari hal itu segera menarik tubuh karina, memberikan sedikit jarak agar ia dapat melihat wajah istrinya yang sudah berlinang air mata.
"Aku akan selalu ada untukmu, Hon. Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Aku takut, aku sendirian. Tidak ada seorangpun selain dirimu." Karina menenggelamkan dirinya dalam pelukan Eldric.
Tubuh Karina bergetar Eldric bisa merasakan air mata istrinya yang mulai mengalir membasahi bajunya. Eldric mendekapnya erat.
"Tenang ya. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Eldric menenangkan istrinya. Karina mengangguk kecil dalam pelukan suaminya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di kantor. Eldric menggendong tubuh mungil istrinya masuk ke kantor. Ia tak perduli dengan para karyawan yang menatap mereka.
Setelah sampai di ruangannya Eldric dengan perlahan mendudukkan istrinya di atas sofa.
"Aku akan mengganti bajuku sebentar, tunggu di sini Joe akan segera datang membawa tiramisu untukmu."
"Iya, Suamiku. Maaf aku membuat bajumu kotor," ucap Karina lirih.
"Its ok Honey, apapun untukmu." Eldric mengecup singkat kening istrinya sebelum melangkah menjauh.
Brak.
Tiba-tiba pintu ruangan eldric dibuka dengan kasar. Dua orang wanita masuk begitu saja, karina yang sedang duduk santai di sofa pun terkejut dengan kedatangan dua wanita itu. Namun, dengan segera ia bisa menguasai dirinya.
"Dimana Eldric?" tanya seorang wanita yang lebih tua.
"Suami saya sedang mengganti baju, Siapa Anda? kenapa Anda masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya karina dengan ketus.
Karina menatap tajam pada wanita yabg di kenalnya. Sementara wanita itu menatap karina dengan pongah.
"O jadi kau adalah menantuku," ucap wanita itu.
__ADS_1
"Menantu?"
"Perkenalkan Dia adalah Helena Hugo, ibu dari suami itu," ucap Donna dengan menyeringai.