
Dua hari telah berlalu el terus menemani istrinya di rumah, ia sengaja berkerja dari rumah dan menyerahkan masalah di kantor pada joe. Ia hanya sesekali bertemu dengan klien yang meminta bertemu langsung dengannya.
Sore ini keluar kecil eldric sedang menikmati piknik ala-ala di taman belakang mansion. El membentang tikar diatas hamparan rumput hijau di sebelah kolam ikan koi. Berbagai buah-buahan yang telah di potong, minuman ringan dan roti isi salmon yang tinggal piringnya saja, tersaji lengkap menemani mereka.
Menikmati senja berdua, el berbaring dengan mengunakan paha karina sebagai bantalnya. Menatap awan yang berarak dengan riang mengikuti semilirnya angin.
"Buka mulutmu Honey," titah el.
Karina pun membuka sedikit mulutnya kemudian el memasukkan potongan buah melon, kedalam mulutnya.
"Enak?"
Karina menjawabnya dengan anggukan.
"Manis?"
Karina lagi-lagi hanya mengangguk.
Eldric berdecak, ia bangkit kemudian mencium bibir istrinya yang baru selesai mengunyah melon.
"Dasar mesum, nanti kalau ada yang lihat gimana!" protes Karina saat el melepaskan bibir mereka.
"Aku hanya ingin makan melon," kilah eldric. Pria itu tanpa rasa bersalah membaringkan dirinya lagi ke posisi semula.
Karina mendengus kecil. Kesal tetapi ia juga suka dengan el yang seperti ini.
"Ada banyak di sana, kau bisa mengambilnya sendiri," ujar karina sambil menunjuk mangkuk yang berisikan potongan buah melon.
"Aku mau merasakan yang di sini, lebih manis," ucap eldric, ia mengusap bibir Karina dengan ujung jempolnya.
"Sayang kenapa mama belum datang?" tanya karina sambil menatap langit yang mulai berubah warna.
"Nanti, aku sudah menyuruh baron untuk menjemput mereka ke Surabaya. Mungkin mereka akan tiba di bandara jam tujuh nanti," jawab eldric.
"Makasih Sayang kau memang suami terbaik!" seru karina kemudian menciumi kedua pipi tirus suaminya.
Kau begitu manis karin, bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu.
Pipi eldric bersemu merah, ia tidak menyangka karina akan menciumnya dengan tiba-tiba seperti itu.
"Ehmm ...Selain mama, kakak iparmu juga akan datang."
__ADS_1
Mata karina berbinar mendengar kakak iparnya juga akan datang mengunjunginya.
"Papa dan kak naoki bagaimana? apa mereka juga datang?"
"Aku tidak tahu, Honey. Terakhir papa mengirimkan pesan kalau mama dan kakak iparmu sudah dalam perjalanan."
"Ayo kita jemput mereka," ujar karina dengan semangat empat lima.
"Ok, as your wish Honey."
Eldric bangkit dari tempatnya berbaring, ia kemudian membantu istrinya untuk berdiri. Keduanya pun bersiap untuk menjemput kedua tamu mereka.
Eko mengantarkan mereka berdua ke bandara bersama bagas, sebagai pengasuh zoe ia selalu ikut kemanapun nona kecil itu pergi.
"Zoe kita akan bertemu oma sebentar lagi," ucap karina pada buah hatinya.
Zoe tersenyum, bayi itu seolah mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh mommy-nya. Ia tampak sangat lucu dengan topi model seperti kepala gajah berwarna kuning.
"Anak mommy paling cantik." Karina menciumi pipi gembul zoe hingga bayi itu tertawa.
"Mom aku juga mau dicium," rengek eldric.
Karina tertawa geli melihat tingkah eldric yang begitu manja padanya, bayi besarnya itu bersandar manja di bahunya.
"Eko, bagas. Apa kalian mendengar atau melihat sesuatu?!" tanya eldric dengan penuh penekanan, seperti sebuah ancaman yang di lontarkan kepada kedua bawahannya itu.
"Selain jalanan saya tidak melihat apapun Tuan," jawab eko dengan segera.
"Saya juga, selain suara nona zoe saya tidak mendengar apapun," sahut bagas cepat.
Eldric merasa puas dengan jawaban kedua anak buahnya yang begitu telat. Eldric tersenyum lebar. Eko dan bagas yang melihat sang tuan tersenyum dari kaca spion merasa lega, berarti jawaban yang mereka ucapkan memuaskan eldric.
"Kau dengar Honey, mereka tidak mendengar atau melihat apapun," ujar el sambil menyeringai kecil pada karina.
"Itu karena mereka takut padamu," tukas karina.
"Apa aku menakutkan? apa kau juga takut padaku? Padahal aku hanya meminta ciuman kecil dari istriku kenapa aku malah di bilang menakutkan. Apa aku ini monster?" tanya eldric dengan memasang puppy eyes.
"Pertanyaan macam apa itu, kenapa harus takut pada suamiku sendiri. Jangan memasang wajah itu lagi El, apa kau tidak sadar itu sangat tidak cocok dengan wajahmu yang garang," goda karina.
"Kau tidak menyenangkan, Hon," protes eldric. Ia menarik dirinya menjauh lalu membuang mukanya kearah jendela.
__ADS_1
Tuan eldric hugo resmi merajuk.
"Nee ...nee," celoteh zoe, tangan kecilnya menarik baju karina.
"Zoe haus? tunggu sebentar ya sayang." Karina mengambil kain yang selalu ia bawa saat keluar untuk menutupi bagian atas tubuhnya saat memberikan ASI pada zoe.
Setelah menutupi dengan baik, Karina mulai membaik ASI pada zoe, sambil bersenandung kecil dan menepuk-nepuk pelan tubuh mungil zoe yang ada dalam dekapannya.
Cukup lama zoe meminum ASI langsung dari pabriknya. Biasanya ia akan minum ASI dari botol karena sang bunda sudah menstock banyak ASI dalam freezer.
Zoe terlelap, karina menyudahi pemberian ASI-nya, setelah merapikan baju Karina meletakkan kembali kain penutupnya. Ia kemudian menepuk pundak bagas, lalu memberikan zoe kepadanya, ada tugas lain menunggunya. Ia harus membujuk bayi besarnya yang sedang merajuk.
"Sayang, Daddy-nya zoe," panggil karina dengan lembut.
Namun, eldric masih tidak bergeming. Ia masih membuang mukanya. Karina langsung memeluk erat tubuh suaminya dari belakang.
"Sayang jangan marah, nanti aku sedih," ujar karina dengan suaranya yang terdengar sendu.
Eldric menghela nafasnya panjang. Ia kemudian membalikkan tubuhnya, hingga berhadapan dengan istrinya.
"Aku tidak marah, aku hanya kesal karena tidak di berikan ciuman," kilah eldric, pria itu berkata dengan suaranya yang di buat manja. Sungguh sangat menggelikan.
"Maaf, kau mau ciuman kan, baiklah aku akan mencium Tuan Hugo sampai puas, asalkan Tuan mau memaafkan aku."
"Kau yakin?" tanya eldric seolah mengingatkan.
"Tentu saja Tuan, aku harap Anda puas dengan pelayananku ini."
Karina menarik kerah baju eldric. ia menempelkan bibirnya pada bibir tebal suaminya. Hanya menempelkannya saja tanpa gerakan apapun, saat hendak menarik wajahnya eldric sudah lebih dulu menahan tengkuknya.
Eldric yang tadinya hanya menggoda seperti dapat jackpot besar saat karin menciumnya. Eldric mulai mengerakkan bibirnya, menjalin sebuah tautan rasa melalui bibir mereka.
Ciuman yang lembut dan penuh dengan kehangatan. Suara decakan mulai menggema di dalam mobil selama perjalanan mereka ke bandara. Eko dan bagas sudah biasa pura-pura buta dan tuli saat seperti ini. Mereka berdua hanya fokus pada jalanan dan nona zoe yang sedang terlelap dalam dekapan bagas.
Karina berusaha mendorong tubuh eldric. Namun, nihil karena kekuatannya tidak sebanding. Karina memukul semakin keras saat ia benar-benar merasa kehabisan nafas.
Eldric melepaskan ciumannya. Nafas karina memburu, dadanya naik turun seiring tarikan nafasnya.
"Kau mau membuatku kehabisan nafas, heh?!"
"Salahkan bibirmu yang terlalu manis Honey," jawab eldric tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Eldric memeluk istrinya, menyandarkan kepala karina di dadanya yang bidang. Mobil yang mereka tumpangi terus melaju membelah kemacetan kota Jakarta.