
"Selamat pagi Tuan," sapa joe sambil membungkuk hormat. Ia menahan pintu mobil untuk tuannya.
"Pagi Joe, pagi yang cerah." Eldric masuk ke dalam mobilnya kemudian pintu mobil ditutup perlahan oleh asistennya.
Joe menengadah kepalanya sejenak melihat langit. Awan hitam berjajar rapi menghalangi sinar mentari mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Joe berusaha menelaah kata cerah yang di maksud tuannya.
"Apa warna langit lebih penting daripada pekerjaanmu, Joe?!" bentak Eldric.
"Tidak Tuan." Joe segera masuk kedalam mobil.
Perjalanan mereka pun di mulai. Sepanjang perjalanan ke kantor senyum eldric tak pernah lepas dari wajahnya. Ia sibuk melihat layar ponselnya, sambil sesekali tertawa cekikikan. Joe sampai ngeri sendiri melihatnya.
Apa yang terjadi, apa Tuan salah minum obat hari ini.
Di mansion.
Karina seperti biasanya sedang mengganti sprei yang belum sempat ia ganti tadi pagi. Rasanya campur aduk saat melihat bekas darah yang sudah mengering di sana. Karina mengusap wajahnya kasar.
"Astaga aku sudah nggak perawan ya. Dah jebol sekarang, kalau aku hamil gimana ya?" gumam Karina bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Sudahlah hamil juga ada suaminya, tapi apa aku masih bisa sekolah ya," lirih Karina sendu.
Tangan kecilnya menarik ujung-ujung sprei yang sudah tidak karuan bentuknya. Sekilas Karina teringat bagaimana ganasnya sang suami saat bersamanya di atas ranjang itu. Wajah Karina memerah, ia mengatupkan bibirnya menahan senyum yang tersungging bahagia di wajahnya.
"Ish ... kerja-kerja udah ngehalunya, lagian dia juga lagi kerja. Nggak bisa minta gituan ...eh otak kenapa mesum amat sih." Karina cekikikan mendengar ucapannya sendiri, untungnya eldric tidak ada di kamar itu bersamanya. Kalau tidak, mungkin ia akan diledek habis-habisan.
Karina segera menyelesaikan perkerjaannya. Setelah selesai memasang sprei baru ia membawa sprei yang lama kebawah untuk dicuci. Dengan cara jalannya yang masih mengangkang, perlahan Karina menuruni anak tangga. Berto yang baru saja pulang dari supermarket langsung tergopoh-gopoh menghampiri Karina. Ia meletakkan belanjaannya begitu saja di lantai.
"Nyonya, tolong berhati-hati. Kenapa anda melakukan perkejaan ini. Maafkan saya, seharusnya saya yang melakukannya," ucap berto dengan penuh rasa bersalah.
Pria yang sudah tidak muda lagi itu mencoba merebut sprei yang ada di tangan Karina. Namun, karena enggan menyerahkannya, ia ingin melakukan sesuatu. Ia merasa sengat bosan berada di mansion tanpa melakukan apapun.
"Paman, jangan bicara seformal itu denganku," keluh Karina. Dengan tangannya yang terus mempertahankan sprei yang dibawanya.
"Sudah seharusnya saya berlaku sopan pada majikan saya Nyonya." Berto masih berusaha merebut kain yang dibawa Karina.
Bagaimanapun Karina sekarang adalah nyonya di mansion. Berto tidak mungkin membiarkan majikannya melakukan pekerjaan seperti itu. Sementara karina merasa sangat malu dengan sisa percintaan pertama yang meninggalkan jejak merah di sprei itu.
"Nyonya, tolong biarkan saya yang mengerjakannya," ucap Berto dengan memelas pada Karina.
Wanita itu tidak memperdulikannya. Ia terus mengayunkan kakinya dengan cara jalan yang masih terlihat aneh, dengan berto yang mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Paman jangan mengikutiku terus, paman bisa melakukan pekerjaan lainya."
"Tapi Nyonya seharusnya tidak melakukan ini."
"Kalau Paman ngotot aku nggak boleh cuci sendiri, aku bakalan mogok makan!" ancam Karina tegas.
"Baiklah, Nyonya," jawab Berto lesu. Akhirnya ia hanya bisa pasrah saat Karina sudah mengancam seperti itu.
Ia akhirnya membiarkan Karina melakukan apa yabg ia inginkan. Karina tersenyum lebar. Ia pun melanjutkan langkahnya ke tempat mencuci.
Karina memasukkan sprei kotor ke mesin cuci. Memberinya air lalu membubuhkan deterjen. Setelah di rasa cukup ia menyalakan mesin cuci dengan mode merendam selama 30 menit.
Setelahnya Karina pergi ke dapur untuk membantu berto menyiapkan makan siang.
Berto tampak sibuk memotong daging untuk di masak.
"Paman, apa yang sedang paman masak?" tanya karina saat ia berdiri di sebelah Berto.
"Saya sedang memasak lagsana daging Nyonya," jawab berto.
"Ck ...aku sudah bilang jangan panggil aku Nyonya!" ketus Karina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Maaf itu tidak bisa."
"Maaf Nyonya, sebaiknya anda istirahat. Biarkan saya yang memasaknya."
Karina berdecak kesal, Karena Berto terus saja melarangnya melakukan sesuatu.
"Aku Nyonya di rumah ini bukan, jadi Paman tidak berhak melarang ku. Aku akan membantu Paman memasak, suka atau tidak!" tegas karina tak ingin di bantah.
"Saya hanya tidak ingin anda terluka," bujuk Berto.
"Tapi-
Drrrt .... drrrt....
Ponsel Karina berdering, ia mengurungkan niatnya untuk kembali protes pada berto. Karina segera meraih ponsel di sakunya, Karina mendengus kesal saat melihat nama yang sedang melakukan panggilan telepon padanya. Dengan enggan ia menggeser logo hijau di layar ponselnya.
"Hallo," sapanya dengan enggan.
"Apa yang kau lakukan di dapur?" tanya Eldric dari seberang.
__ADS_1
Karina mengerutkan keningnya, bagaimana bisa suaminya itu tahu dia sedang ada di dapur.
"Saya ingin membantu Paman memasak makann siang." jawabnya ketus.
"Bagus, antarkan ke kantor jika sudah selesai."
"Baik saya akan meminta Paman Berto mengantarkannya."
"Siapa yang menyuruh Berto, aku menyuruhmu!"
Beep
Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Karina masih tergugu, ponselnya masih menempel di telinganya.
"Paman, Suamiku emh ... maksudku tuan eldric menyuruhku untuk mengantarkan lagsana itu jika sudah selesai." Karina perlahan menurunkan ponsel dari sisi kepalanya.
"Baik, Nyonya. Anda bisa bersiap-siap dulu saya akan masakannya."
"Iya, Paman. Terima kasih."
Karina membalikkan badannya dengan menggerutu ia berjalan menuju kamarnya. Baru sehari ia menjadi istri, karina sudah di suruh mengantarkan makan siang ke kantor suaminya. Jalannya saja masih belum benar, tapi suaminya itu sudah menyuruhnya untuk berpergian.
Sesampainya di kamar, Karina segera masuk ke kamar mandi ia merendam dirinya lagi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri di area intinya. Sambil memainkan busa yang ada di bathtub, Karina bersenandung kecil. Ia benar-benar menikmati saat santainya.
Setelah ia rasa cukup, Karina pun membilas tubuhnya kemudian ia keluar dan berjalan menuju walking closed untuk memilih baju.
"Hem ...pake apa. Aku nggak boleh kelihatan kayak remaja. Aku harus terlihat lebih dewasa biar nggak malu maluin Babang suami," gumamnya sambil memilih baju-baju yang tergantung di lemarinya.
Karina tersenyum lebar, saat melihat baju berwarna ungu muda. Ia pun segera memakainya kemudian memoles Wajahnya dengan sedikit makeup. Sebagai sentuhan terakhir Karina memakai sebuah kaca mata.
"Hem ... sempurna!"
Karina pun segera keluar dari kamarnya, dengan berjalan cepat ia menuruni anak tangga, lalu bergegas menuju dapur. Ia tersenyum lebar melihat Berto sudah menyiapkan kotak makan siang di meja dapur.
"Paman," panggil Karina riang.
"Nyonya, saya sudah menyiapkannya semuanya. Supir sudah menunggu anda di depan."
"Terima kasih." Karina mengangguk kecil, ia kemudian mengambil kotak makanan itu lalu segera berjalan keluar.
Seorang sopir dan dua pengawal pribadi sudah menunggunya. Ia pasrah saja dengan semuanya. Satu penjaga membukakan pintu mobil untuknya. Karina pun masuk setelah itu sang pengawal menutup pintunya dengan hati-hati.
__ADS_1
Mobil berwarna putih itu kemudian melaju keluar mansion. Membelah ramainya kota Jakarta. Rasa gugup bercampur senang karina rasakan. Ia sangat senang akhirnya bisa keluar dari mansion itu. Namun, di sisi lain ia juga merasa gugup karena ini pertama kali dalam hidupnya Karina masuk ke sebuah kantor besar, dan ia pun menyandang status sebagai seorang istri dari pemilik perusahaan itu.