
Zoe sudah berumur satu bulan, selama itu pula eldric menjadi daddy siaga setiap malam. Seperti malam ini misalnya, di tengah malam zoe menangis untuk kedua kalinya.
Eldric mengerjapkan matanya berusaha membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Karina pun sama, samar-samar ia mendengar tangis putrinya.
Karina hendak bangkit tetapi el mencegahnya. "Kau tidurlah, biar aku saja."
"Kau besok harus kerja, huaaam," ucap karina dengan mulutnya yang terbuka lebar karena menguap.
"Tidak apa-apa tidurlah."
Karina pun mengangguk, lalu mulai memejamkan matanya lagi. Karina memang sangat kelelahan, ia tidak mau mengunakan jasa baby sister meskipun itu levina. Karina memilih mengasuh zoe sendiri, ia ingin bisa lebih dekat dengan anaknya.
Siska dan Tama harus kembali ke Surabaya. Mereka menginap selama dua minggu penuh, sesekali naoki dan cleo juga datang berkunjung. Keduanya selalu datang membawa hadiah untuk keponakan kecil mereka.
Eldric segera bangkit dari tempat tidurnya.
Dengan langkah lebar ia berjalan mendekati box zoe.
"Oe..oe...!"
"Ada apa Princess, bukankah tadi mommy sudah menyusuimu, hem." eldric menundukkan kepalanya hendak mengangkat tubuh mungil zoe.
Aroma khas tercium, menusuk hidung el. Sudah bisa dipastikan dari bau harum itu kalau zoe baru saja jatuhkan bom molotov miliknya. Eldric menarik kepalanya menjauh, ia kemudian mengambil nafas dalam.
Ia menyemprotkan antiseptik pada kedua tangannya kemudian mengambil sarung tangan karet yang panjangnya sampai lengan, memakai masker. Menyiapkan tisu basah dan popok baru. Setelah semua alat tempur siap el mulai melakukan operasi penggantian popok zoe.
Dengan menahan nafas dan mengumpulkan seluruh kesabarannya akhirnya el berhasil mengganti popok zoe. Bagi el mengganti popok kotor putrinya adalah pencapaian yang sangat besar. Setelah selesai el membuang semua alat tempurnya kemudian sekai lagi membersihkan tangannya dengan antiseptik.
Zoe sudah tidak menangis ia sudah merasa nyaman setelah daddy-nya menganti popok kotornya dengan yang baru. Namun, mata zoe masih terjaga, bayi mungil itu seakan enggan untuk kembali tidur.
"Kau mau begadang zoe?" tanya el pada putrinya.
"Gnnen." zoe menggeliat sambil memainkan lidahnya.
"Baiklah, kita akan menghabiskan malam panjang ini bersama."
Eldric menggendong putri kecilnya, kemudian membawanya duduk di sofa yang ada di kamar itu. Sofa yang sebelumnya single kini di ganti menjadi sifa besar berbentuk L. Eldric duduk dengan berselonjor di sofa, zoe terus menarik-narik jari el untuk dimainkan.
"Ok princess, apa yang akan kita lakukan sekarang? aku belum bisa mengajakmu minum cappuccino sambil melihat film, jadi daddy akan menceritakan sebuah dongeng untukmu bagaimana kau suka?"
Sudut bibir zoe terangkat seolah tersenyum pada daddy-nya.
__ADS_1
"Aku anggap kau setuju dengan senyuman itu, baiklah kita pilih ceritanya." Eldric bangkit untuk mengambil ponselnya yang di nakas sebelah tempat tidurnya. Satu tangannya mengendong zoe dengan baik. Ya, el berubah menjadi super daddy setelah kelahiran putri kecilnya.
"Ok, kita pilih ceritanya," ucap eldric setelah kembali duduk berselonjor di sofa. Ia mulai menggeser layar ponselnya mencari cerita untuk zoe.
"Beauty and the beast, no daddy tidak ingin jadi monster."
Lanjut scroll.
"Little mermaid, no daddy tidak mau mommy jadi ikan dan meninggalkan daddy karena kembali ke laut."
Lanjut scroll.
"Snow white, hem kelihatannya bagus. Tokohnya sama seperti mommy kecil dan cantik. Tapi tunggu, dia makan apel beracunkan, tidak ceritanya tidak bagus. Daddy tidak ingin mommy makan apel beracun."
"Nee..neee." Tangan kecil zoe meraih-raih ponsel yang ada di tangan daddy-nya.
"Sabar sayang, daddy harus mencarikan dongeng yang bagus untukmu."
Karina menggeliat, ia sangat masih sangat mengantuk tetapi telinganya terusik dengan suara suami dan celotehan zoe.
"Sayang kau sedang apa?" tanya karina dengan suaranya yang serak. Ia sudah dalam posisi duduk di atas ranjang.
"Lihat zoe kau membangunkan mommy." zoe menanggapi ucapan el dengan memainkan lidah kecilnya.
"Honey, hati-hati," ujar el saat Karina hampir saja terjatuh. Karina hanya menyengir kuda.
Karina membaringkan dirinya di sofa dengan menggunakan paha el sebagai bantalnya.
"Kenapa zoe tidak tidur, kau juga Sayang. Kau harus ke kantor besok," gumam karina dengan matanya yang terpejam.
Eldric terkekeh geli melihat tingkah istrinya.
"Zoe ingin begadang bersamaku," jawab eldric.
"Apa dia rewel.Sayang? kalau kau lelah biar aku saja yang menjaganya." mata karina sedikit terbuka, ia ingin menjaga zoe tetapi seolah raganya tidak memungkinkan untuk melakukan itu.
"Tidak, setelah aku mengganti popoknya, zoe tidak lagi menangis'. Ia hanya terus terjaga dan tidak mau tidak jadi aku akan membacakan cerita untuknya."
"Kau mau mendongeng?" tanya karina dengan kerutan di keningnya, kali ini matanya terbuka lebar.
"Ya, hanya saja aku belum tahu cerita apa yang harus dongengkan."
__ADS_1
"Bagaimana kalau si kancil," ucap Karina menyarankan. Karina mengerakkan kepalanya di pangkuan el mencari posisi ternyaman untuk berbaring.
Eldric mengumpat dalam hati. Ia bisa gila jika karina terus bergerak di atas belutnya yang lagi bobo anteng. Bukan apa-apa, tetapi jika belut itu bangun el kewalahan untuk menidurkannya sendiri. Ia tidak pernah bisa merasakan kepuasan saat ia bermain solo.
"Honey, bisakah kau bangun sebentar?"
Karina mengerutkan keningnya, suara el terdengar tidak biasa, sangat berat dan serak seperti sedang menahan sesuatu.
"Kenapa? kau tidak suka ya aku tidur di pangkuanmu," jawab Karina dengan ketus, ia pun langsung bangun dari pangkuan el. Ia bersendekap sambil menekuk wajahnya masam
"Tentu tidak sayang, aku hanya ingin ke dapur untuk ngambil minum," kilah Eldric.
"Alasan, kau merasa aku beratkan," tukas karina dengan ketus. Kedua matanya berapi-api menatap tajam el.
"Honey, mana ada aku berpikir seperti itu. Aku hanya haus dan ingin mengambil minuman dingin di dapur, apa kau juga mau aku juga akan mengambilkannya untukmu," bujuk eldric dengan lembut, pria itu memasang senyum termanis miliknya untuk memikat hati Karina yang sedang kesal.
Karina menatap mata el penuh selidik. Akhir-akhir ini Karina memang merasa insecure dengan tubuhnya yang semakin membulat dan berat badan yabg tak kunjung turun. Sebenarnya karina tidak gemuk, pipinya hanya terlihat bertambah chubby saat ini.
"Aku mau jus buah dingin," ucap karina ketus.
"Tentu Hon, aku akan membuatkannya untukmu. Bisa tolong gendong zoe sebentar? tidak mungkin aku membuat jus sambil menggendong zoe."
"Sini."
Eldric memberikan zoe pada sang istri yang masih setia dengan wajahnya yang masam.
"Terima kasih Hon," ucap el seraya mengecup singkat kening istrinya.
"Hem."
Eldric bergegas berjalan keluar, ia harus segera mendinginkan otak dan belutnya. Lubang cacing masih bersegel rapat dan tidak mungkin baginya untuk menerobos.
Setelah cukup lama berkutat dan menghancurkan dapur, el kembali ke kamarnya.
"Honey ini jus yang kau minta."
Eldric membeku, rupanya ia terlalu lama di dapur. Saat ia kembali ke kamar karina sudah terlelap bersama zoe diatas ranjang mereka. Satu botol gantung Karina masih ada di luar bajunya, sepertinya ia terlalu lelah sampai ketiduran saat menyusui.
El meletakkan jus yang ia bawa di atas nakas. Dengan sigap ia merapikan botol gantung Karina, lalu dengan perlahan mengangkat zoe dan membaringkan tubuh mungil putrinya di box.
Setelah itu eldric membaringkan dirinya di sisi istrinya. Menarik wanita itu dalam dekapannya.
__ADS_1
"Good night Honey." eldric mengecup lembut kening dan kedua pipi sang istri.