
"Gua bilang, pergi!" teriak salah satu dari pria itu yang kini sudah berdiri di belakang pria tampan.
Pria tampan itu berbalik. Ia merasa dua laki-laki itu bukanlah orang baik. Si tampan menatap tajam.
"Siapa dia Bang? kenapa di ikat seperti itu?"
"Enggak ada urusan sama Loe," sahut seorang lagi yang kini ikut mendekat.
Keduanya berdiri di hadapan pria tampan itu. Mereka menatap pria tampan itu dengan mengancam.
"Lebih baik Loe pergi sekarang, atau gue buat loe menyesal," gertak salah satu orang berbaju hitam itu.
"Weis ...santai Bang, saya cuma nanya aja."
Pria tampan itu menyodorkan tangannya.
"Apaan?"
"Salim Bang, kan Abang udah baim kasih tau jalan. Udah gitu Abang kan lebih tua dari saya, jadi saya mesti menghormati yang lebih tua dong," ujar pria tampan itu dengan senyum ramah.
Salah satu pria itu menjabat tangan si tampan. Tanpa diduga, si tampan membalikkan badannya lalu membanting tubuh pria berbaju hitam itu dengan keras ke tanah berbatu.
"Aah ..!" pekiknya kesakitan.
Melihat temannya dibanting, pria satunya tidak tinggal diam. Ia melayangkan tinju. Namun, si tampan dengan sigap mengelak, ia kemudian memukul keras pria itu tepat di ulu hatinya.
Brugh
Brugh.
Si tampan terus melawan keduanya. Meskipun ia sendiri. Namun, dia tidak merasa kewalahan karena kemampuan taekwondonya yang mumpuni. Keduanya pria berbaju hitam itu terkapar dengan meringis kesakitan di tanah. Si tampan terlihat ngos-ngosan setelah menghajar keduanya.
Ia kemudian memecah jendela kaca mobil hitam itu, membuka paksa mobil dengan satu tangannya yang berhasil masuk ke dalam.
Si tampan merasa tidak tega melihat keadaan wanita itu, wajahnya lebam dan membiru. Pria tampan itu mengambil kain yang menyumpal mulut wanita itu.
__ADS_1
"To-long ...engh.. perutku sakit," ucapnya dengan meringis menahan sakit, buliran keringat dingin membasahi keringatnya.
"Semua akan baik-baik saja."
Si tampan membopong tubuh wanita berambut panjang itu keluar dari mobil setelah melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Ia memindahkannya ke dalam mobilnya.
"Hei .. mau di bawa kemana tawanan kami!" ucap seorang pria yang sempat dihajar si tampan.
"Tunggu sebentar," pesan pria tampan itu setelah membantu wanita itu masuk ke mobilnya.
Si tampan menghampiri pria yang tadi bertanya kepadanya. Ia kemudian menendang keras perut pria itu, merasa puas ia kembali menghajarnya sampai pria itu tidak sadarkan diri. Si tampan mengikat kedua dengan keadaan saling membelakangi. Ia kemudian menghubungi polisi untuk mengurus dua orang itu.
Pria tampan itu segera kembali ke mobilnya. Ia melihat wajah wanita itu begitu kesakitan sambil memegangi perutnya.
Ia kemudian segera menyalakan mobilnya. Dengan kecepatan tinggi pria itu mengemudi untuk sampai di rumah sakit terdekat. Ia merasa sangat tidak tega melihat wanita itu kesakitan.
Sementara di tempat lain.
Eldric duduk dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Eldric aku mencintaimu.
"Tuan."
Joe menyodorkan segelas kopi capuccino pada tuannya. Eldric menggelengkan kepalanya, ia kemudian menoleh pada pintu
ruang operasi yang tak kunjung terbuka.
Joe menghela nafas, ia kemudian meletakkan kopi miliknya dan milik eldric di sisi bangku kosong di sampingnya. Ia pun sama seperti Eldric, joe begitu mengkhawatirkan keadaan sang paman. Bagi Joe Berto adalah orang tuanya. Nasib Joe sejak kecil memang kurang beruntung. Pria tampan itu yatim-piatu sejak umur dua tahun karena kecelakaan yang merenggut kedua orangtuanya. Sejak itu Joe di rawat sang paman berto, adik dari ayahnya. Berto yang sudah mengabdi sejak muda di keluarga hugo membuat joe turut tinggal di mansion Hugo.
Joe ada di samping Eldric sejak tuan muda itu berusia 5 tahun. Joe lah satu-satunya teman Eldric. Bukan hanya itu, Berto juga berperan sebagai baby sister Eldric. Hubungan ketiga pria itu sangat erat, hingga Eldric akan membawa mereka kemanapun ia pergi, dan dengan sukarela kedua mengikuti sang tuan muda. Bahkan saat Eldric memutuskan untuk pergi ke Indonesia dan memutuskan hubungannya dengan keluarga besarnya.
"Tuan, tangan Anda?" tanya Joe khawatir melihat tangan eldric yang ruam dan memerah.
"Sudahlah jangan di pikirkan!" tukas Eldric. Ia tersenyum kecut melihat tangannya yang sangat merah, panas dan gatal.
__ADS_1
"Sebaiknya Anda pulang Tuan."
"Aku akan pulang saat berto sudah menyelesaikan operasinya!"
Joe pun diam, ia tidak ingin lagi membantah. Joe paham bagaimana berto sangat berarti di kehidupan eldric. Ia bukan hanya seorang pengasuh tapi ia juga berperan sebagai ibu dan ayah untuk Eldric.
Lampu di atas pintu operasi padam, menandakan operasi sudah selesai. Seorang dokter pun keluar dari balik pintu.
Eldric dan joe segera bangkit dari duduknya kemudian menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan paman saya dokter?" tanya Joe langsung.
"Pasien kehilangan banyak darah, luka tusuk di perutnya cukup dalam. Untungnya tidak mengenai organ penting, tapi-
"Tapi apa dokter," desak joe tidak sabar.
Sementara eldric hanya terus memperhatikan dokter dengan serius.
"Pasien sekarang koma, dan kami tidak bisa memastikan kapan pasien bisa sadar."
Bagai petir menyambar, kaki joe terasa lemas. Andai saja Eldric tidak memegangnya, ia mungkin sudah jatuh terduduk lantai.
"Lakukan yang terbaik untuk pasien Dokter," ucap Eldric.
"Pasti Tuan, kalau begitu saya permisi."
Eldric mengangguk, dokter itu pun kembali masuk ke ruang operasi. Eldric membantu Joe kembali duduk, sebenarnya ia juga sama terkejutnya dengan Joe. Namun, kehidupan el sudah menempanya menjadi orang yang tahan banting. Eldric lebih bisa menguasai dirinya.
Tak ada yang eldric katakan ia hanya menepuk pundak joe.
Setelah Berto di pindahkan keruang rawat inap. Eldric memerintahkan joe untuk tetap di rumah sakit, ia kemudian pulang mansion setelah mendapatkan kabar dari baron.
Setelah sampai di mansion eldric segera membersihkan dirinya sebelum menemui anak buahnya. Setelah cukup lama membersihkan dirinya Eldric ke ruang ganti, ia tercenung. Ruangan itu, kamar itu penuh dengan bayangan istrinya. Tiap sudut di kamar itu mengingatkan Eldric pada kebersamaan mereka. Rahang Eldric mengeras, tangannya mengepal kuat.
Ia begitu marah, dadanya begitu sakit mengingat permintaan terakhir istrinya untuk tidak meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
"Maafkan aku Honey," lirih eldric berucap.
Kata keramat yang tidak pernah ia ucapkan akhirnya keluar dari mulutnya di saat penyesalan menyesakan tiap sendi di tubuhnya. Pria itu terlihat begitu kacau, kehilangan karina sama saja ia kehilangan lentera dalam hidupnya yang gelap. Karina adalah hidupnya, Eldric seolah tak bisa bernafas saat ini. Dadanya begitu sesak dan sakit memikirkan keadaan istri dan calon-calon anaknya.