
Eldric mendudukkan istrinya di sebuah kursi yang ada di dapur.
"Honey kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa saja langsung mengusir mereka!"
"Jangan, mereka tidak boleh pulang sebelum merasakan jus spesial buatanku."
"As your wish, Honey," jawab Eldric pasrah.
Pria itu kemudian duduk di samping istrinya.
"Paman Berto!" panggil Karina.
"Iya Nyonya."
"Bisa tolong buatkan aku jus semangka dengan 30 cabai dan 3 sendok makan garam, lalu di tambah dengan lada putih bubuk dan beberapa lembar daun mint."
Berto mengerutkan keningnya mendengar resep jus yang di jabarkan oleh sang nyonya kecil. Namun Berto tidak membantah, ia mengangguk patuh kemudian segera membuat jus sesuai dengan instruksi yang di berikan karina.
"Itu resep spesialmu, Honey?"
"Iyups .. tapi belum sepenuhnya," ucap karina sambil menyeringai licik.
"Kau sangat mengemas, Honey." Eldric mengacak-acak rambut istrinya.
"Tentu saja, aku istrimu."
Setelah beberapa saat, jus spesial dengan resep khusus dari sang nyonya selesai di buat oleh Berto. Ia kemudian menaruhnya dalam dua gelas kaca. Jus semangka itu sangat merah dan terlihat sangat menyegarkan.
Setelah itu Karina meminta Berto membuat jus semangka biasa untuk dia dan suaminya.
Dengan tangannya sendiri Karina membawa jus itu keruang tamu, di mana kedua tamu spesialnya sudah menunggu mereka. Eldric membawa jus biasa yang di buat berto. Tampak serupa tapi tak sama.
Sesampainya di ruang tamu. Helena tersenyum menyambut karina. Karina pun tersenyum kecil sambil meletakkan jus buatannya di atas meja.
"Silahkan Ma, aku membuatnya sendiri khusus untuk mama dan juga kak Donna. bolehkan aku memanggilmu seperti itu Kak Donna," Karina sengaja menekankan kata Kakak.
"Silahkan, lagi pula aku memang lebih tua darimu," sahut Donna.
"Syukurlah kalau sadar situ udah tua," cibir karina lirih.
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Aku hanya mengatakan ini pertama kalinya aku membuat jus, jadi aku harap rasanya enak," ujar Karina sambil tersenyum kecil.
"Oh."
Karina kemudian mendudukkan dirinya di samping sang suami yang sudah duduk terlebih dahulu. Dengan manjanya ia menyandarkan kepalanya lengan Eldric.
Karina mengambil jus lalu memberikannya kepada eldric.
"Bagaimana Sayang, apakah enak?"
__ADS_1
"Tentu, buatanmu selalu yang terbaik." Eldric mencium mesra.
Donna sangat geram melihatnya. Ia kemudian mengambil jus miliknya dan segera menenggaknya.
Bruussst.
Donna menyemburkan cairan merah yang baru saja masuk kedalam mulutnya. Beberapa tetes cairan itu sempat masuk dan tertelan olehnya, sungguh rasa yang sulit dilupakan.
"Kau mau meracuniku!" pekik Donna.
Wanita itu merasakan mulutnya terbakar. Rasa pedas dan asin yang sangat aneh bercampur menjadi satu.
"Tutup mulutmu, jika kau tidak bisa menghargai usaha istriku. Keluar dari sini!" sentak Eldric dengan marah.
"Tapi El ini bukan minuman, ini racun," ucap Donna sambil terus menetes air liurnya.
Rasa panas cabai dan lada bubuk itu sangat membakar lidahnya. Apa lagi jus itu sangat sangat asin, Donna yakin sebentar lagi tekanan darahnya akan naik.
"Diam, atau keluar!"
"Sayang sudahlah, mungkin aku memang tidak pandai membuat jus," ucap karina dengan matanya yang memerah dan berkaca-kaca.
"Omong kosong, kau sangat berbakat, Honey." Eldric merengkuh tubuh istrinya, ia mengusap lembut rambut karina yang mulai meneteskan air mata.
Helena yang melihat ketegangan ini pun segera mengambil tindakan. Ia tidak ingin rencananya gagal, karena Donna yang membuat mood karina buruk.
"Ah .. Donna, Bibi yakin jus buatan Karina tidak seburuk itu," ucap Helena.
"Apa maksudmu tidak seburuk itu?" Eldric menatap tajam pada ibunya.
Helena mengambil gelas miliknya. Dengan ragu-ragu ia mulai meminum jus buatan menantunya. Helena merasakan lidahnya terbakar saat cairan itu mulai menyentuh indra pengecapan miliknya. Kerongkongannya terasa panas, ingin sekali dia memuntahkan cairan itu. Namun, ia harus pura-pura menikmatinya.
Wanita gila, apa dia ingin meracuniku. Sepertinya dia sudah tahu sedikit rencanaku, dia pasti sengaja melakukan ini. Awas saja, aku kan melenyapkanmu dan juga bayimu!
Ekor mata karina melirik sekilas pada sang mertua. Karina tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Helena yang sangat tersiksa, seolah ia sedang menelan batu bara. Wajah Donna pun tak kalah lucu, merah padam dengan air liurnya yang masih menetes.
"Sungguh sangat segar," ucap Helena dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Benarkah? Mama menyukainya?" Karina mengusap air mata lalu menoleh pada sang mertua.
"Aku harap, Mama tidak terpaksa mengatakan itu," ucap karina sendu.
"Hahaha ... tentu saja tidak."
"Apa Bibi yakin, aku tau jus itu terasa aneh," bisik Donna lirih pada Helena.
"Sudah diam, apa kau tidak tahu aku berusaha mati-matian agar tidak muntah," sahut Helena tak kalah lirih.
Eldric menundukkan kepalanya, ia mencium ceruk leher istrinya sambil berbisik. " Are you happy."
"Ehem, verry happy."
__ADS_1
Eldric menarik wajahnya menjauh, ia kemudian mengacak-acak rambut karina dengan gemasnya. Mereka berdua mengabaikan dua wanita yang sedang terbakar dan mulai merasakan mulas pada perutnya.
"Tuan, Nyonya makan siang sudah siap," ucap Berto yang baru saja datang.
"Baik Paman, terima kasih."
"Sama-sama Nyonya, permisi."
Berto sempat menatap sejenak pada kedua tamu yang ada di mansion. Berto tersenyum tipis, ia juga merasa senang sang nyonya berhasil dengan rencana jusnya.
"Mama, Kak Donna kalian ikut makan siang di sini kan?"
"Apa boleh?" tanya Helena balik sambil mendesis pedas.
"Tentu saja boleh, iyakan Sayang."
"Apapun untukmu," jawab Eldric singkat.
Mereka pun bersama pergi ke meja makan, dengan lancangnya Donna duduk di sebelah eldric. Karina bukan tidak tahu, ia hanya sedikit membiarkan.
Helena langsung menenggak air putih yang ada di meja sampai tandas. Ia sudah sangat tidak tahan dengan rasa terbakar dan asin di mulutnya.
"Paman, kentang panggang yang aku mau apa belum?" tanya karina pada berto yang sedang menyajikan makanan.
"Maaf Nyonya saya belum sempat mengeluarkannya."
"Tidak apa-apa, biar aku saja."
"Kak Donna bisa bantu aku sebentar."
"Iya baiklah."
"Terima kasih Kak Donna memang orang baik."
Mereka berdua akhirnya pergi ke dapur. Karina segera mengeluarkan kentang dari oven, sementara Donna hanya melipat tangannya.
"Kak Donna, mau teh nggak? Aku mau bikin," ucap Karina sambil menatap kentang di piring.
"Terserah."
Karina membawa mug besar lalu mengambil air panas sampai mug itu penuh. Karina mencelupkan kantong teh lalu berjalan mendekati Donna.
Byur.
"Aaaaaaaa ... Dasar wanita gila!" jerit Donna.
Wanita itu merasakan panas yang teramat pada tubuhnya, apalagi ia memakai baju yang cukup terbuka. Sehingga air panas itu langsung mengenai kulitnya.
Bukannya menolong Karina malah memegang tangan Donna kemudian menariknya ke meja.
"Apa yang kau lakukan!"
__ADS_1
Karina menyeringai licik, ia mendekatkan tangan Donna pada nampan oven yang masih panas. Namun, bukannya menyentuh tangan Donna Karina malah menyentuhkan tangannya sendiri.
"Aaahh .... Suamiku!" pekik Karina.