Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Menggoda


__ADS_3

Karina duduk di atas sofa, ia menekuk lututnya memeluknya erat menopangkan dagu di atas lutut. Mata kecilnya menatap keluar jendela, matanya yang basah menunjukkan bahwa ia baru saja menangis.


Eldric membuka pintu kamar perlahan, ia melangkah masuk dengan membawa ravioli yang di masak istrinya. Eldric menghela nafas panjang, ia merasa bersalah karena membuat istrinya bersedih. Perlahan ia berjalan mendekati Karina lalu mendudukkan dirinya di belakang sang istri.


"Hey, apa kau tidak lapar. Ku dengar kau tidak makan siang hari ini, apa mau aku suapi?" tanya eldric lembut.


Pria itu meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja. Melihat sang istri yang masih tidak bergeming, eldric mendesah membuangnya kasar.


"Kenapa kau begitu marah? itu hanya sebuah ravioli."


Karina menurunkan kakinya membalikkan badannya cepat, dengan tajam ia menatap pria yang ada di hadapannya.


"Hanya sebuah ravioli, iya itu hanya sebuah makanan. Lalu Kenapa aku harus marah, apalagi pada orang sepertimu yang tidak pernah menghargai usaha orang lain!" teriaknya pada eldric.


Eldric tersenyum kecil, ia membiarkan istrinya melampiaskan kekesalannya.


"Sudah?"


"Belum, rasanya aku ingin mencakar wajahnya dan memukulmu sampai aku puas!"


"Lakukan, tapi sebelum itu kau harus makan. Kau tidak akan punya cukup tenaga untuk menhajarku kalau kau bahkan belum makan sedari siang."


Eldric mengambil piring yang ada di meja, ia kemudian mulai menyuapkan makanan ke mulut Karina yang masih tertutup rapat.


"Buka mulut," titahnya pada Karina.


Karina menggelengkan kepalanya, gadis itu sepertinya masih kesal.


"Buka atau aku akan memaksamu untuk membukanya," ancam eldric dengan mata menatap tajam pada Karina.


Mau tau mau akhirnya Karina membuka mulutnya. Eldric mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya, setelah itu ia menyuap makanan untuk dirinya sendiri. Mereka pun menghabiskan makanan itu sampai tak bersisa. Dengan telaten eldric mengusap lembut saus tomat yang ada di ujung bibir karina.


Eldric mengangkat tubuh mungil istrinya hingga berpindah ke pangkuannya. Gadis itu masih setia dalam heningnya. Eldric melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Karina.


"Aku tidak tahu kalau kau yang membuatnya," ucap eldric dengan sangat lirih.

__ADS_1


"Memang ada bedanya. Aku atau paman berto ya membuatnya kau tidak boleh menghinanya," ketus Karina.


"Iya, aku tidak akan mengulanginya."


"Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan selain itu?" kini Karina menoleh kearah sang suami.


"Apa?" eldric mengerutkan keningnya.


"Apa yang seharusnya di ucapkan setelah seseorang melakukan kesalahan." Karina menyatukan kening mereka.


"Aku tidak pernah mengucapkannya,"jawab Eldric apa adanya. Tatapannya berubah seperti ada kesedihan yang ia rasakan


Tumbuh di keluarga yang keras dan hanya saling menjatuhkan serta berebut kekuasaan, membuat Eldric tumbuh menjadi sosok yang keras pula kata keramat itu belum pernah sekalipun keluar dari mulutnya. Eldric hanya di ajarkan memangsa atau di mangsa, dalam keluarganya segala cara dilakukan untuk bertahan dan menjadi posisi tertinggi. Kelahiran eldric termasuk di dalamnya, tidak ada kelahiran yang tidak di rencanakan. Tidak ada satu bayi yang akan lahir tanpa memberikan keuntungan.


"Kenapa tidak, seseorang yang meminta maaf tidak akan merendahkan dirinya dan dia pasti orang yang memiliki hati yang mulia sedangkan orang yang memaafkan pastilah memiliki hati yang baik. Jadi maukah kau mengucapkannya," bujuk Karina.


Kini gadis itu melingkarkan tangannya di leher suaminya, dia yang awalnya marah kini merasa iba melihat tatapan suaminya yang begitu sendu. Rasa kesalnya menguar begitu saja, saat ini ia hanya ingin membuat suami kembali tersenyum dan berbuat nakal padanya.


Karina mengusapkan ujung hidung mereka.


Karina menatap Eldric dengan mata yang di buat membulat, terlihat sangat imut seperti anak anjing yang sedang memelas. Eldric tersenyum miring melihat tingkah laku istrinya. Ia menurunkan Karina dari pangkuannya.


"Aku akan membawa ini ke dapur, bersihkan dirimu." Eldric mengacak-acak rambut istrinya dengan gemas.


Eldric mengambil piring kotor di meja lalu melenggang pergi ke luar dari kamar. Karina hanya bisa menatap nanar pada punggung suaminya sampai benar-benar berlalu dibalik pintu. Ia merasa kehidupan eldric tidak semudah dan sesederhana yang ia lihat, tatapannya tadi begitu sayu dan lelah. Seperti sebuah beban berat yang di pikuknya selama bertahun-tahun.


"Hem ... bayi besarku, seperti aku yang harus lebih mengalah dan bersikap dewasa di rumah ini," gumam karina.


Tiba-tiba Karina teringat rencananya yang sempat ia lupakan gara-gara marah. Ia pun segera bangkit lalu melangkah ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri. Setelahnya ia segera bergegas menganti bajunya.


"Pake yang mana ini, yang hitam atau yang pink. Tapi kok gini banget ya ... issh tahan malu demi kembali sekolah. Semangat!"


Tanpa sadar ia sudah menghabiskan 1 jam di dalam walking closed. Saat Karina keluar sang suami sudah menunggunya di atas ranjang. Dengan tersenyum kecil Karina berjalan menghampiri suaminya. Eldric menatap Karina dengan mata elangnya. Tidak bisanya istri kecilnya itu memakai dress saat mereka akan beristirahat.


"kenapa tidak makai bajuku seperti biasanya?" tanya Eldric penuh selidik.

__ADS_1


"Apa aku tidak boleh memakai bajuku sendiri? aku hanya ingin terlihat cantik di hadapan Suamiku." Karin menyibakkan rambutnya memamerkan leher jenjangnya.


Karina memutuskan untuk memakai dress selutut berwarna putih dengan kancing di bagian depan, tanpa lengan ini tanpa cantik melekat di tubuhnya. Tadinya ia ingin memakai baju haram. Namun, ia belum punya cukup nyali untuk memakainya.



"Kau sedang menggodaku?"


"Menurut Anda?"


Karina mulai naik keatas ranjang, ia mulai menciumi kedua pipi suaminya kemudian turun ke leher kokohnya. Hari ini Karina benar-benar berniat menggoda sang suami. Ia bahkan berani menyentuh si belut yang masih bobo anteng dalam pengamanan.


Eldric mendesis saat Karina mulai memainkan tangannya mengelus si belut yang perlahan berubah menjadi piton. Tak tahan, eldric membalikkan keadaan. Karina yang tadinya merayap di atasnya kini ia kungkung di bawah.


"Ish ...aku kan ingin di atas!" protes Karina.


"Kau terlalu lambat."


Eldric langsung menyerang bibir ranum istrinya, dengan lahap ia menyesapnya. Eldric dengan kasar merobek gaun yang di pakai Karina, hasrat yang tertahan selama dua hari harus segera ia salurkan.


Karina melenguh panjang saat eldric mulai bermain dengan dua squshy miliknya.


"Tunggu-tunggu, Suamiku bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Karina di sela desahannya.


"Ck ... jangan sekarang, aku harus fokus pada sarang cacingmu," jawab Eldric tidak sabar. Tangannya sedang menuntun si belut masuk ke dalam sarang cacing.


"Tapi aku mau jawabannya sekarang?"


"Apa? apa yang kau inginkan?!" jawab eldric mulai tidak sabar.


"Aku mau kembali sekolah," lirihnya tertahan karena eldric mulai memasuki lubang cacingnya.


"Ah ... lakukan apapun yang kau suka."


Eldric mulai memacu tubuhnya, entah sadar atau tidak saat ia menjawab keinginan istrinya. Yang ia butuhkan sekarang adalah sebuah pelepasan. Malam itu terasa panjang. Suara kedua kembali memenuhi kamar itu setelah dua hari hening. Peluh keduanya melebur menjadi satu.

__ADS_1


__ADS_2