Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Jahat!


__ADS_3

Eldric baru saja selesai membersihkan dirinya. Setelah satu jam lebih pria itu menghabiskan waktunya di kamar mandi akhirnya ia keluar. Dengan rambut yang masih basah dan handuk yang melilit di pinggangnya. Eldric berjalan mendekati istrinya yang sedang duduk di sofa single tanpa sandaran, yang ada di meja rias. Ia memeluk Karina dari belakang, pria itu merunduk menopangkan dagunya di bahu mungil istrinya.


"Kenapa Anda begitu bau?" karina langsung menutup mulut dan hidungnya dengan tangan.


"Bau?"


Karina mengangguk cepat, ia merasa sangat mual mencium bau sabun yang masih menempel di kulit suaminya.


"Aku membersihkan diriku dengan baik, bagaimana kau bisa bilang aku bau!" sentak Eldric geram.


Ia benar-benar tidak terima Karina mengatakan dirinya bau. Padahal sedari seharian tadi ia sangat manja dan tidak mau melepaskan lengannya.


"Tapi, Anda memang sangat bau. Aku ingin muntah!"


Karina melepas pelukan suaminya. Ia segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi, perutnya terasa bergejolak mencium bau yang menempel pada suaminya. Dalam kamar mandi rasa mual itu bertambah parah, karena bau sabun makin tercium memabukkannya.


Dengan cepat karina berlari keluar dari kamar mandi, Eldric yang melihat istrinya berlari segera mengikuti langkahnya. Kaki kecil Karina melangkah meninggalkan kamar utama yang di tempati bersama sang suami.


"Karina!" panggil Eldric pada istrinya yang berjalan cepat didepan.


Seakan tuli Karina malah mempercepat langkahnya. Sampai di kamar lamanya, ia segera membuka pintu kemudian bergegas ke kamar mandi. Tak menunggu lama ia langsung mengeluarkan isi perutnya, semua apa yang ada di lambungnya.


"Hoek! Hah ...hah..!"


"Karin!"


"Stop, berhenti di sana!" pekik Karina. Sambil mengacungkan kelima jarinya.


Eldric menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar mandi. Ia menatap wajah Karina yang terlihat pucat dengan cemas.


"Apa yang terjadi, kenapa kau muntah lagi. Bukankah dokter sudah memberikanmu anti mual?"


"Ini semua karena Anda, Bau!"


"Aku baru saja selesai mandi, bau dari mana? pasti ada masalah dengan hidungmu itu," ujar Eldric tidak terima.


"Tapi Anda memang bau, saya mohon Anda menjauh dari saya," ucap karina dengan wajahnya yang memelas.


"Lalu bagaimana?" Eldric mengacak-acak rambutnya kesal.


"Saya akan tidur sendiri malam ini. Saya akan tidur di kamar ini lagi."


"Tidak! tidak bisa, aku suamimu. Kau harus tidur bersamaku."


Eldric melangkahkan kakinya mendekati istrinya. Namun, ia urungkan karena Karina kembali mengeluarkan isi perutnya. Eldric mengusap wajahnya kasar.


"Agh ... sial, Kenapa harus seperti ini!"

__ADS_1


Eldric meninggalkan Karina dalam kamar mandi. Pria itu kembali ke kamarnya sendiri dengan kesal.


Setelah memakai baju, ia merebahkan dirinya di atas ranjang. Mengunakan dua tangannya sebagai bantal. Kamar itu terasa sangat sepi, Eldric tidak bisa memejamkan matanya. Ia tidak terbiasa seperti ini, entah sejak kapan pria itu bergitu bergantung dengan kehadiran istri kecilnya itu.


Mata Eldric menerawang jauh mengingat bagaimana hilang ia bertemu dengan istrinya. Pria dekil itu kini menjelma menjadi seorang gadis yang imut dan sangat cantik. Tiba-tiba terselip dalam pikiran Eldric alasan sang istri menutupi identitasnya. Sampai saat ini karina belum mau menceritakan hal itu kepadanya.


Perlahan mata Eldric terasa berat. Ia pun terpejam dengan segalanya penat di badannya setelah seharian menemani istrinya bermain.


"Huaaa...!"


Baru saja rasanya mata eldric terpejam. Sebuah teriakan memekikkan telinganya membuat Eldric terkejut. Sontak ia pun bangkit dari tidurnya.


Karina, istri kecilnya itu berdiri diambang pintu sambil menangis kencang. Air matanya sudah sembab dengan ingusnya yang belepotan di pipi, sungguh pemandangan yang menjijikkan jika itu orang lain. Namun, beda halnya jika itu istri imutnya.


Eldric mengambil sekotak tisu di meja. Ia pun bangkit dan melangkah mendekati istrinya. Dengan lembut ia mengusap ingus dan air matanya yang meleleh di pipi mulusnya.


"Kenapa menangis? apa kau mimpi buruk?"


tanya eldric sambil mengusap pipi Karina.


"Anda jahat!" pekiknya.


"Jahat?" tanya eldric bingung.


"Anda tau saya sedang mengandung anak Anda, tapi Anda menelantarkan saya di kamar dan membiarkan saya tidur sendirian di sana ..hiks ...hiks ...dasar laki-laki kejam. Tidak bertanggung jawab!" marahnya pada eldric.


Eldric hanya bisa melongo mendengar ucapan istrinya. Sepertinya eldric harus punya kesabaran yabg sangat ekstra untuk menghadapi masa kehamilan istrinya itu. Meskipun ia tidak yakin bisa bersabar sampai akhir.


"Sekarang sudah tidak," ucap karina lirih.


Ia mengambil tisu yang ada di tangan suaminya dengan kasar, kemudian mengeluarkan mengeluarkan ingusnya dengan keras.


"Tuan."


Joe dan Berto tergopoh-gopoh menghampiri kamar Eldric saat mendengar jeritan dari sang nyonya. Keduanya masih memakai piyama dan muka yang bau bantal.


Karina dan Eldric menoleh kearah dua orang yang baru saja berdiri di samping Karina. keduanya berdiri dengan masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Sangat kentara mereka berlari dengan sekuat tenaga.


"Apa?" tanya Eldric datar.


"Kami hanya khawatir, mendengar suara Nyonya berteriak," jawab Berto.


"Tidak ada apa-apa, kembalilah."


"Baik Tuan," jawab keduanya serempak.


Mereka pun mulai melangkah menjauh Setelah menundukkan kepalanya dengan hormat.

__ADS_1


"Tunggu Joe!"


"Iya Tuan."


"Bersihkan semua tisu ini!"


"Baik." Joe pun segera berjongkok memunguti tisu kotor lalu Setelahnya ia melangkah menjauh dari kedua majikannya itu.


"Sekarang apa yang kau inginkan?" tanya eldric saat joe sudah pergi dari sana.


"Gendong, aku mau tidur disini." Karina merentangkan kedua tangannya.


Eldric mendengus kecil. Ia pun langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dan mengendongnya seperti koala. Karina bergelayut manja di leher suaminya yang kokoh. Terasa nyaman dan sungguh menenangkan. Eldric menendang pintu untuk menutupnya.


Kemudian pria itu melangkah lebar mendekati ranjang, Eldric membaringkan istrinya dengan sangat perlahan. Kemudahan ia sendiri berbaring di sebelah istrinya itu.


Karina menyusupkan dirinya di ketiak Eldric seperti seorang anak yang mencari kenyamanan pada ibunya. Ia sungguh merasa nyaman ada di sana.


Eldric mendekapnya erat, kemudian menutupi tubuh mereka dengan selimut.


"Kenapa kau sampai menangis sekencang itu? bukankah kau bisa langsung naik keatas sini bersamaku, hem?" tanya eldric sambil membelai lembut rambut istrinya.


"Saya takut, Anda meninggalkan saya begitu saja, saat saya merasakan Anda tidak ada di samping saya tadi," jawab Karina apa adanya.


Eldric tersenyum lucu. Ia mendongakkan wajah karina dengan menaikkan dagunya. Ia mengecup dua matanya yang sedikit sembab kemudian turun ke kedua pipinya dan terakhir ia ******* lembut bibir mungilnya.


"Berapa lama kau menangis, matamu sampai sembab seperti ini?"


"Sejak aku bangun dan tidak menemukan Anda."


"Sekarang tidurlah ini sudah sangat malam." Eldric mengecup singkat kening Karina.


Karina semakin menyusup kedalam pelukannya.


"Apa sekarang tidak bau?"


"Tidak, aku suka bau Anda yang sekarang. Aku hanya mual saat mencium bau sabun tadi, menjijikkan. Aku sampai muntah berkali kali," keluhnya.


"Jadi kau mual karena wangi sabun itu?"


"Iya. Suamiku, aku ngantuk," rengekannya manja.


"Hem ... tidurlah, aku akan memelukmu sampai pagi."


Kemudian ia memejamkan matanya Begitu pula karina, wanita itu mulai terpejam menikmati kehangatan pelukan sang suami. Tidak ada tempat nyaman selain dekapan suaminya sekarang.


Hai gaes..😆😆

__ADS_1


Mampir di nopel Temen aku yuk..



__ADS_2