Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Istri yang baik


__ADS_3

Setelah Donna keluar dari ruangan itu, barulah Karina bernafas lega. Tegang juga rasanya menghadapi bibit pelakor di hari pertamanya sebagai seorang istri.


Karina menghela nafasnya panjang. Ia kemudian beranjak turun dari pangkuan suaminya. Namun, Eldric mencegahnya. Karina pun menatap tajam pada suaminya yang tengah melihatnya dengan lucu.


"Apa lihat- lihat?" sentaknya pada eldric. Karina merasa kesal pada sang suami yang melihatnya sambil tersenyum.


"Boleh juga tadi. Aku tidak salah menjadikanmu sebagai Istriku," pujinya pada sang istri.


Hidung Karina langsung kembang kempis mendengar pujian dari suaminya itu. Ia mengatupkan bibirnya dengan pipi yang bersemu merah.


"Bisa aku menanyakan sesuatu?"


"Apa?" Eldric mengangkat tubuh mungil karina hingga ia duduk di atas meja kerja Eldric.


Eldric meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri kemudian melekatkan satu tangan Karina di atas kepalanya. Karina tersenyum ia mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya. Karina menggerakkan tangan membelai lembut rambut suaminya.


"Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa dia bilang ingin menikah denganmu? aku merasa jadi penghalang hubungan kalian saat dia mengatakan kalau kalian di jodohkan sejak kecil?" tanya karina sambil terus memainkan rambut pendek suaminya.


Eldric menghela nafasnya panjang. Sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


"Itu kemauan mamaku, dan aku tidak pernah mengiyakannya. Jangan hiraukan dia. Aku sudah cukup puas kau melawannya seperti itu, aku sudah muak dengannya. Tapi ..."


"Tapi apa?"


Eldric mengangkat kepalanya, menatap dalam pada wajah kecil yang ada di hadapannya.


"Tapi kau harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ibu mertuamu,"ujar Eldric penuh kesungguhan.


"Mertua ya. Kapan?"


"Belum pasti, tapi dia pasti akan segera datang setelah mendapatkan laporan dari wanita itu."


Eldric mulai menyusupkan tangannya di gaun yang dia pakai istrinya. Karina mengerutkan keningnya, dengan tangannya ia berusaha menahan tangan eldric agar tidak bergerak sembarangan bergerak dibalik dress-nya.


"Kenapa? bukankah kau Istriku, jadi aku berhak menyentuhmu dimana pun aku mau," ucap Eldric dengan seringai liciknya.


"Eh ...itu tadikan cuma sandiwara buat ngusir ulet keket," ucap Karina dengan terbata.

__ADS_1


"Lagi pula saya seharusnya mendapatkan hadiah, karena sudah berhasil mengusirnya dari ruangan ini."


"Hadiah? kemarin kau baru mendapatkan mansion. Sekarang apa lagi yang kau inginkan?" Eldric menarik kembali kembali tangannya dari balik dress istrinya.


Ia menopangkan dagu di atas kedua jemari tangannya yang bertaut. Ia menatap manik mata yang sedang menatapnya dengan lucu.


"Aku belum memikirkannya, tapi aku mau sesuatu. Tidak ada istri yang sanggup menghadapi pelakor di hati pertamanya sebagai istri. Bisa saja saya marah dan meminta berpisah dari anda, tapi aku tetapi saya berbesar hati dengan tetap berada di samping anda. Hem ...saya istri yang baik buka!" puji Karina pada dirinya sendiri. Ia mengedipkan sebelah matanya.


Eldric mendengus kecil dengan senyum miring di bibirnya.


"Istri yang baik ya, dan sebagai istri yang baik bukankah kau harus melayani suamimu. Hem."


Karina menelan salivanya, tatapan sang suami sungguh membuatnya takut. Seolah ia ingin mencabik-cabik tubuhnya sekarang.


Eldric menyingkap dress yang dipakai Karina. la kemudian mengunci kedua tangannya ke belakang, dan bibirnya sudah menyusuri paha mulusnya. Karina mulai me*desah, saat tangan suaminya mulai mengusap lubang cacing miliknya.


"Su- suamiku tolong hentikan, ini kantor. Bagaimana kalau ada yang masuk?"


"Ini kantorku. Tidak ada yang berani masuk tanpa perintahku!"


"Suamiku mohon pelan, itu sakit!" pekik Karina saat suaminya mengigit gemas paha mulusnya.


Tangan besarnya mulai meremas squshy kesukaannya.


"Ehhmmmm..."


Bibir mungil istrinya pun ia ***** dengan begitu kasar. Karina sedikit mendorong tubuh kekar suaminya. Eldric pun melepaskan tautan bibirnya, ia memangku sang istri dia atas pahanya


"Suamiku, punyaku masih bengkak. Bisakah kita berhenti," rengek Karina dengan mata sayunya.


Kini keduanya sudah sama polosnya, eldric telah memindahkan aktivitas panas mereka ke dalam kamar. Eldric mengarahkan tangan Karina menyentuh belut miliknya yang sudah mengeras. Mata Karina membulat sempurna, ia merasa menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh.


"Sudah seperti ini dan kau minta berhenti, lalu dengan apa aku harus menidurkannya?"


"Tapi punyaku masih perih dan itu sangat panjang, bisakah kau mengecilkannya sendiri. Aku takut nanti sakit lagi." tanpa sadar Karina malah mengelus belut suaminya.


"Ini sudah ukurannya, bagaimana aku harus mengecilkannya. Bukankah tambah panjang, tambah puas ya?"

__ADS_1


"Tapi punyamu itu terlalu besar dan panjang, nanti kalau aku berdarah lagi gimana? aku takut tidak akan muat." Karina menundukkan kepalanya melihat belut sang suami yang sudah tegak berdiri sambil mengangguk-angguk minta di masukkan.


"Kemarin malam muat kok, tenang saja," ucap eldric berusaha menyakinkan sang istri.


Belut miliknya sudah sangat ngiler melihat sarang cacing yang kembang kempis memanggilnya untuk masuk. Apa lagi rumput hitam tipis yang menambah asoy pemandangan lubang cacing karina, membuat Eldric sudah tidak sabar untuk memasukinya.


"Tapi masih perih," rengek karina lagi.


"Aku akan memeriksanya."


"Eh ...!"


Eldric mendorong tubuh Karina hingga istrinya itu jatuh terlentang di atas ranjang. Dengan sigap ia membuka lebar kaki mungilnya. Penampakan sang belut berwarna pink jelas terpampang di hadapannya. Eldric menelan salivanya, sungguh pemandangan yang sangat indah dan menggoda.


"Bagaimana masih bengkak kan?" tanya karina dengan wajahnya yang memelas.


Bukan ia tidak ingin melayani suaminya. Ia pun sudah ingin merasakan sengatan listrik dari belut yang sudah tegak berdiri, lubang miliknya juga sudah berkedut seolah mengundang sang empunya masuk. Namun, rasa sakit kemarin malam masih membuatnya merasa takut.


"Sedikit, aku akan menyembuhkannya."


"Emh ... Suamiku apa yang kau lakukan!" pekik Karina saat melihat sang suami menundukkan kepalanya diantara pahanya.


Tidak menjawab Eldric langsung menyerang dengan lidahnya. Dengan lihainya Eldric memanjakan istrinya dengan kecupan-kecupan kecil di lubang cacing. Karina mengerang, tubuhnya menggelinjang hebat. Suara manja miliknya mulai menggema di ruangan istirahat itu. Seperti ada listrik yang menjalar ke seluruh tubuh, Karina mulai menegang.


"El ...aku ingin pipis. Hentikan," rengek karina manja di sela des*hannya.


Eldric mempercepat gerakan lidahnya, menyesap biji kecil yang ada di antara lipatan kecil di pintu lubang cacing. Karina meremas rambut suaminya, tanpa sadar ia menekankan lebih dalam.


"Ugh ... Eldric. Aku tidak tahan."


Tubuh karina menegang ia merasa sesuatu yang akan keluar sekarang juga. Eldric menjauhkan kepalanya, membiarkan sang istri menikmati puncaknya. Eldric tersenyum melihat sang istri dengan wajah sayunya.


Eldric mengangkat tubuh mungil istrinya yang baru saja melewati gelombang kenikmatan. Kini Karina berada di atas tubuh suaminya yang bersandar di ranjang.


"Sekarang giliranmu, puaskan aku."


Karina mengangguk kecil, perlahan ia mulai mengarahkan si belut ke sarangnya yang sudah basah. Keduanya mengerang saat si belut sudah masuk sepenuhnya.

__ADS_1


Karina mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan perlahan, gerakan lembut yang membuat eldric menggila. Tak tahan, kedua tangannya memegangi pinggul Karina menggerakkannya maju mundur dengan cepat.


Karina memekik keras saat si belut masuk dengan dalam dan cepat. Leng"han dan des*han tak henti menggema di sana. Tubuh Karina terus di pacu, sampai akhir ia tumbang di atas tubuh suaminya.


__ADS_2