
Hawa dingin menyergap tulang. Hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum menampakkan sinarnya. Namun, itu tidak menyurutkan semangat orang untuk beraktivitas. Beda halnya dua manusia yang sedang bergulung di bawah selimut, setelah melakukan aktivitas panas sebelum tidur sepertinya mereka terlalu lelah untuk membuka matanya.
Tiba-tiba Karina membuka matanya. Tenggorokannya terasa sangat kering, ia kemudian bangkit lalu duduk. Rasa dahaga begitu menyiksanya. Karina melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia kemudian menoleh, menatap wajah suaminya yang tertidur pulas. Karina menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya pada telinga sang suami.
"Sayang, El," bisiknya lirih.
Karina berdecak kesal, karena tak eldric tak meresponnya sama sekali. Ia mengoyangkan tubuh bayi besarnya yang semalam sudah puas menyusu.
"Suamiku bangun!" pekik karina sambil terus menggoyangkan tubuh suaminya.
Sebenarnya Eldric mendengar suara sang istri yang sedang memanggilnya, hanya saja ia terlalu malas untuk membuka matanya.
"Eldric bangun!" teriak karina tepat di telinga suaminya.
Seketika Eldric membuka matanya. Ia menggosok telinganya yang terasa berdenging karena teriakkan istrinya.
"Ada apa, Hon?" tanya Eldric dengan suaranya yang serak.
"Aku haus, pingin minum es," rengekannya manja.
Eldric bangkit dari tidurnya, ia kemudian mendudukkan dirinya. Eldric menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Sayang, ini jam tiga pagi!"
"Aku juga tau ini jam tiga, tapi aku ingin makan es campur sekarang!"
"Es Campur?"
Karina mengangguk kecil. Ibu hamil itu merasa sangat ingin memakannya sekarang. Eldric menghela nafasnya, seperti biasa keinginan Karina tidak akan bisa ditolaknya.
"Baiklah aku akan meminta membuatnya." Eldric menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian menurunkan kakinya satu persatu.
"Aku tidak ingin buatan paman berto, mereka ingin Daddy membelikannya sendiri," ucap Karina memelas sambil mengusap perut buncitnya.
Mendengar hal itu eldric langsung menoleh kearah istrinya.
"Ini jam tiga pagi, kemana aku harus membeli es itu di jam seperti ini!"
"Emang aku perduli, aku cuma mau makan itu. Kenapa kau pelit sekali? aku tidak minta gelang emas, atau berlian yang akan membuatmu bangkrut. Aku hanya meminta semangkuk es campur El, kenapa kau tidak mau membelikannya untukku," ucap karina dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Baik-baik jangan menangis, Ok. Aku akan keluar dan membelikannya sekarang, apa kau senang?" Eldric mengusap lembut air mata karina yang mulai meleleh di pipinya yang mulus.
"Janji ya beli sendiri, jangan suruh Pak Joe."
Eldric mendengus kesal.
"Sayang janji ya," ulang Karina.
"Iya iya janji, dasar bawel." Eldric mencubit gemas hidung mungil istrinya.
Karina tersenyum kecil.
Eldric melangkahkan kakinya ke ruang ganti untuk mengambil jaket. Setelahnya pria bertubuh tegap itu pun berpamitan pada sang istri yang sudah duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, Honey." Eldric mengecup kening istrinya kemudian ia sedikit merunduk untuk mencium perut Karina.
"Doakan Daddy bisa membawa pulang apa yang di inginkan Mommy."
Cup.
Eldric pun melangkah membalikkan badannya. Ia melangkah menjauh menjauh pintu.
"Selamat berjuang Sayang!" pekik karina sebelum suaminya benar-benar hilang di balik pintu.
Eldric yang baru saja keluar dari kamar, segera bergegas menuju sisi lain mansion. Dimana kamar Joe dan beberapa asisten penting Eldric lainnya berada.
Tok ... tok..tok...
"Joe buka pintunya!" seru Eldric setelah mengetuk pintu berwarna putih itu dengan keras.
Joe yang mendengar suara sang tuan memanggil pun segera bangun dan melompat turun dari ranjangnya.
Joe membuka pintu kamar. Ia terkejut saat mendapati sang tuan yang berdiri di depan kamarnya dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ini adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi, kecuali keadaan benar-benar genting.
"Ada apa, Tuan? " tanya Joe yang masih harus beberapa saat lagi mengumpulkan nyawanya.
"Joe apa kau tau tukang es campur yang buka jam segini?"
"Apa Tuan! es campur?!" pekik joe terkejut.
"Apa ada masalah dengan telingamu Joe! Hais kenapa semua orang berteriak hari ini," keluh eldric kesal.
Joe yang melihat sang tuan merasa tidak tega. Namun, ia sendiri juga tidak tahu kemana harus mencari makanan seperti itu di jam seperti ini.
Dicari pedagang es campur yang buka sekarang juga! saya akan bayar mahal!
Setelah membagikan info itu di media sosial. Joe memeluk erat ponselnya, berharap keajaiban akan datang. Eldric melirik sekilas pada asistennya yang sedang memeluk ponsel di sampingnya.
"Kenapa kau memeluk benda itu? apa kau sudah belok jadi pencinta benda mati?" tanya eldric tanpa rasa bersalah.
Sembarangan Tuan, benda ini akan membawa keajaiban untuk Anda.
"Tidak Tuan, saya hanya merasa dingin jadi saya memeluknya," elak joe sekenanya.
"Cih, dasar jomblo!"
Joe melengos, ia berusaha tidak mempedulikan omong kosong sang tuan sang sedang kacau. Eldric mendesah saat ponselnya berdering lagi setelah baru saja ia menutupnya 10 menit yang lalu. Dengan malas ia menggeser logo hijau di layar ponselnya.
"Iya Honey, aku sedang berusaha mencarinya. Ini sudah hampir jam 4 mungkin saja akan ada yang buka, iya sabar ya. Tunggu saja sebentar lagi, ok."
Eldric melemparkan tatapan bengis pada sang asisten. Seorang Joe adalah orang yang membuatnya harus berkeliling Jakarta di pagi buta. Joe menelan salivanya, ia berharap agar ponselnya memberikan sebuah berita baik untuk menyelamatkan hidupnya.
Triing.
Sebuah notifikasi dari media sosial berlogo biru masuk. Mata Joe berbinar saat membaca notifikasi yang masuk.
"Tuan, ada penjual es yang buka."
__ADS_1
"Bagus, tunggu apalagi. Cepat nyalakan mobilnya!"
Joe mengangguk, setelah membalas pesan pada kolom komentar. Joebdengan cepat ia menyalakan mesin mobil. Kuda besi itu pun melaju ke sebuah alamat yang tertera di ponsel joe.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah warung es bercat hijau. Warung itu memang belum buka. Namun, pintu di sampingnya sudah terbuka. Eldric segera turun dari mobilnya, ia melangkah lebar ke pintu warung yang terbuka.
"Permisi, apa ini benar warung es pak Jabrik?" tanya eldric dengan suara baritonnya.
Seorang laki-laki paruh baya keluar dari dalam rumah. Dengan membawa dua dua bungkus es campur yang sudah ia siapkan.
"Tuan yang bikin pengumuman di bukuwajah tadi ya?"
Eldric mengangguk.
"Ini Tuan, dua bungkus. Di bayar biasa harga normal saja 20 ribu," ujar pria itu sembari menyodorkan kantong kresek yang ia bawa.
Eldric mengeluarkan botol desinfektan kecil miliknya, kemudian ia menyemprotkan kantong kresek itu sebelum menerimanya, si pedagang merasa aneh. Namun, ia berusaha mengerti tingkah orang kaya.
"Ini." Eldric mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya.
"Ini terlalu banyak Tuan."
"Tidak apa-apa, terima saja."
"Terima kasih Tuan, saya doakan semoga kehamilan istri Anda sehat sampai lahiran," ucap pedagang es itu penuh syukur.
Eldric mengerutkan keningnya.
"Dari mana kau tau Istriku hamil?"
"Hanya orang ngidam yang mau makan es jam segini Tuan," jawab pedagang itu.
"Hah.... kau benar."
Eldric pun segera kembali ke mobilnya. Ia membawa es campur itu dengan penuh rasa bangga.
Mansion.
Eldric melangkahkan kakinya lebar masuk ke mansion. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya, ia bisa membayangkan wajah bahagia istrinya saat melihat es campur yang di bawanya.
"Honey, kenapa kau duduk di sini?" tanya eldric cemas.
Wanita hamil itu duduk sofa di ruang tamu sambil menikmati segelas jus melon dingin.
"Menunggumu lah, apa lagi."
"Lalu apa yang kau minum?" Eldric mendudukkan dirinya di sebelah sang istri.
"Jus melon dingin. Aku meminta Paman untuk membuatkannya, aku capek menunggumu pulang," Keluh Karina.
"Lalu es campur ini."
"Kau makan sendiri aku sudah tidak selera." Karina bangkit dari duduknya, ia melangkah menjauh meninggalkan suami.
__ADS_1
Eldric menatap nanar pada bungkusan plastik yang ia taruh di atas meja. Rasanya Ingin salto sambil guling guling.