
Sebuah pesta kecil dibuat Joe dan para penghuni mansion lainnya untuk menyambut kedatangan zoe. Balon balon berwarna pink menghias ruang tamu.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan mansion. El segera keluar lalu mengambil kursi roda dari bagasi, ia membuka pintu mobil kemudian membantu istrinya duduk di kursi roda. Sebenarnya karina tidak memerlukan kursi roda, hanya saja el tidak ingin istrinya terlalu capek berjalan kaki. Sementara itu zoe bobo anteng dalam dekapan oma cantiknya.
"Selamat datang Nyonya," sambut Berto dan joe kemudian mereka membungkuk hormat.
"Paman Berto, aku merindukan masakanmu," rengek karina.
"Pak joe terima kasih atas semuanya, kau memang terbaik."
"Terima kasih Nyonya," jawab keduanya serempak.
Tanpa karina sadari ucapnya itu menyulut api cemburu suaminya.
"Berto cepat kembali ke dapur," ucap el penuh penekanan. Sorot matanya menajam menatap dua pria yang ada di hadapannya.
"Baik Tuan," secepat kilat berto masuk, ia tidak ingin membuat el semakin marah. Sedangkan jie sudah ngacir duluan.
El mendorong kursi roda karina masuk ke mansion. Mata Karina berbinar melihat ruang tamu mereka yang dihias dengan begitu cantik.
"Selamat datang Karin, selamat atas kelahiran baby zoe!" levina berjalan mendekati Karina kemudian mengecup kedua pipinya.
"Terima kasih Kak levi."
Levi tersenyum. Ia kemudian menghampiri zoe yang sedang di gendong siska.
"Uh ... lucunya, aku juga ingin punya satu seperti ini."
"Segeralah menikah dan kau akan bisa memiliki bayi lucu seperti zoe," ucap Siska.
"Aku sih mau saja menikah Tante, tapi aku tidak tahu apa pasanganku mau untuk menjadikanku istrinya," ujar levi sendu. Ia melirik sekilas pada joe yang hanya memasang wajah datar.
"Siapa yang mau menjadikan dokter gila sepertimu jadi pasangan hidup!" sindir el.
"Heh! mantan jomblo berkarat, jangan mentang-mentang udah jadi bapak kamu bisa menghinaku seperti itu ya!"
"Setidaknya aku mantan jomblo, bukan Jomblo yang masih meratapi nasibnya."
"Eldric!" pekik levina.
"Oeeek ...oek..!" zoe yang tadinya tidur terkejut mendengar suara levina yang melengking memekikkan telinganya. Zoe menangis kencang.
"Ush ...ush ... cucu oma, tenangnya." Siska berusaha menenangkan cucunya.
"Sini sama karin aja Ma, mungkin dia lapar."
Siska mengangguk lalu menyerahkan zoe pada ibunya.
__ADS_1
"Shh ... anak mommy, cantik tenangnya sayang." Karina mengayunkan zoe dan menepuk-nepuk pelan bokong kecilnya. Zoe pun tenang dan kembali terlelap.
"Kalian berisik sekali, kalau masih ingat bertengkar silahkan keluar! jangan membuat zoe terganggu!" tegas Karina.
"Maaf Rin, ini semua gara-gara suami karatan kamu nih," ucap levina membela dirinya.
"Aku, yang berteriak itu kamu," elak el.
"Diam!"
Keduanya pun langsung menunduk.
"Pak Joe," panggil Karina.
"Iya Nyonya." Joe berjalan mendekat kearah Karina.
"Bawa Kak Levi bersamamu, jauhkan dia dari Suamiku," titah karina.
"Baik Nyonya."
Joe mengandeng tangan levina, menariknya lembut. Levina hanya menurut mengikuti langkah joe dengan malu-malu kucing ke taman belakang. Ia menoleh kearah Karina sambil menggerlingkan matanya. Setelah kepergian mereka berdua suasana jadi lebih tenang.
Semua orang yang hadir di sana memberikan selamat dan doa terbaik untuk kelahiran zoe. Tentu saja hanya sekedar ucapan tanpa bersentuhan tangan alias jabat tangan. Semua orang di mansion tahu eldric melarang keras untuk itu, jangankan menyentuh menatap wajah Karina terlalu lama saja mereka bisa mendapatkan masalah.
Acara di lanjutkan dengan makan siang bersama, menikmati masakan dari sang koki handal. Eldric menyuapi sang istri dengan penuh kasih sayang, dan semua itu tak luput dari perhatian tama. Meskipun tama selalu berdebat dengan menantunya itu tetapi tama tau el sangat menyayangi putrinya.
"Aku suapin ya Sayang." Tama mendekatkan sendok ke bibir istrinya.
"Mantumu juga tua, tapi masih mesra aja sama Karina," tukas tama.
Siska terkekeh, rupanya sang suami tidak mau kalah dengan menantunya.
"Iya deh sini, aaa." Siska membuka mulutnya.
Dari pada suaminya ngambek lebih baik Siska menurutinya, bukannya apa-apa kalau tama sudah ngambek alamat semalam suntuk siska tidak akan tidur. Dokter itu akan mengempurnya habis-habisan. Meskipun tak lagi muda tenaganya masih sangat bisa untuk membuat siska tidak bisa berjalan besok pagi.
Dengan senyum lebar tama menyuapi sang istri, setelah itu siska pun menyuapi suaminya yang manja itu.
Perta penyambutan zoe berlangsung sederhana tetapi penuh makna. Awalnya Karina sedih karena sang Kakak dan kakak iparnya tidak bisa hadir, tetapi Karina mencoba memaklumi karena naoki sedang sakit karena main hujan sampai tengah malam, apalagi kalau bukan untuk meluluhkan hati istrinya.
Setelah pesta selesai eldric mengantarkan istrinya untuk beristirahat di kamar. Begitu pula dengan kedua mertuanya. Mereka pun memutuskan untuk masuk ke kamar yang sudah di sediakan oleh el.
Sesampainya di kamar, el mengambil zoe dari gendongan Karina. Ia kemudian membandingkan zoe di box bayi yang sudah el sediakan di kamar. Setelah membaringkan zoe dan menyelimuti putri kecilnya. El mengendong karina, memindahkannya dari kursi roda keatas peraduan cinta mereka.
Eldric turut membaringkan dirinya di sisi sang istri. Dengan posisi kepala yang ia sejajarkan dengan dua bongkahan padat yang ukurannya sudah semakin besar dari sebelum ini.
"Aku sangat merindukanmu, Hon."
__ADS_1
Eldric menduselkan yang di antara pabrik susu milik istrinya. Melingkar kedua tangannya di pinggang karina, menarik tubuh mungil itu merapat dengan dirinya.
"Rindu apa? bukannya kau setiap hari menemaniku di rumah sakit, hem." Karina menyugar rambut coklat el dengan lembut.
"Aku rindu bisa memelukmu seperti ini, merasakan lembutnya kulitmu dan menikmati aroma tubuhmu." Bibir El menyusup ke ceruk leher Karina. Mengecupnya lembut kemudian sedikit menyesapnya.
Nafas hangat el menyapu permukaan kulit karina.
"Jangan membuat tanda, malu," cegah karina dengan suaranya yang terdengar berat.
"Malu dengan siapa? kau milikku Honey, aku berhak melakukan apa saja."
"Ada papa dan mama Sayang, bagaimana kalau mereka melihatnya."
"Mereka pasti mengerti."
Eldric menyesap kulit mulus Karina dengan kuat hingga membuat sang empunya meringis menahan perih sekali geli yang datang bersamaan.
"El, please," pinta karina dengan manja.
Seolah tuli el malah dengan buasnya menyusuri tiap inchi dari leher istrinya, semakin turun ke tulang selangka, karin mengigit bibir bawahnya jujur saja ia mulai terbakar dengan perlakuan eldric. Dengan nakal el mulai membuka kancing kemeja yang dipakai Karina. Karina hanya bisa pasrah menikmati permainan suaminya.
Dua gundukan padat itu kini terpampang jelas di hadapan el. Dengan gemas ia *******-***** squshy kesukaannya.
"Jangan keras-keras nanti ASI-nya keluar."
"Ini terlalu mengemaskan Sayang."
El mengeluarkan squshy itu dari pengamannya. Dengan lahap el menyesap ujung berwarna pink kecoklatan yang sudah tegak berdiri.
"Sshhh...!" Karina mendesis merasakan sapuan lidah suaminya.
El terus bermain dengan dua benda padat itu secara bergantian. Sampai ....
"Oek ...oek..!" zoe menangis kencang.
Eldric melepaskan ujung squshy Karina dari mulutnya kemudian menghela nafas panjang. Karina terkekeh melihat wajah kecewa suaminya yang belum puas bermain.
El bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan ke box zoe. Sementara karina membenahi baju dan rambutnya yabg sudah berantakan karena ulah sang suami.
"Kau bangun di saat yang tepat Princess."
Eldric mengendong zoe dengan perlahan. Ia membawa zoe kepada karina.
"Zoe haus ya Sayang," ucap karina sambil mulai menyusuinya.
"Daddy juga masih haus Mom," rengek el.
__ADS_1
Dengan malas eldric meletakkan kepalanya di bahu sang istri.
"Daddy sabar ya. Jatahnya masih nanti malam," bujuk Karina. El hanya bisa menghela nafasnya panjang.