Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Rencana Karina


__ADS_3

Selama di tinggalkan oleh sang suami berkerja karina lebih banyak menghabiskan waktunya didepan televisi. Dengan headset yang selalu ia siapkan di sampingnya.


Setiap ada waktu eldric akan menghubunginya. Pria itu akan marah besar jika dalam tiga nada sambung karina tidak segera mengangkatnya, pria itu akan terus mengomel memarahinya.


Ponsel Karina kembali berdering, ia pun segera memasangkan headset di telinganya kemudian menggeser logo hijau di layar ponselnya.


"Halo, Suamiku tertampan, terbaik dandakno djkso paling aku sayangi," ucap Karina sebagai pembuka percakapan mereka.


"Kau menyayangiku, itu bagus."


"Iya, Suamiku," jawab Karina dengan senyum manisnya.


Dasar tidak tahu malu, dia sendiri kan yang mewajibkan aku bicara seperti ini.


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang menonton film," jawabannya singkat.


"Film apa?"


"Dollan 1990."


"Baiklah nikmati filmnya, aku harus rapat sekarang."


"Iya Suamiku, terima kasih sudah menelfon."


Eldric pun memutuskan sambungan teleponnya. Seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia sungguh suka sangat merindukan istri kecilnya itu.


Joe yang sedari tadi berdiri di sampingnya hanya bisa menahan senyum. Tuannya itu seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta, ia tidak melewatkan sedikitpun kesempatan untuk menelfon istrinya. Seharian ini saja ia sudah menelfon sebanyak 15 kali padahal nanti malam mereka akan pulang.


Eldric tidak bisa menahan senyumnya, sambil mengusap foto pernikahannya di ponsel. Karina tersenyum manis meskipun tersirat kesedihan di sorot matanya di kala mereka melakukan ijab kabul. Eldric masih mengingat semuanya dengan baik, istrinya itu terlihat sendu dan berusaha menahan air matanya saat ia mengucapkan janji sucinya.


"Tuan, semuanya sudah menunggu di ruang rapat," ucap Joe.


"Hem." Eldric pun bangkit dari duduknya. Ia harus segera menyelesaikan perkerjaannya agar bisa pulang lebih awal.


Sementara itu di mansion.


Karina begitu menghayati film di layar televisi. Film yang menceritakan sebuah romansa di masa SMA. Kisahnya begitu indah dengan semua dialog rayuan maut sang tokoh utama. Karina sangat menyukai kisah mereka. Namun, disisi lain film itu membuatnya rindu akan masa-masa sekolahnya, yang belum usai pada waktunya. Seharusnya sekarang ia masih duduk di salah satu bangku yang ada di ruang kelas, bukan di atas sofa empuk di mansion mewah. Seharusnya ia sedang menerima pelajaran dari gurunya, bukan menyaksikan hiburan di tengah siang bolong.


Karina menghela nafasnya. Ia meraih remote kemudian mematikan televisi. Ia bangkit dari duduknya, dengan hatinya yang galau ia melangkah ke dapur. Tempat dia bisa menemukan teman untuk berbicara. Setelah melewati beberapa ruangan akhirnya ia menapakkan kakinya di tempat makan dibuat di mansion ini.


"Paman," sapa karina dengan lesu.


Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi kemudian merebahkan kepalanya di meja marmer. Berto yang sedang membuat pasta pun seketika menghentikan tangannya. Ia membersihkan tangan lalu segera membuatkan segelas capuccino untuk sang nyonya kecil.


"Nyonya silahkan." Berto menyodorkan segelas kecil cappucino.


Aroma cappucino yang begitu harum membuat karina mengangkat kepalanya. Ia menatap cappucino yang masih mengepulkan asap tipis di hadapan kemudian ia ganti menatap pria di hadapannya dengan penuh arti.

__ADS_1


"Paman, terima kasih," ucap Karina dengan penuh arti.


"Sama-sama nyonya."


Berto kemudian menarik sebuah kursi yang ada di sebelah sang nyonya, ia menggeser agak jauh kemudian mendudukkan dirinya. Karina mulai melingkarkan tangannya di sekitar mug berwarna putih itu. Ia menundukkan kepalanya menatap cairan berwarna coklat yang selalu bisa membuatnya nyaman.


"Paman, apakah menurut Paman aku bisa kembali sekolah?" tanya karina tanpa menatap lawan bicaranya.


Dalam hatinya Karina sangat berharap ia nisa melanjutkan pendidikannya. Ia ingin sekali kembali bersekolah. Namun, ia ragu untuk meminta izin pada suaminya.


Berto tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan sang nyonya.


"Apa Nyonya ingin kembali bersekolah?"


"Tentu saja Paman, aku sangat ingin melanjutkan pendidikanku," jawab Karina dengan menggebu-gebu, kali ini ia menatap sedikit menggeser tubuhnya hingga berhadapan dengan berto.


"Tapi aku takut. Aku takut Suamiku tidak akan mengizinkannya," ujar Karina dengan sendu.


"Apa Nyonya sudah pernah membicarakan ini dengan tuan?"


Karina menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa Anda harus takut. Anda bahkan belum mencoba berbicara dengan tuan, saya yakin dia bisa mengerti keinginan Nyonya."


"Apa-apa benar begitu?" tanya karina dengan ragu.


"Jika Anda masih ragu. Cobalah untuk membuat tuan senang sebelum menanyakan sesuatu. Buatlah dia merasa nyaman jangan langsung bertanya saat tuan pulang, layani dulu tuan dengan baik."


Ya, Nyonya bisa mencobanya malam ini. Tuan ingin saya menyiapkan ravioli al tuorlo d'uovo untuk makan malam saat tuan datang," ujar Berto dengan senyum ramah.


"Ra-ravi apa Paman?" Karina mengerutkan keningnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang berto ucapkan.


"Ravioli al tuorlo d'uovo, ravioli kuning telur. Nyonya," ujar berto menjelaskan.


"Apa itu?


"Itu adalah makanan favorit tuan muda. Mari saya akan tunjukkan pada Anda."


Karina mengangguk kecil. Ia bangkit dari duduknya setelah menenggak habis cappucino miliknya. Ia mengikuti langkah berto. Dengan seksama ia melihat bagaimana berto membuat adonan pasta. Setelah selesai ia menipiskan adonan berwarna kuning yang sudah kalis itu dengan menggunakan mesin. Ia melipatnya menjadi dua kemudian ia menipiskannya lagi. Setelah ia rasa cukup berto memotongnya menjadi beberapa bagian.


"Nyonya coba anda pisahkan kuning telur ini." Berto menyodorkan tiga butir telur ayam dan dua mangkuk kosong.


"Akan saya coba." Karina mulai memecahkan telur lalu memisahkan putih dengan kuningnya.


Bukanlah hal yang sulit baginya. Berto tersenyum tipis, ia cukup terkesan dengan nyonya kecilnya yang cukup cekatan. Setelah semua bagian telur terpisah, berto pun menyiapkan kulit pasta mengisinya dengan ricotta kemudian menaruh satu butir kuning telur ditengahnya. Setelahnya ia memberikan sedikit air dipinggir kulit pasta kemudian menutupnya dengan selembar kulit pasta di atasnya. Ia menekankan sekelilingnya dengan garpu.


Berto pun memberikan kesempatan kepada sang nyonya kecil untuk memperaktekan apa yang baru saja di ajarkannya.


Karina pun mulai membuat hal yang sama seperti apa yang baru saja dilakukan berto. Beberapa kali karina memecahkan kuning telurnya, ia juga mengisikan ricotta terlalu banyak sehingga ravioli tidak bisa ditutup dengan sempurna di bagian pinggirnya.

__ADS_1


Berto mengajari Karina dengan sabar sampai akhirnya ia bisa membuat satu ravioli dengan bentuk yang sempurna. Mereka begitu sibuk membuat ravioli hingga tak terasa hari sudah beranjak sore.


"Paman ini banyak sekali bagaimana kalau kita membagikannya pada teman-teman." Karina membagi hasil percobaannya dalam beberapa piring.


"Teman-teman?"


"Ya, para penjaga juga semua asisten rumah yang berkerja di mansion ini. Walaupun aku tidak tahu apakah rasanya enak atau tidak."


"Tentu saja enak Nyonya, dan mereka pasti akan sangat senang dapat merasakan langsung makanan yang dibuat oleh anda."


"Benarkah, kalau begitu tolong bagikan pada semuanya," ucap Karina dengan wajah berbinar.


"Tentu. Sebaiknya Nyonya membersikan diri, karena tuan akan datang tepat waktu makan malam nanti."


"Ah ... Paman benar." Karina melihat dirinya yang sudah belepotan tepung.


"Kalau begitu aku akan membersihkan diriku."


"Paman yang satu itu tolong sajikan untuk Suamiku nanti," ujar Karina dengan tersenyum sambil menunjuk pada ravioli yang ia buat khusus untuk suaminya.


"Tentu Nyonya saya mengerti."


"Terima kasih."


Karina pun melangkah meninggalkan dapur dengan bersenandung kecil. Sesampainya di kamar ia segera membersihkan dirinya lebih lama. Entah kenapa ia begitu bersemangat menyambut kepulangan suaminya.


"Bagaimana kalau dia tidak memberikan aku ijin untuk sekolah, sepertinya sepiring ravioli tidak cukup untuk membujuknya. Aku harus melakukan hal lain," gumam Karina sambil memainkan busa yang ada di bathtub.


Sebuah seringai kecil tersungging di bibirnya. Otak nakalnya mulai berkerja, sepertinya Karina punya rencana untuk menyambut suaminya dengan baik.


.


.


.


.


Maaf ya Mak cuma up satu bab. Biasa hari minggu 😅😅


Ps. Ricotta Ricotta adalah keju segar dari Italia yang dibuat dari air dadih sisa pembuatan keju lain yang dimasak lagi. Keju ini bertekstur rapuh dan berwarna putih.



Ps. Ravioli


Ravioli adalah jenis pasta yang terdiri dari isian yang diselimuti adonan pasta tipis. Biasanya disajikan dalam kaldu atau dengan saus, mereka berasal sebagai makanan tradisional dalam masakan Italia.


__ADS_1


Kita sambil belajar masak sama paman berto ya gaes 😅😅 ntar mak japri resep 🙈


__ADS_2