Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Pinguin


__ADS_3

Pagi menyapa. Karina mengerjapkan matanya menetralkan cahaya matahari yang masuk perlahan dari celah tirai kamar.


Badannya terasa remuk redam, rasanya seperti semula tulang di tubuhnya hancur. Entah kapan ia memejamkan matanya, yang ia tahu tubuhnya berasa sakit terutama di area intinya.


Karina menggeliatkan tubuhnya, perlahan ia memindahkan tangan besar yang melingkar di pinggang kecilnya. Karina menggerakkan tubuhnya perlahan menjauh dari sang suami. Dengan susah payah ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Dasar maniak," umpatnya lirih, Karina tidak ingin membangunkan raksasa itu.


Dengan susah payahnya Karina bangkit dari duduknya. Ia berjalan menahan perih dan nyeri di area intinya. Sambil mendesis sakit, karina memunguti pakaian mereka yabg berserakan sisa semalam. Karina berjalan merambat tembok untuk pergi ke kamar mandi.


Setelah berendam cukup lama di bathtub akhirnya ia keluar dari kamar mandi dengan handuk berbalut handuk pada tubuh polosnya.


"Su-suamiku, anda sudah bangun," ucap Karina dengan terbata.


Gadis yang sudah tidak perawan itu terkejut mendapati suaminya sudah duduk ditepi ranjang dengan memakai boxer. Eldric menatapnya dengan tatapan tajam, seolah Karina baru saja melakukan kesalahan fatal.


"Kenapa tidak menungguku?"


"Apa, Suamiku? tidak menunggu anda untuk apa?" Karina mengerutkan keningnya bingung. Karina masih berdiri membeku


"Mandi!" tegas eldric.


Mata Karina Melebar mendengar ucapan absurd Eldric. Kenapa dia semarah itu hanya karena di tinggal mandi olehnya.


"Apa kau lupa, kau harus memandikanku," ucap Eldric dengan penuh penekanan.


Tubuhku sakit, anuku sakit. Kau masih menyuruh aku memandikanmu. Dasar suami tidak peka!!! Tuhan berikan aku kekuatan untuk menenggelamkannya kelaut sekarang juga!


"Maaf," lirih Karina sambil menunduk dengan bibirnya yang manyun.


Karina kembali masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Setelah itu ia kembali keluar untuk memakai baju. Eldric hanya diam memperhatikan cara berjalan istrinya yang terlihat aneh. Seperti ada sebuah ganjalan besar diantara pahanya.


Karina keluar dari walking closed dengan memakai dress selutut warna merah dengan motif bunga di ujungnya. Rambutnya masih tergerai dan basah. Sepertinya karina hanya menyisirnya. Wanita itu melangkah mendekati suaminya yang masih diam dan memperhatikannya.


"Ayo, aku akan memandikanmu." Karina menarik pelan lengan Eldric.


Tak ada penolakan. Pria bertubuh tegap dengan bulu halus yang tumbuh di dadanya itu. Menurut saja saat karina menarik dirinya.


"Masuklah airnya sudah siap," pintanya pada sang suami. Setelah melepaskan boxernya.


Eldric menurut, ia masuk dan membiarkan Karina mengosongkan spons pada tubuhnya. Pria itu hanya diam sambil terus memperhatikan istrinya. Terlihat jelas guratan lelah di wajahnya yang cantik, bibirnya masih merah pucat tanpa polesan lipbalm. Mungkin karena terburu-buru karena harus memandikan dirinya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan ritual memandikan bayi besarnya. Karina mulai mendandani sang suami dengan baju kebesarannya untuk ke kantor.


"Sudah siap." Karina menepuk bahu suaminya dengan bangga.


Eldric tersenyum. Hari ini dia menjadi bayi yang baik, ia menurut saja atas semua yang dilakukan istrinya. Eldric merasa bersalah karena membuat karina kesakitan, istrinya bahkan masih sesekali meringis menahan sakit saat melangkahkan kakinya.


"Ayo." Eldric menyodorkan lengannya.


Karina yang sempat bingung, dengan ragu ia menggandeng tangan suaminya.


"Kau berjalan seperti pinguin. Apa sesakit itu?" tanya Eldric dengan berbisik saat mereka berdua menuruni tangga.


Karina mendelik tajam pada suaminya. Ingin rasanya ia mencakar wajah yang menatapnya tanpa rasa bersalah itu.


Karina hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap kedepan. Ia tidak mengatakan apapun. Gadis yang sudah tidak perawan itu masih kesal dengan suaminya yang bermain dengan kasar di atas ranjang. Ia sudah memintanya untuk berhenti tapi Eldric sedikitpun tidak mengindahkannya.


Setelah berjuang dengan cara jalannya yang mengangkang, Karina akhirnya bisa bernafas lega saat ia mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


"Huf ... akhirnya."


"Berto, buatan sesuatu yang bisa meredam rasa sakit," perintahnya pada Berto yang sedang menyiapkan makanan untuk Karina.


"Tidak, bukan aku. Sepertinya nyonyamu merasa sakit setelah aku menjebol gawangnya semalam," jawab Eldric santai.


"Baik saya akan membuatkan sesuatu untuk Nyonya," ujar Berto dengan melempar senyum pada Karina.


Wajah karina memerah seketika. Ia tidak habis pikir dengan ucapan absurd Eldric. Ingin rasanya ia menutupi wajahnya dengan kantong semen. Untung saja Berto segera pergi ke dapur.


"Kenapa Anda mengatakannya pada paman berto. Ini sangat memalukan," keluh Karina.


Karina menghela nafasnya, ia merasa tidak berdaya menghadapi suaminya yang seperti tidak punya malu itu.


"Meskipun aku tidak mengatakannya. Dia akan tahu melihat caramu berjalan seperti pinguin."


Eldric mulai menyendok sup kemudian memasukkannya dalam mulut. Ia tidak menghiraukan tatapan membunuh yang di berikan Karina padanya.


Tak lama kemudian Berto kembali dari dapur dengan semangkuk sup yang masih mengepul di nampan yang ia bawa. Aromanya sungguh harum dan menggugah selera.


"Nyonya ini sup bola daging untuk anda, ini akan memulihkan tenaga anda yang terkuras semalaman." Berto meletakkan di hadapan Karina.


"Terima kasih Paman, bisakah Paman memanggilku seperti biasanya saja," pintanya pada berto, Karina merasa sangat tidak nyaman di panggil nyonya seperti itu.

__ADS_1


"Tidak bisa, kau Istriku. Bersikaplah selayaknya seorang nyonya, kau juga akan di hormati dan di perlakukan seperti seorang nyonya di sini. Paham!" seloroh eldric.


"Paham Suamiku," jawab Karina pasrah.


Berto hanya tersenyum kecil pada Karina. Ia kemudian pamit undur diri untuk melanjutkan perkerjaannya di dapur.


"Hua ... hemm... sepertinya sup ini sangat lezat," ucap Karina dengan mata berbinar, ia segera menenggelamkan sendoknya kedalam kuah sup yang creamy.


"Sepertinya enak." Eldric menopangkan dagu di satu tangannya. Ia memiringkan kepalanya menatap lucu pada sang istri yang sedang menikmati makanannya.


"Tentu saja. Ini di buat khusus untukku," ucap Karina dengan bangga.


Tanpa aba-aba eldric mengangkat mangkok sup Karina kemudian memindahkannya mangkok itu kehadapannya.


"Ah ...sup ku. Kenapa kau mengambilnya," rengek Karina dengan manja, tangannya terulur ke atas mengikuti mangkok yang di angkat tangan panjang eldric.


"Sup ini untuk memulihkan tenaga bukan untuk menghilangkan rasa sakit."


"Cih ... bilang saja kalau kau mau, paman berto akan membuatkannya sendiri untukmu. Kau tidak perlu merebutnya seperti anak kecil," sindir Karina.


"Aku mau milikmu, lagi pula aku lebih membutuhkan tenaga. Karena aku yang harus mengali lubang cacing milikmu setiap malam," lirih Eldric di akhir kalimatnya


"Yak! apa kau pikir aku di bawah butuh tenaga. Bagaimana kalau aku pingsan lagi saat kau gali? apa kau suka bermain dengan mayat hidup!" Karina melipat kedua tangannya sambil memberengut kesal.


"Tidak ingin ganti gaya lain apa," gumam Karina lirih. Namun, masih bisa didengar oleh eldric.


"Kau menikmatinya. Menikmati permainan semalam?" Eldric mendekatkan bibirnya di telinga karina yang memerah.


"Tidak, siapa bilang."


"Bilang tidak tapi wajahmu semerah itu."


"Mana ada!" Karina menutup pipinya yang kedua tangannya.


"Tenang saja, nanti malam kita akan mencoba berbagai gaya," goda Eldric lagi.


"Aah ....nggak tau, aku nggak denger!"


"Hahaha ... cepat habiskan sup mu, aku akan berangkat ke kantor."


Eldric bangkit dari duduknya, ia mengecup singkat pucuk rambut Karina yang masih basah. Tubuh Karina menegang seketika saat eldric memperlakukannya dengan begitu manis.

__ADS_1


__ADS_2