Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Perjuangan Eldric


__ADS_3

"Honey, buka pintunya!" teriak eldric dengan tidak sabar, ia mulai cemas karena pintu tak kunjung terbuka.


Klek


Klek


"Hem, masih terkunci," gumam eldric. Cukup lama ia berdiri di depan pintu dan mengetuknya.


Eldric mencoba menelfon dan mengirim puluhan pesan pada istrinya. Namun, tak satu pun pesannya di balas. Ia pun memutuskan untuk kembali ke meja makan, dengan langkah gontai ia melangkah.


"Kenapa el?" tanya siska saat el kembali ke ruang makan dengan wajahnya yang kusut.


"Karina tidak mau membuka pintunya Ma," jawab eldric lesu kemudian ia meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja.


Hahaha, rasain di kerjain karina.


Cleo melirik sekilas wajah adik iparnya yang di tekuk masam.


"Makan dulu, nanti karina juga baik lagi. Dia hanya buruh waktu untuk sendiri," ujar arie, ia sebenarnya juga merasa tidak tega melihat wajah eldric yang terlihat cemas.


Eldric menggeleng kepala. "Aku tidak berselera."


Cleo mengeluarkan ponselnya, ia mengirimkan pesan singkat pada karina dan mengatakan bahwa suaminya itu tidak mau makan.


[ Suruh el makan atau dia akan tidur di luar semalaman! ]


Cleo mengangkat alisnya saat membaca pesan balasan dari karina.


"El, istrimu mengirimkan pesan." cleo menunjuk pesan yang di kirimkan Karina padanya.


Eldric mendesah kesal, karina mengirimkan pesan pada kakak iparnya tetapi mengabaikan pesan darinya.


"Katakan padanya, aku hanya akan makan kalau dia makan."


"Ok."


[ Suamimu mau makan hanya kalau kau makan ]


[ Aku sudah makan! ]


"Dia sudah makan," ucap cleo membacakan pesan singkat karina.


"Makan apa dia di kamar?" tanya eldric penuh selidik.


"Mana aku tau, makan bantal kali," jawab cleo asal.


"Aku tidak akan mau makan sebelum karina membuka pintu kamar!" tegas eldric.


Cleo mendengus kesal. "Aku minta bayaran untuk jadi tukang pos dadakan."


Siska dan arie hanya melihat anak-anak mereka sambil tersenyum. Urusan anak mereka tidak akan ikut campur. Mereka lebih suka menjahili penghuni mansion yang lain.

__ADS_1


[ Suamimu keras kepala, dia tidak mau makan sampai kau membuka pintu kamar! ]


[ Pintu tidak akan terbuka untuk el, kalau dia tidak mau menurutiku! ]


"Baca sendiri Tuan." cleo memperlihatkan pesan terakhir yang di kirim Karina.


Eldric memijit dengan, kepalanya terasa pening. Ia mendesah pasrah.


"Baiklah aku akan makan."


Eldric mulai menyuapkan ravioli yang sudah dingin kedalam mulutnya dengan paksa, cleo merekam video saat eldric menyantap makanannya dengan kesal.


"Apa yang kau lakukan!"


"Aku hanya sedang mengirimkan barang bukti pada istri tercintamu kalau kau benar-benar menuruti kemauannya."


"Cih ...!" Eldric melengos sebal.


Setelah puas merekam el yang makan dengan wajahnya yang masam, cleo segera mengirimkan video itu kepada adik iparnya.


"Oke tugasku sudah selesai. Saatnya bermain dengan zoe." Cleo bangkit dari duduknya, ia kemudian berlari kecil ke kamar bermain zoe.


"Hei tunggu, pastikan dulu karina mau membuka kamarnya!" teriak eldric.


"Bukan urusanku," sahut cleo tanpa menghentikan langkahnya.


"Dasar kakak ipar lakn*t!" pekik eldric kesal.


Bulu ketek eldric merinding, ia baru sadar kalau arie memberikan tatapan membunuh padanya. Eldric menelan ludahnya kasar.


"Maaf Ma, aku keceplosan," jawab eldric dengan memelas.


"Cih ... lihat saja aku akan mengatakan pada karina agar membiarkanmu tidur di ruang tamu!" ucap arie kemudian meninggalkan meja makan.


Eldric melongo mendengar ucapan arie.


"Ma, tolong bujuk besan Mama,"eldric berkata dengan wajahnya yang benar-benar memelas.


Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus tidur di luar malam ini. Siska mengangkat bahunya acuh, lumayanlah ia bisa menggoda eldric. Ia kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan eldric sendirian.


"Agh ... aku bisa kaku kedinginan kalau sampai tidur di luar." eldric menjambak rambutnya frustasi.


Eldric pergi ke kamarnya. Pintu itu masih tertutup rapat dan di kunci dari dalam.


"Sayang buka pintunya aku mohon," rengek eldric.


Masih hening.


Eldric duduk bersila di depan pintu dengan tangannya yang tak berhenti mengetuk pintu kayu yang tertutup rapat. Ia berharap karina akan berbelas kasih padanya dan membuka pintu.


Eldric tidak tahu kenapa karina bisa begitu sensitif, bukankah beberapa hari ini semua sudah membaik. Karina sudah bisa tertawa dan bersikap normal lagi. Apakah gejala depresinya masih berlanjut? Eldric berpikir keras, apa ucapannya begitu menyakiti hati karina.

__ADS_1


Eldric menghela nafasnya, ia berencana akan duduk semalaman di sana sampai karina membuka pintu. Seorang wanita paruh baya melangkah mendekat, yang tak lain adalah ibu mertuanya.


Eldric menoleh pada siska, matanya berbinar penuh harap. Ia berharap siska membawa kabar baik untuknya, mungkin karina mengirimkan pesan pada kakak iparnya.


"El."


"Iya Ma."


"Malam ini biar zoe tidur sama mama ya, sepertinya suasana hati karina kurang baik. Biarkan dia istirahat dulu," ucap siska.


Wanita itu sebenarnya merasa kasihan pada menantunya itu. Wajahnya seketika berubah sendu saat mendengar penjelasannya, menantunya itu pasti berharap ia menyampaikan hal yang lain.


"Baik Ma, maaf merepotkan Mama," ucap eldric dengan lesu.


"Selamat berjuang menantuku!" ujar Siska menyemangati.


Eldric hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Siska pun melangkah menjauh.


Sementara itu di kamar duo macan.


"Gimana Mba mantumu?" tanya arie tidak sabar.


"Kasihan Mbak, melas banget. Dah kayak tunawisma tau nggak, bersila di depan pintu," jawab siska sambil menutup pintunya perlahan, agar zoe yang sedang terlelap tidak terganggu.


"Halah, bentar doang aja lho. Nanti kalau udah masuk lubang juga kegirangan," ucap arie sambil terkekeh.


"Iya sih, anak muda emang ada-ada aja ya Mbak, mau buka puasa aja ribet bikin drama dulu."


"Aku juga dulu bikin drama lho Mbak, malah satu keluarga aku kerahkan."


"Masa, gimana ceritanya kepo aku," siska segera mendudukkan dirinya di sebelah arie yang sedang duduk di sofa.


"Begini ceritanya."


Arie pun mulai bercerita saat ia melakukan drama untuk merayakan ulang tahunnya sekaligus kejutan buka puasa untuk sang suami sipit kesayangannya.


"Ih ... sweet banget, aku jadi iri," celetuk siska.


"Emang dokter tama nggak sweet? prasaan dia nempel banget sama kamu Mbak."


"Manja iya romantis mah enggak."


"Ngomongin ayang di rumah jadi kangen deh, kangen pusakanya," seloroh arie, matanya menerawang membayangkan adegan bersama suami sipitnya.


"Astaga Mbak, kayak anak muda aja," sahut Siska terheran-heran.


"Umur boleh tua Mbak, jiwa jangan dong. Aku mau vc dulu deh ama ayang sipit." arie bangkit dari duduknya ia kemudian mengambil ponsel yang ada dalam tasnya.


"Astaga besanku." siska menepuk jidatnya melihat kelakuan arie.


"Tapi aku juga kangen sama mas tama, dia lagi ngapain ya?"

__ADS_1


__ADS_2