
Matahari mulai menyapa bumi. Memberikan sinarnya untuk semua makhluk hidup.
Karina merasakan perutnya bergejolak, rasa mual yang mendorongnya untuk mengeluarkan isi lambung. Ia melebarkan matanya seketika, memindahkan tangan kekar yang membelit di pinggang. Dengan setengah melompat ia turun dari ranjang, dengan tergesa-gesa karina berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya.
"Hoeek ..!"
Karina mengeluarkan isi perutnya di wastafel. Namun, hanya cairan bening yang keluar terasa panas dan pahit di tenggorokannya.
"Haah ... sebenarnya aku kenapa?" gumamnya lirih.
Gadis itu mengusap pelan perutnya yabg masih terasa mual.
"Hoe ...hoek ...!"
Lagi dan lagi karina perut karina terus bergejolak dan memaksanya mengeluarkan isinya. Wajah mungil itu kini terlihat pucat kehijauan, badannya terasa lemas tak bertenaga. Karina terduduk di lantai kamar mandi.
Eldric meraba sisi ranjangnya yang kosong. Merasa ada yang janggal ia kemudian membuka matanya. Samar ia mendengar suara seseorang dari kamar mandi.
"Karina?" eldric menajam telinganya memastikan suara itu.
"Suamiku," panggil Karina lirih.
Eldric bergegas turun dari ranjangnya, dengan langkah lebar ia bergerak ke kamar mandi.
"Karin! apa yang terjadi?"
Eldric terkejut mendapati istrinya terduduk lemas si lantai, wajahnya begitu pucat dengan keringat bercucuran keringat di keningnya. Eldric melangkahkan kakinya mendekat dengan kedua tangannya ia mengangkat tubuh mungil istrinya yang sudah lemas.
Eldric terlihat begitu panik, dengan langkah cepat ia berjalan mendekati ranjang. Ia membaringkan tubuh mungil istrinya dengan perlahan.
"Ada apa denganmu? kenapa wajahmu pucat seperti ini?" Eldric mengusap keringat yang membasahi kening dan leher istrinya.
"Tidak tahu, aku merasa sangat mual dan ingin mengeluarkan isi perutku," ucap karina dengan lirih.
"Tunggu sebentar, aku akan menyuruh berto membuatkan teh hangat untukmu."
Karina mengangguk kecil. Eldric tersenyum kemudian menyelimuti tubuh istrinya dengan perlahan. Pria itu kemudian mengecup singkat kening istrinya sebelum melangkah menjauh.
"Manisnya," gumam Karina sambil menatap punggung kokoh yang menghilang di balik pintu.
Begitulah suami, sangat kasar dan dominan. Namun, ia akan bersikap sangat lembut dan penuh perhatian saat karina tidak berdaya seperti sekarang. Karina mengalihkan pandangannya menatap langit langit di kamar, perlahan ia memejamkan matanya berharap rasa mual dan pusing di kepalanya bisa sedikit berkurang.
Di dapur.
"Berto!" teriak eldric kencang.
Pria yang sedang menyiapkan sarapan pagi itu terkejut dengan teriakan sang tuan. Pria bertubuh tegap itu berjalan cepat menghampiri Berto.
"Iya Tuan."
__ADS_1
"Buatkan teh hangat dan antarakan ke kamar sekarang juga! dimana Joe?"
"Dia sedang di kamar mandi Tuan."
"Suruh dia memanggil levina kemari, cepat!"
"Baik Tuan," ujar Berto seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.
Pria itu pun berlalu dari hadapan eldric. Ia harus segera memberi tahu joe untuk segera melaksanakan tugasnya.
Eldric membuang wajahnya kesal. Ia panik dan cemas dengan keadaan istrinya. Namun, ia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Eldric berjalan mondar-mandir sambil mengusap wajah dengan kasar.
"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Berto heran. Pria itu baru saja kembali ke dapur untuk membuat teh.
Berto baru permata kali melihat Eldric secemas itu.
"Karina, dia sangat pucat dan lemas. Seperti dia sakit keras," ujar Eldric menjelaskan.
"Nyonya sakit Tuan?"
"Ya, dia sakit. Kenapa, apa kau khawatir dengan Istriku? Mana teh hangatnya?" sentaknya dengan mata yang menyala menatap berto.
"Biar saya yang membawa Tuan, silahkan anda kembali ke ke kamar untuk menemani nyonya istrirahat." Berto menjawabnya dengan tenang.
"Kau mengajariku! cepat buat tehnya, aku akan membawanya sendiri," tukas eldric kesal.
Dengan perlahan pria itu mendorong pintu kamar agar terbuka. Eldric tersenyum melihat karina yang sedang terlelap dengan damainya. Eldric melangkahkan kakinya lebar, ia meletakkan tehnya di nakas kemudian pria itu duduk di tepi ranjang miliknya.
"Hei ...apa kau tidur?"
Eldric menusuk-nusuk pipi istrinya. Karina menggeliat kecil, ia ngibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir serangga.
Eldric terkekeh kecil, ia semakin ingin menggoda istrinya itu. Pria itu menusuk-nusuk kedua pipinya dengan telunjuknya secara bergantian.
"Ah ... apa sih aku ngantuk tau!" sentak Karina dengan kesal, matanya masih tertutup rapat.
Gadis itu memiringkan tubuhnya, memunggungi suaminya. Eldric yang gemas akhirnya menggoyangkan tubuh mungil itu.
"Cepat bangun dan minum tehnya!"
Karina seketika membuka matanya mendengar suara bariton eldric. Ia memalingkan lagi tubuhnya.
"Suamiku," ucapnya lirih.
"Kemari, cepat minum tehnya."
Karina mengangguk kecil. Tangan eldric terulur untuk membantu istrinya bangkit dan duduk dengan baik. Setelah itu ia mengambil segelas teh hangat yang ada di nakas kemudian dia mendekatkan gelas itu ke bibir istrinya.
Karina meneguknya perlahan, rasa hangat dari teh itu terasa nyaman di lambungnya.
__ADS_1
"Bagaimana lebih baik?"
"Iya, terima kasih. Emh ... Suamiku, apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Karina dengan gugup.
Ia tidak yakin dengan permintaannya itu. Namun, disisi lain ia sangat menginginkannya.
"Katakan apa yang kau inginkan."
Eldric menatap Karina dengan penuh selidik. Biasanya gadis itu akan langsung mengucapkan apa yang ia inginkan. Tidak seperti sekarang, ia seolah ragu untuk mengatakannya.
"Aku ingin melihatmu memakai kaos warna pink dengan gambar kelinci," ucap karina lirih.
"Apa? apa kau gila, untuk apa aku memakai memalukan seperti itu!" bentak eldric.
Seketika Karina menundukkan kepalanya, kedua tangannya meremas selimut yang menutupi pahanya.
"Hey Tuan kenapa kau membentak pasienku seperti itu!" ucap seorang wanita cantik bermata biru.
Seketika Eldric dan karina menoleh kearahnya. Gadis itu dengan santainya berjalan mendekat kearah mereka berdua.
"Keluar sana aku akan memeriksa pasien," usir levina pada kakak sepupunya itu.
"Dia istriku kenapa aku harus keluar?"
"Apa dia istrimu? bukannya masih calon?" levina menatap Karina dan eldric secara bergantian.
Melihat keduanya yang diam membisu Levina menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan eldric adalah benar. Gadis itu pun menghela nafasnya panjang.
"Sepupu kau benar-benar beruntung bisa mempunyai istri seimut ini," ucap Levina sambil tersenyum kecil.
"Tentu saja, aku memang beruntung. Sekarang tutup mulutmu dan cepat periksa dia!"
"Ya ..ya."
Levina membantu karina berbaring, ia kemudian mulai memeriksa keadaan gadis itu. Setelah beberapa saat akhirnya pemeriksaan yang ia lakukan pun selesai.
"Siapa namamu?" tanya Levina.
"Karina," jawab Karina dengan senyum simpul di bibir pucatnya.
"Karina kapan terakhir kamu menstruasi?"
"Eh ... tiba-tiba anda menanyakan itu. Sepertinya dua bulan yang lalu."
Mata Karina membulat seketika. Jantung Karina berdegup dengan kencangnya.
Astaga, apa ini benar? apa yang aku pikirkan ini benar?
Karina menatap Levina dengan penuh harap. Seolah mengerti levina mengangguk mengiyakan apa yang ada dalam pikiran Karina.
__ADS_1