Jerat Cinta Jomblo Karatan

Jerat Cinta Jomblo Karatan
Selamat malam Zack


__ADS_3

Eldric melanjutkan langkah, dengan joe yang masih mengekor di belakangnya. Mereka berjalan menuju ruang NICU dimana baby Zoe di rawat.


Setelah memakai baju steril berwarna hijau Eldric masuk, sementara Joe hanya menunggu luar. Seorang suster menyambutnya kemudian memberikan ruang pada Eldric untuk mendekat pada inkubator.


Air mata El meleleh tanpa permisi. Dalam inkubator zoe terbaring dengan selang oksigen dan alat medis lain yang menempel di dada kecilnya. Zoe begitu mungil, beratnya hanya 2,3 kilogram. Kulit Zoe juga terlihat keriput, sesekali bayi mungil itu bergerak seperti tersentak. Mata kecilnya masih terpejam, Zoe tidak menangis saat ia di keluarkan dari rahim karina.


"Hai Zoe, my princess. Kamu harus cepat sehat, Mommy menunggumu. Daddy jiga ingin sekali memelukmu."


Eldric mengusap kaca inkubator. Seolah mengerti, bayi mungil itu sedikit mengangkat bibirnya keatas, terlihat seperti tersenyum.


"Daddy akan menemui saudaramu, maaf Daddy tidak bisa menjaga kalian berdua dengan baik. Tapi Daddy janji setelah ini tidak akan ada lagi yang akan menyakiti kalian, maaf jika Daddy terlambat."


Eldric terus berbicara pada putri kecilnya, seolah bayi itu mengerti apa yang ia ucapkan. Beberapa alat medis terpasang di tubuh mungil Zoe untuk mengontrol detak jantung, frekuensi nafas, tekanan darah dan suhu tubuhnya, semua itu bisa di lihat di monitor yang ada di sebelah inkubator.


Ada desiran hangat dalam diri El saat melihat wajah Mungil Zoe yang terlelap, bayi mungilnya seperti malaikat. El ingin berlama-lama diam di sana sambil melihat Zoe, tetapi ia juga harus segera menyelesaikan tugasnya untuk memberikan tempat istirahat bagi Zack, putra kecilnya.


Eldric mengecup tangannya lalu menempelkannya pada inkubator, sebagai perantara kasih antara ia dan Zoe. El melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Joe terus mengekor pada langkah lebar sang tuan, mereka menuju kamar jenazah dimana tubuh mungil Zack di simpan.


Setelah menyelesaikan administrasi Eldric mendekati tubuh mungil Zack yang sudah dimandikan dan terbalut kain penutup tanpa terkecuali. Tubuh Zack hanya sebesar botol minuman dingin ukuran 250 ml, bahkan sedikit lebih kecil. Eldric menatap lekat pria mungil yang tak lagi bernyawa, ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi kain penutup Zack.


"My prince, my son," ucap El lirih.


Suaranya terdengar berat. Joe bisa merasakan kesedihan yang mendalam pada Eldric, sama saat ayahnya meninggal.


Eldric mengangkat jenazah Zack dengan hati-hati, mendekapnya dalam. Sekali lagi el mengambil nafas dalam.


"Kita berangkat sekarang Joe," ucap Eldric.


"Baik Tuan," jawab Joe patuh.


Joe memberi mundur beberapa langkah memberikan ruang pada sang tuan untuk memimpin langkah.


Rumah sakit menawarkan El untuk mengunakan mobil jenazah. Namun, Eldric menolak. Ia telah memerintahkan joe untuk membawa terbaik, untuk mengantarkan Zack ke tempat peristirahatannya.

__ADS_1


Di halaman yang ada di samping jenazah. Sebuah mobil limosin hitam mengkilap menanti kedatangan Eldric dan putranya.


Joe membukakan pintu mobil untuk tuannya. Setelah Eldric masuk, Joe segera duduk didepan bersama Baron sebagai sopir.


Tak ada pembicaraan antara ketiga pria itu. Sesekali Joe melihat pantulan wajah tuannya dari kaca mobil. Guratan kesedihan sangat kentara di wajah El, tatapan pria itu tak lepas dari jenazah Zack yang ada dalam dekapannya.


Setelah cukup lama berkendara, akhirnya Limosin itu berhenti di sebuah tanah kosong yang sudah disulap sedemikian rupa hingga menjadi sebuah tempat yang mirip dengan taman. Hamparan rumput hijau yang cukup luas di kelilingi pohon-pohon rindang yang meneduhkan, ada juga beberapa bunga yang tertanam di sana. El sudah menyiapkan tempat ini seminggu setelah mengetahui Zack telah tiada dalam kandungan istrinya.


Sebuah tenda didirikan di atas tanah yang telah di gali.


Berto dan beberapa anak buah El sudah berdiri rapi di area itu. Mereka memakai baju serba hitam.


Gundukan tanah basah dengan taburan bunga mawar dan batu nisan yang terukir nama sang jagoan kecil. El mengusap lembut batu nisan itu.


"Suatu hari daddy, mommy dan Zoe akan ikut ada di sini bersamamu, terbaring menemanimu."


"Selamat malam Zack. Daddy mencintaimu." Eldric bangkit dari sana.


Ia harus menuntaskan pekerjaan hari ini.


Beberapa saat yang lalu ia di bawa dengan paksa oleh dua orang laki-laki yang tidak ia kenal sekali.


"Hei lepaskan aku!" teriaknya sambil menggerakkan tubuhnya berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya.


Sudah cukup lama ia berteriak hingga tenggorokannya terasa kering.


Suara pintu besi terdorong dari luar. Suara sepatu yang beradu dengan lantai menggema di ruangan itu.


"Siapa kau? kenapa kau membawa ku kemari?" teriaknya.


"Buka penutup matanya," titah El.


"Baik, Tuan." Mendekati wanita itu lalu membuka kain yang menutupi matanya.


Wanita itu mengerjapkan matanya berusaha menetralkan cahaya yang masuk, belum sempat ia melihat dengan jelas sebuah tongkat besi mengayun keras tepat di wajah.

__ADS_1


"Aaaghh!" Mirah memekik keras.


Tulang rahangnya bergeser karena hantaman yang begitu keras. Eko mundur seketika, membiarkan sang tuan meluapkan emosinya.


Tongkat El kembali berayun kali ini lebih keras menghantam tubuhnya. Wanita itu jatuh tersungkur, tongkat besi itu kembali menghantam tubuhnya. Berkali-kali hingga wanita itu lemah ia hampir tidak sadarkan diri. Rahangnya hancur tangan dan kakinya penuh lebam, kulitnya yang terkelupas robek mengeluarkan darah. Seketika bau amis menyeruak dalam ruangan itu.


"Ck, kau mengotori lantaiku!" sentak El.


"Eko!"


"Iya Tuan."


"Bawa kemari!"


Eko mengangguk patuh. Pria itu bergegas mengambil apa yang di maksud Eldric. Tak berapa lama Eko kembali dengan membawa sebuah dirijen berisikan alkohol.


"Ini Tuan," ucap Eko sambil menyerahkannya pada Eldric.


El meraih dirijen itu, ia segera membukanya.


Sssh.


Cairan bening itu ia guyurkan pada tubuh Mirah yang penuh luka.


"Aaaaaaaa..!"


Wanita itu menjerit, mengerang kesakitan. Tubuhnya seolah terbakar saat cairan itu menyentuh luka yang El berikan.


"Ini Tidak ada apa-apanya, di bandingkan dengan apa yang telah kau perbuat dengan karina!"


Mirah terbelalak mendengar nama itu, di tengah kesakitannya ia masih bisa dengan jelas mendengar nama yang begitu ia benci.


"Kenapa? kau tidak suka mendengar aku menyebut nama istriku!"


"Eko, buang wanita ini di hutan. Aku sudah berjanji tidak akan membunuhnya." Eldric membuang dirigen kosong dengan sembarang.

__ADS_1


Eldric merasa jijik dengan tubuhnya yang terkena cipratan darah Mirah, ia harus segera membersikannya.


__ADS_2